Assalamualaikum Ustadz Ku

Assalamualaikum Ustadz Ku
209. Agus Pingsan



Agus berdiri dari tempatnya semula kemudian dia menatap Humairoh yang sudah bersiap untuk berangkat ke Australia.


" Untung saja Bibi selalu membawa semua dokumen-dokumen Bibi di dalam tas kecil ini. Kalau tidak kita akan kesulitan untuk mengejar Ayana saat ini!" ucap Humairoh sambil mengulas senyum kepada Agus yang masih tampak lesu.


" Ayo Bi saya antar! Pesawat Bibi sudah siap untuk berangkat!" ucap Agus sambil bangkit dan berusaha untuk menguatkan hatinya dan saat ini benar-benar sedang terluka.


" Bagaimana ini? Melihat keadaanmu Bibi benar-benar tidak tega. Sebentar ya? Bibi akan memanggil sopir pribadi Bibi agar bisa membawamu pulang ke kediamanmu!" ucap Humairoh merasa khawatir dengan keadaan Agus yang tampak pucat dan juga lemah.


Agus selama ini memang tidak menggunakan jasa sopir pribadi. Karena dia merasa lebih bebas dan merasa lebih tenang ketika menyupir sendiri mobilnya tanpa harus diikat dengan orang lain.


" Pak bisa tolong untuk datang ke bandara sekarang? Agus, suaminya Ayana. Keponakan saya. Dia saat ini sedang sakit. Saya mohon untuk bapak bisa mengantarkannya pulang ke kediamannya. Bisa bapak datang kemari menggunakan taksi saja?" tanya Humairoh kepada sopirnya yang saat ini sedang berada di kediamannya.


" Baik nyonya! Saya segera meluncur ke sana!" ucap sopirnya langsung menyetujui perintah yang Humaira berikan.


" Saya akan mengirimkan nomor telepon Agus sehingga Nanti kalian bisa bertemu di bandara!" ucap Humairoh kepada sopirnya.


" Siap Nyonya! Saya berangkat sekarang!" kemudian dia pun menutup teleponnya dan langsung berhadapan dengan Agus.


" Sopirku sudah berangkat dan dia akan menjemputmu. Kau tetaplah disini. Supaya dia tidak kesulitan untuk menemukanmu!" pesan Humairoh kepada Agus sebelum dia meninggalkan Indonesia menuju Australia.


" Terima kasih atas bantuan bibi saya berdoa semoga bibi sampai di Australia dengan selamat dan berhasil membawa Ayana kembali ke Indonesia!" ucap Agus dengan suara lemah.


" Bibi pergi dulu ya? Bibi berharap kita bisa menemukan Ayana di Australia dan semoga Bibi bisa membawanya kembali ke Indonesia untuk bertemu denganmu!" ucap Humairoh ketika dia siap untuk masuk ke ruang tunggu dan siap untuk berangkat ke Australia.


Setelah kepergian Humairoh tampak Agus merenung sendiri di kursi tempat dia menunggu sopir Humairoh yang akan menjemputnya.


" Apakah Ayana memang benar-benar tidak mencintaiku? Ataukah dia memang tidak sudi untuk menjadi istriku?" tanya Agus kepada dirinya sendiri.


Sekitar 2 jam lebih. Agus hanya duduk di tempat itu. Agus tdak melakukan apapun dan tidak tertarik untuk melihat siapapun.


Pikiran Agus saat ini sedang berkecamuk dengan berbagai kemungkinan mengenai Ayana. Segala hal terasa menyesakkan hatinya saat ini.


" Tuan Agus Ayo saya antarkan anda untuk pulang!" ucap sopir humairoh kepada agus yang saat ini masih terdiam duduk di atas kursi yang ada di bandara.


Dengan tatapan kosong Agus mengikuti supir Humairoh.


" Apakah anda baik-baik saja tuan? Apakah anda ingin saya membawa Anda ke rumah sakit?" tanya sang sopir merasa khawatir dengan keadaan Agus yang saat ini sepertinya tidak baik-baik saja.


" Saya baik-baik saja Pak! Tolong antarkan saja saya ke rumah dan bapak bisa langsung pulang!" ucap Agus sambil menatap sekilas kepada sopir Humairoh.


