Assalamualaikum Ustadz Ku

Assalamualaikum Ustadz Ku
185. Kesepakatan



Humaira menemui Agus di ruang kerjanya. tampak Dia sedang berusaha untuk membujuk Agus agar bersedia dijodohkan dengan Ayana keponakannya.


"Saya tahu kalau permintaan saya ini sangat lancang untukmu. Tetapi percayalah saya sangat memperdulikan Ayana seperti anak saya sendiri!" ucap Humairoh terdiam sejenak.


"Apa alasannya Nyonya menginginkan Ayana untuk menikah denganku? Bukankah Nyonya melihat sendiri bahwa Ayana begitu membenciku?" tanya Agus dengan penuh penasaran terhadap keputusan Humairoh yang sepihak yang menginginkannya untuk menikah dengan Ayana.


"Aku tahu kalau kau adalah seorang laki-laki yang baik bekerja keras dan juga Jujur aku mempercayakanmu untuk bisa merubah Ayana menjadi seorang wanita yang bertanggung jawab dan bisa memikirkan tentang masa depannya sendiri!" ucap Humairoh sambil bangkit dari duduknya dan mendekati Agus.


Rahmat yang saat ini ada di Sana hanya bisa menatap istrinya yang sedang membujuk Agus untuk menikah dengan Ayana.


"Ayana itu ditunjuk oleh para ketua keluarga besar Sugandi untuk menjadi CEO dan pemimpin dari perusahaan Sugandi Group. Oleh karena itu saya berharap Ayana bisa menjadi seorang pribadi yang bijaksana dan juga dewasa!" ucap Humairoh.


"Lalu apa hubungannya dengan saya?" tanya Agus benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran Humairoh.


Humairoh menatap suaminya minta kepadanya untuk menjelaskan keinginannya.


"Istriku mempercayaimu untuk mendidik Ayana menjadi seorang wanita yang dewasa!" ucap Rahmat sambil menatap kepada Agus.


"Hanya kamu Gus laki-laki yang berani dan menentang Ayana secara terang-terangan. Ayana itu biasanya pembuat onar dimanapun dia berada. Karena kebanyakan laki-laki yang sudah takluk kepada hanya melihat status dan juga jabatannya di Sugandi grup." ucap Rahmat menceritakan tentang keponakan istrinya yang sudah hampir 10 tahun menjadi majikannya.


"Tapi bagaimana mungkin saya bisa menikahi wanita yang selalu memusuhi saya?" tanya Agus bingung dengan dirinya sendiri.


"Secara perlahan kau akan mengerti bagaimana untuk menaklukkan seorang ayahnya sehingga bisa menjadi istrimu yang sempurna!" ucap Humairoh mencoba untuk memberikan semangat kepada Agus.


"Kau jangan minder terhadap Ayana. Aku akan menunjukmu sebagai CEO di perusahaan dan menjadikan Ayana sebagai wakilmu sehingga dia akan takluk dan menurut kepadamu!" ucap Humairoh.


Agus menggelengkan kepalanya tanda tidak setuju dengan apa yang disampaikan oleh Humairah kepadanya.


"Tolong maafkan saya Nyonya! Saya tetap tidak bisa menerima pernikahan ini. Apapun alasannya dan bagaimanapun caranya!" ucap Agus dan langsung meninggalkan Humairoh.


"Aku akan memberikan rumah dan juga sawah untuk orang tuamu yang ada di desa dan aku juga akan memberikan beasiswa penuh untuk kedua Adikmu di universitas terbaik yang ada di Indonesia!" ucap Humairoh kepada Agus.


Mendengarkan janji yang diberikan oleh Humairoh seketika Agus terdiam dan memikirkannya.


'Mungkin tidak ada salahnya kalau aku menerima tawaran istrinya Pak Rahmat itu. Setidaknya adik-adikku bisa kuliah dan kedua orang tuaku akan memiliki kehidupan yang layak!' batin Agus berusaha untuk menganalisis dan mempertimbangkan penawaran dari Humairoh.


"Mari lakukan perjanjian di atas hitam dan putih Karena aku tidak mau untuk selamanya menjadi suami dari Ayana!" ucap Agus dengan mantap.


"Apa maksudmu? Aku tidak mengerti Agus!" tanya Humairoh sambil menatap tajam kepada Agus yang sekarang sedang berpikir keras dan mempertimbangkan apakah dia akan menerima atau menolaknya.


"Setelah saya berhasil merubah Ayana menjadi lebih baik. Kalau misalkan dia menginginkan untuk bercerai denganku, maka Nyonya tidak boleh menghalanginya!" ucap Agus menginginkan sebuah kesepakatan di antara mereka.


"Baiklah aku tidak keberatan dengan hal itu. Tapi aku yakin dan percaya, kalau pada akhirnya kalian pasti akan saling jatuh cinta. Pada saat itu, aku pasti akan sangat bahagia!" ucap Humairoh sambil tersenyum kepada Agus.


"Tidak mungkin aku akan jatuh cinta kepada wanita sombong itu dia tidak pernah menghargai siapapun!" ucap Agus dengan mata berapi-api.


"Baiklah besok kau bisa datang ke sini untuk menandatangani surat yang kau pinta. Dan kita akan segera melaksanakan pernikahanmu dengan Ayana!" ucap Humairoh dengan tersenyum.


