
Agus seketika merasa terhenyak ketika mendengarkan kabar bahwa ayahnya saat ini sedang dirawat di rumah sakit setelah mengalami serangan jantung.
"Ya ampun! Bagaimana mungkin terjadi hal semacam ini kepada Pak Tua itu! Saya kira dia adalah seorang yang paling kuat di dunia, yang tidak akan bisa mengalami nasib semacam ini!" ucap Agus bermonologi kepada dirinya sendiri ketika dia mendengarkan kabar tentang ayahnya yang sudah lama dia tinggalkan hampir lebih dari 20 tahun lamanya.
"Tuan muda! Akhirnya ketemu juga. Ya Tuhan dari tadi saya berkeliling rumah sakit ini untuk mencarimu!" ucap kepala pelayan tersebut sambil bernafas ngos-ngosan.
"Mau apa kau mencariku? Sudah pergi sana kau urus saja itu tuanmu!" ucap Agus dengan nada kasar.
"Jangan begitu tuan muda! Ayo cepat kita kunjungi kamar beliau. Dia sangat merindukanmu dan selalu mencarimu kemana-mana, Tuan muda!" kepala pelayan yang sudah bekerja di kediaman ayahnya Agus kemudian menarik tangan Agus untuk mengikutinya tetapi Agus berusaha untuk melepaskan diri.
"Kau itu sama saja dengan Tuanmu! Sangat tidak sopan dan paling senang memaksa orang lain. Lepaskan aku!" ucap Agus terus memberontak dari cekalan tangan laki-laki yang berumur 60 tahun itu.
'Ya Tuhan! Aku tidak percaya dengan diriku sendiri. Bagaimana mungkin aku tidak bisa melepaskan diriku dari Pak Tua ini kenapa tenaganya begitu kuat!" Agus terus berusaha untuk memberontak agar bisa terlepas dari kepala pelayan ayahnya.
"Lepaskan aku! Pokoknya aku tidak akan pernah menemui laki-laki itu kau dengar tidak?" Agus benar-benar sangat marah saat ini sehingga dengan kekuatan penuh dia pun langsung mendorong pria tua itu agar bisa melepaskan tangannya dari cekalannya.
"Ya Allah tuan muda ini benar-benar sangat menyakitkan. Kenapa Tuan begitu tega terhadap saya?" ucapnya.
Sebetulnya Agus merasa bersalah setelah melakukan kekasaran terhadap laki-laki yang sebetulnya tidak berdosa terhadapnya itu hanya terjadi karena dia merasa benci terhadap ayahnya.
"Salahmu sendiri! Kau suka memaksakan sekehendakmu. Sama persis dengan Tuanmu!" WhatsApp Agus menatap tajam kepada pria tua itu.
"Apakah tuan muda masih merasa dendam dengan Tuan besar yang menikah lagi, setelah meninggalnya nyonya besar?" tanyanya merasa sangat penasaran.
"Apa kau tahu perasaanku sampai sekarang masih terasa sangat sakit walaupun hanya dengan mengingat namanya saja!" ucap Agus berusaha untuk melarikan diri dari kepala pelayan di rumah kediaman ayahnya.
"Bagaimana mungkin laki-laki brengsek itu menikahi perempuan yang sudah membunuh ibuku?" ucap Agus sambil mengepalkan kedua tangannya tampak begitu besar rasa bencinya terhadap sang ayah.
"Tuan salah kalau beranggapan seperti itu!" ucapnya sambil menundukkan kepala.
"Aku salah? Huh! Apakah kau hilang otakmu? Hah! Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri, kalau perempuan itu telah membunuh ibuku! dan kau tahu apa yang lebih menyakitkan dari semua itu?" tanya Agus sambil menatap tajam kepada pria tua yang ada di hadapannya.
"Apa?" tanyanya.
"Laki-laki Brengsek itu hanya melihat ketika Ibuku sedang meregang nyawa. Ketika perempuan brengsek itu membekap mulut ibuku dengan bantal. Laki-laki itu hanya diam dan menatap saja. Dia tidak berusaha untuk menyelamatkan ibuku!" ucap Agus.
Tampak kepala pelayan tersebut sekarang menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia menarik nafasnya dengan begitu dalam.
