
Setelah menemui kakeknya Rasya kemudian keluar dari kediaman Ardiansyah dan langsung menemui ibunya.
" Aku harus memberitahukan Mama kalau kakek tidak mempermasalahkan apabila Mama ingin menikah lagi!" ucap Rasya dengan perasaan penuh bahagia.
Dengan begitu ringan langkah kakinya. Rasya pun melanjutkan perjalanannya kembali ke rumah yang ditempati oleh dirinya dan juga sang Ibu tercinta.
Firman memberikan rumah yang dulu ditempati oleh mereka saat keduanya berumah tangga kepada Syafa dan juga Rasya.
Firman juga memberikan sebuah perusahaan untuk Syafa kelola sebagai harta gono gini selama mereka bersama.
Sementara untuk Rasya, Firman memberikan sebuah Cafe untuk bisa dikelola suatu saat nanti apabila Rasya sudah mengerti tentang dunia bisnis.
Sementara ini Cafe itu masih dikelola oleh manajemen profesional yang disewa oleh Firman. Setiap bulannya keuntungan cafe dan pemasukan lainnya akan langsung dikirimkan ke rekening Rasya oleh direktur keuangan yang mengelola caffe tersebut.
Begitu sampai di rumah. Rasya langsung berteriak-teriak mencari keberadaan ibunya yang tidak dia lihat di ruang tamu maupun di dapur. " Aih di mana ini mama?" tanya Rasya.
" Mama! Mama ada di mana?" Rasya terus memanggil ibunya dengan tidak sabar.
" Ada apa Si Rasya kamu dari tadi berteriak-teriak terus!" tegur Syafa dari arah kamar.
" Ya ampun! Kenapa Mama belum juga berdandan? Bukankah malam ini Om Arman akan datang ke sini untuk makan malam bersama kita?" tanya Rasya kepada ibunya.
" Sebenarnya ada apa denganmu?" tanya Syafa kepada putranya.
" Tadi Rasya sudah bertemu dengan kakek dan menanyakan apakah Mama boleh menikah lagi dengan laki-laki lain atau tidak. Dan ternyata kakek sama sekali tidak marah dengan niat mama apabila ingin menikah lagi!" ucap Rasya dengan mata berbinar.
" Ya ampun Rasya! Siapa yang ingin menikah lagi Mama tidak pernah mengatakan kalau mama akan menikah lagi!" ucap siapa merasa kesal dengan putranya yang sudah terlalu ikut campur dalam kehidupan pribadinya.
" Tapi Rasya sangat ingin Mama untuk menikah dengan om Arman!" ucap Rasya dengan wajah serius menatap ibunya.
" Tapi mama tidak yakin. Apakah Arman benar-benar mencintai mama dan mama pun tidak tahu. Apakah mama menyukai dia sebagai seorang laki-laki spesial ataukah hanya sebatas sebagai teman!" ucap Syafah menerangkan kepada putranya.
" Pokoknya Rasya tidak mau tahu Mama harus menikah dengan om Arman!" ucap Rasya sambil masuk ke dalam kamarnya.
Syafa hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat Apa yang dilakukan oleh putranya yang sekarang ngambek kepadanya.
" Sudahlah! Biarkan saja. Mungkin memang saat ini rasa sedang merasakan kesedihan karena keinginannya tidak terkabulkan tetapi berjalan seiringnya waktu Rasya pasti akan menyadari bahwa tidak semua keinginan harus tercapai!" ucap Syafa kepada dirinya sendiri.
Syafa kemudian masuk kembali ke dalam kamarnya dan mempersiapkan diri untuk menerima kedatangan Arman yang akan makan malam bersama mereka malam ini.
Dia sudah berpesan kepada pembantunya untuk menyiapkan makanan spesial untuk menyambut Arman.
Pikiran siapa saat ini adalah bahwa dia sedang menerima seorang teman yang berkunjung ke rumahnya tidak ada pikiran sama sekali bahwa akan ada sesuatu yang spesial di antara mereka berdua malam ini.
Setelah waktu menunjukkan pukul 18.30 Arman langsung meluncur ke kediaman Syafa dengan penampilan yang luar biasa sebagai seorang laki-laki dewasa yang sudah mapan.
