
Setelah sampai di apartemen Ayana. Sopir itu langsung memapah tubuh Ayana untuk bisa sampai ke Unit milik Ayana.
Iman dan kekuatan batin Sopir itu layak diacungi jempol. Karena dia bisa menahan godaan yang begitu besar terhadap tubuh Ayana yang sangat terbuka itu bahkan Ayana sekarang sudah tidak sadarkan diri.
Tetapi Sopir itu dengan tenang membawa Ayana ke dalam unitnya. Setelah itu dia juga menyelimuti tubuh Ayana yang dia tidurkan di atas sofa ruang tamu milik Ayana. Setelah itu dia meninggalkan Ayana begitu saja dan dia langsung kembali ke rumahnya menemui keluarganya sendiri.
Laki-laki itu sudah biasa melakukan hal seperti itu setiap hari. Bahkan hampir bosan melihat kelakuan Ayana yang kerjanya hanya mabuk dan mabuk saja setiap malam.
"Kalau aku laporin sama Nyonya besar, kasihan juga Non Ayana! Tetapi kalau dibiarkan juga, kelak masa depannya pasti akan hancur lama-lama!" ucap Sopir itu bergumam sendiri dalam perjalanannya menuju ke kediamannya sendiri.
"Hampir mati bosan saya setiap hari harus mengantarkan dia dalam keadaan mabuk seperti itu. Entah aku akan terkena dosanya juga atau tidak. Karena mengantarkan dia ke tempat maksiat seperti itu!" ucapnya.
Sopir Ayana yang bernama Rahmat itu, kemudian langsung fokus untuk segera sampai ke depan rumahnya. Karena dia sudah sangat lelah sekali. Saat ini waktu sudah hampir menunjukkan jam 01.00 malam, istrinya pasti sudah tidur dan kelelahan karena menunggu dia pulang.
Begitu dia sampai di rumahnya dia langsung mandi dan membersihkan tubuhnya yang begitu lengket setelah seharian berada di luar rumah. Setelah selesai dia kemudian sholat isya baru setelah itu dia mendekati istrinya yang sudah terlelap tidur.
"Maaf ya. Kau pasti kelelahan karena menungguku seharian!" ucap Rahmat sambil mencium kening sang istri.
Karena merasakan ada pergerakan di atas ranjang, akhirnya istri Pak Rahmat pun terbangun. "Bapak sudah pulang?" tanya istrinya sambil mengucek matanya yang tampak silau karena harus menyesuaikan dengan cahaya di sekitarnya.
"Maaf ya sudah membuat Ibu jadi terbangun, padahal pasti ibu kesusahan untuk tidur ya?" tanya Pak Rahmat sambil mengelus pipi sang istri dengan penuh cinta kasih.
"Nggak apa-apa Pak. Oh ya, Bapak sudah makan malam atau belum?" tanya istrinya Pak Rahmat dengan suara lemah lembut kepada suaminya. Walaupun di antara rasa kantuk yang mendera tubuhnya.
"Bapak belum sempat untuk makan malam. Soalnya tadi Nona Ayana kegiatannya full seharian. Jadi Bapak nggak ada waktu untuk sekedar mencari makanan sejak tadi siang!" ucap Pak Rahmat menjawab pertanyaan istrinya.
"Oalah! Kenapa Bapak gak minta ijin ke ayana untuk sekedar makan siang? Awas itu anak, nanti Ibu akan tegur dia Pak! Karena dia sudah berbuat sewenang-wenang kepada bapak!" ucap istrinya pak Rahmat dengan mata berapi-api.
"Sudah bu! Tidak apa-apa. Biarkan saja. Itu kan memang pekerjaan Bapak. Resiko Bapak menjadi sopirnya non Ayana!" ucap Pak Rahmat menenangkan istrinya yang kini menjadi karah mendengarkan suaminya belum makan sejak tadi siang.
"Ya sudah! Ibu buatkan makanan dulu untuk bapak. Setidaknya Bapak tidak tidur dalam keadaan lapar. Bapak tunggu sebentar ya!" Kemudian istrinya pak Rahmat pun pergi ke dapur dan membuatkan makan malam untuk suaminya. Walaupun hanya sekedar makanan sederhana tapi cukup untuk pengganjal lapar.
"Ayo Pak makan dulu. Tidak baik tidur dalam keadaan lapar. Apalagi Bapak sudah bekerja seharian." ucap istrinya pak Rahmat berusaha membangunkan suaminya yang sudah mulai agak lelap dalam tidurnya.
"Terimakasih ya Bu! Malam-malam sudah mau memasak untuk Bapak. Bapak sungguh beruntung punya istri seperti ibu yang begitu perhatian sama bapak!" ucap istrinya pak Rahmat sambil mencium pipi sang istri yang sudah menemani dia lebih dari 30 tahun.
