Assalamualaikum Ustadz Ku

Assalamualaikum Ustadz Ku
77. Hati Yang Terkoyak



"Mas ini, ada-ada saja! Aku ini istrimu, masa lebih dekat dengan Mas Ilham? Bagiku, dia hanya masa lalu yang gak penting! Udah, ayo kita tidur?! Besok banyak sekali yang harus aku urus untuk persiapan pernikahan Mas Ilham bersama Ustazah Qonita." Ucap Kesya lalu mengajak suaminya untuk tidur.


Andika menurut saja, dia langsung memeluk istrinya yang sangat dia sayangi, "Sayang, terimakasih karena kamu sudah jadi istriku!" ucap Andika, lalu mencium kening Kesya. Kesya yang merasa heran dengan tingkah suaminya, hanya menatap wajah suaminya.


"Kamu baik-baik saja, Mas?" tanya Kesya.


"Sejujurnya sayang, aku merasa aneh melihatmu mengurus pernikahan mantan calon suami kamu. Ada sedikit rasa cemburu sebetulnya di dalam hatiku, tetapi, Ya sudahlah! Tidak apa-apa! Yang penting, hati dan cinta kamu adalah milikku seorang!" ucap Andika, menyuarakan kegelisahan hatinya. Kesya mengecup bibir suaminya, lalu meraup wajah tampannya.


"Bagiku, di dunia ini, tidak ada yang lebih aku cintai selain kamu dan juga anak-anak kita! Jadi! Tolong percayalah dan Yakinlah! Bahwa tidak akan ada yang bisa membuat aku berpaling dari kalian!" ucap Kesya kembali mengecup bibir Andika. Tetapi Andika tidak mau melepaskan ciuman itu, dia malah semakin menuntun sang istri ke ranjang dan meminta untuk dilayani malam ini.


"Aduh, Sayang! Bisakah kita melakukan ini nanti saja! Aku rasanya, malu loh! Melakukan seperti ini di rumah orang lain!" ucap Kesya mencoba berdiskusi dengan sang suami untuk bisa menahan hasratnya saat ini.


"Aduh, Sayang! Mana mungkin aku bisa hidup, tanpa melakukan hal itu dengan kamu? Atau kita pindah ke sebuah hotel aja? Kita tinggal di sana! Jadi kita bebas melakukan apapun di sana, bagaimana?" tanya Andika.


"Nggak enak dong, Sayang! Kalau kita berdua tinggal di hotel. Nanti bagaimana pemikiran Kyai Hamid dan yang lainnya? Ya udah, aku akan melayanimu! Tapi Ingat! Tidak boleh main kasar! Aku tidak mau, sampai orang lain tahu aktivitas kita ini. Aku malu sama orang lain, Mas!" ucap Kesya. Andika hanya mengangguk, lalu langsung menyerang istrinya. 'Untung Adrian bersama Mas Ilham!' bathin Andika, yang kini menikmati malam panas bersama istrinya tercinta.


Sementara itu, Adrian Fathu dan Ilham, sudah terlelap di kamar yang sudah disediakan oleh Kyai Hamid. Yang jaraknya lumayan jauh dari kamar Kesya dan Andika.


Mamanya Kesya lebih memilih untuk tinggal bersama Rasyid karena dia ingin bercengkrama dengan cucunya yang sudah lama tidak bertemu.


"Mah, ayo tidur dulu! Sudah malam, loh! Besok kan banyak sekali hal yang harus kita persiapkan untuk pernikahan Kyai Ilham dan ustadzah Qonita!" ucap Rasyid.


"Rasanya, Mama tidak percaya, kalau sekarang kita sedang sibuk mempersiapkan pernikahannya Kyai Ilham dan ustazah Qonita. Bukankah seharusnya, Kiai Ilham itu bersama dengan Kesya? Rasanya Mama masih belum ikhlas melepaskan rencana pernikahan Ilham dan Kesya!" ucap Mamanya Kesya dengan suara sendu.


"Hus! Mah! Jangan bilang begitu! Kalau sampai Andika maupun Adrian, mendengarkan ucapan Mama, hati mereka pasti terluka! Apalagi kalau sampai Pak Farhan beserta istrinya mendengar hal itu, pasti mereka akan tersinggung, Mah! Jangan, katakanlah seperti itu lagi!" ucap Rasyid karena khawatir dengan ucapan Mamahnya yang sangat sensitif tersebut.


