Assalamualaikum Ustadz Ku

Assalamualaikum Ustadz Ku
176. Menyelidiki Humairah



Hampir 1 jam Rahmat menunggu Humairoh keluar dari rumahnya.


"Akhirnya keluar juga. Hari ini aku harus tahu siapa kau sebenarnya. Aku tidak mau selamanya ditipu olehmu!" ucap Rahmat bermonolog kepada dirinya sendiri dan bersiap untuk mengikuti Humairah.


Setelah menunggu akhirnya Rahmat melihat Humairoh meninggalkan rumah mereka menggunakan mobil yang kemarin malam digunakan oleh Humairoh ke apartemen Ayana. Penampilan Humairoh biasa saja ketika meninggalkan kediaman mereka.


Rahmat mengikuti istrinya dalam jarak aman sehingga Humairoh tidak merasa curiga bahwa dia saat ini sedang diikuti oleh suaminya.


Pada sebuah pom bensin tampak Humairoh berhenti membawa sebuah paper bag yang ada di dalam mobilnya.


Sekitar 10 menit kemudian. Humairoh keluar dengan tampilan yang berbeda yang sangat glamour dan luar biasa cantiknya. Sehingga membuat Rahmat begitu terkejut. Dia merasa pangling melihat istrinya yang kini telah bermetamorfosis menjadi wanita sosialita.


"Ya Tuhan! Apakah benar dia adalah istriku? Aku tidak pernah melihat dia berpenampilan seperti itu!" ucap Rahmat terpesona melihat Humairoh yang begitu luar biasa cantiknya.


Tidak lama kemudian, Humairah tampak meninggalkan pom bensin tersebut dan menuju ke sebuah area perkantoran yang asing di mata Rahmat karena dia tidak pernah melihat sebelumnya.


Rahmat memperhatikan semua gerak-gerik Humairoh menggunakan sebuah teropong. Sehingga dia masih bisa melihat semua yang dilakukan oleh Humairah. Ealaupun dalam jarak yang lumayan jauh.


Tampak di sana semua orang sedang menyambut kedatangan Humairoh dan akhirnya Humairah masuk ke dalam lift yang khusus untuk eksekutif. Setelah Humairah meninggalkan lobi, Rahmat akhirnya memberanikan diri untuk turun dari mobilnya dan masuk ke dalam perusahaan itu.


Dengan penuh percaya diri Rahmat bertanya kepada resepsionis tentang istrinya.


"Maaf Mbak saya mau bertanya. Tadi saya melihat ada seorang wanita yang begitu cantik turun dari mobil berwarna merah itu, kalau saya boleh tahu siapa dia ya?" tanya Rahmat sambil menunjukkan jarinya ke mobil yang masih di parkirkan oleh Humairoh di depan perusahaannya.


"Oh tadi adalah owner dari perusahaan ini. Ibu Humairoh Sugandi. Memangnya ada apa?" tanya resepsionis tersebut sambil memberikan senyum terbaiknya untuk mencitrakan perusahaan tempat dia bekerja.


"Humairoh Sugandi dia adalah CEO di perusahaan ini?" ulang Rahmat seakan tidak percaya dengan apa yang dia dengarkan.


"Benar Pak! Bu Humairoh Sugandi itu adalah pemilik dari perusahaan ini dan lainnya. Selain perusahaan ini juga masih banyak perusahaan lain yang ada di luar kota. seperti di Surabaya, Bandung juga ada di Kalimantan. Di luar negeri juga banyak. Memangnya ada apa Pak?" tanya resepsionis tersebut seperti terheran melihat ekspresi Rahmat yang aneh menurutnya.


"Perusahaan ini bergerak di bidang apa?" tanya Rahmat penasaran.


"Di bidang garmen dan juga fashion Pak! Butik-butik perusahaan kami sudah menyebar di seluruh Indonesia bahkan ada juga yang sudah masuk ke negara Prancis!" ucap resepsionis tersebut menerangkan tentang perusahaan tampatnya bekerja kepada Rahmat.


Rahmat tampak Limbung kepalanya sudah pusing mendengarkan semua penjelasan dari resepsionis tersebut.


"Anda baik-baik saja Pak? Apa ada yang bisa saya bantu? Wajah anda sangat pucat sekali!" ucap resepsionis tersebut tampak khawatir dengan keadaan Rahmat yang tidak baik-baik saja saat ini.


"Tidak apa-apa mbak! Ya sudah terima kasih atas informasinya. Saya permisi dulu! Oh ya Mbak, nanti kalau Mbak bertemu dengan Bu Humairoh Sugandi. Tolong sampaikan salam saya kepadanya. Katakan saja dari Rahmat Abiguna! Saya permisi dulu mbak!" ucap Rahmat kemudian dia meninggalkan perusahaan itu.


"Entah apa maksudnya kau menyembunyikan tentang identitas dan kehidupanmu. Tapi yang jelas, aku tidak bisa menerima semua kepalsuan ini. Tolong kau maafkan aku Humairah. Aku terpaksa meninggalkanmu! selamat tinggal istriku. Aku mencintaimu! Apabila kau ingin menikah lagi, aku membebaskanmu untuk melakukannya. Aku tidak mengekangmu untuk tetap menjadi istriku. Gunakanlah surat ini untuk meminta sigat taklik kepada pengadilan agama. Sehingga kau bisa menikah lagi dengan pasanganmu yang baru. Aku mendoakan semoga kehidupanmu bahagia bersama pasanganmu yang baru. Pasangan yang sepadan denganmu. Maafkan aku yang selama menjadi suaminya tidak bisa memberikan yang terbaik untukmu dan tidak bisa membuatmu bahagia. Satu yang Pasti bahwa aku sangat mencintaimu! 😭 😭


Rahmat hanya membawa satu tas kecil pakaiannya dan peralatan mandinya setelah itu dia langsung meninggalkan kediaman yang sudah hampir 30 tahun dia tempati bersama Humairoh dan dua orang anak mereka yang saat ini sedang berada di pondok pesantren di Jawa Barat.