" Semoga Syafa mau menerimaku sebagai calon suaminya!" ucap Arman kepada dirinya sendiri sambil terus memperhatikan penampilannya di kaca besar yang saat ini terpampang di hadapannya.
" Sempurna?! Itulah kata untukku!" ucap Arman memuji penampilannya sendiri.
" Aku yakin kalau aku pasti bisa menaklukkan Syafah dan menjadikannya sebagai istriku!" ucap Arman berusaha mensugesti dirinya sendiri.
" Aku harus segera berangkat! Jangan sampai Syafa dan Rasya menungguku terlalu lama!" ucap Arman sambil tersenyum kepada dirinya sendiri yang saat ini sedang mengagumi ketampanan dan kegagahan yang dia miliki.
Sepanjang jalan Arman terus bersiul penuh kegembiraan dan penuh rasa percaya diri.
" Aku sudah mengatur sebuah makan malam romantis bersama dengan syafah dan juga Rasya aku yakin kalau mereka pasti akan terpesona dan juga akan tersentuh dengan acara lamaran yang sudah aku susun secara rapi!" ucap Arman bermonolog dengan dirinya sendiri.
Jalanan Jakarta yang pada saat itu weekend tanpa macet karena banyak mobil-mobil yang akan kembali ke Jakarta setelah melakukan liburan ke Puncak dan sekitarnya maupun ke daerah-daerah pariwisata lainnya.
" Ya Tuhan aku lupa kalau ini adalah malam Senin pasti jalanan akan macet! betapa bodohnya aku kenapa tadi tidak berangkat saat masih siang sehingga aku tidak terjebak dalam keadaan macet seperti ini!" rutuk Arman menyesali dirinya yang bersantai untuk berangkat ke kediaman Rasya.
" Lebih baik aku menghubungi Rasya untuk bertemu di restoran yang sudah aku pesan kalau tidak seperti itu pasti acara makan malam akan terlewat begitu saja!" ucap Arman yang kemudian langsung mengambil ponselnya dan menghubungi Rasya yang sudah membantunya untuk mengatur acara lamaran itu agar berjalan secara sempurna.
" Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Rasya saat ini Om sedang terjebak macet di Jalan Thamrin. Segeralah kalian pergi ke restoran yang sudah Om kirimkan lokasinya kita bertemu di sana!" ucap Arman kepada Rasya yang langsung menyetujui permintaannya.
" Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh! Siap Om! Rasya sama Mama sekarang akan langsung meluncur ke tempat itu!" Ucap Rasya yang langsung menutup teleponnya dan segera mencari ibunya untuk diajak ke restoran tempat yang sudah dipesan oleh Arman untuk acara lamaran ibunya.
Hati Rasya saat ini benar-benar bahagia. Karena berpikir bahwa ibunya akan memulai kehidupan baru dan bahagia bersama Arman yang mencintainya.
" Semoga acara ini tidak ada yang menghalangi dan semoga semuanya berjalan lancar!" ucap Rasya.
Rasya kemudian mendatangi kamar ibunya yang tampak sedang bersiap-siap untuk menerima kedatangan Arman.
" Mah ayo kita makan malam di luar saja. Aih, malam ini rasanya Rasya ingin sekali melewati makan malam yang indah bersama mama!" ucap Rasya sambil menarik tangan ibunya untuk pergi keluar bersamanya.
" Kita mau ke mana Rasya? Bukankah Arman akan datang ke rumah kita untuk makan malam bersama kenapa malah kita pergi? Bagaimana nanti kalau Arman datang ke sini dan tidak menemukan kita?" tanya Syafah merasa keberatan untuk mengikuti Rasya saat ini.
" Sudahlah Mah ayo ikut saja!" ucap Rasya memaksa ibunya untuk mengikutinya.
" Lalu bagaimana dengan makanan yang sudah mama siapkan, Rasya? Ya ampun ini anak! Kau tidak bisa seenaknya saja seperti ini!" protes siapa sambil berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Rasya.
" Udah pokoknya mama percaya aja dengan Rasya!" ucap Rasya sambil tersenyum penuh misteri kepada ibunya.
" Kau betul-betul penuh misteri mama merasa takut untuk mengikutimu saat ini Rasya!" ucap Syafa kepada Rasya.