
Setelah resmi menikah secara siri dengan Firman, Firman membawa Laila ke Jakarta. Disana, Laila diberikan sebuah rumah mewah dan juga mobil mewah. Firman yang memang adalah anak orang kaya, bisa memanjakan Laila dengan semua itu. Tetapi anehnya, Laila tidak merasa bahagia sama sekali.
"Aneh, dahulu saat menikah bersama Mas Ilham, aku begitu memimpikan kehidupan semacam ini. Entah kenapa, setelah memiliki ini semua, perasaanku malah terasa hampa. Ada yang hilang rasanya!" ucap Laila sedih.
Sementara itu, Firman yang kini ada di rumah istri pertamanya, merasa rindu dengan Laila, tetapi dia mengalami kesulitan untuk mencari alasan kepada istrinya agar bisa pergi ke luar. "Apa yang harus aku lakukan, ya?" tanya Firman, terus modar mandir di kamarnya.
"Pah, ada apa? Kok, dari tadi Mamah perhatian, gelisah sekali!" tanya istrinya yang sedang hamil muda. Anak kedua mereka. Firman hanya tersenyum melihat kedatangan istrinya tersebut. Lalu dia mendekati istrinya, sambil mencari alasan agar bisa pergi menemui Laila.
"Sayang, tadi Papah dapat telpon, ayah salah satu temanku. Meninggal dunia. Dia menelponku, agar Papah menemani dia, apa Papah boleh pergi ke sana sebentar?" tanyanya ragu, menghindari kecurigaan sang istri.
"Teman yang mana, Sayang?" tanya istrinya dan sudah bersiap untuk pergi tidur. Firman mendekati istrinya lagi.
"Kamu gak kenal sayang, dia teman Papah waktu masih di SMA, apa boleh?" ulangnya kembali.
"Tapi ini sudah larut, apa gak bisa besok saja?" tanya istrinya karena dia sedang ingin bermanja-manja dengan suaminya, sejak pulang dinas dari luar kita, dia perhatikan suaminya jadi sering pergi ke luar. Dia merasa kesepian.
"Gak enak, kalau gak kesana. Papah janji, sebelum jam kantor, Papah sudah pulang ke rumah. Ok?" tanyanya sambil memainkan tempat favoritnya, membuat istrinya jadi geli, "Papah mau pergi, tapi malah godain Mamah kayak gini. Apa gak menyiksa Mamah jadinya?" tanya istrinya dengan muka cemberut.
"Maaf, sayang! Ya udah, Papah pergi dulu, ya? Mamah istirahat saja, gak usah tunggu Papah pulang!" Firman lalu mengambil kunci mobilnya, ponselnya dan pergi keluar.
Istrinya selalu percaya dengan suaminya, jadi dia tidak merasa curiga sama sekali. Wanita itu malah asyik tidur saat suaminya sedang berusaha pergi ke pelukan istrinya yang ke dua. Firman dengan santai langsung pergi ke rumah Laila, yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah utamanya, hanya sekitar 20 menit saja.
Firman langsung masuk ke dalam rumah, Laila sudah bersiap untuk pergi tidur, saat dilihatnya Firman dagang, "Sudah malam, kenapa kau datang?" tanya Laila ketus.
Sejujurnya, Laila masih belum ikhlas dengan statusnya sebagai istri kedua. Hatinya merasa terhina karena perbuatan Firman yang sudah menjebak dirinya.
"Tentu saja karena aku merindukan kamu!" jawab Firman dan langsung saja mencium bibir Laila dengan gemas. Sejak seharian, Firman menahannya, makanya kini Firman langsung menyerang Laila, tidak perduli sama sekali dengan perlawanan Laila.
Setelah puas, Firman langsung tidur di samping Laila, menarik Laila kedalam pelukannya. Laila hanya bisa menangis dengan nasib hidupnya saat ini. Di pandangnya wajah suaminya tersebut. Ada rasa sakit, kesal dan juga bingung di dalam hati Laila.
"Apa yang akan kamu lakukan. Kalau istrimu tahu tentang aku?" tanya Laila bermonolog sendiri.
"Aku akan memilih kamu, kalau istriku tahu tentang kamu?" tiba-tiba saja Firman membuka matanya. Laila terkejut ketika mendengar ucapan itu.
"Kenapa?" tanya Laila, berusaha menetralkan perasaan yang kini berkecamuk dalam dirinya.
