
Begitu sampai di apartemennya Ayana, Pak Rahmat langsung membangunkan majikannya itu untuk segera berangkat ke kantor. "Non Ayana! Ayo cepet bangun! Sudah siang! Anda nanti terlambat untuk datang ke kantor anda!" kemudian Pak Rahmat pergi ke kebagian dapur. Mempersiapkan sarapan untuk Ayana yang sudah mulai menggeliatkan tubuhnya dan bersiap untuk ke kamar mandi.
"Tadi malam saya pulang jam berapa Pak?" tanya Ayana sambil memukuli kepalanya yang terasa berat dan sakit.
"Jam 01.00 malam Non! Bapak yang sudah mengantarkan non Ayana ke apartemen ini!" ucap Pak Rahmat sambil tetap fokus membuat roti panggang dan juga segelas susu untuk Ayana.
"Silahkan dinikmati sarapannya Non Ayana. Bapak akan mempersiapkan mobilnya dulu!" ucap Pak Rahmat kemudian meninggalkan Ayana untuk sarapan sendiri di sana.
Sementara dirinya keluar apartement Ayana untuk mempersiapkan mobil yang akan digunakan ke kantor.
Setelah selesai sarapan, Ayana kemudian langsung turun ke basement apartemennya dan menemui sopir yang selalu setia bekerja dengannya di setiap waktu.
"Paman sudah makan atau belum?" tiba-tiba saja Ayana keceplosan memanggil Pak Rahmat dengan sebutan Paman, sehingga membuat Pak Rahmat kebingungan.
"Saya sudah makan non bersama istri saya di rumah. Oh ya, kenapa Non Ayana tiba-tiba saja memanggil saya paman? Saya rasanya jadi malu!" Ucap pak Rahmat sambil menyengir kepada Ayana yang blingsatan.
"Tidak apa-apa, Rasanya lebih menyenangkan kalau memanggil Pak Rahmat dengan paman. Apakah Paman keberatan?" tanya Ayana dengan gugup seketika. Karena dia sudah berbuat bodoh dengan keceplosan memanggil pamannya itu dengan paman.
Padahal Humairoh, bibinya sudah wanti-wanti kepada Ayana untuk jangan membuka identitas asli bibinya itu terhadap suaminya.
'Entah mau berapa puluh tahun lagi Bibi akan terus saja merahasiakan tentang identitas dirinya sendiri. Terhadap suaminya sehingga menyusahkanku seperti ini!' bathin Ayana.
"Baiklah Paman! Ayo kita segera ke kantor tampaknya saya sudah terlambat sejak tadi!" ucap Ayana sambil masuk ke dalam mobil yang sudah siap untuk digunakan.
"Baik, Non! Ayo kita segera kita berangkat!" kemudian Pak Rahmat mengantarkan Ayana ke kantor dengan selamat.
"Paman pulang dulu saja tidak apa-apa. Istirahat saja. Pasti semalam paman pulang terlambat membuat Paman jadi tampak lemas dan kelelahan. Nanti saya akan menghubungi Paman kalau saya membutuhkan paman!" ucap Ayana memerintahkan kepada Pak Rahmat untuk pulang dan beristirahat.
"Nggak apa-apa Non! Saya bisa istirahat di mobil atau di pos satpam kantor. Sekarang ini kan, memang jam kerja. Tidak baik kalau saya bermalas-malasan!" Pak Rahmat menolak perintah dari Ayana yang meminta dia untuk beristirahat sehingga Ayana hanya bisa menggelengkan kepalanya. Kemudian dia meninggalkan Pak Rahmat di basement kantornya.
"Pantas saja Bibi begitu mencintai dia dan rela meninggalkan apapun demi suaminya itu. Memang dia layak untuk dicintai oleh bibiku!" gumam Ayana merasa terkagum dengan sifat pamannya yang begitu rajin bekerja dan juga selalu menjaga dia dalam keadaan aman. Walaupun dia setiap hari selalu pulang malam dan mabuk-mabukan.
"Oh ya, aku lupa! Kalau aku harus menghubungi Firman. Kalau hari ini ada rapat bersama di kantornya!" Ayana sambil menepuk keningnya karena mengingat sesuatu yang penting.
"Melisa kau cepat hubungi Pak Firman bahwa kita akan segera ke kantornya, untuk melakukan rapat bersama tentang kerjasama perusahaan kita dengan perusahaannya!" perintah Ayana kepada sekretarisnya yang sudah menunggu dia di meja kerjanya.