"Hati-hati di jalan Gus!" ucap Rahmat ketika Agus berpamitan kepadanya untuk kembali ke kontrakannya.


"Aku tidak mengerti kenapa kau harus memilih Agus diantara begitu banyak laki-laki yang dikenal oleh Ayana!" tanya Rahmat kepada istrinya.


"Itu karena aku percaya bahwa Agus akan sanggup untuk mengendalikan ayahnya yang liar itu dan membuat Ayana tidak lagi mengganggu Firman dan Laila!" ucap Humairoh.


"Ketika aku berhasil mendapatkan kembali perusahaan Sugandi. Hal itulah yang diminta oleh Firman sebagai syarat dia mau untuk melepaskan perusahaan itu dari genggaman tangannya!" ucap Humairoh mencoba menjelaskan kepada suaminya tentang keputusannya yang ingin menikahkan Ayana dengan Agus.


"Mas tidak keberatan. Kalau Ayana menikah dengan Agus hanya saja Apakah pernikahan ini akan berhasil?" ucap Rahmat seperti sanksi dengan keputusan istrinya.


"Sudahlah tidak usah dipikirkan. Sekarang kita serahkan semuanya kepada Allah. Kalau memang mereka berjodoh pasti akan diterbitkan perasaan cinta di hati mereka berdua! Bukankah Allah itu maha pembolak balik hati kita tinggal berdoa saja untuk kebaikan mereka!" ucap Humairoh sambil mengulas senyum di bibirnya.


"Mas rasa pernikahan Ayana dan Agus merupakan PR besar bagi kita berdua!" ucap Rahmat sambil menggelengkan kepalanya.


"Karena ini memang tantangan juga untukku. Untuk bisa membuat Ayana dan Agus bisa menikah dan membentuk rumah tangga yang bahagia!" ucap Humairoh sambil tersenyum.


Rahmat menatap kepada istrinya yang sekarang tampak semakin cantik saja setelah dia melepaskan topengnya sebagai ibu rumah tangga. Wanita yang selama 30 tahun telah melalui suka dan duka bersamanya.


Sekarang Humairoh telah berganti penampilannya. Dia telah berubah menjadi seorang wanita yang begitu cantik dan anggun. Walaupun usianya yang sudah tidaklah muda lagi.


"Kenapa kok menatapku seperti itu apakah ada yang salah denganku?" tanya Humairoh gugup ketika melihat sang suami yang menatapnya dengan tatapan aneh.


"Aku memandang istriku sendiri. Memangnya apa yang aneh sih? Kalau aku memandang perempuan lain barulah itu menjadi sebuah dosa!" ucap Rahmat sambil memeluk tubuh istrinya.


"Ayo kita keluar. Karena saat ini keluarga besar Sugandi sedang menunggu kita!" Humairoh berusaha untuk melarikan diri dari cengkraman suaminya.


"Aku juga sudah menunggumu begitu lama Apakah kau tidak memperdulikanku?" tanya Rahmat yang mulai grapa ***** di tubuh istrinya yang sangat dia kagumi sekarang.


"Apa kau tahu sayang? Kalau sekarang aku sangat bahagia karena kau sudah kembali menjadi dirimu sendiri!" ucap Rahmat sambil mencium bibir istrinya.


Mereka berdua mencurahkan segala isi hati mereka berdua. Mengirimkan sinyal cinta untuk pasangan mereka masing-masing.


"Ayo kita ke ruang tamu sekarang mereka pasti sudah menunggumu sejak tadi!" ucap Rahmat setelah merasa puas dengan pelayanan yang diberikan oleh istrinya.


"Aku akan mandi dulu Mas! Bukankah, akan sangat memalukan kalau mereka mencium aroma percintaan di antara kita!" ucap Humairoh sampai memerah wajahnya sama seperti anak remaja yang sedang malu-malu.


"Pergilah Mas juga akan mandi! Apa kita mandi bersama sayang? Sudah lama kita tidak pernah melakukan hal itu!" ucap Rahmat menawarkan kepada istrinya.


"Tidak aku tidak mau. Pasti nanti akan ada acara yang lain lagi yang akhirnya membuat kita malah membuat mereka menunggu lebih lama lagi!


"Ayolah tidak enak kalau mandi sendiri!" Rahmat terus berusaha untuk membujuk istrinya sehingga akhirnya Humairah pun menyerah dan mengikuti Apa keinginan suaminya.


Setelah mereka berdua selesai mandi. Mereka pun langsung pergi ke ruang tamu dan menemukan bahwa keluarga Sugandi masih berkumpul di sana dan saling bertukar info dan juga kabar satu sama lain.


"Aku senang sekali melihat mereka sekarang berkumpul dan begitu bahagia Apakah kau tahu dulu mereka sempat terpecah karena masalah warisan yang diberikan oleh ayah kami?" tanya Humairoh sambil melirik kepada Rahmat yang kini menatapnya yang sedang berlinang air mata.


"Dahulu mereka saling gondok-gondokan hanya demi sebuah posisi CEO yang akhirnya diberikan kepada Ayana agar tidak memicu sebuah pertengkaran di antara mereka.