Assalamualaikum Ustadz Ku

Assalamualaikum Ustadz Ku
207. Pasrah



" Apakah menurutmu pernikahan kalian masih bisa diselamatkan?" tanya Humairoh kepada Agus yang saat ini sedang menatap ke jalanan.


" Entahlah! Semua sangat membingungkan! Aku tidak tahu harus apa. Tetapi yang jelas, Ayana mungkin tidak ingin lagi bertemu denganku. Seperti yang tadi bibi lihat Ayana bahkan tidak mau melirik ku!" ucap Agus dengan lesu.


" Baiklah sekarang bibi akan menemui Ayana di apartemennya. Semoga saja dia belum pergi ke luar negeri. Sehingga kita masih bisa memiliki kesempatan untuk berdiskusi tentang masalah kalian!" ucap Humairoh sambil bangun dari tempat duduknya.


" Maafkan saya Bi karena sudah memberikan beban kepada Bibi untuk memikirkan masalah kami berdua!" ucap Agus merasa tidak enak kepada Humairoh yang telah banyak membantu hubungannya bersama dengan Ayana.


" Tidak apa-apa. Kau jangan sungkan. Kalian bibi yang telah menjodohkan. Jadi Bibi mempunyai kewajiban untuk memastikan bahwa kalian menjalani kehidupan rumah tangga kalian dengan baik dan benar! Bibi berharap rumah tangga kalian bahagia dan diberikan keturunan untuk melengkapi kebahagiaan kalian!" ucap Humairoh sambil menatap Agus.


" Apakah kau akan ikut dengan Bibi untuk pergi ke apartemen milik Ayana?" tanya Humairoh.


" iya Bi saya juga ingin bicara dengannya!" ucap Agus dengan mantap.


" Baiklah tunggu sebentar. Karena Bibi ingin mengganti pakaian dulu dan berpamitan kepada pembantu. Barangkali nanti Om Rahmat kembali dari Pondok Pesantren dan kebingungan karena tidak melihat Bibi berada di rumah!" ucap Humairoh kepada Agus sebelum dia pergi ke kamarnya untuk mengganti pakaian dan mengambil tas tangannya serta ponselnya.


" Pah mama mau pergi ke apartemen Ayana dulu. Kalau papa butuh mama. Papah bisa menyusul Mamah ke apartemen Ayana!"


Humairoh mengirimkan pesan tersebut ke nomor telepon suaminya yang saat ini sedang menengok Putra mereka yang ada di pondok pesantren.


Setelah selesai mengirimkan pesan untuk suaminya. Humairoh langsung menemui Agus yang sudah menunggunya di luar.


" Bibi bersama saya saja!" ucap Agus sambil membukakan pintu mobilnya untuk Humairoh.


" Mobil siapa ini Agus?" tanya Humairah merasa heran dengan mobil Pajero milik Agus.


" Punya ayah temanku!" dusta Agus kepada Humairoh karena saat ini dia belum siap untuk membuka identitasnya yang sesungguhnya. Sebagai Agus Bagaskoro.


' Biarlah Nanti kalau saya sudah resmi mewarisi perusahaan Papah baru Akan ku umumkan di media sosial dan juga televisi tentang identitasku yang sesungguhnya!' batin Agus.


Humairoh merasakan keganjilan dengan apa yang dikatakan oleh Agus Diah yang pernah hidup dalam identitas rahasia selama berpuluhan tahun dengan suaminya merasakan bahwa Agus sedang menyembunyikan sesuatu darinya.


" Jujurlah padaku Agus! Apakah kau menyembunyikan sesuatu tentang identitasmu yang sesungguhnya?" tanya Humairoh kepada Agus yang tanpa kesulitan menelan salivanya sendiri setelah ditodong oleh Humairah.


" Bi Saya rasa Saat ini fokus kita adalah Ayana bukan tentang saya!" ucap Agus berusaha menghindari pertanyaan dari Humairah karena saat ini dia belum siap untuk membuka Siapa dirinya yang sesungguhnya.


" Baiklah terserah kepadamu untuk jujur pada Bibi atau tidak Tapi yang jelas tidak ada sebuah rahasia yang akan abadi!" ucap Humairoh sambil tersenyum kepada Agus yang saat ini sedang fokus menyetir mobilnya.


'Ya Allah! Entah kenapa aku merasa Aura Agus bukanlah Aura seorang sopir taksi tetapi Aura seorang pewaris perusahaan besar!' batin Humairoh sketika dia melihat wajah Agus dari samping.


" Apa kau yakin kalau kau tidak memiliki sesuatu yang hendak diceritakan padaku?" tanya Humairoh terus menatap kepada Agus dengan penuh curiga.


Agus tampak fokus dengan mobil yang saat ini sedang dia kendarai.


" Suatu saat saya akan menceritakannya kepada bibi. Hanya saja saat ini saya masih belum siap!" ucap Agus sambil menatap kepada Humairoh.


" Baiklah Bibi akan menunggu sampai kau siap menceritakan semuanya secara jujur kepada bibi!" ucap Humairoh kemudian dia fokus menatap jalanan sambil sesekali melirik kepada Agus yang benar-benar membuatnya curiga.


' Baiklah aku akan mengirimkan detektif untuk selalu mengawasi Agus. Agar aku segera mengetahui rahasia apa yang sedang dia sembunyikan dariku!' batin Humairoh sambil menatap Agus.


' Mulai sekarang aku benar-benar harus berhati-hati. Pasti bibi Humairah akan mulai mengawasiku dan juga menyelidiki ku!' batin Agus berusaha untuk bersikap tenang di hadapan Humairah.


