
Setelah mandi, Ilham mendapatkan Qonita yang sedang berbaring di ranjang, tampaknya tertidur setelah membereskan semua pakaian mereka yang dibawa ke Maldives. Ilham menggunakan pakaian yang di siapkan oleh istrinya. Melihat Qonita yang terlihat pulas, Ilham tidak tega untuk membangunkannya.
Saat ini, waktu masih menunjukkan pukul 11.00 siang. Masih ada waktu sampai adzan Zuhur. Ilham kemudian naik atas kasur berniat untuk istirahat sebentar, sambil menunggu Adzan Dzuhur. Mungkin karena merasa terganggu dengan pergerakan ranjang, Qonita malah membuka matanya.
"Sudah selesai mandinya, Aby?" tanya Qonita sambil mengocok matanya, yang masih terlihat mengantuk.
"Udah, nggak papa! Tidur lagi aja! Masih ada waktu 1 jam untuk menunggu Adzan Dzuhur!" ucap Ilham sambil mengelus pipi sang istri.
"Tadi Umy ketiduran Abi! Rasanya memang melelahkan, setelah penerbangan yang begitu jauh! Ya udah, Umi mandi dulu, ya? Biar seger dikit! Nggak enak juga sih, Tidur dengan badan lengket kayak gini!" ucap Qonita sambil memanyunkan bibirnya.
Ilham mengecup bibir sang istri yang kini telah menjadi candunya. Qonita tersenyum manis, melihat suaminya sudah mulai nakal terhadap dirinya.
"Sudah mulai nakal, ya?" goda Qonita. Ketika Ilham mulai akan menarik Qonita kedalam pelukannya, Qonita langsung melarikan diri ke kamar mandi.
"Umy mandi dulu, Aby! Gak Pede kalau badannya bau!" teriak Qonita di kamar mandi. Ilham hanya tersenyum melihat kelakuan sang istri yang pandai menyenangkan hatinya. Qonita berhasil membuat Ilham jatuh cinta kepadanya. Menawan hati seorang Ilham dalam pesona seorang Qonita.
Tanpa terasa, Ilham yang memang kelelahan, setelah melakukan penerbangan yang cukup lama, matanya mulai terpejam tanpa sadar. Ilham memang sudah mengantuk sejak di kamar mandi tadi. Tapi tubuhnya yang lengket membuat dia memutuskan untuk mandi dulu.
Qonita selesai mandi, Qonita tersenyum bahagia, saat mendapatkan suaminya yang kini sudah terlelap. Dirinya juga soalnya sangat lelah, kalau harus melayani keinginan suaminya, takutnya dirinya tidak mampu. Makanya, Qonita merasa bahagia, melihat sang suami yang sudah pulas duluan. Qonita menggunakan pakaian, lalu tidur di samping suaminya.
Ilham yang merasakan istrinya ada di sampingnya, menarik Qonita agar masuk ke dalam pelukannya. Mereka berdua akhirnya tidur siang bersama, dalam pelukan sang suami yang sudah mulai bucin tingkat akut.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu, Adrian dan Fathu yang kini sedang sibuk membuka kado yang diberikan oleh Ilham yang dibeli di Maldives. Kedua Bocil Tampan itu, tampak berbinar menerima mainan-mainan yang begitu banyak dan bagus-bagus. Ya, Ilham memang memanjakan kedua BoCil tampan itu.
"Adrian Lihatlah pesawat ini! Bukankah ini sangat bagus?" ucap Fathu begitu bahagia melihat mainan yang sangat bagus itu.
"Ah! Kau itu seperti anak kecil saja, Fathu! Dapat mainan seperti itu saja begitu riang gembiranya!" olok Adrian.
"Ah! Kau seperti kakek-kakek saja Adrian! Kerjamu cuma ngomel-ngomel!" Fathu memonyongkan bibirnya, kesal dengan olok-olok dari Adrian.
"Fathu! Kita tuh harus bersikap elegan! Nggak boleh Kampungan kayak gitu! Kau bisa menghancurkan Citra kita berdua! Tolonglah!! Jagalah kehormatanmu jangan seperti itu! Aku malu tahu!" Adrian terus mengomel panjang kali lebar kali tinggi. Sehingga membuat Fathu merasa jengkel juga melihat ulah sahabatnya tersebut, yang tidak mau berhenti memprotes kepada dirinya.
