Assalamualaikum Ustadz Ku

Assalamualaikum Ustadz Ku
135. Sabar



Setelah menyelesaikan tugas-tugas sekolahnya, Rasya kemudian memutuskan untuk pergi tidur. Karena besok dia harus bangun pagi.


Semenjak ayahnya dan ibunya tidak tinggal bersama lagi, sekarang Ibunya sangat sering sekali meminum minuman alkohol bahkan hampir seperti kecanduan.


Setelah bangun dari tidur, Rasya langsung mencari keberadaan ibunya yang ternyata kembali tidur di pantry dalam keadaan mabuk hati Rasya benar-benar sangat sedih melihat ibunya yang seakan semakin tenggelam dalam dunia alkohol yang memabukkan itu.


"Apa yang harus kulakukan sekarang? Aku sangat bingung. Bagaimana aku harus menghadapi kedua orang tuaku? Sementara melihat Mamaku seperti ini!" ucap Rasya dengan penuh dilema di dalam hatinya.


Tiba-tiba pintu rumah dibuka oleh seseorang dari luar. Rasya menoleh dan ternyata itu adalah ayahnya yang datang pagi ini.


"Ada apa pagi-pagi Papa sudah ada di sini?" tanya Rasya sambil menatap heran sang ayah.


"Papa datang untuk menagih janjimu, bukankah kau mengatakan. Kalau Papa tidak melaporkannya ke kantor polisi, maka kau akan membujuk Mamamu untuk bercerai dengan Papa?" tanya Firman langsung to the point kepada putranya.


"Rasya kesulitan untuk berkomunikasi dengan Mama. Lihatlah sendiri sama Papa, mama setiap hari kerjanya hanya minum alkohol. Lihatlah dia bahkan sampai tertidur di pantry karena mabuk!" ucap Rasya menunjuk ke arah ibunya yang masih tertidur di pantry milik mereka.


"Sungguh keterlaluan sekali. Kenapa dia tidak bisa menjadi contoh yang baik untuk anaknya sendiri?" Firman dengan menggeram menahan emosinya.


"Sejak Papa melayangkan gugatan perceraian, pekerjaan Mama, Setiap hari hanya mabuk bahkan Rasya Sudah lama tidak pernah mencicipi makanan buatan Mama!" ucap Rasya dengan sedih sekali.


"Maafkan kami Rasya, yang tidak bisa memberikan kondisi yang kondusif untuk pertumbuhanmu. Kalau kau mau, kau bisa tinggal bersama Papa. Tante Laila pasti bisa menerimamu dengan baik, asal kau bisa menghormatinya!" ucap Firman sambil menatap tajam ke arah putranya.


Tapi Rasya menggeleng tanpa berpikir dulu.


"Tidak, Pah! Rasya ingin menemani Mama. Kalau Rasya juga meninggalkan Mama, Kasihan Mama, dia pasti akan sangat kesepian!" Rasya sambil menatap Ibu udah yang masih terlelap di pantry.


Firman pun merasa kasihan melihat Rasya yang tampaknya begitu terbebani dengan sifat ibunya yang kini mulai menjadi pecandu alkohol. Mabuk setiap malam.


"Ya sudah, Rasya! Papa tidak akan lama-lama di sini. Karena Papa harus segera ke kantor. Ada rapat di sana. Apakah kamu ingin berangkat ke sekolah bersama papa?" tanya Firman menawarkan Untuk mengantarkan putranya ke sekolah.


Rasya menggelengkan kepalanya dan menatap ayahnya dengan sangat lekat tampak Ada kerinduan di matanya tetapi kemudian Rasya memalingkan wajahnya tampak sedang menahan air mata yang hampir menetes di matanya.


"Rasya berangkat sama sopir saja, Pah. Rasya takut mengganggu waktu papa!" ucap Rasya dengan suara gemetar.


Firman mendekati putranya dan kemudian memeluknya dengan erat. Rasya seketika menangis terharu dipelukan Papanya. Seakan merindukan pelukan hangat dari ayahnya sendiri yang sudah lama dia tidak rasakan.


"Rasya dengerin, Papa! Walaupun Papa dan Mamamu akan bercerai. Kau tetaplah Putra Papa. Papa pasti akan tetap bertanggung jawab kepadamu. Kau tidak usah khawatir. Papa tidak pernah merasa terganggu dengan kamu, asalkan kamu menghargai Papa dan juga istri Papa!" ucap Firman sambil mengecup pucuk kepala Rasya dengan penuh kasih sayang.


Rasya seketika tangisnya kembali pecah,ketika mendapatkan kehangatan semacam itu dari ayahnya. Kehangatan yang sudah sangat lama tidak pernah dia terima. Karena selama ini, mereka selalu sibuk untuk saling menyakiti satu sama lain.


