
Setelah acara syukuran selesai, keluarga Kyai Hamid berpamitan untuk kembali ke Indramayu. Tampak Qonita yang bersedih hatinya karena harus berpisah kembali dengan keluarga yang dia cintai.
"Jangan menangis Nak! Kau tinggal bersama suamimu, itu adalah kodrat dan tanggung jawabmu sebagai seorang istri. Kami akan selalu mendoakan untuk kebahagiaan kalian!" pesan istrinya Kyai Hamid kepada Qonita.
"Tapi Qonita masih kangen dengan kalian, kenapa kalian cepat sekali untuk kembali ke Indramayu? Apa tidak bisa, kalian tinggal di sini beberapa hari lagi?" tanya Qonita dengan berderai air mata kesedihan.
"Tidak bisa Nak kami tidak bisa meninggalkan Pondok lebih lama lagi. Kasihan para santri Kalau tidak ada yang membimbing mereka!" Kyai Hamid menjawab pertanyaan Qonita.
"Semoga perjalanan kalian menyenangkan dan sampai dengan selamat. Jangan khawatir dengan Qonita, Saya pasti akan menjaganya dengan baik!" janji Kiai Ilham kepada keluarga Qonita yang sudah bersiap untuk pergi dari Pondok Pesantren miliknya.
"Kamu baik-baik ya, Dik? Kalau ada apa-apa, telepon Kakak, jangan ragu-ragu!" pesan Zahra sebelum mereka pergi dari sana.
Qonita memeluk Zahra dengan erat dan menangis dipelukannya bukan tangga sedih tapi harus karena akan berpisah dengan orang yang dia sayangi.
"Jangan menangis, kita kan masih bisa berhubungan lewat telepon. Zaman sekarang, Zaman yang canggih." Zahra dengan tersenyum kepada Qonita.
"Mas Rasyid pulangnya? Tolong kau jaga Qonita bersamamu. Cintai dia dan sayangi dia!" pesan Rasyid kepada Ilham sebelum meninggalkan pondok pesantren.
Setelah semua orang berpamitan. Mereka pun kemudian langsung berangkat ke Indramayu menggunakan mobil pribadi mereka. Rasyid dan sopir bergantian untuk menyetir kendaraan mereka agar tidak kelelahan di jalan.
"Tampaknya Kyai Ilham memperhatikan Qonita dengan baik. Tampak sekali kalau dia mencintai istrinya!" ucap Rasyid.
"Syukurlah, Abi bahagia kalau Qonita bisa membuat Kyai Ilham mencintainya." ucap Kiai Hamid dengan penuh syukur.
"Aby, kesehatan aby setiap hari terus menurun, nanti begitu sampai di sana, sebaiknya Aby masuk ke rumah sakit ya? Check up secara menyeluruh! Umy khawatir dengan kesehatan Abi!" ucap istrinya Kyai Hamid sambil menggenggam tangan suaminya.
Kiai Hamid tersenyum kepada istrinya, kemudian menggelengkan kepalanya, menolak saran dari istrinya.
" Abi baik-baik saja, Umi. Pergi ke rumah sakit itu kan kalau sakit. Masa orang sehat suruh ke rumah sakit?" ucap Kyai Hamid sambil berkelakar.
"Tidak seperti itu Abi. Kita kan mau cek kesehatan kita, tidak apa-apa. Walaupun kita sehat, itu kan jauh lebih baik! lebih baik kita mencegah daripada mengobati! Dengan melakukan check up, kita jadi tahu kalau ada penyakit tersembunyi di dalam tubuh kita!" ucap Rasyid kepada mertuanya.
"Baiklah Lakukanlah apa yang kalian mau Agar kalian merasa tenang!" kemudian Kyai Hamid memejamkan matanya.
Mereka melakukan perjalanan yang sangat panjang dari Jawa Timur ke Indramayu. Terkadang mereka berhenti di sebuah restoran, sebuah hotel untuk sekedar istirahat melepas kelelahan mereka.
Zaki tampak menikmati perjalanan mereka. Bocah Itu tampak bersinar dan selalu memberikan kebahagiaan untuk mereka selama berada di perjalanan.
Begitu sampai di Indramayu, Rasyid langsung mendaftarkan mertuanya untuk bisa check up di rumah sakit setempat.
"Abi beristirahat saja dulu, baru besok kita ke rumah sakit. Tadi saya sudah mendaftarkan nama Abi serta Umi untuk melakukan check up misalnya cara menyeluruh di rumah sakit!" ucap Rasyid memberitahukan kepada mertuanya.
"Terimakasih Rasyid, kau juga Istirahatlah. Kan kamu juga sama-sama lelah!" Kyai Hamid sambil menepuk bahu Rasyid sang menantu.
