
Setelah acara pernikahan selesai, para tamu undangan pun meninggalkan lokasi. Yang tersisa kini tinggal para anggota keluarga yang sibuk membereskan sisa-sisa resepsi pernikahan.
"Usah, pengantin baru sebaiknya ke kamar saja! Biar kami yang akan membersihkan semua ini!" ucap Rasyid ketika melihat Ilham ikut bergabung bersama dengan mereka membereskan semua perlengkapan resepsi.
"Tidak apa-apa, aku hanya ingin membantu saja!" ucap Ilham dengan menundukkan kepalanya.
"Om, ayo Adrian antar ke kamar pengantin! Ustazah Qonita pasti sudah menunggu Om!" lalu Adrian dan Fathu bekerjasama untuk membawa Ilham ke kamar pengantin.
Di sana sang istri telah menunggu dengan harap-harap cemas. Bagaimana tidak? Resepsi sudah selesai dua jam yang lalu, bahkan tamu dan anggota keluarga sudah pada kembali ke kediaman mereka, tetapi Ilham, dia masih belum masuk juga ke kamar pengantin.
"Ustazah, kami titip Kiai Kami yang tampan ini, ya? ustazah tidak boleh nakal!" ujar Fathu sambil mendorong Kiainya ke dalam kamar tersebut. Ilham bahkan sampai hilang akal melihat kelakuan duo ganteng tersebut.
"Ustazah! Kalau Om tersayangku, nakal, laporan sama Adrian, ya? Nanti Adrian pasti akan menegur Om Ilham!" cicit Adrian tidak kalah garang.
"Udah, kalian BoCil sebaiknya pada tidur sana!" usir Ilham, karena gemes dengan kenakalan mereka, yang sejak tadi terus menggoda dirinya dan istri barunya.
"Assalamualaikum ustadz ku, eh, salah, Assalamualaikum Pak Kiai ku!" ucap Qonita gugup dengan suara lemah lembut, membuat Ilham hatinya jadi kebat kebit.
"Waalaikum salam, wahai istriku!" balas Ilham kini mendekati Qonita, yang tertunduk malu, Ilham menyentuh telapak tangannya Qonita, yang terasa sangat dingin.
"Ayo kita sholat sunah dulu!" ajak Ilham yang di sambut oleh Qonita dengan semangat.
"Apakah tidak mandi dulu?" tanya Qonita.
"Kau sudah mandi?" tanya Ilham, tidak kalah gugup.
Bagaimana mereka berdua tidak gugup? Mereka berdua baru bertemu kurang lebih selama 7 hari yang lalu, tiba-tiba sekarang mereka dihadapkan sebagai seorang suami dan istri. Sungguh, benar-benar sangat sangat mengejutkan. Mereka berdua tidak percaya dengan kenyataan yang sedang terjadi di hadapan mereka.
"Baiklah! Saya akan mandi duluan! Kalau kamu bosan menunggu, kau bisa tidur duluan!" ucap Ilham.
"Tidak apa-apa, Kiai! Saya akan menunggumu!" ucap Qonita dengan meremas kedua tangannya. Ada kegugupan dan rasa canggung yang merasuki dirinya.
Setelah 30 menit, Ilham keluar dari kamar mandi, dengan sarung yang dia gunakan saat masuk tadi. Qonita yang sudah mandi duluan, lalu menyerahkan handuk dan pakaian ganti untuk Ilham gunakan. Pakaian itu masih baru, Andika yang menyiapkan semuanya.
"Pakaian yang bagus!" ujar Ilham, mengagumi style yang sangat bagus dari pakaian yang dipilihkan oleh istrinya.
"Ayo kita sholat berjamaah!" Qonita lalu pergi ke kamar mandi, untuk mengambil air wudhu. Setelah itu, mereka sholat sunah bersama-sama. Qonita mencium tangan suaminya, dan Ilham mencium kening Qonita.
Perasaan keduanya tidak ada yang tahu, Ilham berdebar-debar dan begitu pula dengan Qonita. Yang seumur hidupnya baru kali ini berduaan dengan seorang laki-laki yang bukan muhrimnya. Selama ini, Kiai Hamid selalu menjaga pergaulan Qonita, sehingga tidak banyak kenal atau dekat dengan seorang pria.
"Ayo, kita tidur!" ajak Ilham, tetapi, Qonita menarik tangan Ilham, menatap suaminya yang sangat tampan itu. Ya, ada perasaan bangga dan haru, dirinya yang seorang anak yatim piatu, yang ayahnya kini entah ada di mana. tiba-tiba menjadi istri seorang Kyai ternama di Jawa Timur dengan memiliki santri puluhan ribu. Itu merupakan suatu hal yang luar biasa bagi Qonita.
