Assalamualaikum Ustadz Ku

Assalamualaikum Ustadz Ku
178. Rahmat Berjuang Melupakan Humairoh



Mulai hari itu, Rahmat mengikuti sopir taksi yang waktu itu mengantarkan dia menuju ke stasiun. Yetapi karena sopir taksi itu merasa kasihan kepada Rahmat yang pergi dari rumah tanpa tujuan.


Akhirnya supir itu menawarkan tempat tinggalnya untuk Rahmat agar bisa tinggal bersama dengannya. Bahkan dia pun menawarkan sebuah pekerjaan kepada Rahmat sebagai sopir taksi.


"Gus Sudah berapa lama kamu tinggal di tempat ini?" tanya Rahmat.


"Sudah lama. Memangnya kenapa?" tanya Agus tampak bingung dengan pertanyaan dari Rahmat yang seperti sedih.


"Kamu betah nggak tinggal di sini Gus? Apa kamu pernah menikah atau minimal punya istri?" tanya Rahmat asal bertanya saja tidak ada maksud apapun.


"Ya betah tidak betah sih. Daripada nggak ada tempat tinggal kan? Sudah syukur Ibu kontrakannya baik sekali. Dia memberikan diskon 50% buat saya. Karena dia tahu kalau saya ini harus menanggung banyak mulut di desa. Karena saya ini tulang punggung dari keluarga! Di desa ayah dan ibuku sudah tua sementara masih ada adik-adik yang masih harus sekolah!" ucap Agus menceritakan tentang kehidupannya kepada Rahmat.


"Lah Bapak sendiri gimana? Tampaknya bapak sudah punya keluarga ya?" tanya Agus kepada Rahmat karena dia begitu penasaran tentang jalan hidup laki-laki setengah baya itu yang berwajah tampan dan juga menenangkan.


"Saya sudah punya istri dan juga dua orang anak. Kedua anak saya semuanya mondok di Jawa Barat.Jadi sekarang Saya hanya tinggal berdua dengan istriku!" mengatakan istri seketika hati Rahmat seakan ditusuk sembilu.


"Kenapa? Apakah Bapak bermasalah dengan istrinya?" tanya Agus.


"Menurutmu? Kenapa pasanganmu menyimpan identitasnya terhadapmu?" Agus tampak bingung dengan pertanyaan yang diberikan oleh Rahmat terhadap dirinya.


"Saya sangat mencintai Humairoh istri saya. Akan tetapi selama 30 tahun pernikahan kami, dia ternyata menyembunyikan identitasnya sendiri! Dia membodohiku puluhan tahun Gus. Bukan bulan maupun Minggu tapi 30 tahun. Apa kau tahu bagaimana rasanya? Itu sangat sakit sekali!" ucap Rahmat berusaha untuk kuat walaupun air mata segar tadi ingin menetes tetapi ditahan-tahan agar jangan sampai lolos dari kelopak matanya.


"Apakah Pak Rahmat sudah bertanya sama istrinya? Kenapa dia melakukan itu? Saya yakin dia pun mempunyai penjelasan!" tanya Agus berusaha untuk mengerti permasalahan yang saat ini sedang dihadapi oleh Rahmat.


"Saya langsung pergi begitu saya ketika saya mengetahui siapa istri saya sesungguhnya. Saya tidak mau ribut Gus. Capek! Saya lebih suka hidup tenang dan mengalah!" Rahmat sambil menatap kepada Agus.


"Tapi konsep hidup tenang dan mengalah itu bukan caranya seperti itu Pak. Seharusnya Bapak bertanya dulu kepada istri bapak. Kenapa dia melakukan hal seperti itu. Dia pasti punya alasan tersendiri. Ya kan? Jangan langsung menyimpulkan segala sesuatu sesuai dengan versi kita. Pasti istri bapak mempunyai alasan tersendiri. Saya yakin kalau dia tidak mungkin punya niat untuk menipu Bapak selamanya!" ucap Agus mengutarakan pendapatnya tentang permasalahan yang sedang dihadapi oleh Rahmat saat ini.


"Kamu sudah pernah menikah belum Gus?" tanya Rahmat menatap laki-laki berperawakan sedang itu.


Agus tertawa Sumbang sambil menatap Rahmat yang saat ini ada di hadapannya sedang menyeruput kopi yang tadi dia buat untuknya.


"Saya ini orang miskin Pak. Punya banyak tanggungan di desa. Mana mungkin ada perempuan yang mau menikah dengan saya?" tanya Agus sambil tersenyum melihat Rahmat.


"Saya juga dulu mengatakan hal yang sama seperti itu. Tapi kau Lihatlah Gus! Saya telah menikah dengan Humairoh 30 tahun lebih dan kau tahu ternyata Istriku itu adalah anak seorang konglomerat di Jakarta! Berdasarkan yang sudah saya selidiki. Ternyata istriku mengorbankan dirinya untuk diusir dari keluarganya hanya untuk bisa bersamaku


Pria miskin yang tidak memiliki apapun! Kenyataan itu sangat menyakitiku!" ucap Rahmat tanpa terasa air matanya sudah menetes tanpa dia sadari.


