Assalamualaikum Ustadz Ku

Assalamualaikum Ustadz Ku
6. Akhirnya di terima juga



Semua sudah berkumpul di ruang tamu. Termasuk Kesya, Ilham dan Rasyid. Mereka hanya diam, mendengarkan wejangan dari Abahnya Ilham seputar pernikahan dan adab-adabnya.


" Apabila seorang lelaki menyukai seorang wanita, maka sebaiknya dia meminta kepada orang tua gadis itu untuk dijadikan pasangan hidupnya, bukan dengan menjadikan gadis itu pacarnya, karena pacaran dalam Islam itu haram. Lebih banyak Mudharatnya dari pada kebaikan. Wanita yang terhormat akan menjaga Marwah nya sebagai seorang wanita, dengan menjaga pergaulan dari hal-hal yang buruk. Begitu pula laki-laki yang baik akan menjaga harga dirinya dengan menjaga kehormatan seorang wanita yang dia cintai. " Abah Kiai mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.


" Wanita Sholehah untuk laki-laki Sholeh. Perbaiki terus dirimu, maka kamu akan mendapatkan seorang pasangan yang baik pula. Sesungguhnya Allah itu sesuai dengan persangkaan umatnya. Selalu berpikir positif dan jangan lupa selalu berdoa kepada Allah untuk dijauhkan dari zinah. Apabila seorang hafizh dan hafizah melakukan pacaran ataupun zina,maka kelak, kuburan orang tuanya akan di bogem oleh malaikat sampai hari kiamat. Berhati-hatilah kalian dalam menjaga para anak gadis kalian, agar terhindar dari dosa zinah"


" Pernikahan yang baik adalah pernikahan yang mendapatkan restu dari ke dua belah pihak, insya Allah akan mendapatkan keberkahan dari Allah. Doa orang tua itu melangit. Jangan coba-coba durhaka kepada orang tuamu. Mereka mengasuh dan mendidik kalian dengan susah payah dan derai air mata serta cucuran keringat. "


" Pernikahan yang baik, seyogyanya melalui khitbah dan persetujuan dari sang gadis yang akan menjadi pasangan hidupmu melewati segala macam rintangan hidup ini" Abah Kiai tampak menatap Kesya dengan intens dan serius.


" Apakah Nak Kesya menerima lamaran anak saya yang bernama Ilhamuddin El fahrizi sebagai calon suamimu?" Ilham berdebar-debar jantung nya, terasa tidak tenang hatinya. Kesya menatapnya sekilas, lali mengangguk dengan pasti.


Ilham bernapas dengan lega ketika itu dan bersyukur karena akhirnya Kesya menerima lamaran dari keluarga nya. Tapi kemudian Ilham tercengang mendengar Kesya bicara dengan nada bergetar.


" Sebelumnya mohon maaf yang sebesar-besarnya, sejujurnya dalam hati ini masih ada rasa takut untuk mengambil keputusan untuk menikah secepatnya. Kesya masih ingin melanjutkan studi dan cita-cita Kesya" semuanya hening.


" Kita tentukan waktu pernikahan sesuai diskusi keluarga saja" itu adalah suara mamahnya Kesya.


" Mah.. Kesya masih ingin sekolah " Kesya menatap sang mamah penuh dengan pengharapan mendapat bantuan dari beliau.


" Begini saja, kita adakan ijab Kabul dan pernikahan sederhana, saya rasa cukup dihadiri oleh keluarga besar kita saja. Nanti kalau Kesya sudah siap,baru kita melangsungkan pernikahan secara terbuka dengan mengundang khalayak ramai. Yang penting sah secara hukum dan agama" usul Uminya Ilham.


" Sebulan lagi Kesya harus berangkat ke Mesir untuk memulai kuliahnya disana. Akan saya usahakan untuk menyusulnya dan melanjutkan kuliah S3 saya,sehingga kami suami istri bisa hidup bersama dan tidak berpisah" Ilham mengungkapkan rencananya. Kesya hanya diam melihat kesungguhan sang calon suami.


" Pernikahan Ilham dan Kesya akan diadakan satu Minggu setelah pernikahan Rasyid dan Zahra." putusan sudah dibuat dan disepakati semua keluarga.


Sekarang pembahasan beralih ke masalah rencana pernikahan Rasyid dan Kesya. Rasyid tampak khusuk mendengarkan para sepuh berdiskusi tentang masalah pernikahannya dan Zahra.


" Berarti dua Minggu dari sekarang adalah pernikahan Zahra dan Rasyid. Lusa keluarga besar kita akan melakukan lamaran secara resmi ke rumah Kiai Hamid" itu adalah suara Paman Sahrul, adik mendiang ayah Rasyid.