"Ada apa? Apakah ada masalah?" tanya Ilham, mulai cemas. Jantungnya saat ini benar-benar tidak bisa di ajak kompromi, Ilham tidak berani menatap Qonita secara langsung. Qonita mendekati Ilham, lalu membimbing Ilham untuk membuka pakaiannya. Ilham sampai gemetar.
"Ini adalah malam pernikahan kita, apakah, aku salah? Kalau aku meminta hak ku malam ini?" pinta Qonita dengan malu-malu. Ilham seketika membeku, tidak percaya, bahwa dirinya akan ditodong secara frontal oleh Qonita, wanita Sholehah yang tampak alim itu.
"Apakah, apakah kau siap untuk melakukan hal itu?" tanya Ilham, keringat dingin mengucur deras di keningnya.
"Aku sudah menerimamu sebagai suamiku, maka aku juga sudah siap, untuk menjalankan tugasku sebagai istrimu!" ucap Qonita pelan, Ilham mengalami kesulitan menelan salivanya, gugup, benar-benar gugup.
Sejak bercerai dengan Laila, bahkan sebelum bercerai, Ilham sudah lama tidak pernah berhubungan dengan wanita, Ilham biasanya menghabiskan waktunya bersama Adrian dan Fathu. Menghabiskan banyak waktu untuk mengajarkan duo tampan itu secara pribadi.
"Tapi, aku sudah lelah, apa tidak sebaiknya, kita melakukan hal itu besok saja?" belum selesai Ilham berbicara, tiba-tiba saja Qonita sudah menarik tengkuk Ilham, mencium bibirnya, Ilham sepersekian detik, medaza terkejut.
Kemudian Ilham bisa membimbing Qonita yang baru sekali melakukan hal itu, Walaupun awalnya Qonita yang agresif, tetap saja, pada akhirnya Ilham yang memimpin pertarungan mereka malam ini.
Butuh usaha yang ekstra keras, mengingat ini adalah pertama kalinya Qonita melakukan hal itu. Ilham sangat sabar dan membuat Qonita merasa tersanjung.
Setelah merasa lelah, Qonita lalu meletakkan kepalanya di pelukan Ilham, Ya, bagi Ilham, malam itu seperti malam pertama juga baginya. Dahulu, saat dirinya menilah bersama dengan Laila, perasaan yang ada campur aduk tidak karuan, antara bahagia dan kesedihan.
Jadi Ilham tidak benar-benar menikmati pernikahan pertamanya. "Terimakasih, sudah memberikan malam yang sangat indah, dalam hidupku?" ucap Qonita, sambil membenamkan wajahnya dalam pelukan Ilham.
"Ayo kita tidur! Besok kita harus kembali ke Jawa timur bukan?" tanya Ilham.
"Tidak, tadi Mba Kesya memberikan paket honey moon ke Maldives. Kita akan berangkat besok, menggunakan jet pribadi Abimana Group, mereka akan mengantarkan kita ke sana!" ucap Qonita dengan sumringah.
"Apa, kau sudah menerima tawaran Kesya?" tanya Ilham.
"Ya, Mba Kesya bilang, itu hadiah pernikahan kita. Setelah dari Maldives kita akan ke Jepang juga. Mereka akan menunggu kita di sana!" ujar Qonita.
"Mereka?" tanya Ilham, merasa bingung.
"Mba Kesya dan Mas Andika! Mereka juga akan melakukan honey moon ke Jepang. Mereka akan menunggu kita, setelah kita di Maldives!" Kepala Ilham tiba-tiba pening, kesulitan bernapas.
"Apa ada masalah?" tanya Qonita bingung.
"Tidak apa-apa! Aku hanya merasa malu, nerima kebaikan mereka yang begitu melimpah ruah kepada kita!" ada kesedihan di hati Ilham.
'Tampaknya, Andika sedang menunjukkan kelasnya berbeda dengan diriku!' bathin Ilham merintis.
"Apabila Mas Ilham tidak mau, kita bisa membatalkan rencana itu! Kita bisa kembali ke Jawa timur saja!" ada rasa kecewa dalam suara Qonita.
"Bagaimana dengan Umiku?" tanya Ilham.
"Umi akan di ajak umroh bersama Mas Rasyid, Mba Zahra, Kiai Hamid dan istrinya, bersama Pak Farhan dan juga istrinya. Adrian dan Fathu juga akan di ajak umroh oleh Kakek dan neneknya!" ucap Qonita bersemangat.