"Ya udah Bapak makan dulu. Nanti piringnya letakkan saja di meja itu ya? Biar besok Ibu yang cuci. Ibu mau tidur dulu ya? Ngantuk sekali!" ucap istrinya pak Rahmat sambil memeluk suaminya.
Pak Rahmat kemudian menghabiskan makanan yang tadi disiapkan oleh istrinya. Setelah itu dia langsung berbaring di samping istrinya dan memeluk tubuh wanita yang selama 30 tahun lebih telah menemani hidupnya dalam suka dan duka.
Istrinya pak Rahmat adalah Bibi daripada Ayana. Wanita itu bernama Humairoh. Demi cinta dia meninggalkan segalanya dan dia juga meninggalkan hak warisnya di keluarga Sugandi demi hidup bersama dengan Pak Rahmat laki-laki yang dia cintai.
Tetapi Pak Rahmat tidak pernah mengetahui latar belakang dari Humairoh yang Pak Rahmat ketahui, bahwa Humairoh dekat dengan Ayana dan Ayana sangat takut kepada istrinya. Tetapi tidak mengetahui bahwa Ayana sebenarnya adalah keponakan dari istrinya sendiri.
Apabila Humairo tidak meninggalkan keluarga Sugandi demi cintanya. Maka dia ada memiliki 20% saham dari perusahaan milik keluarganya.
Tetapi karena dia meninggalkan keluarga itu demi cinta, akhirnya dia tidak mendapatkan apa-apa. Selain sebuah perusahaan kosmetik yang diberikan oleh kakeknya karena merasa kasihan kepada Humairah.
Perusahaan itu dikelola oleh Humairah secara rahasia dari suaminya. Karena dia tidak mau kalau suaminya mengetahui bahwa dia berasal dari keluarga orang yang kaya raya.
Pak Rahmat pernah bercerita kepada istrinya, bahwa dia membenci orang kaya. Dulu kedua orang tua Pak Rahmat pernah ditindas oleh majikan mereka, sehingga mati mengenaskan gara-gara disiksa karena dituduh mencuri oleh majikannya.
Sejak saat itu, Pak Rahmat membenci orang kaya. Dia pun bekerja di rumah kediaman Ayana karena dipaksa oleh ayahnya Ayana yang sebenarnya diminta oleh istrinya agar mau menerima suaminya bekerja di rumah sang kakak yang selalu sayang padanya.
Karena istrinya pak Rahmat ingin suaminya mempunyai pekerjaan dan dia melihat suaminya memang membutuhkan pekerjaan untuk menghidupi keluarga mereka dan demi harga diri suaminya agar tetap terjaga sebagai kepala keluarga.
Keesokan harinya. Pak Rahmat dan istrinya kemudian terbangun dan melaksanakan salat subuh bersama. Pak Rahmat sebagai seorang Imam keluarga benar-benar menjalankan tugasnya di dalam rumah itu.
"Bagaimana dengan Ning, apakah kuliahnya ada hambatan?" tanya Pak Rahmat kepada istrinya mengenai putrinya yang saat ini sedang kuliah di Jogjakarta.
"Kemarin Ning nelpon katanya sebentar lagi dia mau wisuda dan segera kembali ke Jakarta Memangnya ada apa Pak?" ucap istrinya pak Rahmat sambil menemani sang suami untuk sarapan bersama. Sebelum suaminya pergi berangkat ke apartemen Ayana dan menjemputnya ke kantor untuk bekerja sebagai CEO di kantornya.
"Berarti kita harus ke Jogjakarta dong Bu? Kalau misalkan Ning akan wisuda!" Ucap pak Rahmat sambil mengunyah makanannya.
"Ya iyalah Pak! Masa iya anak kita wisuda kita tidak pergi ke sana sih? Bagaimana perasaan dia nanti Pak, Pak!" ucap istrinya Pak Rahmat sambil tersenyum kepada suaminya.
"Ya udah Bapak langsung berangkat kerja dulu ya? Siapa tahu non Ayana belum bangun, jadi Bapak harus membangunkan dia supaya tidak terlambat ke kantor!" ucap Pak Rahmat.
Setelah sarapan Pak Rahmat kemudian berpamitan kepada istrinya untuk segera berangkat menjemput Ayana di apartemennya yang jaraknya agak jauh dari kediamannya.
Istrinya pak Rahmat hanya menatap kepergian suaminya yang selalu rajin bekerja setiap hari. Walaupun hanya sebagai seorang sopir dari keluarga kakaknya.
"Entah apa yang akan kamu pikirkan Pak, kalau kamu ternyata sedang bekerja bersama dengan keponakanmu sendiri!" ucap istrinya pak Rahmat sambil menatap tajam kepergian suaminya yang sudah semakin jauh.