Assalamualaikum Ustadz Ku

Assalamualaikum Ustadz Ku
255. Manda Kabur



Keesokan harinya Manda langsung membereskan barang-barangnya dan bersiap untuk kembali ke apartemen yang dulu diberikan oleh Kesya dan Andika ketika dirinya mengurus Amanda seorang diri.


Johan tampak mengurutkan keningnya ketika dia membuka matanya mendapatkan sang istri yang sedang sibuk memasukkan barang-barangnya ke dalam koper besar.


" Apa yang sedang kau lakukan sepagi ini?" tanya Johan bingung.


Akan tetapi Manda tidak menjawabnya sama sekali. Sehingga membuat Johan menjadi naik darah.


" Katakan padaku! Apa yang sedang kau lakukan? Jangan Kau kira aku ini tidak berharga sama sekali, karena aku tidak kaya seperti laki-laki yang telah membuatmu hamil dulu!" ucap Johan dengan nada keras sehingga membuat Manda tersentak dibuatnya.


" Jadi seperti itu pikiranmu tentangku, tentang rumah tangga kita?" tanya Manda sambil merosot ke lantai karena saat ini tubuhnya seakan hilang tenaga sama sekali.


" Jadi selama ini Kau keberatan tentang diriku yang pernah melahirkan tanpa seorang suami? Jadi selama ini dalam pikiranmu kau selalu merendahkanku Mas? Kau selalu menganggapku tidak berharga?" tanya Manda dengan air mata yang terus berlinang di pipinya.


Tampak Johan yang kesulitan menelan salivanya sendiri ketika melihat benda yang mulai menangis terseduh dengan menutup wajahnya menggunakan telapak tangannya.


Johan mendekati Manda dan berusaha untuk menenangkan istrinya.


" Maafkan aku kalau sudah keterlaluan mengatakan hal yang menyakitkan hatimu!" ucap Johan sambil berlutut di hadapan Manda yang sedang menangis tersedu.


" Sebaiknya kita urus perceraian kita saja Mas. Pernikahan seperti ini benar-benar tidak sehat. Hanya akan saling menyakiti satu sama lain!" ucap Manda sambil menatap Johan yang saat ini sedang menatapnya dengan tajam.


" Sampai kapanpun aku tidak akan pernah menceraikanmu!" ucap Johan yang kemudian keluar dari kamarnya dan ternyata dia mengurung Manda di dalam kamar itu.


Manda yang sudah bersiap untuk keluar dari rumah Mereka. Tampak terkesiap ketika mendapatkan kenyataan bahwa ternyata pintu kamarnya telah dikunci dari luar oleh sang suami yang selalu bersikap aneh kepadanya.


" Mas buka pintunya aku harus keluar dari kamar ini. Mas tolong buka pintunya!" ucapan dah memohon kepada suaminya agar dibukakan pintu.


" Merenunglah di dalam kamar itu. Kalau kau sudah berubah pikiran untuk tidak bercerai denganku, maka aku akan membukakan pintu untukmu!" ucap Johan dari luar.


Setelahnya Amanda mendengar Johan yang tampak sedang sibuk di dapur melakukan pekerjaan yang harusnya dia kerjakan.


" Entah apa yang ada di dalam pikiranmu Mas. Kenapa kau selalu memperlakukanku seperti ini? Apakah salah kalau aku ingin bahagia? Apakah salah kalau sekali-kali aku ingin bertemu dengan putriku?" begitu banyak pertanyaan di dalam hati Manda yang tidak terjawab oleh Johan karena saat ini dia sedang sibuk melakukan semua pekerjaan rumah tangga yang biasanya dikerjakan oleh Manda.


Hari itu Johan meminta cuti kepada bosnya dalam rangka ingin pergi berjalan-jalan dengan Manda dan putranya. Siapa yang menyangka kalau ternyata istrinya malah membuatnya hilang mood, sehingga membuatnya terpaksa untuk mengunci Manda di dalam kamar mereka agar Manda tidak kabur dan meninggalkan dia beserta putranya yang masih balita.