Begitu mereka sampai di apartemen Ayana. Mereka langsung naik ke Unit milik Ayana.


" Entahlah saya tidak memperhatikan Itu! Memang kenapa Bi?" tanya Agus heran.


" Kalau mobilnya masih ada, berarti Ayana masih berada di apartemennya. Kalau mobilnya sudah tidak ada berarti Ayana sudah ada di bandara!" ucap Humairoh menjelaskan kepada Agus analisisnya.


" Bisa juga Ayana pergi menggunakan taksi ke bandara!" ucap Agus.


" Kau benar Agus!" ucap Humairoh sambil tersenyum.


Begitu sampai di depan pintu unit apartemen Ayana. Agus langsung memasukkan sandi yang dia ketahui. Akan tetapi Agus mendapatkan kenyataan. Bahwa ternyata sandi pintu apartemen itu telah dirubah.


" Sudah diganti Bi!" ucap Agus pasrah.


" Bagaimana kalau kita bertanya ke security? Siapa tahu security memiliki informasi tentang keberadaan Ayana saat ini!" ucap Humairoh kepada Agus.


" Baiklah Ayo kita ke security ataupun ke pihak pengembang Apartemen ini!" ucap Agus menyetujui Ide dari Humairah.


Sepanjang perjalanan menuju pos Security. Agus dan Humairoh tampak diam dan sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Memikirkan segala kemungkinan yang saat ini terjadi kepada Ayana.


Begitu sampai di pos security. Agus langsung bertanya kepada satpam tentang keberadaan Ayana saat ini.


" Maafkan saya pak! Apakah saya boleh bertanya tentang Ayana Sugandi yang berada di unit 5010?" tanya Agus to the point kepada satpam tersebut.


" Oh non Ayana yang cantik itu ya? Dia sudah pergi meninggalkan Apartemen ini. Bahkan apartemennya saja sudah dijual. Satu minggu lagi pemilik barunya akan menempati apartemen itu!" ucap security memberikan informasi kepada Agus dan Humairah.


" Apakah Ayana mengatakan kepada bapak ataupun pihak pengembang akan pergi ke mana?" tanya Agus penasaran dengan keberadaan istrinya saat ini.


" Saya hanya tahu. Kalau non Ayana akan pergi ke luar negeri. Baru saja berangkat sekitar 1 jam yang lalu naik taksi. Apartemen dan mobilnya sudah dijual kepada orang yang sama!" ucap sang security menjelaskan segala hal tentang Ayana.


Agus merasa lemas seketika.


" Hilang sudah harapanku untuk bisa memperbaiki hubungan rumah tanggaku dengan Ayana!" ucap Agus seperti menyesali apa yang saat ini sedang terjadi kepada rumah tangganya.


" Ayo kita bergegas ke bandara. Semoga kita bisa mendapatkan informasi ke mana Ayana pergi saat ini!" ucap Humairoh langsung menarik tangan Agus agar mengikutinya.


Agus hanya pasrah dan dia mengikuti apapun yang dikatakan oleh Humairah.


Selama perjalanan ke bandara banyak pikiran yang saat ini melintas di dalam pikiran Agus mengenai Ayana.


' Apakah benar berdasarkan perkiraan Bibi Humairoh? Bahwa saat ini Ayana sedang hamil?' batin Agus dengan jantung yang berdebar-debar memikirkan bahwa Ayana saat ini sedang hamil anaknya.


' Tapi kenapa kalau Ayana hamil dia malah melarikan diri dariku? Bahkan tidak mau menyampaikannya kepadaku? Apakah begitu bencinya dia padaku? Sehingga tidak ingin memberitahukan kepadaku tentang darah dagingku sendiri?' begitu banyak pertanyaan di dalam hati Agus saat ini mengenai seorang Ayana yang melarikan diri darinya tanpa berpamitan sama sekali.


" Ya Tuhan betapa bodohnya Bibi! Kenapa tadi tidak bertanya ke mana dia akan pergi? Bibi tidak berpikir sama sekali bahwa dia sedang melarikan diri dari kita!" ucap Humairoh menyesali kebodohannya yang membiarkan Ayana pergi begitu saja tanpa bertanya tujuan kepergiannya.


" Sudahlah Bi! Ini semua bukan salah bibi. Kita berdua memang tidak bisa menebak apa yang sedang dipikirkan oleh Ayana!" ucap Agus menenangkan Humairah yang tampak begitu menyesali kebodohannya karena melepaskan Ayana begitu saja dari pandangannya.


" Kita berdua selama ini terlalu percaya diri kepada Ayana. Kita berpikir bahwa Ayana bisa melakukan segalanya sendiri! Dan kita lalai dengan kehidupan Ayana!" ucap Agus dengan suara yang tersekat di tenggorokannya.


" Saya mengakui bahwa saya adalah suami yang paling buruk di dunia ini. Saya bahkan tidak pernah peduli dengan keadaan Ayana selama ini. Selama ini saya hanya hidup dengan ego saya sendiri dan tidak pernah memikirkan bagaimana perasaan Ayana tentang pernikahan kami berdua!" ucap Agus mengeluarkan segala unek-unek yang ada di hatinya saat ini kepada Humairoh.


" Begitulah sebuah rumah tangga. Kalau tidak ada komunikasi sama sekali. Semuanya jalan sendiri-sendiri dan semuanya hanya sibuk berpikir sendiri-sendiri! Pada akhirnya baru menyadari bahwa hubungan kalian semakin menjauh dan pada akhirnya tidak saling mengenal lagi!" ucap Humairah.