
Pov Ilham
Hari itu aku mendengar kabar bahwa Kesya akan datang ke Indonesia dalam rangka memenuhi panggilan penyelidik dalam kasus kecelakaan beberapa tahun lalu yang di akibatkan oleh Silvia, karena kasus itu, pernikahanku dengan Kesya batal. Kesya menghilang selama satu tahun dan mengalami amnesia. Kasus itu juga membuat Kesya harus merelakan beasiswanya ke Mesir.
Sungguh besar sekali dampak kecelakaan itu bagi kehidupan kami berdua. Oleh karena itu, aku berjanji tidak akan pernah memaafkan Silvia. Wanita keji itu mengatas namakan kejahatan dia karena cintanya kepadaku. Cinta macam apakah yang dia miliki? Sehingga memberikan banyak luka dihatiku saat ini? Aku tidak butuh cinta macam itu. Cintaku untuk Kesya cinta yang tulus.
'Aku mencintaimu dalam doaku' bathinku saat hari itu aku melihat dia datang bersama suami dan anaknya. Kesya telah mempunyai seorang anak, anaknya sangat tampan dan lucu. Tanpa terasa air mataku terus mengalir.
Aku hanya mampu melihat Kesya dalam kejauhan, aku mengikuti mereka sampai ke rumahnya. Saat itu Kesya melihat kehadiranku, tapi dia hanya menatapku dalam diam. Aku tahu dia pasti ingin menyapaku, tetapi takut suaminya marah. Aku paham, Kesya pasti ingin menjaga hati suaminya.
Kesya memang wanita Solehah. Tidak banyak wanita seperti Kesya di dunia ini. Aku kembali ke pondok yang telah aku berikan kepada temanku saat kuliah di Mesir dulu. Pondok ini terlalu banyak kenangan dengan Kesya. Aku tidak sanggup kalau harus berlama-lama disini.
"Sudah bertemu Kesya, Ilham?" tanya Umi padaku.
"Tidak Umi, Ilham takut memberikan masalah untuk Kesya, kalau nekat menemui dia. Kesya sekarang seorang istri Umi. Aku tidak berhak atas dirinya lagi!" jawabku lesu.
"Kamu yang sabar ya sayang!" Umi menepuk punggungku. Aku lari ke dalam pelukannya. Saat ini aku sangat lemah. Hanya Umi yang mampu menguatkan hatiku.
"Ilham masih mencintai Kesya Umi. Bagaimana ini? Ilham tidak mau memberikan masalah untuk Kesya besok. Ilham pasti tidak akan mampu berhadapan dengan Kesya. Hiks hiks!" air mata sudah tidak mampu aku bendung lagi. Aku sungguh payah. Bertahun-tahun di tinggal menikah oleh Kesya, hatiku belum bisa move on.
"Lupakan Kesya, sayang! Dia bukan jodoh kamu. Berhenti menyiksa diri kamu, anakku!" Umi ikut menangis sekarang. Aku memang anak durhaka. Sebesar ini, aku hanya bisa memberikan kesedihan kepada Umi dan Abahku.
"Ilham sudah berusaha Umi! Tapi cinta ini semakin besar, Ilham juga tidak mengerti kenapa!"
"Menikahlah dengan Husna. Dia wanita Sholehah, sama seperti Kesya." bujuk Umi lagi.
"Tidak akan ada yang menyamai Kesya di hati Ilham, Umi. Kesya adalah segalanya bagi Ilham!"
"Jangan begitu, sayang! Cinta hakikatnya hanya milik Allah! Jangan mau di perdaya oleh Iblis dengan cinta semacam itu terhadap mahluk Allah. Percayalah sama Umi. Hanya dengan menerima wanita lain dalam hidup kamu, kamu pasti bisa melupakan cinta kamu pada Kesya." Aku hanya bisa menangis di pelukan Umiku yang sangat aku sayangi. Umi adalah cinta pertamaku.
"Tidurlah, besok kamu akan ke kantor polisi bukan? Istirahatlah supaya besok fresh wajahnya." Aku baru ingat hal itu. Aku segera beranjak dari pelukan Umi yang selalu mampu menenangkan jiwaku yang hampa karena luka cinta.
Aku berusaha lelap dalam tidurku. Tapi bayangan Kesya selalu menari-nari di pelupuk mataku.
"Ya Allah! Kalau cintaku untuk Kesya tidak membawa kebaikan, biarlah cinta itu cukup dalam doaku. Jangan sampai cintaku membawa malapetaka bagiku maupun bagi Kesya." doaku malam ini. Ya, aku mencintaimu dalam doaku. Kesya, tidak pernah seharipun aku lewatkan dari menyebut namamu.