" Maafkan papa ya nak. Seharusnya sekarang kita berjalan-jalan dan bersenang-senang. Akan tetapi karena mamamu saat ini sedang marah, terpaksa kita hanya menonton televisi di rumah saja!" ucap Johan berbicara kepada balitanya yang saat ini sedang dia suapin sarapan nya.


Sementara itu Manda yang sudah kelelahan memohon kepada suaminya untuk dibukukan pintu, dia hanya bisa tergolek lemah di lantai, karena merasa pasrah dengan nasibnya sendiri bersama dengan Johan.


" Ya Tuhan! Berapa lamakah mas Johan akan mengurungku di sini? Apa yang bisa kulakukan agar aku bisa keluar dari kamar ini?" tanya Manda kepada dirinya sendiri.


Tiba-tiba saja Manda melihat jendela kamarnya yang tidak terdapat teralis besi.


" Aku bisa kabur melalui jendela itu!" ucap Manda merasa sangat bahagia karena diberikan jalan untuk dia bisa keluar dari rumah yang selalu membuatnya bersedih dengan kelakuan suaminya yang tidak bisa menerima masa lalunya.


" Maafkan Mama Axel, karena mama terpaksa meninggalkanmu bersama papamu. Semoga suatu saat nanti kita bisa bertemu lagi!" ucap Manda sambil berusaha untuk mengeluarkan koper yang tadi dia bereskan melalui jendela kamarnya.


Setelah kopernya berhasil dia lempar keluar kamar, Manda pun secara hati-hati keluar dari kamarnya melalui jendela yang sudah dia buka.


" Alhamdulillah akhirnya aku bisa keluar dari kamar ini. Baiklah aku sekarang harus segera meninggalkan rumah ini, sebelum Mas Johan mengetahui kalau aku telah keluar dan kabur dari sini!" Manda pun langsung menghentikan taksi yang kebetulan melintas di depan rumahnya.


Setelah berada di dalam taksi, Manda baru bisa bernafas dengan lega. Dia akan segera pergi ke apartemen yang dulu diberikan oleh Andika dan Kesya.


" Semoga saja Mas Johan sudah lupa dengan alamat apartemen itu. Sehingga dia tidak bisa menemukanku di sana!" Manda sangat berterima kasih karena dirinya diberikan jalan untuk keluar dari kurungan sang suami.


Selama tidak digunakan oleh Manda, apartemen itu disewakan kepada orang yang membutuhkan tempat tinggal dengan harga sewa yang sangat tinggi dan cukup untuk memenuhi kebutuhan Manda apabila sang suami tidak memberikannya nafkah bulanan.


Untung saja penyewanya sudah keluar sebulan yang lalu, sehingga mandah bisa menggunakan apartemen itu.


" Syukurlah penyewa apartemen yang dulu begitu rapi dan bersih. Sehingga aku tidak terlalu repot membersihkannya sekarang." Manda pun kemudian memasukkan barang-barangnya ke dalam kamar utama.


Setelah Manda selesai beres-beres dan juga memastikan bahwa tempat tinggalnya sudah siap untuk dihuni. Manda pun kemudian membaringkan tubuhnya di atas ranjang.


" Ah lelah sekali! Ternyata bekerja seperti ini benar-benar sangat melelahkan!" ucap mandah sambil membaringkan tubuhnya di atas ranjang.


Tiba-tiba saja mata Manda tampak berkaca-kaca.


" Kalau saja dulu aku tidak pengijinkan Amanda untuk dibawa oleh Andika pasti sekarang hidupku masih bahagia seperti dulu. Sebelum kami dipisahkan oleh jarak dan juga status yang begitu tinggi. Sekarang aku baru menyesal, kenapa dulu membuka identitas Amanda di hadapan mereka semua. Sehingga mereka mengambilnya dariku! Aku adalah seorang ibu yang jahat karena sudah menjual putriku untuk semua kemewahan ini! Maafkan Mama Amanda! Semoga kau tidak akan pernah membenci mamamu!" mata Manda berlinangan air mata. Karena dia mengingat kembali kenangannya bersama dengan Amanda di apartemen itu.