"Bagaimana dengan Abi?" tanya Zahra kepada suaminya.
"Kelihatannya Aby sangat lelah. Biarkanlah untuk istirahat! Bagaimana dengan Zaki?Apakah dia sudah tidur?" tanya Rasyid kepada Zahra yang sedang bersiap-siap untuk tidur.
" Zaki sudah tidur, sayang! Sejak tadi dia sudah merengek minta tidur terus." ucap Zahra sambil memeluk suaminya dari belakang. Sehingga membuat Rasyid merasa bahagia karena diberikan Seorang Istri Solehah seperti Zahra.
Selama pernikahan mereka yang sudah hampir 10 tahun lebih, Zahra tidak pernah menuntut apapun kepada Rasyid. Zahra selalu menerima apapun yang diberikannya.
Rasyid pun selalu berusaha untuk menerima kebaikan maupun kekurangan Zahra sebagai istrinya. Rasyid mengubah impiannya sendiri untuk memiliki pondok pesantren miliknya sendiri dan dia membantu mertuanya untuk mengelola pondok pesantren tersebut karena melihat mertuanya sudah semakin tua dan semakin lelah dalam mengabdi kepada umat.
"Aby semakin tua, dia harus banyak istirahat!" ucap Rasyid mengawali percakapan mereka.
"Benar Abi tampaknya semakin lelah saja! Kesibukan di pondok sudah banyak menyita tenaga dan waktunya!" ucap Zahra.
"Besok akan saya diskusikan bersama Abi, mengenai rencana untuk merekrut beberapa Ustadzah dan Ustadz, untuk menambah tenaga mengajar di pondok ini. Sehingga bisa mengurangi beban Aby dan Umy!" ucap Rasyid sambil memeluk istrinya.
"Babah juga kelelahan kan?" tanya Zahra.
Zahra sangat tahu, bahwa suaminya selama ini telah mengabdikan, hidupnya selama Rasyid menjadi suaminya, membantu ayahnya di pondok pesantren dan dia merasa berterima kasih kepada suaminya itu dan selalu menghargai itu.
"Saya ini masih muda, tidak masalah. Tidak ada masalah untuk saya. Berbeda dengan Abi, Abi sudah tua dan pasti akan sangat mengganggu kesehatannya kalau terlalu lelah!" ucap Rasyid kemudian dia pun bersiap untuk tidur.
"Kakakmu kapan akan kembali dari Mesir?" tanya Rasyid kepada Zahra.
"Tidak tahu, kemarin Kak Meisya baru saja melahirkan. Tidak mungkin bisa datang dalam waktu dekat. kenapa memangnya?" tanya Zahra terheran-heran.
"Tidak apa-apa! Saya hanya berpikir mungkin Abi merindukan anaknya. Dan akan sangat bagus kalau kakakmu tinggal di sini juga. Aby dan Umi semakin tua, pasti mereka ingin tinggal dekat dengan anak-anaknya dan juga cucu-cucu mereka!" Ucap Rasyid pelan.
"Katakanlah! Apakah ada sesuatu yang mengganjal di hatimu?" tanya Zahra sambil menggenggam tangan Ayah suaminya.
"Mas ingin kembali ke Jakarta, kasihan Umy selalu sendirian di sana. Pikiran mas tidak tenang. Mas juga ingin membangun pondok pesantren sendiri di sana!" ucap Rasyid dengan suara pelan takut membuat istrinya merasa terganggu.
" Apakah keputusan Mas sudah bulat?" tanya Zahra kepada suaminya.
"Kita akan menunggu kakakmu kembali dari Mesir. Baru nanti Mas akan menyampaikan kepada aby dan Umi tentang niat ini!" ucap Rasyid kepada istrinya.
"Aku akan mengikuti kemanapun Mas pergi!" ucap Zahra sambil memeluk suaminya.
Rasyid memeluk tubuh istrinya dengan penuh cinta. "Bagaimanapun Mas adalah seorang suami, harus bertanggung jawab kepadamu. Mas tidak menerima kalau harus selalu menumpang di rumah mertua. Mas tahu banyak desas desus di luar sana, yang selalu membicarakan tentang kita!" ucap Rasyid.
Zahra baru mengetahui bahwa suaminya menanggung beban sebesar itu. "Mas disini, posisinya adalah membantu Aby dalam mengurus pondok pesantren, bukan menumpang kepada mereka. Mas tidak usah memikirkan pendapat mereka yang tidak tahu apa-apa tentang hidup kita!" ucap Zahra mulai kesal hatinya. Mengetahui suaminya ternyata menanggung penderitaan itu sendiri saja.