"Ya sudah Rasya mau pergi berangkat sekolah sama Papa!" ucap Rasya dengan suara gemetar karena menahan tangis yang bergemuruh di dadanya.


Firman pun sebenarnya sangat terharu dengan suasana semacam ini. Dia pun berusaha sangat keras, untuk tidak menangis di hadapan putranya. Karena gengsi baginya untuk menangis di depan anaknya sendiri.


" Apakah kamu sudah sarapan?" tanya Firman kepada Rasya. Rasya hanya menggelengkan kepalanya.


Rasya sama sekali tidak menolak ketika ayahnya menggenggam tangannya dan membimbingnya untuk naik ke dalam mobil.


Ada perasaan haru di antara keduanya. Ayah dan anak yang terpisah karena situasi dan kondisi yang selalu ribut karena keadaan.


"Sebentar ya, Papa akan belikan dulu sarapan buat kamu. Menu apa yang kamu inginkan?" tanya Firman kepada putranya.


" Terserah Papa saja Rasya akan makan apapun itu!" ucap Rasya dengan lembut.


Firman kemudian mengelus kepala putranya dengan penuh kasih sayang dan kemudian langsung turun dari mobil menuju cafe yang menjual sarapan.


Firman memesan sandwich dan juga Subway serta susu kelelai, untuk dibawa Rasya ke sekolahannya sebagai bekal makan siangnya.


Setelah mendapatkan semua pesanannya, Firman pun langsung masuk ke mobil dan menyerahkannya kepada Rasya.


"Kau bisa memakannya nanti di sekolahan. Ini, Papa juga membelikan bekal untuk nanti siang, supaya kau tidak kelaparan!" Firman kemudian memberikan 10 lembar uang merah untuk putranya.


"Gunakan uang ini untuk uang jajanmu dan keperluanmu!" ucap Firman kepada Rasya.


"Tidak usah Pah, Firman masih banyak uangnya. Kemarin kakek sudah menyerahkan Black Card untuk segala keperluan Firman serta Mama!" ucap Rasya menolak pemberian dari ayahnya.


"Terima saja Rasya. Ini adalah bentuk kewajiban Papah kepadamu. Uang kakekmu adalah uangnya, dan uang papa adalah uang papa. Papa juga ingin bertanggung jawab kepadamu!" ucap Firman sambil tersenyum kepada Rasya.


"Baiklah kalau itu keinginan Papa. Rasya akan menerimanya. Terima kasih Pah untuk semua perhatian papa sama Rasya!" Adapun langsung turun dari mobil dan segera masuk ke dalam sekolahannya.


Setelah berpamitan, Firman pun langsung meninggalkan sekolahan Rasya dan langsung menuju ke kantor.


Tampak Rasya yang sedang menikmati sarapan yang tadi dibelikan oleh ayahnya. Rasya terus memegangi uang yang tadi diberikan oleh ayahnya. Ada perasaan haru di hatinya, ketika mendapatkan perhatian semacam itu dari ayahnya.


Sudah sangat lama, Rasya merindukan kelembutan ayahnya itu. Semenjak terjadi perpisahannya dengan sang ibu. Ayahnya tidak pernah menunjukkan kelembutan semacam itu lagi kepadanya.


Oleh karena itu rasa sangat terharu sekali dengan apa yang dilakukan oleh Firman pagi ini membuat hatinya merasa hangat dan kembali merasa dicintai oleh ayahnya.


" Rasya tampaknya kau sedang bahagia ya?" tiba-tiba Melati sudah ada di samping Rasya.


Rasya mengerutkan keningnya, merasa tidak senang dengan kedatangan melati yang telah mengganggu ketenangannya.


"Mau apa kau, kenapa kau selalu datang untuk menggangguku? Pergilah Aku tidak suka kau mendekatiku!" usir Rasya kepada melati. Mata Melati tampak berkaca-kaca.


"Entah apa yang sudah kulakukan kepadamu, sehingga kamu selalu ketus dan selalu jahat padaku. Kalau aku mempunyai salah padamu tolong kau maafkan, Rasya. Aku hanya ingin menjadi temanmu saja!" ucap melati kemudian pergi meninggalkan Rasya seorang diri dalam kebengongannya.


"Gadis yang aneh, nggak ada hujan nggak ada angin tiba-tiba saja menangis. Memangnya apa salahku padanya?" tanya Rasya merasa tidak suka dengan melati yang tiba-tiba menangis di hadapannya.


"Apa kau bisa bersikap sedikit lembut saja kepada seorang perempuan?" Thomas tiba-tiba sudah ada di hadapan Rasya.