Assalamualaikum Ustadz Ku

Assalamualaikum Ustadz Ku
17. Pertemuan Ilham dan Kesya



Aku menarik tangan Amelia untuk segera keluar dari ruanganku, tapi terlambat, Ilham kini sudah berdiri di depan pintuku. Aku terkejut, tapi aku ingat, Kesya saat ini hilang ingatan, dia juga bercadar, aku yakin mereka tidak akan saling mengenali. Dengan percaya diri aku menyambut mantan calon suami Kesya di kantor ku.


"Selamat siang pak Ilham," sapaku ramah, aku mengalihkan pandanganku pada Kesya, aku lihat dia masih diam, Ilham juga diam. Dalam hati aku merasa bersyukur, ada bagusnya juga Kesya bercadar, baru kali ini aku bersyukur sekali dengan penampilannya. Aneh sekali bukan?


"Selamat siang pak Andika, senang bertemu dengan Anda," kami bersalaman, aku kemudian mempersilahkan dia masuk ke ruanganku.


"Amelia tolong kamu gandakan dokumen ini, 10 ya, jangan ke ruanganku sebelum tamu pergi," pesanku padanya, dia tampak bingung tapi menurut juga padaku.


"Bagaimana pak Ilham? Apa yang bisa saya bantu?" Andika duduk di bangku kebesarannya dan menatap Ilham secara intens.


"Jadi ini yang bernama Ilhamuddin? Dia tampan sekali, pantas Kesya mau menerima dia sebagai calon suaminya" Andika bermonolog dalam hatinya.


"Apakah Anda sudah membacanya? Proposal saya," Ilham menatap Andika, tadi Ilham melihat seorang wanita bercadar, tetapi tidak jelas, karena Andika langsung menyuruh perempuan itu pergi dari hadapannya.


Ada perasaan heran dihati Ilham, dia seperti merasakan kehadiran Kesya. Tapi Andika tadi memanggil nama perempuan itu Amelia, Ilham jadi merasa bingung dengan keadaan itu.


Setelah pertemuannya dengan Andika selesai, Ilham berpamitan dan tanpa sengaja dia berpapasan dengan Kesya yang baru selesai dengan tugasnya. Ilham melihat mata itu, mata Kesya, calon istrinya, walaupun sudah hampir satu tahun Kesya menghilang, tapi Ilham masih mengingatnya. Ilham merasa sangat bahagia, Andika keluar dari ruangannya dan melihat kejadian itu. Dia langsung memanggil Amelia agar mendekat padanya.


"Amelia, apa tugasmu sudah selesai? Masuklah, aku membutuhkan berkas-berkas itu," dengan tidak sabar, Andika menarik tangan Amelia.


Ilham mengejar mereka dan berniat untuk kembali ke ruangan Andika, dia masih belum percaya dengan apa yang dia lihat, dia yakin bahwa wanita yang di hadapannya adalah Kesya, tetapi kenapa Andika memanggil dia dengan nama Amelia?


"Aku harus memastikan hal ini," Andika lalu mengejar mereka, di depan pintu, Ilham mendengar wanita yang dia yakini adalah Kesya di marahi oleh Andika.


"Mel, aku kan bilang, jangan kembali ke kantor sebelum tamu tadi keluar dari kantor ku," Amelia hanya mendengarkan tanpa berani membantah. Bagaimanapun juga Andika sudah banyak menolong dirinya.


"Maafkan aku, tadi aku kira kamu akan membutuhkan dokumen ini," Andika berusaha menggenggam tangan Amelia, tetapi di tepis olehnya.


"Maafkan aku, sudahlah, yang jelas, kalau nanti ada orang tadi lagi, kamu harus pergi dan menghindar dia, paham? Hmmm?" Andika menatap Amelia dengan intens. Sungguh, dia sangat mencintai Amelia atau Kesya, dia tidak mau sampai kehilangan dirinya.


"Aneh sekali, kenapa pak Andika tidak ingin wanita itu bertemu denganku? Aku harus menggunakan strategi untuk bisa mendekati dia," Ilham pergi dari kantor itu dan segera menghubungi Rasyid.


"Assalamualaikum Mas Rasyid, tadi aku melihat seorang wanita yang aku yakin sekali, bahwa wanita itu Kesya, tapi sepertinya dia amnesia, iya. Aku akan menyelidiki hal ini dulu, iya, Nanti aku akan mengabari kalian lagi," Lalu Ilham menutup panggilan telpon dan masuk ke dalam mobilnya.