" Baiklah pembahasan sampai disini saja, besok pagi-pagi kita berbelanja keperluan seserahan untuk lamaran Rasyid dan Zahra, setelah itu lusa kita berangkat kesana untuk lamaran " acara hari itu ditutup dengan Alhamdulillah karena semua pembahasan telah berjalan lancar dan khidmat.


Keluarga besar Rasyid juga sudah kembali ke rimaj mereka masing-masing. Kini Kesya tinggal sendirian di kamarnya. Rasa lelah dan kantuk karena telah melakukan perjalanan yang jauh. Sehingga dia langsung tertidur begitu masuk ke kamarnya.


Hal yang sama berlaku juga di kamar Rasyid dan Ilham. Tak ada hal yang lebih membahagiakan selain cinta yang bersambut dari wanita pujaan hati. Tanpa urusan yang ribet, akhirnya dua pernikahan kakak beradik akan terlaksana dalam bulan ini. Rasyid merasa sangat bahagia hingga dia tersenyum dalam tidurnya.


Ilham sungguh tidak bisa tidur, masih kepikiran dengan Kesya yang masih belum siap mengarungi bahtera rumah tangga bersamanya. Ada sedikit ketakutan Kesya akan tidak bahagia dengan pernikahannya. Karena lelah, akhirnya Ilham tertidur juga walaupun dini hari baru dia terlelap.


Keesokan harinya di rumah Kesya tampak sibuk dengan persiapan lamaran, sibuk dengan berbagai seserahan yang akan dibawa ke rumah Zahra.


Ilham memutuskan untuk membawa seserahan pernikahan nya nanti saja, pas hari H agar surprise katanya. Karena dia tidak tahu apa saja yang diinginkan oleh Kesya.


Hari itu mereka bertiga pergi ke pusat perbelanjaan di kota itu. Ilham menawarkan dirinya sebagai sopir untuk Rasyid hari ini. walaupun sebenarnya modus, karena dia ingin bertemu Kesya, calon istrinya. Walaupun hanya melihat sekilas, tapi itu sudah cukup bagi Ilham.


" Apa saja yang ingin aku bawakan untuk seserahan pernikahan kita nanti? Katakanlah, agar nanti Mas persiapkan, agar tidak mengecewakan hatimu" Ilham berkata pada Kesya saat ada kesempatan Kesya berdiri di sampingnya. Saat itu Rasyid tengah memilih set perhiasan untuk di berikan pada Zahra,calon istrinya kelak.


" Pilihlah yang kamu suka, nanti akan aku masukan ke dalam seserahan untuk pernikahan kita" ucap Ilham lagi.


" Kesya akan menerima apapun yang diberikan oleh Mas Ilham, Kesya percaya bahwa mas Ilham dan keluarga pasti akan memberikan yang terbaik untuk pernikahan kita" ucap Kesya pelan namun pasti. Ada keyakinan di sana ,sehingga Ilham merasa senang sekali.


" Mbak, bisa saya melihat cincin itu" Ilham menunjukkan sebuah cincin dengan berlian berbentuk hati. Sederhana namun cantik. Cocok untuk Kesya. Kemarin memang dia belum sempat memberikan cincin untuk Kesya. orang tuanya tidak memberikan waktu yang cukup baginya untuk melakukan segala persiapan.


" Kesya, kemarilah" Ilham memanggil Kesya agar mendekat, lalu meminta ijin untuk memegang tangannya. " Kesya, maukah kau menikah denganku?" Ilham menekuk kakinya dan menatap tajam mata Kesya. Kesya tersipu, merasa malu. Karena mereka menjadi pusat perhatian para pengunjung mall tersebut.


" Terima.. terima.. " begitulah kira-kira teriakan mereka.


" Mas bangun deh,apaan sih. Kan kemarin kita sudah lamaran resmi" Kesya melihat ke sekeliling. Lalu menunduk kembali, kalau tidak pakai cadar, pasti terlihat wajahnya yang merah sekali.


" Kemarin orang tua Mas yang melamar secara resmi, sekarang Mas yang melamar kamu secara pribadi. Terima yah. Mas cinta sekali sana kamu, dan ingin menghabiskan sisa hidup ini bersama denganmu" Kesya merasa sangat tersentuh hatinya. Ada binar bahagia di matanya.


Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang melihat adegan itu dan tampak tidak senang, itu adalah Silvia Hajar. " Aku pasti bisa merebut kamu dari wanita bodoh itu" geramnya, sambil menjauh dari tempat itu. Hatinya merasa sangat panas melihat Ilham, sang pujuaan hatinya berlutut di hadapan Kesya dan melamarnya secara pribadi.