Keesokan harinya, aku ditemani oleh Umi dan juga pengacara keluarga kami, pergi ke kantor polisi. Kami siap memberikan kesaksian dan tuntutan kepada Silvia, wanita keji yang telah begitu tega menghancurkan hidupku.
Disana, aku melihat Kesya, Andika, Mas Rasyid dan juga Keluarga Silvia. Saat mataku bertemu pandang dengan Kesya, hatiku rasa terhiris. Sakit sekali. Mas Rasyid mendekatiku dan memeluk diriku. Tanpa komando, kami berdua menangis tersedu-sedu. Sungguh berat rasanya. Kesya di hadapanku, tetapi tidak mampu aku rengkuh. Dia bukan lagi milikku. Andika suaminya dari tadi terus menatap tak suka kepadaku.
"Maafkan Mas Rasyid, Ilham!" Mas Rasyid bersimpuh di hadapanku. Aku sungguh pilu melihatnya. Aku mendengar keadaan Mas Rasyid pasca pernikahan Kesya dan Andika. Mas Rasyid bahkan sampai sakit dan tidak mau makan selama berhari-hari. Merasa bersalah atas pernikahan mereka. Andika dan keluarganya sungguh keterlaluan, menculik Kesya sekeluarga demi memaksakan cintanya kepada Kesya.
"Sudahlah, Mas! Jangan seperti ini. Ayo kita duduk bersama. Kita disini untuk memberikan hukuman bagi wanita keji itu. Yang sudah menghancurkan kehidupan kita!" ucapku geram sambil melihat ke arah Silvia yang tangannya kini di borgol.
Kami berada disini dalam tahap mediasi. Keluarga Silvia menginginkan penyelesaian secara kekeluargaan. Mereka meminta maaf atas kesalahan yang sudah diperbuat oleh anak manja mereka. Tapi aku sudah bertekad tidak akan pernah memaafkan wanita keji itu, Tidak akan!
"Klien kami mengharapkan penyelesaian perkara secara kekeluargaan. Mohon untuk dapat di pertimbangkan oleh Pak Ilham dan Bu Kesya." ucap pengacara keluarga Silvia.
"Maaf sebelumnya, bisa minta tolong, untuk menjelaskan semua duduknya perkara?" tanya Kesya, dia tampaknya masih belum paham dengan semua ini. Kami memang belum ada yang menjelaskan, wajar kalau Kesya tidak paham.
"Begini ibu, klien saya, yang bernama Silvia. Dahulu merencanakan pembunuhan atas diri Ibu dan Pak Ilham. Niatnya hanya ingin memisahkan kalian dan menggagalkan rencana pernikahan kalian berdua. " pengacara berbicara dengan jelas dan padat. Kesya mengangguk pelan.
"Jangan bermimpi kalau saya akan memaafkan dia!" tunjukku dengan amarah kepada Silvia.
"Sabar, Nak!" Umi memegang tanganku, berusaha menenangkan diriku yang sudah emosi.
"Kejahatan Silvia tidak bisa diselesaikan secara kekeluargaan. Biarkan hukum yang bicara. Perbuatan dia sungguh keterlaluan. Saya bahkan sampai mengalami koma selama beberapa bulan. Mengalami amnesia sampai satu tahun lamanya. Saya bahkan kehilangan beasiswa saya ke Mesir. Beasiswa yang saya perjuangkan dengan sangat keras. Sungguh pak polisi, kami tidak bisa memaafkan kejahatan Silvia terhadap kami berdua." Kesya juga tampak marah. Setali mata uang denganku. Syukurlah! Aku lega sekali.
Aku tadinya takut, kalau Kesya akan memaafkan Silvia. Karena aku tahu hati Kesya sangat lembut. Aku takut Kesya hatinya luluh dengan bujuk rayu mereka. Jangan sampai!
Selama proses mediasi tersebut, aku dan Kesya sama sekali tidak bicara berdua. Kami hanya hadir di sana memberikan kesaksian kami dan keberatan kami untuk memproses kasus ini secara kekeluargaan. Aku tidak akan pernah setuju sama sekali!
"Baiklah, berarti Pak Ilham dan Bu Kesya sepakat untuk memproses kasus ini secara hukum?" Kami menjawab dengan anggukan kepala. Sepintas lalu, aku melihat Kesya sempat mencuri pandang kepadaku. Hatiku berdesir dan bahagia sekali.
'Kesya, aku akan selalu mencintaimu dalam doaku!' bathinku haru. Kesya memang wanita Sholehah, dia sama sekali tidak berusaha mendekati diriku, dia menjaga hati suaminya dari menyapa diriku, diriku sang mantan calon suami.
Sungguh miris nasib kami berdua saat ini.