Pasti kalian bertanya-tanya kenapa tiba-tiba Ilham ada di Kalimantan bukan? Jadi ceritanya gini, Ilham sedang membangun rumah Tahfiz cabang dari pondok pesantren yang dia miliki, kebetulan sang Nenek mewariskan lahan luas di Kalimantan, kedatangan Ilham ke perusahaan Andika adalah dalam rangka mengajukan proposal bantuan dana untuk menjadi donatur di pondoknya tersebut.


Ilham kembali ke pondoknya, dia masih memikirkan wanita yang dia yakini adalah Kesya.


"Nanti pas pulang kerja, aku akan kembali ke sana, aku yakin kalau dia adalah Kesya," Ilham kemudian membuka galeri fotonya, di tatapnya foto pujaan hatinya itu, foto yang dia ambil secara diam-diam pada waktu pernikahan Rasyid dulu.


Foto itu Ilham gunakan sebagai wallpapers di ponselnya, jadi Ilham tidak akan lupa wajah calon istrinya itu.


Ilham tertidur karena memang kelelahan, hari yang berat untuknya. Tadi pagi dia baru sampai ke Kalimantan, dan langsung bertemu dengan Andika, siapa yang akan mengira akan bertemu wanita itu? Ilham sungguh bahagia, akhirnya bisa menemukan sedikit harapan, hatinya sangat yakin bahwa dia adalah Kesya, Ilham akan menyelidiki kebenaran siapa wanita itu, yang sepertinya sangat di lindungi oleh Andika.


Jam kerja sudah selesai, sejak Amelia bekerja, dia tidak tinggal satu atap lagi dengan Andika, tetapi mengontrak sebuah rumah kecil, yang tidak jauh dari kantor Andika. Sore itu dia bergegas ke rumah kontrakan miliknya tanpa dia sadar sejak dia keluar dari kantor telah diikuti oleh Ilham dari kejauhan.


Andika saat itu sedang pergi keluar dengan asistennya, jadi tidak tahu apa yang sedang Ilham lakukan saat ini. Andika sangat protektif terhadap Kesya, selalu memantau apapun yang dia lakukan, dia mengijinkan Kesya mengontrak rumah agar membuat wanita itu tidak curiga padanya. Kalau dia selalu menahan Kesya di sampingnya, tentu Kesya akan kabur dari sisinya.


Andika tidak mau begitu, walaupun sudah setahun dia bersama Kesya, tetapi dia belum berhasil mendapatkan hati Kesya. Kesya sepertinya membatasi diri dengan dirinya, kadang Andika sangat bersedih, tapi perasaan memang tidak bisa dipaksakan.


Andika membebaskan kegiatan Kesya selama dia berjanji tidak akan meninggalkan dirinya. Selama ini Kesya memang tidak pernah pergi terlalu jauh darinya, pergerakan Kesya selalu ada di bawah kendalinya. Jadi Andika bisa tenang.


"Assalamualaikum," Ilham mengetuk pintu kontrakan Amelia dengan perlahan karena kwatir akan mengganggu tetangga sebelah.


"Waalaikum salam," Kesya menyahut dari dalam.


"Mencari siapa yah?" Kesya membuka pintu dan melihat Ilham disana, bengong dan tampak seperti orang linglung.


"Maaf, anda mencari Siapa?" ulangnya lagi.


"Bisa kita bicara sebentar? Ada hal penting yang ingin saya bicarakan dengan Anda," Ilham tersadar dari lamunannya, dia sekarang semakin yakin, bahwa wanita yang ada di hadapannya adalah Kesya.


"Kesya? Apa kabar sayang?" Ucap Ilham dengan nada penuh kerinduan. Amelia tampak bingung dengan ekspresi Ilham.


"Maaf pak Ilham. Nama saya Amelia, Anda salah mengenali mungkin?" Ilham menggenggam tangan Kesya tetapi langsung di tepis oleh Kesya


"Jaga perilaku Anda ya, jangan macam-macam," Kesya menatap sebal pada Ilham, yang tidak sopan sekali.


"Maafkan aku, aku terlalu bersemangat. Sudah setahun aku mencari-cari kamu, Aku senang sekali karena kamu baik-baik saja," Ilham memperbaiki duduknya dan bersandar sekarang, masih menatap lekat Kekasih hatinya yang sangat dia rindukan selama ini