Zahra jadi mengingat lagi, saat-saat peristiwa pernikahan Kesya dan Andika. Suaminya terpaksa menikahkan Kesya karena ketika itu dirinya dan anaknya berada dalam sandra keluarga Abimana, yang mengancam akan membunuh mereka sekeluarga. Kejadian yang sungguh mencekam dan membuat trauma hingga saat ini.


Walaupun sudah begitu banyak keluarga Abimana menaburkan kebaikan dalam kehidupan mereka, tetapi tetap saja, hati mereka merasakan trauma yang begitu mendalam akibat penculikan tersebut.


"Sudah lah, Mah! Lupakan kejadian itu! Yang penting kan, sekarang Kesya, Andika, Adrian dan Cakra, hidup dalam kebahagiaan. Rasyid perhatikan mertuanya Kesya juga sangat menyayangi Kesya. Mereka memperlakukan dia seperti seorang Ratu. Sudah lah, Mah! Bukankah jodoh, maut dan rezeki adalah kuasa Allah? Kita sebagai manusia tidak bisa memaksakan kehendak kita! mungkin di situlah memang jalan jodohnya Kesya! Kita bisa apalagi, Mah?" Rasyid berusaha menenangkan perasaan Mamahnya, yang saat ini sedang gundah mengingat wasiat ayahnya yang sudah meninggal.


"Mas, ayo kita tidur?! Sudah malam, loh! Kasihan Mama! Mama juga pasti ingin istirahat!" ucap Zahra berusaha untuk mengakhiri percakapan tersebut. Zahra tahu, percakapan itu hanya akan menyakiti hati keduanya.


"Baiklah, Mah! Kami pergi istirahat dulu! Mama jangan lupa tidur, ya? Jangan pikirkan lagi masalah itu! Yang penting sekarang, Kesya bahagia bersama keluarga kecilnya. Jangan berpikir aneh-aneh lagi yang malah akan memberikan masalah untuk Kesya beserta keluarganya!" Rasyid kemudian masuk ke dalam kamar dan istirahat bersama dengan Zahra, istrinya.


Tidak lama kemudian, Mamanya Kesya pun masuk ke dalam kamar dan mulai memejamkan matanya. Tetapi matanya masih saja belum bisa terpejam, lelap damal tidur Karena pikirannya masih berkecamuk mengingat wasiat suaminya yang menginginkan Kesya untuk menikah dengan Ilham.


" Maafkan mama ya, Pah! Mama tidak bisa melaksanakan wasiat Papa, untuk menikahkan Kesya bersama Ilham!" Mamanya Kesya sungguh sedih, tanpa dia ketahui, Umynya Ilham mendengarkan semua apa yang diucapkan oleh Mamanya Kesya.


Tadinya, Umynya Ilham berniat untuk bertanya tentang acara seserahan pernikahan kepada Mamanya Kesya, tapi ketika melihat beliau tengah menangis, Umynya Ilham mengurungkan niatnya, dan kembali ke kamarnya juga.


"Jodoh memang di tangan Allah, kita tidak bisa menyalahkan Takdir! Abah, semoga Abah memaafkan Umy, yang kini akan menikahkan anak kita untuk yang kedua kalinya, dengan wanita yang tidak seperti engkau inginkan. Umy tidak ingin merusak kebahagiaan Kesya yang sudah menikah dengan pria lain! Kesya sendiri tampaknya sudah bahagia dengan keluarga yang dia miliki!" Umy menatap foto suaminya yang ada dalam ponselnya, tanpa terasa air mata beliau berlinang.


"Umy juga ingin, melihat putra kita bahagia, Abah! Tolong maafkan Umy!" Setelah sholat sunah dan membaca Al-Quran, Umynya Ilham kemudian tidur. Matanya sembab karena terlalu banyak menangis.


Ya, malam itu, banyak hati yang menangis dengan rencana pernikahan Ilham yang tiba-tiba. Ilham sendiri sebenarnya tidak mencintai Qonita, hanya saja,dirinya tidak ingin mengecewakan Umynyq, apalagi, Qonita seorang wanita Sholehah dan juga seorang hafizah.