"Saya tadi sudah menghubungi beliau Bu. Kita sudah siap tinggal berangkat saja!" ucap Melisa sambil tersenyum kepada Ayana.
"Melisa, apakah berkas-berkasnya sudah kau siapkan?" tanya Ayana sambil menatap kepada sekretarisnya yang kemudian menyerahkan beberapa berkas kepadanya.
Ayana tersenyum dan merasa puas sekali dengan pekerjaan sekretarisnya yang memang selalu profesional dan memuaskan dirinya sebagai atasan Melisa.
"Baiklah! Ayo kita segera berangkat ke perusahaannya Firman. Untung saja tadi Pamanku menolak untuk saya suruh pulang kalau tidak kita pasti akan kesulitan untuk menuju ke kantornya Firman!" ucap Ayana.
"Pamanku? Maksud anda apa Non Ayana?" tanya Melisa tampak keheranan kepada Ayana karena memanggil sopirnya dengan kata "pamanku" sontak membuat Ayana kembali menepuk keningnya karena selalu saja keceplosan tentang status Pak Rahmat.
'Semua ini gara-gara Bibiku, merepotkan saja membuatku selalu kebingungan seperti ini!' rutuk Ayana menyesali kebodohannya yang sejak tadi selalu saja keceplosan tentang status dari sopir pribadinya yang sebetulnya adalah pamannya sendiri.
"Tidak apa-apa! Dia kan lebih tua dariku, tidak pantas rasanya kalau saya tidak menghargainya. Aku memanggilnya Paman karena aku menghargai tugas dan pekerjaannya yang selalu menjagaku bahkan sampai larut malam!" ucap Ayana sambil tersenyum kepada Melisa yang tampaknya masih belum mengerti apa yang dia sampaikan kepadanya.
'Aku harus segera menemui Bibiku. Agar dia segera memberitahukan identitasnya kepada suaminya. Lama-lama aku bisa keceplosan terus kalau seperti ini, pasti Pamanku akan curiga dengan semuanya!' bathin Ayana di dalam hatinya.
Begitu sampai di depan mobilnya, Ayana langsung menghubungi Pamannya untuk segera bersiap berangkat ke kantor Firman.
"Mari! Nona Saya sudah siap dari tadi!" tiba-tiba saja Pamannya sudah berdiri di belakang Ayana dan membukakan pintu untuknya dan juga untuk Melisa sekretarisnya.
Ayana tampak keheranan melihat Pamannya sudah ada di sampingnya dan sudah bersiap untuk berangkat mengantarkan dia ke kantornya Firman.
"Saya sudah menghubungi Pak Rahmat sejak tadi pagi. Untuk bersiap dan mengingatkan Nona agar kita jangan sampai terlambat ke kantor Tuan Firman!" ucap Melisa menjawab keheranan yang terlihat di wajah Ayana.
Mendengar jawaban dari Melisa, Ayana pun hanya menganggukan kepala. Kemudian dia pun duduk dengan anteng di kursi belakang bersama Melisa.
Ayana membuka kembali file-file yang tadi diserahkan oleh sekretarisnya untuk dia pelajari kembali. Agar tidak ada kesalahan ketika melakukan presentasi di depan Firman dan juga karyawannya.
Begitu sampai di perusahaannya Firman, Ayana langsung mendatangi kantor Firman dan menyalami rekan bisnisnya tersebut.
"Maafkan saya Firman, karena anda harus menunggu kedatangan kami. Ya maklumlah, sifat saya yang suka dugem sampai tengah malam, jadi terlambat bangun deh. Maafkan ya!" ucap Ayana sambil tersenyum kepada Firman tanpa merasa bersalah sama sekali, sudah membuat Firman menunggu hampir satu jam lamanya.
"Kau sejak dulu tidak pernah berubah Ayana! Untung aku kenal dengan kamu dan tahu tabiatmu yang jelek itu! Kalau orang lain pasti akan merasa sakit hati kau buat menunggu satu jam seperti ini!" ucap Firman sambil menggelengkan kepalanya.
Firman merasa heran dengan Ayana yang sejak dulu tidak pernah berubah kelakuannya maupun tabiatnya yang selalu berbuat sesuka hatinya. Hidup Ayana yang terlalu bebas baginya, sungguh sangat tidak masuk logika bagi Firman.