"Tentu saja karena aku mencintaimu!" jawab Firman lalu menarik Laila semakin erat ke tubuhnya.
"Kenapa kamu masih mencintaiku? Bukankah kita lama tidak bertemu?" tanya Laila, sambil memainkan dada bidang Firman. Ya, Firman ini memiliki wajah yang tampan dan juga sejuta pesona. Laila pernah tergila-gila pada saat masa putih abu-abu. Firman termasuk pria idaman para siswa di masa dahulu.
"Bagiku, kamu tidak akan pernah tergantikan!" ucap Firman lagi, sehingga membuat Laila tersipu. Ya, hati wanita mana, yang tidak akan melelah, ketika mendapatkan cinta sebesar itu? Apalagi dari pria sekeren Firman.
"Tidak usah membahas mengenai mereka. Selama aku ada di sini. Aku sepenuhnya milikmu!" ucap Firman, lalu memeluk Laila dan memejamkan matanya.
"Ayo kita tidur, besok aku ada meeting di luar!" ujar Firman.
"Apa, aku boleh bekerja?" tanya Laila hati-hati.
"Kau mau kerja apa? Cukup layani aku dan menjadi istri yang baik, aku akan mencukupi semua kebutuhan kamu!"
"Aku bosan, setiap hari di rumah ini!" ujar Laila.
"Kau bisa memulai kursus masak, Yoga, les kepribadian, atau apapun, asal bukan bekerja!" tegas Firman.
"Kenapa?" tanya Laila heran.
"Aku tidak mau. Nanti di tempat kerja, kamu bermain curang di belakang aku!" ucap Firman pelan.
"Gak paham!"
"Ditempat kerja, pasti banyak pria keren dan tampan. Aku hanya takut. Kamu terpesona dengan salah satu dari mereka! Kamu hanya milikku! Jadi, hanya aku yang boleh memiliki hati dan juga cinta kamu!" ujar Firman, kini dia benar-benar memejamkan matanya.
"Apa kau marah, kalau aku mempunyai teman seorang pria?" tapi pertanyaannya tidak terjawab, karena Firman sudah lelap dalam tidurnya.
Laila melepaskan dirinya dari Firman. Laila pergi ke balkon dan melihat indahnya langit malam. Bulan sedang purnama. Laila jadi ingat, kalau Ilham, dia sangat suka dengan purnama. Ah, sesuatu terasa berharga, ketika tidak menjadi milik kita lagi.
"Apakah Mas Ilham sedang melihat bulan juga? Ah, dia pasti masih sibuk mengaji!" ucap Laila kemudian tertawa, menertawakan kebodohan dirinya sendiri.
"Kalau dulu kita tidak ke Dubai. Apakah kehidupan kita akan berbeda, Mas?" tanya Laila kepada dirinya sendiri.
Hingga tengah malam, Laila berdiri di luar, hingga ada dua tangan yang memeluk pinggangnya. "Sayang, Mas mencari kamu, ternyata sedang disini?" tanya Firman sambil mencium tengkuk Laila. Laila yang kegelian hanya bisa pasrah dengan kelakuan suaminya itu.
"Apa kita lakukan ronde dua? Kok aku, selalu candu sama kamu, sayang?" Ucap Firman semakin menggebu. Ya, Laila tidak mampu menolak gairah seorang Firman. Nama baiknya akan menjadi taruhannya. Foto-foto dan video mesum mereka berdua, masih ada di tangan Firman. Laila tidak bisa berkutik, selain memainkan peranannya sebagai istri penurut dan baik bagi Firman.
Firman yang sejak dulu selalu ingin memiliki Laila, tetapi selalu gagal, kini benar-benar memuaskan segala hasratnya yang tertahan lama sekali. Tidak mau kehilangan kesempatan lagi. Firman sendiri tidak tahu, berapa lama dirinya bisa mempertahankan Laila di sisinya.
Apabila istrinya mencium hubungan dirinya dengan Laila, atau kedua orang tuanya tahu masalah pernikahan dirinya dengan Laila, Firman sungguh belum membayangkan semua itu. Dirinya ingin menikmati semua yang kini sedang dia miliki. Seakan itu bukan miliknya lagi di keesokan harinya.
Sampai shubuh menjelang, Laila baru di perbolehkan tidur oleh Firman. Sampai sekujur tubuhnya kelelahan dengan banyak lukisan hasil karya seorang Firman yang sedang kasmaran dan di mabuk cinta dengan cinta pertama nya yang dahulu kandas begitu saja.