
"Mas Dika Nyebelin! Awas saja, nanti kalau minta tolong gak akan pernah aku bantuin!" Merry lari ke taman, menghindari Mas Andika yang membuat hatinya merasa sakit.
"Dasar kakak gak ada akhlak! Nyebelin!" Merry menyusut air mata yang sedari tadi tidak mau berhenti. Hatinya sakit, diingatkan kembali tentang Orlando dan Elena.
"Semoga dua keparat itu mati mengenaskan!" serapah Merry karena kesal.
"Merry, tidak baik loh, menyumpahi orang lain kaya gitu, sayang!" ucap Kesya yang tiba-tiba sudah di sampingnya. Tersenyum manis.
"Habisnya mereka lancang sekali, menoreh noda dalam hidupku! Hiks hiks!" ujar Merry kesal.
"Mas Dika juga, Nyebelin! Dia yang tidak bisa mengatur kekasihnya, sehingga pelacur itu mengganggu calon suamiku. Sekarang dia mentertawakan aku. Kak Dika memang kakak paling durhaka di dunia ini. Hiks hiks!" Merry masih menangis sedih.
"Maafkan Mas Dika, ya? Niatnya mungkin bercanda, tapi gak sadar kalau itu adalah bagian sensitif buat Merry." Kesya berusaha menghibur adik iparnya yang saat ini sedang galau.
"Maafkan, Mas! Mas gak maksud nyakitin hatimu," Tiba-tiba Andika dan Alvian sudah bergabung di taman mendekati Merry yang masih menangis.
"Mas Dika yang gak bisa mengendalikan Elena, makanya dia berani menggoda calon suamiku, tapi sekarang Mas Dika mengolok-olok luka hatiku. Apa itu menyenangkan buatmu, huh?" Merry berlinang air mata sambil melotot pada Andika yang sudah salah tingkah.
"Maafkan, Mas! Adikku sayang! Mas janji, gak akan mengulangi lagi." Andika mencoba memeluk adiknya, tapi Merry sudah pasang wajah garang.
"Adikku memang menakutkan, siapa kira-kira yang berani jadi suami kamu?" canda Andika sambil tersenyum jahil pada adiknya.
"Lihat, tuh Kak Kesya! Betapa menyebalkan suamimu, hiks hiks!" tunjuk Merry dengan horor.
"Mas, tolong berhenti jangan menggoda terus. Kasihan Merry sudah kaya gini sedihnya, masih belum puas juga?" Kesya menegur kelakuan sang suami yang kekanak-kanakan.
"Maaf, sayang! Ya sudah, ayo kita ke dalam saja. Biar Alvian saja yang menghiburnya, pasti langsung manjur!" ujar Andika sambil melirik pada Alvian, yang sedari tadi hanya diam memperhatikan Merry yang masih tersedu-sedu.
"Akan saya coba," ucap Alvian.
Andika dan Kesya lalu masuk ke kamar mereka. Memberi kesempatan kepada Merry dan Alvian.
"Mas, bercanda kamu kelewatan tahu gak sih?" Kesya menegur suaminya lagi.
"Iya, sayang! Maaf, ya. Tadi gak sengaja. Niatnya mau menjodohkan Merry dengan Alvian, malah bikin Merry jadi marah dan sedih." ujar Andika.
"Lain kali, hati-hati kalau membicarakan hal sensitif kaya gitu!" Kesya berlalu ke kamar mandi.
"Sayang, kamu mau ke mana?" tanya Andika.
"Mau mandi, siap-siap ke kampus." Andika mengikuti Kesya, namun dicegah oleh Kesya.
"Mas kenapa ngikutin?" tanya Kesya.
"Kita mandi bareng, ya?" Dika menaikkan kedua alisnya, memberi kode pada Kesya.
"Gak deh, ya! Makasih! Aku buru-buru Mas! Kalau mandi sama Mas, gak akan cukup tiga jam!" Kesya langsung masuk ke kamar mandi dan mengunci dari dalam.
Tidak menghiraukan suaminya yang manggil dari luar. Akhirnya Andika menyerah juga. Setelah Kesya tidak membuka pintu. Dua puluh menit kemudian sang istri sudah keluar dengan menggunakan handuk saja. Seketika Andika langsung memeluk sang istri dari belakang.
"Ayolah, sayang! Mas kangen sama kamu!" Kesya memutarkan matanya malas. Lagu lama!
