
Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu itu pun datang, pernikahan Ilham dan Qonita akan digelar hari ini secara meriah. Kyai Hamid benar-benar mempersiapkan acara pernikahan tersebut, walaupun dengan waktu yang sempit, tetapi pernikahan tersebut bisa dikatakan tergolong mewah karena dihadiri oleh para Kyai di seluruh Indonesia.
Ilham sudah di dandani layaknya seorang pengantin pria, begitu juga dengan Qonita, telah siap dengan gaun pengantin yang di pesan secara dadakan. Ya, pernikahan Ilham termasuk pernikahan yang telah di tunggu oleh banyak kalangan. Bagaimana tidak? Seorang Kiai Muda yang memimpin sebuah pondok pesantren besar, di Jawa Timur, dengan santri lebih dari puluhan ribu, mengadakan acara pernikahan, tentu mendapatkan banyak apresiasi dari para ulama setempat dan juga para Kiai sepuh.
"Syukurlah, semua persiapan pernikahan berjalan dengan lancar! Umi harap tidak ada halangan yang terlalu berarti. Dan Umy harap, ini adalah pernikahanmu yang terakhir, Ilham!" ucap Umynya Ilham dengan linangan air mata.
Ilham kemudian memeluk tubuh Uminya. Yang kini semakin tua. Ia pun merasakan kesedihan wanita yang telah melahirkan dirinya tersebut, yang selama ini selalu bersabar dengan apapun yang terjadi dalam hidupnya.
"Umi, tolong restui dan berkahi pernikahan ini! Semoga pernikahan ini, akan membawa berkah dunia dan akhirat. Semoga Ilham bisa membangun rumah tangga yang sakinah, mawaddah dan warohmah! Serta menghasilkan keturunan yang akan mengagungkan ayat-ayat suci Alquran di bumi kita ini!" ucap Ilham penuh dengan haru.
Air mata terus berderai di pipi Uminya Ilham. Begitu juga dengan Ilham. Ya, suasana haru tersebut disaksikan oleh Qonita dan juga Kesya yang saat itu sedang mencari Ilham dikarenakan penghulu yang sudah datang.
"Saya titip Mas Ilham beserta Umy, Ustadzah Qonita! Mereka adalah orang-orang yang baik. Saya tidak beruntung, karena tidak berjodoh dengan laki-laki baik itu. Saya berdoa, semoga pernikahan Ustadzah dan Kyai Ilham akan menjadi pernikahan terbaik dan akan berakhir sampai akhir hayat kalian. Saya berdoa, semoga keturunan Ustazah dan Kyai Ilham,, akan menjadi anak yang sholeh dan sholehah! Yang akan mengagungkan ayat-ayat Allah di muka bumi ini!" ucap Kesya penuh haru, tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang terus memperhatikan interaksi keempat orang tersebut, yaitu Andika, beserta kedua orang tuanya.
"Entahlah, Papa sama Mama juga bingung! Apakah perbuatan kita itu termasuk dosa atau tidak. Memisahkan dua orang yang saling mencintai, sehingga tercerai-berai semacam ini. Andika! Kamu harus ingat! Bagaimana perjuangan kami untuk membantumu agar bisa mendapatkan Kesya sebagai istrimu, perlakukan dia dengan baik! Kamu harus ingat, bahwa demi pernikahanmu dengan Kesya kita telah melukai banyak hati. Kamu ingat itu Andika!" pesan Pak Farhan yang kini juga mulai berlinang air matanya.
"Mamah juga, sampai saat ini rasanya masih merasa bersalah, karena kita dulu, sudah memaksakan pernikahan Andika dengan Kesya. Tetapi kalau melihat perubahan yang terjadi dalam hidup Andika karena kehadiran Kesya dalam hidupnya, Mama merasa bahwa apa yang kita lakukan itu adalah yang terbaik. Tetapi kalau melihat Kesedihan mereka saat ini, hati Mama juga teriris rasanya!" Andika melihat kini Kesya memeluk Qonita dan membawa perempuan itu ke arah Ilham yang tampak masih bercengkrama dengan Uminya.
"Mas, ayo! Bergegas! Itu, penghulunya sudah datang dan tamu-tamu juga sudah menunggu kita. Yuk nanti waktu baiknya berlalu!" ajak Kesya sambil menggamit tangan Uminya Ilham yang hampir saja jatuh pingsan.
