
"Laila kau pergilah ke mobil dan tunggu aku di sana berbahaya kalau kau disini!" ucap Firman menyuruh Laila pergi dari sana.
Sementara itu kedua orang tua Firman yang baru datang ke kediaman itu pun tampak terkejut melihat keributan yang terjadi antara Syafa dan Firman.
"Syafa dan Firman! Hentikan semua keributan ini. Apa yang sedang kalian lakukan? Apakah kalian tidak malu jadi tontonan tetangga, huh?" ucap ayahnya Firman berusaha untuk memisahkan keributan antara Firman dan Syafa.
"Pah Mas Firman sudah gila, dia lebih memilih untuk menceraikanku. Daripada meninggalkan perempuan itu!" ucap Syafa dengan berderai air mata.
"Bukankah kemarin kamu yang meminta untuk bercerai? Lalu kenapa sekarang kau membuat keributan ini Syafa? Kau sungguh membuatku heran!" ucap Firman merasa kesal dengan yang dilakukan oleh Syafa.
"Kau memang tidak pernah mencintaiku. Oleh karena itu kau begitu mudah melakukannya kepadaku. Hiks hiks!" Syafa terus menangis.
"Sudahlah! Selesaikan masalah kalian baik-baik. Tidak perlu ribut-ribut Mama jadi pusing melihatnya!" ucap ibunya Firman sambil duduk di sofa.
Tampaknya Rasya masih berada di sekolahnya. Sehingga tidak tampak batang hidungnya di rumah itu. Kalau Rasya melihat keributan itu, dia pasti sangat kecewa dengan perilaku kedua orang tuanya saat ini.
"Syafa dengarkan Mama. Mama sudah mengatakan padamu untuk bersabar, tetapi kamu malah membuat keributan seperti ini. Sekarang nasi sudah jadi bubur. Terimalah kenyataan ini dan selesaikan semuanya dengan baik baik!" nasehat ibunya Firman.
"Tapi, Mah! Syafa gak mau bercerai dengan Mas Firman!" ucapnya dengan berderai air mata. Firman hanya menatap sinis.
"Bukankah kemarin kamu yang menangis minta bercerai?" ucap firman dengan sinis, kemudian dia memilih untuk pergi dari kediaman itu. Yang sudah lama dia tinggalkan sejak memutuskan untuk tinggal bersama laila di rumah yang dia beli.
"Aku nggak maksud seperti itu. Aku, Aku tidak ingin bercerai denganmu!" ucap Syafa.
"Sekarang apapun yang kau katakan tidak ada gunanya lagi. Karena semuanya sudah diproses dan kita tinggal menunggu panggilan dari pengadilan!" ucap Firman kemudian meninggalkan rumah itu.
"Apakah sudah beres, Mas?" tanya Laila. Ketika melihat Firman keluar dari rumah itu dengan wajahmu cemberut.
"Syafa tidak mau untuk menandatangani surat itu. Jadi kita hanya bisa menunggu keputusan pengadilan saja!" ucap Firman.
Mereka pun meninggalkan kediaman tersebut. Sementara itu, Syafa di nasehati oleh kedua orang tuanya Firrman.
"Syafa! Sudahlah. Sebaiknya kau tandatangani saja. Bukankah itu adalah keinginanmu?Kemarin kami semua menjadi saksi bahwa kau menangis meminta diceraikan oleh Firman!" ucap ibunya Firman sampai memegang tangan menantunya.
"Bukan itu maksudnya Syafa! Syafa hanya ingin mengatakan, kalau Mas Firman tidak mau meninggalkan Laila, maka aku minta di ceraikan!" ucap Syafa terisak sedih.
"Emangnya apa bedanya Syafa? Kan intinya kamu minta perceraian!" ucap ibunya Firman dengan gemas.
"Ya sudah. Kau tenangkan saja dirimu. Kami pergi dulu, banyak urusan kami terbengkalai gara-gara mengurusi kamu!" ucap ayahnya Firman.
Mereka kemudian pergi dari kediaman Syafa.
"Terkadang Papa bingung dengan Syafa. Apa maunya dia? Jelas-jelas kemarin dia yang minta bercerai. Kenapa sekarang dia juga yang menangis untuk tidak diceraikan!" ucap ayahnya Firman sambil memijit pelipisnya.
"Sudahlah gak usah dipikirkan, Pah!" ucap istrinya sambil memijit suaminya.
"Tapi Syafa memang keras kepala. Sangat susah di jelaskan oleh kita!" ucap ayahnya firman lagi.