"Ini Umy! Adrian kerjanya ngomel-ngomel terus dari tadi. Bilang-bilang, kalau saya ini kampungan segala! Padahal kan, saya cuma bahagia dengan pesawat ini! Aku senang dikasih hadiah pesawat ini! Tapi Adrian malahan marah-marah sama saya!" ucap Fathu merasa tidak terima kalau sahabatnya usil terhadap dirinya.
"Yaelah! Laki-laki ngadu! Kau, kayak banci aja! Cuma cewek yang suka ngadu, tahu gak?" ejek Adrian kepada Fathu, yang mulai menggeram kesal.
Yah begitulah duo tampan itu, kalau sudah main bersama. Mulutnya, tangannya dan kakinya tidak bisa diam. Tapi mereka adalah Dua Sahabat yang selalu bersama kemanapun. Di mana Adrian di situ pasti ada Fathu.
"Adrian bisa nggak sih? Sehari aja, kamu jangan bikin orang kesel! Jangan bikin orang jengkel! Apa kau kira kau akan mati kalau sehari saja tidak cari masalah denganku?" Fathu sudah berkacak pinggang di hadapan Adrian dan siap untuk berantem melawan sahabatnya tersebut.
"Aduh, aduh, aduh, aduh, aduh, aduh! Ini orang-orang ganteng! Nggak boleh berantem kayak gini! Kenapa sih? Kalau ada masalah itu, bisa dibicarain baik-baik! Sama teman itu, ndak boleh berantem kayak gini! Itu nggak baik loh!" Umynya Ilham mencoba untuk menasehati dua tampan itu, yang kini malah saling memunggungi satu sama lain. Umynya Ilham kemudian memeluk mereka.
"Udah! Ayo, dibereskan mainannya! Jangan berantem lagi! Tidak baik ya!" ucap Umy. Kedua BoCil yang masih belum mau berdamai itu, akhirnya hanya bisa menurut.
"Adrian! Ini sudah waktunya salat zuhur! Coba bangunkan Om Ilham untuk salat zuhur dulu! Itu pada jamaah sudah menunggu!" Ucap Umy.
Adrian merasa girang sekali mendapatkan tugas tersebut. Tanpa mengatakan sepatah kata apapun kepada Fathu, yang masih cemberut kepada Adrian.
"Umi! Jangan terlalu dimanjakan Adrian! Dia Jadi tidak menghargai temannya! Sukanya ngatur-ngatur terus!" Fathu protes ketika Adrian sudah tidak terlihat olehnya.
"Fathu! Kamu harus mengerti Adrian itu memang dididik untuk menjadi seorang pemimpin oleh keluarganya! Adrian itu kan pewaris keluarga Abimana Group, banyak tanggung jawab suatu saat nanti! Fathu harus sabar dan mengerti, ya?" bujuk Umynya Ilham, agar Fathu tidak marah lagi kepada sahabatnya.
"Tapi tetap saja Umy! Fathu merasa tertekan melihat tingkah Adrian yang seperti bos besar itu!" ucap Fathu sedih. Adrian mendengarkan keluhan sahabatnya itu, Ilham juga berdiri di belakang Adrian.
"Fathu juga kan adalah pewaris dari pondok pesantrennya Abinya Fathu, jadi Fathu harus belajar untuk bertoleransi kepada teman, harus belajar untuk sabar, jangan selalu termakan emosi! Itu tidak baik sayang!" Umy berusaha untuk menasehati Fathu agar tidak marah lagi kepada Adrian. Tanpa mereka sadari, Adrian mendengarkan semua keluhan Fathu.
"Om, apakah Adrian selama ini menyebalkan? Apakah selama ini, Adrian egois sebagai seorang teman?" tanya Adrian yang tiba-tiba matanya berkaca-kaca. Ilham memeluk Adrian dengan penuh kasih sayang.
"Terkadang, Adrian memang suka memaksakan kehendak Adrian kepada Fathu. Jadi wajar, kalau Fathu merasa seperti itu!" ucap Ilham, mengelus rambut Adrian, penuh dengan kasih dan sayang.
"Tapi Om, Adrian gak maksud apa-apa, kok! Adrian menganggap Fathu sebagai sahabat sejati ku! Makanya Adrian bisa mengatakan apapun yang Adrian mau, tanpa takut Fathu tersinggung!" ucap Adrian sendu. Sedih.
"Sayang, walaupun demikian, kita tetap harus berusaha menjaga hati sahabat kita!" ucap Ilham lalu menggandeng tangan Adrian untuk mendapatkan maaf dari Fathu yang sudah merasa terganggu dengan kebiasaan Adrian yang suka mengolok-olok dan mengaturnya.