"Umi, Kesya akan menemani Umi. Umi yang kuat ya? Seharusnya, pernikahan Mas Ilham ini menjadi hari yang bahagia buat kita semua! Umi nggak boleh sampai jatuh pingsan, oke?" ucap Kesya.
Sementara itu, nun jauh di sana, Uminya Kesya pun tampak berderai Air mata, tidak terkecuali Rasyid dan Zahra, yang menyaksikan pernikahan tersebut dengan perasaan yang bercampur aduk. Sedih, bahagia! Entahlah! Semuanya rasanya sangat ganjil di hati mereka.
"Lihatlah Andika, begitu banyak Hati Yang Tersakiti dengan pernikahan Ini. Seharusnya pernikahan menjadi tempat kebahagiaan. Entahlah, kenapa hari ini begitu Syahdu dan penuh dengan derai air mata!" Mamanya Andika mengedarkan pandangannya ke sekeliling, banyak air mata yang menetes, entah karena sedih atau bahagia.
Ardian dan Fathu yang sekarang menjadi pendamping pengantin pria dan wanita, tampak begitu bahagia. Karena keinginannya menjodohkan Kyai mereka kini telah kesampaian. Ada rasa bangga yang terpancar di mata Adrian, yang kini melihat Om kesayangannya akan menikah.
Kiai Hamid kemudian memanggil Ustadzah Qonita. Qonita yang sedang bersiap untuk proses ijab Qobul, lalu mendekati Kiai Hamid, "Nduk, apakah kamu ingat, nama ayah kamu?" tanya Kiai Hamid, seketika Ustadzah Qonita terdiam, tampak air matanya berderai.
"Nama ayah saya Hasan Ishaaq, Pak Kiai, tetapi beliau sudah membuang saya di jalanan, setelah ibu saya meninggalkan dunia ini. Istri barunya tidak mau menerima saya. Jadi ayah saya menipu saya dan membuang saya! Hiks hiks!" Semua orang yang hadir di ruangan itu, ikut sedih dengan kisah hidup Qonita, termasuk Ilham, dirinya berjanji akan berusaha menjadi suami wanita malang tersebut. Untung saja Qonita ditemukan oleh keluarga baik, sehingga dia tumbuh menjadi pribadi yang baik dan kini telah berhasil menjadi seorang hafizah.
"Kami adalah keluargamu!" ucap Kesya sambil memeluk Qonita, Ilham dan Andika melihat kedua wanita Sholehah itu, berbagai perasaan berkecamuk di dalam hati mereka.
"Maafkan, karena dahulu saya telah merebut Kesya dari tangan Mas Ilham!" ucap Andika lirih.
"Sudahlah, lupakan semua masa lalu itu. Aku ikhlas! Selama kamu memuliakan Kesya dan anaknya!" ucap Ilham sambil memeluk Andika yang mulai menetes air matanya, ya, selalu timbul rasa bersalah atas perbuatan dirinya di masa lalu. Ketika menculik Kesya dan seluruh keluarganya demi menjadikan Kesya sebagai istrinya.
Akhirnya pernikahan di adakan secara khidmat, wali nikah di serahkan kepada wali hakim, dikarenakan keberadaan ayahnya Qonita yang tidak diketahui ada dimana.
"Maafkan, Mas! Seharusnya, wanita yang ada di sana adalah kamu, tapi Mas sudah merusak segalanya!" ucap Andika dengan suara sendu. Kesya melirik suaminya, lalu tersenyum manis.
"Mas ini bicara apa? Kita adalah suami istri, bagaimana aku bisa ada di sana? Apa jangan-jangan, Mas sudah bosan ya, dengan aku? Jadi Mas bicarakan hal itu?" goda Kesya kepada Andika.
"Bagaimana Mas bisa bosan sama kamu?" ucap Andika.
"Ya, siapa tahu! Mas melihat atau bertemu dengan gadis cantik di acara pernikahan ini, lalu berniat untuk menikah lagi, dan membuang aku?" ucap Kesya dengan wajah sedih dan sendu.
"Sembarang saja bicara! Di dunia ini, tidak akan pernah ada wanita yang bisa menyaingi kamu di dalam hatiku!" ucap Andika sambil menggenggam tangan Kesya, menciumnya dengan lembut dan penuh cinta kasih.
"Aku juga, Mas! Menikahi kamu, adalah hal yang terindah dalam hidupku!" ucap Kesya sambil mencium bibir suaminya sekilas saja, karena dia merasa malu, berada di keramaian pernikahan Ilham dan Qonita.