"Sudahlah, nggak usah dipikirkan istirahat saja!" ucap istrinya.
"Kau lihatkan Laila, dia begitu tenang. Papa sekarang tahu kenapa Firman lebih mencintai Laila daripada Syafa. Ya, walaupun Syafa kelihatannya tenang. Tetapi dia emosinya sangat meledak-ledak!" ucapnya lagi.
"Iya Pah, bagaimanapun anak di kandungan Laila juga adalah cucu kita. Kita tidak bisa bersikap tidak adil juga terhadap dia." ucap ibunya Firman pada akhirnya.
"Tapi Mah, Papa merasa penasaran dengan seorang pemuda. Yang tadi pagi datang ke kantormu. Siapa dia?" tanya suaminya.
"Pemuda yang mana, Pah? Tidak ada pemuda yang datang ke kantor Mama!" dustanya.
" Ya sudah lupakan saja!" ucapnya pada akhirnya. Walaupun dalam hatinya bertanya-tanya tentang pemuda itu.
Sementara itu, Arman Kini pun sedang memikirkan tentang pertemuannya dengan ayahnya yang masih belum dia ketahui.
" Siapa laki-laki itu ya? Kenapa Wajah kami sangat mirip sekali?" tanyanya kembali.
"Nanti aku akan bertanya pada nyonya itu. Mungkin dia tahu jawaban yang ingin kuketahui!" ucapnya.
"Arman, Bagaimana dengan wisudamu besok? Apakah sudah siap?" tanya Windy tampak bahagia.
"Alhamdulillah semuanya sudah siap. Tinggal berangkat saja kan? Emang apa yang harus kita siapkan?" tanya Arman dengan begitu polosnya.
"Iya sih memang hanya tinggal berangkat saja maksudku, pakaianmu dan sebagainya apakah sudah siap?" tanya Windy lagi.
Selama ini Windy memang selalu memperhatikan Arman. Pakaian dan makanan selalu Dia pedulikan. Kalau berhubungan dengan Arman.
Arman adalah seorang pemuda yang baik dan dia selalu peduli dengan lingkungan di sekitarnya. Windy adalah tetangga yang tinggal di hadapan rumahnya.
"Mana pakaianmu? Sudah disetrika belum? Kalau belum biar saya setrika dulu! Biar besok tidak kusut dan tidak bikin malu!" ucap Windy lagi.
"Udah Win, nggak usah repot. Aku sudah nyetrikanya kok. Kamu ada urusan apa? Kenapa malam-malam datang ke sini?" tanya Arman menelisik kehadiran gadis itu.
"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin memastikan kalau persiapanmu besok sudah fix!" ucapnya lagi, sambil memperhatikan Arman.
"Apakah besok ada seorang gadis yang akan berdiri di sampingmu?" tanya Windy tiba-tiba.
"Seorang gadis yang berada di sampingku? Apa maksudmu? Aku gak paham" tanya Arman tampak kebingungan.
"Maksudku. Apakah besok kekasihmu akan datang juga?" tanya Windy bersemu merah Pipinya.
"Aku tidak punya kekasih. Siapa yang mau menjadi kekasihku? Aku hanyalah Pemuda miskin tanpa orang tua?" ucap Arman menerawang. Mengingat kembali masa lalunya yang hidup hanya sendirian di atas dunia ini.
Tiba-tiba saja Arman mengingat kembali pertemuannya dengan laki-laki yang tadi siang. Yang begitu mirip wajahnya dengan dirinya. Hati Arman kembali terusik lagi.
"Apakah mungkin, pria yang tadi siang aku temui itu adalah ayahku ya? Kenapa wajahnya begitu mirip denganku?" tanya Arman dengan penasaran sekali.
"Apa yang kau katakan, Arman? Aku tidak mendengarnya!" ucap Windy kebingungan.
"Bukan apa-apa Windy. Sudah lupakan saja!" ucapnya. tiba Arman mengingat tentang uang yang diberikan oleh nyonya yang dia temui di perusahaan. Seorang nyonya yang begitu baik hati, tetapi dia sampai sekarang tidak tahu siapa nama perempuan itu.
"Win, Apakah kamu mau kalau aku mengajakmu berpesta untuk merayakan wisudaku besok?" tanya Arman tampak ragu-ragu.
" Tentu saja aku mau kalau kau mengajak aku!" ucap Windy dengan wajah berbinar-binar.
Akhirnya Arman mengajak Windy untuk makan malam bersama. Untuk merayakan wisudanya besok pagi.