"Kangen, mulu! Gak tahu waktu banget sih, Mas! Kita nanti sama-sama terlambat, loh!?" protes Kesya masih berusaha meloby hasrat sang suami.
"Sebentar saja, sayang!" rayu Andika.
"Mas kalau main mana bisa sebentar?"
"Mas janji, hanya sebentar saja. Mumpung Adrian lagi di asuh sama papah dan mamah." Andika tersenyum jahil pada istrinya.
"Selalu saja, pintar mencari kesempatan!" protes Kesya. Akhirnya menyerah juga dengan sang suami. Setelah dua puluh menit, akhirnya mereka berdua mandi bersama. Buat menghemat waktu, tentu saja setelah perjanjian ketat, kalau mereka hanya mandi saja, gak macam-macam lagi.
Setelah mandi, Kesya dan Andika bersiap-siap keluar rumah, Andika ke kantor dan Kesya ke kampus. Adrian di bawa pergi ke rumah orang tua Andika. Merry juga sudah di ajak jalan-jalan oleh Alvian, supaya pikirannya lebih jernih.
"Merry, kalau saya melamar kamu, apa kamu akan menerima saya?" tanya Alvian hati-hati.
"Ngomong apa, sih? Jangan bercanda, deh! Gak lucu tahu gak sih?" protes Merry.
Alvian membawa Merry ke tepi pantai, menatap deburan ombak. Alvian tahu, kalau Merry sangat suka pantai. Makanya membawanya ke sana.
"Aku serius, apa kamu mau menikah denganku?" Alvian tiba-tiba berlutut di hadapan Merry dan menyodorkan sebuah cincin berlian.
"Kamu lagi ngeprank aku kan, ya? Sejak kecil, kan kamu paling hobby ngerjain aku!" Merry masih belum percaya dengan lamaran Alvian.
"Aku serius banget! Menikahlah denganku, please!" pinta Alvian memohon.
"Tapi aku sudah mendaftar kuliah ke Paris. Bukankah kamu harus kembali ke Indonesia untuk mengurus perkebunan Kakekmu?" tanya Merry ragu. Bagaimanapun Merry tidak mau gegabah.
"Aku bisa menunggu kamu selesai kuliah. Aku sudah berhasil menunggumu 15 tahun, aku gak keberatan menunggu kamu 3-4 tahun lagi." ucap Alvian dengan tersenyum manis.
"Kamu menungguku selama 15 tahun? Aku gak paham!" Alvian lalu memasukkan cincin yang dia pegang ke jemari Merry, tanpa meminta persetujuan Merry. Merry juga diam saja, jadilah sekarang cincin itu bertengger manis di jari Merry.
"Ya, aku selama ini menunggu kamu. Makanya pas Papah minta aku buat datang ke Dubai buat gantiin kerjaan beliau, aku sangat bahagia. Semalaman aku gak bisa tidur, karena akan bertemu dengan kamu!" ucap Alvian dengan mata berbinar. Merry menatap tak percaya.
"Bagaimana bisa? Selama ini, kamu kerjanya hanya bikin aku nangis dan marah. Tidak seharipun kamu lewatkan tanpa ngerjain aku!"
"Maafkan aku, ya? Sebenarnya itu adalah caraku agar selalu dapat perhatian dari kamu. Caraku agar kita selalu bisa bersama. Kamu tahu? Aku gak bisa melewati hariku tanpa kamu!" ucap Alvian sendu.
"Bohong! Buktinya, kamu bisa 15 tahun hidup bahagia di Indonesia tanpa aku! Gak pernah seharipun kamu menelpon aku!"
"Aku selalu ngawasin kamu lewar medsos!" ucap Alvian, lalu dia membuka ponselnya. Mengitak atik sebentar, lalu memperlihatkan sesuatu pada Merry. Seketika mata Merry membulat kaget.
"Ini akun kamu?" Merry masih gak percaya.
"Ya, aku sengaja jadi orang lain, biar bisa bersama kamu tanpa kamu sadari. Aku kan selama ini sadar diri, bahwa kamu benci sama aku!" ucap Alvian sendu. Alvian lalu memasukkan kembali ponselnya dan melihat jauh ke pantai.
"Aku akan menikah denganmu, sebelum berangkat ke Paris!" seketika Alvian memeluk Merry sangking bahagianya. Akhirnya cintanya berbalas juga. Perjuangan yang sangat panjang, bagi seorang Alvian demi mendapatkan cinta Merry.