Assalamualaikum Ustadz Ku

Assalamualaikum Ustadz Ku
33. Musuh Masa Kecil



Pov Merry


Aku sangat kesal sekali saat mendengar cerita dari mamah angkatku. Bahwa kakaku tersayang, Andika menjalin hubungan lagi dengan Elena. Menyebalkan! Perempuan tidak tahu malu itu masih berani mendekati kakaku.


Aku masih ingat, dahulu kakakku sampai depresi gara-gara Elena pergi menghilang begitu saja. Itulah yang membuat Kak Andika memutuskan untuk menetap di Indonesia. Mengurus perusahaan Papah Farhan di sana. Demi menghilangkan jejak Elena dalam hatinya. Elena memang seorang gadis yang cantik luar biasa. Parasnya yang blasteran Indonesia-Dubai. Memang memiliki pesona yang luar biasa.


Tapi untuk apa kecantikan itu, kalau tidak disertai dengan akhlaknya yang baik? Elena adalah penganut *** bebas. Bisa dipastikan setiap lelaki yang menjadi kekasihnya, pasti pernah berolahraga ranjang dengannya. Aku saja dulu pernah memergoki kakaku berbagi peluh dengan Elena. Saat itu aku masih SMA, masih belum paham hal-hal semacam itu. Aku hanya merasa malu saja, melihat LIVE sepasang manusia yang sedang asik bermain kuda-kudaan. Hehehe.


"Mah, Merry rasa, Kak Dika gak mungkin masih mencintai Elena. Kak Dika dulu pernah mergoki Elena main gila dengan Orlando, kekasihku. Aku saja langsung blacklist Orlando, masa kak Dika masih mau mungut bekas orang lain?Amit-amit deh!"eery bergidik ngeri.


" Mamah juga yakin, kalau kakak kamu gak mungkin masih cinta dengan pelacur itu. Tapi mamah harus buat perhitungan dengan Elena. Dahulu mamah pernah kasih 10M buat dia, supaya jauhi kakak kamu. Berani sekali dia datang lagi ke sini dan merayu kakak kamu lagi! " geram sekali mamahku dengan wanita itu.


Aku saja benci setengah mati. Dahulu aku dan Orlando hampir bertunangan, namun dia merayu Orlando sehingga aku menangkap perselingkuhan mereka di apartemennya Orlando. Aku bersyukur saat itu. Untung aku belum menikah dengan manusia bejat itu. Kalau tidak, mau dibawa ke mana perasaanku ini? Pasti sakit banget, melihat suami setiap hari main gila dengan setiap wanita sembarangan. Memikirkan saja sudah membuat diriku menjadi gila.


"Nanti Merry akan datangi pelacur itu, Merry juga gak rela kalau Kak Kesya di ganti dengan Elena. Amit-amit banget! Berlian ditukar dengan batu kali." Aku ngomel terus dari tadi. Kesal rasanya.


"Ayo ke kantor kakakmu, kita temui benalu itu. Kamu jangan gegabah. Biarkanlah mamah yang bicara. Kamu nemani Mamah saja. Ok?" tanya mamah, aku paham, mamah pasti khawatir denganku. Karena aku memang punya dendam pribadi dengan pelacur itu.


Elena yang punya andil pernikahanku dengan Orlando gagal total. Sekarang aku tidak tahu, di mana Orlando. Mungkin dia sudah balik ke Inggris, kembali ke negaranya. Orlando memang tengah study di Dubai. Dia juga kadang membantu bisnis Papahnya yang bergerak di bidang perminyakan.


Orlando termasuk konglomerat, tapi sayang, akhlaknya nol besar. Buat apa berharta kalau minus iman? Walaupun aku tampak slengean, tapi aku bisa menjamin kevirginan diriku. Aku menjaga pergaulan diriku dengan ketat. Tidak sudi di jamah oleh sembarang pria. Kehormatan diriku akan aku persembahan kepada suamiku kelak. Suami yang aku cintai jiwa dan ragaku.


"Mah, Merry gak jamin tidak akan cakar- cakar perempuan gatel itu. Merry masih kesal sama dia, Mah! Gara-gara dia, rencana pernikahan Merry sama Orlando hancur berantakan!" Aku cemberut.


"Sabar sayang! Semua akan indah pada waktunya. Pasti Allah akan siapkan jodoh terbaik bagi kamu. Percayalah sama Mamah!" Aku mengangguk.


"Ayo Mah, nanti keburu habis jam kantor. Kita nanti kesulitan mencari pelacur itu. Kita gak tahu dimana tempat tinggal dia yang baru! "


"Mamah curiga, kalau Elena ditempatkan di apartemennya Dika yang di dekat kantor kita. Kamu tahu bukan? Kakak kamu itu berhati lembut. Dia gak akan tega kalau lihat orang mohon-mohon sama dia." Aku setuju dengan Mamahku.


