Assalamualaikum Ustadz Ku

Assalamualaikum Ustadz Ku
131. Laila Memaafkan Syafa



"Tolong jangan kau laporkan istrimu itu, Mas!Bagaimanapun dia adalah ibu dari anakmu. Bagaimana perasaannya Rasya kalau melihat ibunya masuk penjara?" Laila sambil menggenggam tangan suaminya yang saat ini ada di pangkuannya.


"Mas Masih memikirkan tentang itu. Jangan khawatir Laila. Mas hanya ingin memberikan keadilan untukmu dan juga calon bayi kita!" ucap Firman sambil menatap Laila.


"Tidak usah Mas! Betul! Laila tidak ingin kamu melaporkan ibunya Rasya. Bagaimana perasaan Rasya, mas! Kalau dia harus menjadi anak seorang narapidana. Pikirkanlah masa depan putra kamu sendiri!" ucap Laila berusaha meyakinkan Firman.


Tanpa mereka ketahui, Rasya berada di depan pintu perawatan Laila. Rasya begitu terharu dengan apa yang diucapkan oleh Laila. Yang kini sedang berusaha untuk membujuk ayahnya untuk tidak melaporkan sang ibu kepada pihak kepolisian tentang usahanya untuk membunuh istri ayahnya.


"Laila mohon, Mas! Jangan kau lanjutkan lagi laporan itu. Sudahlah lupakan saja. Yang penting kan sekarang Laila dan bayi kita baik-baik saja. Anggap saja itu sebagai sebuah kekhilafan." ucap Laila kembali.


"Tetapi mas tidak bisa membiarkan hal seperti ini terjadi lagi. Bagaimana kalau Syafa mengulangi lagi? Apa yang bisa menjadi jaminan kita bahwa dia tidak akan melakukan hal seperti ini lagi?" tanya Firman sambil menatap Laila.


"Mas minta saja surat perjanjian di atas materai, bahwa Syafa, Tidak akan lagi mengulangi perbuatan itu. Itu sudah cukup untuk Laila, Mas. Sudahlah jangan lagi berpikir untuk melaporkan istrimu itu ke kantor polisi. Aku sungguh tidak tega kepada putramu mas!" ucap Laila kemudian memilih untuk tidur.


Firman yang melihat Laila kini mulai memejamkan matanya dia pun tidak ingin memperpanjang perdebatan itu.


Ketika Firman pergi keluar kamar, betapa kagetnya dia ketika mendapatkan Rasya yang berdiri di depan pintu perawatan sang istri.


"Apa yang kau lakukan di sini Rasya?Bukannya kau tidur malah kau bergentayangan di rumah sakit!" tegur firman kepada putranya.


"Tidak apa-apa, Pah. Rasya hanya ingin melihat keadaan tante Laila!" ucap Rasya kemudian dia berniat untuk pergi meninggalkan rumah sakit itu.


"Tunggu Rasya! Papa masih ingin bicara denganmu!" Firman berlari mendekati Rasya yang tadi sudah bersiap untuk pergi.


"Ada apa Pah apakah ada masalah?" tanya Rasya sambil menatap ayahnya.


"Papa tidak akan melaporkan ibumu ke kantor polisi. Hanya saja Papa berharap kamu memenuhi janjimu tentang membujuk ibumu untuk segera bercerai dengan Papa?" ucap Firman sambil menundukkan kepalanya.


"Iya Pah! Rasya berjanji akan membujuk Mama untuk segera menandatangani surat itu, sehingga kalian bisa segera bercerai dengan baik!" janji Rasya pada akhirnya.


Setelah itu Rasya pun meninggalkan Rumah Sakit dengan perasaan plong karena ibunya tidak akan masuk penjara gara-gara perbuatannya yang mencoba membunuh istri baru ayahnya.


"Sekarang aku mengerti, kenapa Papa lebih mencintai Tante Laila daripada Mamaku. Ternyata Tante Laila memiliki hati yang begitu besar sehingga dia bisa memaafkan kesalahan Mama yang begitu fatal!" ucap Rasya ketika dia menuju perjalanan ke rumahnya.


"Biarkanlah Papa menemukan kebahagiaan di dalam hidupnya dan semoga setelah perceraian ini, Mama pun akan menemukan kebahagiaannya bersama pasangan yang mencintai dia!" doa terbaik diberikan oleh Rasya kepada kedua orang tuanya.