"Berarti istri bapak itu sangat mencintai bapak. Kenapa Bapak meninggalkan seorang perempuan yang begitu mencintaimu?" tanya Agus merasa bingung.


"Cinta?" tanya Rahmat seperti orang linglung.


"Jangan pula kau katakan kalau dia telah menyembunyikan identitasnya pun adalah karena cinta terhadap saya! Hahaha!" tiba-tiba saja Rahmat tertawa dan kemudian dia menangis terisak.


"Saya sangat merindukan istri saya Gus! Ini baru satu hari. Saya meninggalkan dia. Entah kenapa, dunia Saya rasanya sudah runtuh!" ucap Rahmat berusaha untuk dapat menyembunyikan air mata yang sejak tadi menetes di pipinya.


"Percayalah pada saya Pak! Kalian berdua itu saling mencintai. Kalau istri bapak tidak mencintai Bapak. Tidak akan mungkin dia Tahan hidup selama 30 tahun dan mau untuk berpura-pura menjadi orang miskin. Apalagi bagi orang kaya seperti dia. Pasti dia punya keinginan untuk tampak glamour dan dipuji oleh orang lain. Lihatlah dia! Tahan hidup miskin dan dipandang rendah oleh orang lain. Itu pasti karena cintanya sama Bapak sangat besar!" ucap Agus.


"Saya tidak tahu Gus Saya bingung!" ucap Rahmat lesu.


"Lihatlah Bapak baru berpisah satu hari saja sudah kelapakan seperti ini. Saya tidak tahu apa yang terjadi pada bapak setelah 1 tahun dari sekarang!" ucap Agus sambil tertawa.


"Yah? Kita bisa lihat apa yang terjadi kepada saya Setelah 1 tahun nanti!" ucap Rahmat sampai tersenyum. Lalu Dia menghabiskan kopi yang tadi diberikan oleh Agus.


"Apakah Bapak mempunyai seorang putri?" tanya Agus tiba-tiba membuat Rahmat mengkerutkan keningnya.


" Jangan salah paham pak! Saya bertanya ini karena ingin mengingatkan kepada bapak. Kalau Putri Bapak belum menikah. Pasti suatu saat dia butuhkan bapak sebagai wali nikahnya!" seketika Rahmat tersentak seakan baru diingatkan tentang hal seperti itu.


"Ya Tuhan saya baru ingat hal itu Gus!" ucap Rahmat seakan baru mengingat itu.


"Ya sudah Pak! Anggap saja Bapak sedang reuni atau sedang berlibur. Nanti kalau Bapak sudah tenang bapak bisa kembali pulang. Saya yakin istri bapak pasti sedang bingung mencari Bapak dan menunggu Bapak pulang saat ini!" ucap Agus mengingatkan kepada Rahmat tentang istrinya.


"Ingat Pak! Sebagai suami istri. Saya yakin tidak ada suatu masalah yang tidak bisa dibicarakan di antara dua orang yang saling mencintai!" ucap Agus menepuk bahu Rahmat kemudian dia beranjak dari tempat duduknya saat ini.


"Sudah terdengar adzan Pak! Ayo kita salat Isya dulu. Setelah itu saya mau kembali bertugas malam. Lumayan buat cari sedikit tambahan untuk makan!"ucap Agus mengajak Rahmat untuk salat Isya bersamanya.


Dua laki-laki itu, kemudian tampak shalat berjamaah di kontrakan sempit dan pengap.


Setelah salat Isya Agus kemudian berpamitan kepada Rahmat.


"Pak saya bertugas malam dulu ya? Kalau bapak ingin makan. Bapak masak saja dulu mie rebus. Nanti pulang dari bertugas. Saya bawakan makan malam dari luar. Baru besok bapak bisa untuk ikut bekerja dengan saya. Karena saya belum melaporkan kepada bos saya tentang Bapak!" ucap agus berpamitan kepada Rahmat sebelum dia berangkat bekerja lagi untuk Shiff malam.


"Iya Gus kamu hati-hati ya kamu tidak apa-apa kalau saya tidur dulu? Soalnya saya rasanya capek sekali. Apakah kau membawa kunci cadangan kontrakanmu ini?" tanya Rahmat sambil menatap kepada Agus.


"Apakah tidak apa-apa. Kalau Pak Rahmat saya kunci dari luar? Karena kunci kontrakan ini cuma ada satu!" ucap Agus bertanya kepada Rahmat sebelum dia membawa kunci kontakannya.


"Nanti kalau ada hal darurat atau bapak ada keperluan untuk pergi keluar. Gunakan saja pintu belakang!" ucap Agus berpesan kepada Rahmat supaya Rahmat tidak terkurung di dalam rumah saat dia membawa kuncinya.


"Iya kau tenang saja Gus. Saya cuma mau tidur saja. Karena saya sangat lelah sekali kau bisa bekerja dengan tenang!" ucap Rahmat menenangkan Agus, agar Agus bisa bekerja tanpa harus memikirkannya.