" Dulu hidup kita berdua sangat bahagia. Mama lah yang telah menghancurkan semua kebahagiaan kita, karena keserakahan mama yang berharap bahwa papamu akan menikahi mama karena memilikimu! Tapi ternyata Papah mau jauh lebih mencintai istrinya daripada Mama!" ucap Manda menahan kesedihan di dalam hatinya.


" Besok aku harus menjual apartemen ini dan menggantinya dengan alamat yang baru agar mas Johan tidak bisa menemukanku! Bagaimanapun aku tidak mau kembali kepadanya karena ternyata selama ini dia tidak pernah benar-benar mencintaiku. Di matanya aku hanyalah perempuan murahan yang melahirkan anak di luar nikah!" ucap Manda dengan geram karena ternyata dia telah dibohongi oleh sang suami selama ini.


Manda pun kemudian menutup matanya yang terasa begitu berat.


Sementara itu Johan yang berada di dalam rumahnya, dia tampak terkejut ketika dia mendapatkan Manda sudah tidak ada di dalam kamarnya.


" Kemana dia?" tanyanya heran sekali.


Johan pun kemudian menulis semua barang-barang yang dibawa oleh istrinya.


" Dia hanya membawa pakaiannya saja!" ucap Johan ketika dia memeriksa kamar tersebut.


Perhiasan-perhiasan yang diberikan oleh Johan selama menikah dengan Manda, masih tergeletak di tempatnya semula.


" Dia bahkan tidak mau membawa ini semua bersama dia. Apakah selama ini aku tidak berharga buat dia? Kenapa dengan begitu mudahnya dia meninggalkan rumah ini tanpa mengucapkan sepatah kata pun kepadaku? Dia bahkan tidak memperdulikan Axel buah cinta kami berdua!" ucap Johan dengan suara gemetar karena menahan rasa sedih di hatinya ketika mengetahui yang sudah kabur dari rumah mereka.


Tampak begitu lemas dan juga kalau wajah Johan saat ini.


Johan memeluk tubuh Axel yang saat ini setelah berada di dalam pelukannya.


" Maafkan papah ya nak karena tidak berhasil untuk membujuk ibumu untuk menetap di rumah ini!" ucap Johan sambil mencium kening anaknya yang mulai rewel.


Dengan sangat telaten Johan mendiamkan putranya yang sejak tadi terus menangis.


" Sabarlah Nak. Suatu saat pasti ibumu akan pulang dan mencari Keberadaanmu!" ucap Johan sambil terus menimang Axel dalam pelukannya dan berusaha mendiamkan balita yang sedang menangis sedih karena menginginkan ibunya yang sekarang sudah tidak ada di rumah itu.


Setelah lelah menangis akhirnya Axel pun tertidur dalam pangkuan sang ayah yang juga kelelahan karena seharian mengurus seluruh pekerjaan di rumah itu dan juga mengasuh putranya yang masih membutuhkan sang ibu.


Setelah menidurkan putranya di dalam kamar, Johan pun kemudian mencoba untuk menelepon Manda.


Tetapi selama setengah jam dicoba Manda sama sekali tidak mau mengangkat teleponnya.


" Sayang, apakah kau begitu membenciku? Sehingga kau tidak mau lagi mengenal aku? tolong Maafkanlah Aku yang sudah membuatmu berpisah dengan putrimu. tolong Maafkanlah Aku yang tidak bisa menerima masa lalumu dan berdamai dengan itu. Aku hanyalah seorang laki-laki yang terlalu mencintaimu dan tidak mampu untuk menahan perasaan cemburu di hatiku saat ini karena memikirkanmu yang pernah hamil dari laki-laki lain yang lebih kaya dariku dan lebih segalanya dariku. Aku sangat minder dengan status diriku sendiri. Aku takut kalau kau tidak pernah mencintaiku karena Ayah Amanda yang terlalu wah jika dibandingkan dengan diriku yang hanyalah manusia sederhana."


Setelah menulis pesan itu Johan pun langsung mengirimkannya ke nomor telepon Manda.