
Saat jam makan siang tiba, Ilham, Rasyid dan Kesya menemui Andika di sebuah restoran seperti kesepakatan tadi malam.
"Saya kakaknya Kesya, Rasyid. Dan dia itu adalah calon suami Kesya, namanya Ilham," Rasyid sengaja mengenalkan Ilham sebagai calon suami Kesya, dapat Rasyid lihat, kalau Andika mencintai Kesya, terlihat dari mata Andika yang menatap kerinduan pada adiknya Kesya.
Andika tersenyum kecut, hatinya merasa sakit, mendengarkan perkenalan tersebut, "Andika," seperti pesakitan, Andika duduk di kursinya dengan lesu, tanpa gairah.
"Saya mau mengucapkan rasa terima kasih, atas bantuan Anda, disaat adik saya menghilang selama setahun ini," Rasyid membuka percakapan, to the point, karena memang waktunya sangat terbatas, mengejar pesawat yang sebentar lagi berangkat.
"Itu kewajiban saya sebagai manusia, jangan kwatir," Andika sesaat melirik ke arah Kesya yang saat itu hanya diam dan memandang ke arahnya, banyak pertanyaan yang tergambar di matanya, hal itu semakin membuat kalut hati Andika.
"Maaf kalau saya terkesan menyembunyikan Kesya dari kalian, saya juga baru mengetahui hal ini kemarin," Andika menunduk, tak kuasa berbohong dengan mata yang terus di tatap oleh Kesya. Sakit dan sedih rasanya, membayangkan akan berpisah dengan wanita yang dia cintai.
"Bisa tolong menceritakan bagaimana Anda menemukan adik saya? Kami sekeluarga sudah mencari ke semua rumah sakit, menyebarkan berita orang hilang di mana-mana, bahkan memasang iklan di koran, tapi tidak ada hasilnya," Rasyid menunduk pilu, mengingat perjuangan Ilham dalam mencari sang adik.
"Saat itu saya menemukan Kesya di semak-semak, dalam keadaan pingsan dan terluka. Pakaian dia compang camping, saya pikir dia adalah gembel yang mengalami penganiayaan, saya merasa kasihan, jadi membawa dia ke rumah sakit milik saya." ucapan Andika terpotong oleh Ilham yang sangat penasaran.
"Kami mencari hampir di semua rumah sakit di Jakarta, tapi tidak kami temukan pasien kecelakaan yang terjadi pada hari kecelakaan itu," Ilham menatap Kesya yang saat itu kebetulan melihat ke arahnya, ada keharuan di mata Kesya, atas semua perjuangan Ilham selama setahun dirinya menghilang.
"Saya memang meminta kepada staff saya, untuk menyembunyikan keberadaan Kesya, saya kwatir kalau ada seseorang yang berniat jahat padanya." Andika semakin menundukkan wajahnya, sangat takut kebohongan dirinya dapat di tangkap oleh Kesya. Sungguh, dalam hati kecilnya sangat takut Kesya akan pergi meninggalkan dirinya.
'Maaf aku Kesya, aku saat itu sungguh takut kehilangan kamu, aku merasa jatuh cinta kepadamu saat pertama melihat kamu,' bathin Andika penuh kepiluan.
"Mas, bisa kita bicara berdua saja?" akhirnya Kesya membuka suara, Ilham tentu saja menolak hal itu, dia cemburu melihat Kesya berdua dengan Andika.
"Tidak bisa, aku tidak setuju. Bicarakan semuanya di sini," tolak Ilham terang-terangan.
"Tolong Mas, ada hal yang harus saya tanyakan, pribadi, saya gak enak kalau membicarakan hal itu di sini," Kesya membujuk Ilham agar memberikan ijin supaya bisa bicara berdua dengan Andika.
"Baiklah, tapi jangan lama-lama," akhirnya Ilham mengalah, takut kalau nanti Kesya menjadi ilfell pada dirinya, bagaimanapun dia masih ingat kalau Andika yang sudah menolong Kesya.
"Ayo Mas," Kesya dan Andika lalu beranjak dari tempat itu, mencari tempat yang lebih privat.
"Tolong jelaskan semuanya yang jujur padaku, aku gak suka kalau Mas Dika bohong sama aku," Kesya menatap mata Dika yang masih menunduk.