Dengan langkah berat dan air mata yang mengalir di pipinya. Rahmat kemudian meninggalkan kediaman mereka berdua. Rahmat melangkahkan kakinya tanpa tujuan dan arah.


Rahmat menghentikan taksi yang melintas di hadapannya.


"Tolong ke stasiun Pak!" perintah Rahmat kepada sopir taksi tersebut.


Sepanjang perjalanan itu. Rahmat hanya terdiam dan merenungi. Setiap kejadian yang pernah dia arungi bersama dengan sang istri.


Kehidupan sederhana dan sejahtera yang bisa dikatakan hampir mereka miliki bersama. Ketika dia mengingat bahwa Humairah tidak pernah meminta sesuatu yang memberatkan dirinya. Tampak Rahmat tertawa geli ketika dia memikirkan Humairoh meminta sesuatu kepadanya.


"Ada apa Pak? Apakah ada yang lucu Kenapa tiba-tiba Anda tertawa?" tanya sopir taksi itu merasa penasaran karena sejak tadi Rahmat hanya terdiam saja Bahkan hampir dikatakan seperti orang tertekan tetapi sekarang tiba-tiba saja dia tertawa itu membuat supir taksi itu menjadi ketakutan dan penasaran.


"Saya sedang menertawakan hidup saya Pak. Hidup saya yang selama ini saya kira sempurna. Ternyata itu semua hanyalah sebuah dongeng dan sandiwara. Hidup saya ternyata hanya sebuah lelucon! Hahaha!" Rahmat kembali tertawa tetapi Sopir itu merasa tawa penumpangnya itu adalah tawa kesedihan sehingga membuat Dia sedikit menengok ke belakang melihat Rahmat yang kini mulai berlinang air mata.


"Apakah anda baik-baik saja Pak? Anda yakin tidak ingin saya bawa ke rumah sakit?" tanya sopir taksi itu merasa khawatir dengan rahmat yang menangis dan tertawa dalam keadaan bersamaan.


"Apakah kau mengira bahwa aku adalah orang gila? Tidak pak! Saya bukan orang gila. Saat ini saya adalah orang yang paling waras di dunia ini. Dengan meninggalkan Istriku yang ternyata telah menipu selama puluhan tahun!" ucap Rahmat sambil menatap kepada Sopir itu yang sekarang tampak kebingungan.


"Apakah anda sedang bertengkar dengan istri anda Pak?" tanya Sopir itu lagi.


"Untuk bertengkar. Bukankah membutuhkan dua orang manusia?" tanya Rahmat sambil tersenyum Sumbang sehingga membuat Supir itu merinding dibuatnya.


"Jadi ini ceritanya, Bapak mau melarikan diri dari istri bapak ya? Wah! Kalau dalam sebuah novel jaman sekarang. Biasanya istri yang meninggalkan suaminya! Hahaha! tapi Sekarang bapak sudah mengubah cerita menjadi suami yang meninggalkan istrinya ini sungguh sangat lucu Pak!" ucap Sopir itu sambil terus tertawa terbahak-bahak sehingga membuat Rahmat mengerutkan keningnya.


"Apakah ada yang lucu dari saya pergi meninggalkan istri saya?" tanya Rahmat seperti merasa tersinggung dengan ucapan dari Sopir itu.


"Tidak Pak! Itu tidak lucu sama sekali. Hanya saja aneh rasanya. Tapi ya sudah! Itu kan keputusan anda. Saya hanya orang luar. Tidak mau mengganggu gugat kehidupan orang lain, apalagi ikut campur. Saya yakin bapak punya pemikiran sendiri kesulitan sendiri. Sehingga akhirnya mengambil keputusan seperti ini!" ucap Sopir itu sambil tersenyum kepada Rahmat.


"Kau benar! Aku mempunyai kesulitanku sendiri dan aku tidak bisa mengatakannya padamu!" ucap Rahmat pelan. Kemudian dia melihat ke arah jendela dan melihat begitu banyak hiruk pikuk mobil-mobil yang melintas di sampingnya.


"Jadi ini ceritanya Bapak mau pergi ke mana?" tanya sopir muda itu kepada Rahmat.


"Saya tidak tahu Mas! Saya hanya akan mengikuti langkah kaki saya ke mana akan membawanya di situlah saya akan berada!" Rahmat seperti pasrah dengan kehidupannya sendiri.


"Jadi Bapak kabur dari istri bapak, tanpa rencana sama sekali? Bahkan Bapak tidak tahu akan pergi ke mana?" tanya Sopir itu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya heran dengan apa yang dilakukan oleh Rahmat.


"Kalau bapak percaya padaku. Ikutlah ke kontrakanku Pak. Kebetulan saya di Jakarta ini hidup hanya sendirian. Nanti bapak bisa bekerja sebagai sopir taksi seperti saya. Nanti saya akan mengatakan kepada bosku!" ucap sopir taksi itu sambil tersenyum kepada Rahmat. Dia mencoba untuk menawarkan kebaikannya untuk Rahmat agar Rahmat memiliki tempat tinggal dan juga pekerjaan.