Assalamualaikum Ustadz Ku

Assalamualaikum Ustadz Ku
39. Awal yang baru



Pov Jeremy


Pernikahan yang lama aku impikan akhirnya terjadi juga. Lama aku jatuh cinta dengan Silvia. Tetapi dia lebih terobsesi dengan Ilham, putra Kiai di pondok pesantren tempat dia belajar dahulu.


Saat Papahnya Silvia datang ke rumahku dan bertanya tentang kesediaan diriku untuk menikahi Silvia, aku sangat senang sekali. Aku langsung menerima tanpa banyak pikir. Aku anak tunggal, keluarga ku mempunyai perusahaan yang bergerak di bidang restoran. Banyak restoran kami di seluruh pelosok negeri ini.


Saat ini adalah saat yang paling aku tunggu. Menikah dengan Silvia. Acara akad nikah sudah dilakukan tadi pagi. Sekarang kami berdua bersama dalam resepsi pernikahan kami yang dilakukan secara meriah. Walaupun diadakan dengan singkat dan terkesan terburu-buru. Tapi Alhamdulillah, semuanya lancar.


Omku bilang, pernikahan ini merupakan syarat untuk Silvia terbebas dari kasus pidana beberapa tahun lalu. Aku tahu obsesi Silvia terhadap Ilham. Aku juga tidak keberatan hidup di Amerika, kebetulan di sana ada restoran keluarga ku. Demi cintaku, aku rela hidup di manapun. Aku akan berusaha memperjuangkan cinta Silvia.


"Maaf kan aku ya Kak Jeremy, gara-gara aku, Kakak jadi ikutan susah begini. Aku janji akan berusaha menjadi istri yang baik buat Kakak!" ucap Silvia dengan mata berkaca-kaca.


"Gak apa-apa, Kakak malah senang kamu datang ke kakak untuk melakukan pernikahan ini. Kakak malah akan sedih kalau kamu pilih pria lain sebagai suami kamu!" aku menggenggam tangan Silvia yang terasa sangat dingin.


"Aku memang egois dan terlalu di manjakan Papah dan Mamah, jadi gak bisa mikirin orang lain. Dosaku amat banyak sama Mas Ilham dan Kesya. Tapi mereka memang orang baik, mau memberikan kesempatan kedua untuk aku merubah jalan hidupku. Walaupun aku harus terusir dari negara ku sendiri. Tapi aku memang layak mendapatkan itu semua. Dari pada aku 20 tahun hidup di penjara. Hidup di Amerika itu suatu kemewahan yang Allah berikan kepadaku!" ucap Silvia dengan suara bergetar. Aku jadi ikut sedih.


"Sudahlah, kita nikmati pesta pernikahan kita. Jangan mikirin hal yang sedih-sedih ya. Ini hari bahagia kita!" ucapku sambil mencium keningnya.


Silvia yang aku kenal adalah wanita yang energik dan humble. Walaupun dia anak orang kaya, tapi dia gak sombong. Sejak cintanya terhadap Ilham bertepuk sebelah tangan, kepribadian Silvia memang agak berubah, jadi egois dan tidak perduli dengan orang lain.


Aku yakin, aku masih bisa mendidik Silvia menjadi wanita Sholehah, calon ibu anak-anak aku nantinya. Aku akan berjuang keras menjadikan Silvia sebagai istri yang baik.


Saat ini aku melihat sepasang suami istri yang sangat romantis, aku tahu itu adalah konglomerat yang sangat terkenal di dunia bisnis. Andika Abimana. Aku dengar dari mertuaku, dialah yang mengusulkan perjanjian untuk memaafkan dan memberikan kesempatan kedua pada Silvia. Aku tambah kagum kepadanya. Sosok penuh karisma dan berkelas. Kesya juga sangat cantik walaupun dia bercadar dan menggunakan pakaian tertutup, tapi tidak mengurangi kecantikan dirinya.


Aku juga melihat Mas Ilham, pria yang sudah membuat Silvia terjatuh sejatuh-jatuhnya, karena sampai berbuat kriminal demi mendapatkan cinta dia. Tapi aku harus berterimakasih kepadanya, karena dia menolak Silvia, aku jadi punya kesempatan bersanding bersama wanita yang sangat aku cintai sejak dulu.


"Selamat ya, Bro! Saya doakan hidup kalian bahagia dan langgeng selamanya." Mas Ilham memelukku dan menepuk bahuku. Aku terharu dengan sikapnya. Dia memang orang hebat. Bisa memaafkan Silvia yang sudah berbuat jahat sama dia. Dia bahkan sampai kehilangan calon istrinya yang sekarang sudah menikah dengan Andika Abimana. Bahkan sudah memiliki seorang putra bernama Adrian Abimana.