"Kak Dika memang terlalu baik. Makanya selalu di manfaatkan oleh cewek-cewek macam Elena. Bikin kesal aja. Nyesek tahu, Mah! Waktu lihat video mesum mereka berdua!" Aku tak kuat menahan kemarahan lagi.


"Kasihan Kak Kesya. Pasti sedih sekali. Melihat suaminya, yang selama ini dikira bekerja demi keluarga, ternyata main gila di belakang dia. Itu nyesek banget, Mah!"


"Iya, sayang! Makanya mamah belain Kesya, dan berniat bereskan pelacur itu. Mamah sudah suruh Kakak kamu dan Kesya buat pulang ke Indonesia. Kita yang akan bereskan Elena. Jangan sampai dia mengganggu rumah tangga kakakmu lagi."


"Mah, kalau menurut Merry, lebih baik kalau kita laporkan saja ke polisi dengan tindak penipuan. Bukannya mamah dulu pernah kasih dia uang 10M, supaya dia menjauh dari Kak Dika?" tanyaku.


"Ya, kamu benar, sayang! Kamu memang jenius!"


"Kontraknya di simpan sama pengacara keluarga kita. Nanti mamah telpon dulu." Mamah lalu mengambil ponselnya lalu menelpon pengacara.


"Assalamualaikum, bisa saya bicara dengan pengacara Alfarizi? Saya nyonya Abimana." teihat mamah serius sekali.


"Baiklah, tidak apa-apa. Saya sekarang tunggu di perusahaan. Bawa surat kontrak perjanjian saya dengan Elena, tentang uang 10M itu. Baik! Assalamualaikum." Mamah mengerutkan dahinya.


"Ada apa, Mah?" tanyaku heran.


"Pengacara Alfarizi sedang ke Indonesia. Ada kasus penting di sana. Jadi tugasnya disini di alihkan kepada putranya. Alvian!" Aku kaget! Gak benar ini! Alvian adalah musuh masa kecilku.


Tidak ada satu haripun tanpa berantem dengan anak rese itu. Sudah hampir 15 tahun aku tidak bertemu dengan dia. Karena Alvian lebih memilih tinggal di Indonesia, bersama kakeknya. Tidak tahu kenapa sekarang dia ada di Dubai.


"Merry pergi aja, Mah! Malas ah, ketemu sama anak rese itu!" Aku sudah mau pergi, tapi mamah langsung menarik tanganku agar masuk ke mobil. Dengan terpaksa aku akhirnya ikut saja. Mamah kalau punya mau gak bisa di tentang.


Hanya dalam waktu 20 menit, kami sampai di perusahaan yang dipercayakan kepada Kak Andika untuk di kelola. Pada hakikatnya, manajemen masih di tangan Papah Farhan. Tetapi Kak Dika diberikan keleluasaan oleh papah dalam mengambil keputusan apapun.


Itulah kehebatan papah kami. Dia tampak memberikan kebebasan, padahal mata-mata nya di perusahaan tersebar di semua lini. Apapun kegiatan Kak Dika pasti dilaporkan kepada Papah.


Papah marah kepada semua mata-mata yang dia tanam di sisi Kak Dika, bagaimana mungkin, skandal Kak Dika sampai kepergok oleh Kak Kesya? Untung Kak Kesya wanita Sholehah yang imannya kuat dan bathinnya kokoh. Kalau tidak, bisa hancur rumah tangga mereka.


Kami sampai ke perusahaan, aku lihat dari kejauhan seorang lelaki tampan berjalan ke arah kami. Aku sudah was-was. Jangan-jangan itu adalah Alvian, musuh masa kecilku. Gawat! Aku gak mau ketemu Alivian sekarang.


Aku sudah bersiap akan pergi. Namun ada seorang yang menarik kerah bajuku dan menariknya untuk mengikutinya.


"Kamu mau lari ke mana, Kucing liar!"


Deg!


"Kucing liar?" Panggilan itu adalah panggilan yang selalu digunakan oleh Alvian kalau bertemu denganku. Anak rese itu belum juga berubah. Masih saja berbuat sesuka hatinya. Bikin kesal!


"Lepas!" aku berusaha berontak tapi dia gak peduli denganku. Mamah juga diam saja, melihat anak perempuannya di perlakuan sewenang-wenang kayak gini. Menyebalkan sekali.


"Kucing liar selalu berbuat onar dimana-mana. Kalau tidak dibeginikan, kamu pasti kabur bukan?" suara bariton itu menginterupsi kupingku.


'Masih terdengar seksi suaranya.' bathinku. Oh no! Ada apa sih dengan dirimu Merry? Bisa-bisanya malah memuji anak rese itu! Menyebalkan!