Assalamualaikum Ustadz Ku

Assalamualaikum Ustadz Ku
28. Kunjungan Ilham



Ilham dan keluarganya langsung menuju rumah sakit tempat Silvia di rawat. Ilham memang sudah lama tidak meninggalkan Pondok pesantren Abahnya, sejak Kesya menikah dan pindah ke Dubai bersama suaminya.


Kembali ke kota ini, membuat Ilham mengingat kembali kenangan masa silam. Kenangan tentang Kesya masih tersimpan rapi di lubuk hatinya. Masih belum tergeser siapapun. Ilham berusaha menghapus air mata yang mengalir tanpa permisi.


"Maafkan Abah sama Umi, sudah menorehkan luka di hatimu, Nak!" Umi jadi sedih lagi melihat anak kesayangannya sedih.


Ilham menatap Umi dan menggeleng, " Tidak Umi, Ilham baik-baik saja." Ilham tersenyum, tidak mau membuat orang tuanya kwatir kepadanya.


"Bagaimana kalau Silvia kembali meminta untuk menikah dengan kamu, Nak?" Ilham hanya diam.


"Istikharah, Nak! Siapa tahu Kalian memang berjodoh." pesan Abah. Ilham hanya tersenyum. Tidak tahu harus menanggapi apa. Bukan satu dua kali, Susan meminta agar menikah dengannya dirinya, tetapi Ilham sama sekali tidak tergerak hatinya dengan cinta Silvia yang bagi Ilham terlihat sebagai obsesi yang berlebihan.


Cinta itu harusnya membahagiakan, bukan malah membuat orang ingin bunuh diri. Dirinya juga mencintai Kesya, tapi tidak pernah ada pikiran untuk bunuh diri. Cinta tidak harus memiliki. Melihat Kesya bahagia sudah membuatnya bahagia juga. Kesya dan Ilham tidak pernah berhubungan lagi sejak pernikahan Kesya dan Aditya, kabarnya Kesya sudah memiliki seorang putra sekarang, Ilham mendengar dari Rasyid.


Ilham hanya mengintip sedikit sosmed Aditya. Kesya sendiri tidak memiliki akun sosmed. Terakhir mendengarkan kabar dari Rasyid, katanya Kesya sekarang kuliah ambil jurusan kedokteran. Ilham bahagia, Kesya akhirnya mewujudkan cita-cita dan impiannya.


Ilham memilih untuk beristirahat saja. Pasti nanti bertemu dengan Silvia akan mengurus energinya. Silvia selalu banyak maunya kalau bertemu dengan Ilham. Ilham kadang malas, tapi rasa kemanusiaan dalam hatinya meronta. Tidak tega, seorang manusia nyawanya dalam bahaya karena dirinya. Dilema memang.


Ilham selama dua tahun itu hanya fokus mengurus pondok pesantren Abahnya. Tidak ada pikiran untuk menikah atau mempunyai hubungan baru. Masih menikmati kesendirian ditinggalkan Kesya.


Di kejauhan, orang tua Silvia sudah menyambut kedatangan keluarga Ilham. Mamahnya Kesya sampai berlari dan langsung memeluk Umi Hasanah. Terlihat kesedihan di mata perempuan cantik itu. Bukan satu dua kali, Silvia melakukan aksi nekat seperti ini. Mereka kehabisan akal untuk membujuk Silvia, untuk menghapus obsesinya terhadap Ilham.


"Assalamualaikum, Bu Nyai dan Pak Kiai. Mohon maaf ini, kami selalu saja merepotkan." Papahnya Silvia menyalami Abah dan Uminya Ilham.


"Bagaimana kabarnya Bu Nyai?" terlihat Mamahnya Silvia memeluk Umi Hasanah dan menyuruh mereka untuk masuk ke ruangan perawatan Silvia. Kamar VVIP.


"Apa kabar, Nak Ilham?" kemudian papanya Silvia bersalaman dengan Ilham. Ilham mengulas senyumnya, walaupun sangat lelah, tetapi dirinya tetap menjaga kesopanan terhadap orang yang lebih tua.


"Alhamdulillah baik, Pak! Bagaimana dengan Bapak sekeluarga?" tanya Ilham kembali, sambil memperhatikan ruangan Silvia yang sangat mewah. Walaupun rumah sakit, tapi nampak seperti hotel bintang lima.


Keluarga Silvia memang keluarga kaya raya, keluarga pengusaha. Walaupun masih kalah jauh dengan keluarga Abimana, mertuanya Kesya. Yang perusahaan mempunyai banyak cabang di luar negeri maupun dalam negeri.


"Mas Ilham!" Silvia langsung mau berlari saat melihat Ilham sudah datang, kalau tidak di cegah oleh suster, Silvia pasti sudah lepas kontrol.