"Semoga segera menyusul, Bro! Doa terbaik buat kamu!" doa tulusku untuknya, yang sudah berbaik hati kepada istriku.


"Terima kasih, bro! Aku langsung pamit, masih banyak urusanku!" Mas Ilham tampak menyalami Silvia sewajarnya. Tidak ada kebencian di matanya. Tampaknya dia sudah iklas dengan masa lalu yang pahit gara-gara ulah Silvia.


Aku melihat kesedihan di matanya. Kasihan sekali. Kalau dilihat-lihat, Mas Ilham ini memang tampan dan memiliki pembawaan yang sejuk dan adem. Dia calon Kiai dengan ribuan santri. Jadi aku tidak heran. Dia laki-laki Sholeh idaman banyak wanita. Tapi sampai sekarang dia masih belum bisa move on dari Kesya. Aku melihat dia menatap Kesya dan suaminya dengan tatapan sendu. Aku sungguh salut dengan pribadinya.


Aku sebagai laki-laki bisa melihat rindu dendam di matanya saat menatap Kesya dalam diam. Kalau aku jadi dia, mungkin aku sudah melarikan diri ke hal-hal yang negatif. Tidak akan kuat menerima cobaan sehebat itu.


Aku lihat Mas Ilham pulang setelah Kesya dan Suaminya juga berpamitan kepada kami. Kekaguman diriku atas sosok Ilham dan Kesya sungguh tidak bisa di tawar lagi. Mereka berdua mahluk special yang langka. Luar biasa.


Semoga kelak aku bisa mendidik anak-anak ku dengan Silvia seperti mereka. Orang-orang Sholeh dan Sholehah. Aku tahu mereka berdua adalah hafiz dan hafizah. Manusia-manusia pilihan. Yang mengagungkan ayat-ayat Allah di muka bumi ini.


"Sayang, semoga rumah tangga kita berkah ya. Jangan kecewakan mereka yang sudah memberikan kesempatan kepada kita!" ucapku sambil menatap mata istriku yang berkaca-kaca.


"Iya, Kak! Bimbing aku agar bisa jadi istri yang baik dan ibu yang baik untuk anak-anak kita!" malam ini kami melakukan malam pertama yang syahdu. Hatiku bahagia sekali.


Walaupun Silvia pernah terlibat kasus narkoba dan pidana, tapi dia masih bisa menjaga kehormatan dirinya sebagai seorang wanita. Terbukti dari dirinya yang masih bersegel. Aku sangat bahagia. Pengorbanan diriku untuk hidup jauh dengan orang tuaku terasa tidak sia-sia.


"Terima ksih, sayang! Karena kamu berhasil menjaga kehormatan kamu sebagai seorang wanita. Menjadikan aku pria beruntung yang jadi pria pertama yang menjamah tubuhmu!" Aku mengecup dalam kening istriku tercinta.


"Terima kasih karena mau menerima penjahat seperti saya, jadi istri kamu, Kak!" Silvia menangis dalam pelukan ku. Aku jadi iba dengan istriku.


"Tidak sayang, kamu bukan penjahat di mataku. Aku janji akan selalu menghormati dan mencintai kamu!" ucapku lagi.


Malam ini kami habiskan dengan saling mencintai, belajar mencintai satu sama lain, lebih tepatnya. Aku tahu, nama Mas Ilham masih bertahan di hati Istriku. Tapi aku akan bersabar menunggu cinta itu hadir hanya untukku.


Aku percaya, ketulusan akan berbuah hasil yang manis. Cinta tidak bisa dipaksakan, tapi kita bisa berjuang menumbuhkan benih cinta itu dengan kesabaran dan ketulusan. Aku percaya, usaha tidak akan pernah mengkhianati hasil.


Setelah acara pernikahan selesai, esok harinya aku dan istriku langsung pindah kewarganegaraan Amerika dan menetap di sana. Semua sudah di siapkan oleh keluarga kami. Alhamdulillah semua di mudahkan untuk kami.


"Mas, semoga ini akan menjadi awal yang baru dalam hidupku menjadi lebih baik dan bisa jadi istri dan ibu terbaik buat kamu!" ucap istriku.


"Amien, sayang!" ucapku sambil mencium keningnya dengan lembut. Kami hidup bahagia di Amerika dan memiliki dua orang anak laki-laki dan perempuan.


Anak perempuan bernama Cella dan anak laki-laki bernama Ibrahim. Mereka anak yang kami banggakan. Setelah berumur 18 tahun mereka kembali ke Indonesia dan menempuh pendidikan di sana. Tapi kami berdua harus menetap di Amerika. Sesuai perjanjian yang di tandatangani oleh Silvia. Bahwa kami akan menetap di Amerika selama 20 tahun lamanya. Baru kami bisa kembali ke Indonesia dengan bebas.