"Kenapa Mas Dika harus minta maaf? Apa Mas menyembunyikan sesuatu dariku?" Kesya menatap Dika intens, menyelidiki kebohongan atau kejujuran yang Dika sampaikan ke padanya.
"Saat kamu sadar, Mas minta asistenku untuk menyelidiki tempat kejadian aku menemukan kamu, tapi Aku yang saat itu mulai jatuh cinta kepadamu, tidak rela berpisah dengan kamu, apalagi saat itu aku mengetahui kalau kamu akan menikah, aku hilang akal saat itu. Niatku aku akan membawamu ke Dubai, menetap di sana. Tapi aku mengalami kesulitan dengan dokumen, jadilah kita berdua berakhir di sini," Andika menatap Kesya dengan takut.
"Cintamu membuat keluargaku menderita karena mereka berpikir bahwa aku sudah mati," ada nada kecewa dalam suara Kesya.
"Saat itu aku hanya takut kehilangan kamu, maafkan aku," Kesya menggelengkan kepalanya, bagaimana mungkin dia bisa memaafkan kesalahan sebesar itu?
Dia harus melewatkan pernikahannya dengan Ilham, beasiswa ke Mesir juga hangus karena ulah Andika, walaupun sekarang belum ingat masa lalunya, tapi Kesya bisa rasakan bahwa itu adalah mimpinya, menjadi seorang dokter.
Berkali-kali Kesya menarik nafas dengan berat. Mencoba memahami keputusan Dika saat itu, tetapi tetap saja, hanya rasa kecewa yang dia rasakan. Kesya menatap Andika sekali lagi. Melihat penyesalan di mata bening itu. Wajah tampan Andika tampak kusut, pasti dia tidak tidur semalaman, pikir Kesya dalam hatinya.
"Aku tidak tahu harus bagaimana menyikapi semua ini. Aku sendiri bingung, tolong beri aku waktu untuk memikirkan semuanya," pada akhirnya Kesya membuat keputusan.
"Kesya, Please maafkan aku, aku sungguh tidak ada niat jahat kepadamu. Aku hanya takut kehilangan kamu saat itu, aku tidak rela kalau kamu menikahi pria lain, pikiranku kacau saat itu," Andika mencoba mendekati Kesya dan memegang bahunya, mencoba memeluk Kesya.
"Tolong jangan seperti ini," pinta Kesya yang merasa tidak enak, apalagi saat melihat Ilham yang bangkit dari kursinya dan hendak mendatangi dirinya dan Andika.
"Mas duduklah di kursimu, kita bicarakan semua ini baik-baik, tolong jangan seperti ini," Kesya sungguh merasa takut kalau akan terjadi pertengahan, melihat tatapan membunuh Ilham di kejauhan. Kesya berusaha menenangkan Andika.
"Baiklah, ayo kita pulang, aku sangat rindu sama kamu," Andika bangkit dan menggenggam tangan Kesya, Kesya terkejut saat Andika mencoba menarik dirinya dan berniat membawa pergi.
"Eh... berhenti!! Mau kamu bawa ke mana calon istriku?" Ilham tiba-tiba sudah berada di samping Kesya, dan membawanya ke dekapannya. Kesya yang bingung tidak bisa berbuat apa-apa.
"Tolong jangan berkelahi begitu, semua bisa kita bicarakan baik-baik," Rasyid datang mendekati dan berusaha menenangkan mereka yang dari raut wajahnya sudah siap baku hantam.
"Kami sangat berterima kasih Anda sudah menolong Kesya, tapi kalau Anda bersikap seperti ini, saya tidak bisa mentolerir lagi," Ilham sudah tidak mampu menahan emosinya lagi, sungguh gemas dengan kelakuan Andika, yang terang-terangan akan membawa pergi Kesya.
"Kesya dan saya sudah berencana akan menikah. Kami hanya sedang menunggu orang tua saya datang dari Dubai," Ilham sangat terkejut mendengar pengakuan Andika tersebut, dia menatap Kesya, dan mencoba bertanya kebenaran padanya, namun Kesya hanya menundukkan kepalanya, Ilham sangat syock dan kecewa.