"Persetan dia mau mencari siapa! Sudah, aku pergi dulu. Dan jangan pernah sekali-kali lagi kau menampakan wajahmu di hadapanku! Karena aku sangat membencinya!" ucap Agus sambil membalikkan badannya dan tidak menoleh kembali walaupun kepala pelayan itu terus memanggilnya dengan putus asa.
"Saya berharap semoga Tuan muda dan Tuan besar bisa akur lagi sehingga tuan muda bisa membantu perusahaan Tuan besar yang saat ini sedang mengalami masalah!" kemudian pria tua itu pun masuk ke dalam ruangan majikannya yang sampai saat ini masih belum sadarkan diri setelah menjalani operasi jantung yang mendadak.
"Cepatlah bangun Tuan Besar. Karena saya mempunyai berita yang sangat bagus untuk anda dan anda pasti akan merasa bahagia karenanya!" ucapnya berusaha untuk lebih Tegar dari biasanya.
Kepala pelayan yang bernama Simon itu dia masih tetap memandang majikannya dengan lekat. Dia benar-benar merasa iba dengan nasib majikannya tersebut yang sangat dibenci oleh putranya sendiri.
"Berita apa yang kau bawa untukku?" tanya ayahnya Agus yang kini mulai membukakan matanya secara perlahan.
"Ternyata Tuan sudah sadar. Alhamdulillah kalau begitu saya sangat bahagia sekali!" ucap Simon yang kini berdiri di samping majikannya yang sedang berusaha untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam matanya setelah hampir 3 hari dia dalam koma setelah menjalani operasi.
"Cepat katakan padaku! Kau membawa Informasi apa?" tanya ayahnya Agus yang tampak begitu penasaran walaupun wajahnya masih terlihat lemah.
"Tadi saya bertemu dengan tuan muda!" ucapnya sambil menatap kepada kepala pelayannya yang sudah hampir lebih dari 50 tahun mendampinginya dengan Setia.
"Apa yang dikatakan oleh berandalan itu? Apakah dia masih membenciku?" tanya ayahnya Agus dengan suara yang pelan karena saat ini dia masih belum terlalu sadar setelah selama beberapa hari dia mengalami koma.
"Saya mengatakan kepadanya untuk kemari dan menjenguk keadaan Tuan besar tetapi Tuan muah bersikeras tidak mau dengan alasan bahwa dia masih membenci anda!" ucap Simon sambil menatap tajam kepada ayahnya Agus.
"Berandalan itu ternyata memang benar-benar sangat keterlaluan. Bagaimana mungkin dia masih mengingat kejadian begitu lama bahkan saya pun sudah melupakannya!" ucap ayahnya Agus dengan suara perlahan karena menahan rasa sakit yang ada di dalam tubuhnya.
"Tuan istirahat saja ya? Kita jangan terlalu banyak bicara maupun bergerak. Saya khawatir apabila luka operasi tersebut terkena air saat dirinya pergi mandi. Luka operasinya takut lepas lagi.
"Kau jangan memperlakukanku seperti orang pesakitan. Aku baik-baik saja. Walaupun memang tubuhku terasa sangat sakit tetapi aku tidak akan pernah mengalah dengan sakit ini!" ucap ayahnya Agus sambil menatap kepada pelayannya yang begitu setia selalu bersama dengan dirinya.
"Apakah Melinda belum datang kemari? Lalu bagaimana dengan Steve?" tanya ayahnya Agus sambil menatap kepada Simon yang tampak wajahnya begitu sedih.
"Tolonglah Simon! Jangan kau gunakan kebiasaan macam itu kau tahu saat ini aku tidak memiliki banyak tenaga untuk berdebat denganmu!" ucap ayahnya Agus yang terus menatap kepada pelayannya yang sejak tadi hanya menundukkan kepalanya.
"Apakah Melinda dan Steve pergi lagi dari rumah?" tanya ayahnya Agus.
"Maafkan saya Tuan besar. Nyonya Melinda dan Tuan Muda Steve sedang pergi ke Turki sekarang!" ucapnya memberikan laporan kepada ayahnya Agus yang sekarang terus saja memperhatikan gerak-geriknya.
"Apakah kau memang layak untuk dijadikan sebagai kepala pelayan di rumahku? Kenapa mengatasi hal sepele ini saja kau tidak sanggup?" tanya Bayu sambil menatap tajam kepada keduanya yang saat ini terus memperhatikannya.