" Tuan! Apakah anda baik-baik saja?" tanya sopir Humairoh nggak usah khawatir dengan keadaan Agus yang tampak sangat pucat wajahnya.


" Lebih baik aku membawanya ke rumah sakit daripada nanti aku ketemuan Kalau terjadi apa-apa dengannya!" Dia kemudian langsung membuka pintu mobil Agus dan segera membopong Agus masuk ke dalam mobil untuk segera dibawa ke rumah sakit.


Setelah sampai di rumah sakit Agus langsung ditangani oleh dokter.


" Aku harus menghubungi siapa ini? Aku tidak kenal dengan Tuan Agus. Aku hanya tahu dia adalah suami Non Ayana." ucap Sopir itu merasa galau. Karena dia tidak tahu harus menghubungi siapa untuk memberitahukan tentang keadaan Agus yang saat ini ada di rumah sakit.


" Sebaiknya aku menghubungi Tuan Rahmat saja. Kalau tidak salah Tuan Rahmat dan Tuan Agus adalah teman yang baik!" supir itu merasa senang. Karena akhirnya dia menemukan seseorang yang bisa dihubungi untuk mengurus Agus yang ada di rumah sakit saat ini.


" Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Tuan Rahmat! Apakah anda bisa datang ke rumah sakit xxxxx. Karena saat ini Tuan Agus sedang sakit dan dirawat di sini!" ucapnya.


" Baiklah Tuan saya akan menunggu kedatangan Anda!" ucapnya.


Dengan Setia Sopir itu menunggu kedatangan Rahmat. Karena dia merasa kasihan kepada Agus yang tampak begitu menderita wajahnya.


" Kasihan juga! Non Ayana sekarang sedang pergi ke luar negeri dan suaminya berada di rumah sakit tanpa ada yang mengurus! Ckck! Kehidupan orang kaya sungguh sangat rumit dan memusingkan!" ucap Sopir itu sambil menggelengkan kepalanya.


Tidak lama kemudian Rahmat datang ke rumah sakit dan langsung menemui sopir pribadi Humairoh.


" Bagaimana keadaan Agus sekarang?" tanya Rahmat merasa khawatir dengan keadaan Agus. Orang yang telah menolongnya ketika dia sedang ada masalah dengan Humairoh karena kesalahpahaman di antara mereka berdua.


" Saat ini Tuan Agus masih di ICU. Belum keluar. Entahlah kenapa begitu lama. Padahal tadi saya lihat dia hanya pingsan saja!" ucap sopir tersebut merasa bingung dengan kondisi Agus yang tidak keluar-keluar sudah hampir 3 jam lamanya.


" Oh ya Tuan! Saya belum mengurus administrasinya. Karena saya tidak tahu Nama lengkapnya maupun ktp-nya!" ucap sang sopir sambil menundukkan kepalanya.


" Tidak apa-apa. Ya sudah kau tunggulah dulu di sini. Saya akan mengurus administrasinya!" ucap Rahmat kepada sopir tersebut.


Setelah selesai mengurus segala administrasi Agus. Rahmat segera menemui sopir istrinya yang bernama Pak Hidayat.


" Ya sudah Pak. Terimakasih banyak atas bantuannya. Bapak boleh pulang sekarang. Kasihan pasti sudah ditungguin oleh keluarganya. Saya yang akan menunggu agus di rumah sakit!" ucap Rahmat meminta kepada Pak Hidayat untuk pulang karena hari sudah semakin larut.


" Baiklah Pak terima kasih. Saya pulang dulu. Tadi saya mengatakan kepada istri saya hanya sebentar. Ehtidak tahunya Tuan Agus tiba-tiba pingsan. Sehingga membuat saya tertahan lama di sini!" ucap Hidayat sambil tersenyum kepada Rahmat yang hanya bisa menganggukkan kepala kepada sopir istrinya.


" Oh ya pak. Ini untuk ongkos taksi dan belilah beberapa camilan untuk anak Bapak di rumah. Mungkin mereka sudah menunggu oleh-oleh dari Bapak. Anggap saja sebagai Uang lembur!" ucap Agus sambil memberikan uang Rp500.000 ke tangan Hidayat.


" Terima kasih Pak saya permisi dulu!" Setelah Pak Hidayat pergi. Rahmat segera pergi ke depan kamar ICU untuk menunggu Agus keluar dari sana.