Sekarang Rasya sudah mantap akan membujuk ibunya untuk menandatangani surat perceraian tersebut. Sehingga segera diproses dan Ibunya bisa segera bebas dari pernikahan yang bagaikan neraka itu, karena ayahnya lebih mencintai Laila.


Begitu sampai di rumah, Rasya langsung mencari keberadaan ibunya, yang ternyata sedang mengkonsumsi minuman beralkohol di pantry mereka.


"Apa yang Mama lakukan? Kenapa Mama melakukan hal seperti ini? Minuman beralkohol itu haram hukumnya dalam Islam Mah!" Rasya berusaha merebut botol yang kini ada di tangan ibunya dan bermaksud untuk membuangnya.


"Kalau mama masih terus menerus mengkonsumsi minuman ini, Rasya akan berjanji bahwa Rasya tidak akan pernah menemui Mama lagi. Lebih baik Mama mulai berpikir untuk hidup tanpa Rasya juga!" Rasya pun kemudian meninggalkan ibunya seorang diri di ruang pantry dan dia mengunci dirinya di kamar.


Rasa kekecewaan Rasya begitu bertubi-tubi terus diberikan oleh sang ibu. Yang selama ini menjadi teladan dan menjadi poros seluruh kebahagiaannya.


Kini Rasya menangis tersedu-sedu di dalam kamarnya.


"Seandainya ada Nenek. Mungkin Rasya bisa mencurahkan perasaan ini terhadapnya. Sekarang nenek sudah pergi, tidak ada satu orang pun lagi, yang mau mendengarkan keluh kesah Rasya!" ucap Rasya sambil terisak dalam tangisnya.


"Semoga Nenek di sana menemukan ketenanganmu. Di sini Rasya benar-benar sangat gelisah memikirkan kedua orang tua Rasya!" Isak Rasya dalam tangisnya.


Kasihan sekali Rasya, di usianya yang begitu masih belia. Dia harus menanggung begitu banyak beban derita, gara-gara keegoisan kedua orang tuanya yang lebih mementingkan kebahagiaan diri mereka sendiri.


Karena rasa lelah yang mendera tubuhnya, Rasya pun kemudian tertidur sambil meringkuk di atas ranjangnya yang berukuran King size.


Ke esokan harinya, Rasya mendapati ibunya yang tengah tertidur di lantai di area pantry.


Rasya menggeleng-gelengkan kepalanya, ketika melihat ibunya yang hilang kesadaran. Setelah mengkonsumsi minuman beralkohol yang begitu banyak. Terlihat dari botol kosong yang berserakan di lantai.


"Bagaimana Papa mau kembali sama Mama? Kalau hidup mama jadi kacau seperti saat ini. Pantas saja papa lebih memilih tante Laila daripada Mama!" ucap Rasya dengan penuh kekecewaan.


Rasya melihat pembantu yang bekerja di rumahnya. Dia pun meminta kepada perempuan itu untuk membangunkan ibunya yang tampaknya sangat terlelap dalam mabuknya saat ini.


"Bi tolong kau bangunkan ibuku. Aku muak melihat kelakuannya saat ini, yang sudah seperti kehilangan kesadaran!" ucap Rasya kemudian meninggalkan ibunya seorang diri di sana.


Rasya kemudian mandi dan bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Paling malas dia harus berurusan dengan ibunya di pagi hari.


"Aku akan sekolah , baru nanti aku akan membujuk Mama untuk menandatangani perjanjian itu, serta surat perceraian yang sudah diajukan oleh papa!" ucap Rasya berkata kepada dirinya sendiri di depan cermin. Rasya sedang bersiap-siap untuk pergi ke sekolah.


Setelah merasa bahwa penampilannya sudah sempurna. Rasya pun kemudian langsung turun ke lantai bawah untuk sarapan dan kemudian pergi ke sekolah.


Rasya melihat ibunya sekarang sudah tidak ada lagi di lantai pantry.


"Ke mana Mama sekarang bi?" Rasya kepada pembantunya yang sini sedang mempersiapkan sarapan untuk dirinya.


"Nyonya Syafa sudah masuk ke kamarnya tuan muda. Apakah ada lagi yang perlu bibi bantu?" tanya wanita paruh baya itu sambil menatap Rasya.


Rasya hanya menggeleng kemudian dia pun pergi ke sekolah, dengan diantarkan oleh sopir keluarganya.