"Maaf ya Nak Ilham. Silvia sudah nungguin dari kemarin, sampe tidak mau tidur semalaman. Nungguin Nak Ilham datang!" Ilham merasa malu dan jengah mengetahui hal tersebut, bukanya bangga karena ada seorang wanita begitu tergila-gila kepadanya.


"Silvia, kamu harus belajar untuk melepaskan obsesi kamu kepada saya. Saya akan menikah sebentar lagi, saya tidak mau kalau nanti calon istri saya salah paham dengan kamu," belum selesai Ilham mengatakan apa yang mau dia sampaikan, Silvia sudah menjerit histeris. Semua benda di dekatnya di lemparkan.


Ilham dan kedua orang tuanya menjadi bingung seketika. Baru kali ini melihat orang mengamuk dan berteriak histeris.


"KAMU HANYA BOLEH MENIKAH SAMA AKU! KALAU KAMU NEKAT UNTUK MENIKAHI PEREMPUAN LAIN, MAKA KAMU HARUS BERSIAP-SIAP UNTUK KEHILANGAN LAGI SEPERTI DAHULU! AKU PASTI AKAN MEMBUNUH CALON ISTRI KAMU, SAMA SEPERTI KEJADIAN WAKTU PERNIKAHAN KAMU DENGAN KESYA DAHULU!" Demi mendengarkan histeria Kesya, semua orang menjadi terkejut. Tidak menyangka akan mengetahui rahasia besar tersebut.


"Jadi, kecelakaan aku sama Kesya dulu adalah perbuatan kamu? Kamu sungguh wanita yang sangat keji sekali!" Ilham tidak mampu menahan kemarahannya.


"Ya Allah! Kenapa ada orang yang begitu jahat? Menghancurkan kebahagiaan orang lain demi dirinya sendiri." Umi Hasanah sungguh sangat kecewa dengan Silvia. Rasa kasihan saat pertama kali datang melihat keadaan Silvia, berubah seketika menjadi rasa illfell.


Abah Maulana juga tidak kalah terkejutnya. Sungguh tidak menyangka, di balik wajah cantik Silvia, tersimpan hati yang begitu gelap.


Orang tua Silvia terkejut dengan pengakuan Silvia. Bagi mereka perbuat Silvia sudah sangat sangat keterlaluan. Mereka mendengar karena kecelakaan itu, Kesya bahkan sampai hilang selama setahun lamanya. Sehingga pernikahan Ilham dan Kesya dibatalkan dan akhirnya sekarang Kesya menikah dengan laki-laki yang menyelamatkan Kesya dari kecelakaan itu.


"Aku akan melaporkan ke polisi. Aku gak akan pernah biarkan penjahat macam kamu bebas berkeliaran !" Ilham langsung menelpon polisi. Namun orang tua Silvia bersimpuh di kaki Ilham.


"Nak Ilham, tolong ampuni anak Kami. Silvia memang keterlaluan, tapi semua itu karena cintanya yang terlalu besar untuk Nak Ilham!" Ucap Mamahnya Silvia sambil memeluk kaki Ilham. Ilham geram melihat mereka melakukan hal itu. Bukannya iba.


"Karena kalian selalu memanjakan Silvia, oleh karena itu dia jadi bersikap arogan dan egois. Tidak perduli dengan orang lain!" Ilham sungguh sangat geram hatinya sudah mendidih luar biasa.


Ilham kembali mengingat, dirinya bahkan berjuang sangat keras untuk kembali pulih dari kecelakaan itu. Sampai sekarang kakinya masih terasa sakit, sehingga jalannya agak pincang sedikit, kalau sedang kumat nyerinya.


"Kalau bukan karena perbuatan anak manja kalian, aku dan Kesya pasti sekarang sudah menikah dan memiliki beberapa anak. Tidak mungkin sekarang Kesya menikahi laki-laki lain. Anak manja kalian sudah menghancurkan kebahagiaan Kami!" Ilham lepas kontrol dan menarik kakinya dengan kasar dari pelukan mamahnya Silvia.


"Nak, Istighfar sayang! Jangan lepas kontrol seperti ini. Istighfar sayang!" Umi mencoba menenangkan Ilham yang sudah kalap. Siapa yang tidak akan kalap coba? Mengetahui kebahagiaannya di hancurkan oleh orang lain. Sialnya, orang itu mengaku cinta kepadanya.


"Persetan dengan cinta kamu, Silvia! Aku akan pastikan kamu membusuk di penjara!" Ilham langsung pergi keluar ruangan Silvia.


Silvia yang melihat pria idamannya mengamuk sudah ketakutan sendiri. Belum pernah dirinya melihat Ilham versi saat ini. Matanya memerah penuh kebencian. Silvia sudah gemetaran takut di laporkan ke polisi. Tadi hatinya sangat panas, mendengarkan pengakuan Ilham yang katanya akan menikah dengan wanita lain. Sehingga Silvia keceplosan mengakui perbuatannya tiga tahun lalu. 'Sungguh bodoh kamu Silvia!' rutuknya pada dirinya sendiri.