Assalamualaikum Ustadz Ku

Assalamualaikum Ustadz Ku
180. Melihat Rahmat



Ayana dan Humairoh kemudian mengikuti Agus untuk melihat keadaan Rahmat dikontrakannya saat ini.


"Semoga saja pamanmu benar-benar ada di sana. Agar Bibi setidaknya bisa tenang dan tidak khawatir lagi dengan keadaan pamanmu!" ucap Humairoh sambil meremas tangan Ayana yang saat ini ada di sampingnya.


Humairah terpaksa menggunakan sopir karena saat ini tubuhnya sangat gemetar Sejak pagi dia belum makan karena sangat sibuk untuk mencari Rahmat yang menghilang begitu saja.


"Iya Bi! Ayana berdoa semoga Paman ada di sana dan mau kembali bersama dengan kita!" ucap Ayana sambil tersenyum kepada bibinya tetapi Humaira menggelengkan kepalanya.


"Tidak! Bibi ke sana hanya ingin melihat saja keadaan pamanmu bukan untuk mengajaknya pulang. Mungkin yang dikatakan oleh Agus benar. Bahwa Pamanmu membutuhkan waktu untuk berpikir dan bisa memahami apa yang sudah dilakukan terhadapnya!" ucap Humairoh sambil melirik kepada Ayana yang tampak tidak mengerti dengan pola pikir bibinya saat ini.


"Kenapa Bibi mengikuti saran orang asing yang bahkan kita tidak tahu asal-usulnya dari mana. Bagaimana kalau ternyata dia menipu kita Bi?" tanya ayah nak sambil bergidik ngeri memikirkan dirinya dan bibinya masuk ke dalam perangkap seorang penjahat.


"Ayolah! Ayana stop berpikir negatif terhadap orang lain. Bibi bisa merasakan kalau Agus itu orang yang baik. Kamu harus belajar untuk menghargai orang lain dan menjaga mulutmu untuk tidak mengatakan hal-hal yang menyakitkan perasaan orang lain!" Humairoh menatap tajam kepada Ayana yang saat ini menundukkan kepalanya.


"Seharusnya kejadian buruk kemarin, bisa menjadi pembelajaran untukmu. Bahwa kamu harus belajar untuk menghargai orang lain dan belajar untuk bersikap lebih bijaksana!" ucap Humairah tegas. Humairoh kemudian lebih memilih untuk menatap ke jalanan.


"Pak, apakah mobilnya ada di depan kita masih belum berhenti juga?" tanya Humairoh merasa penasaran karena mereka sudah meninggalkan tempat tadi lebih dari satu jam tapi kenapa belum juga berhenti di tempat Rahmat berada.


"Pemuda itu belum berhenti Nyonya. Nanti saya akan memberitahukan Nyonya kalau dia sudah sampai tujuannya!" ucap sopir tersebut sambil tetap fokus menyetir.


"Ayana hanya takut kalau kita kena tipu Bi. Lihatlah sudah satu jam lebih kita telah mengikutinya. Tetapi tidak ada tanda-tanda dia akan berhenti di mana!" ucap Ayana yang masih menatap tajam ke jalanan mengawasi Agus yang ada tepat di hadapan mereka.


"Ini salahnya Bibi. Karena tadi lupa tidak bertanya dia tinggal di daerah mana. Kalau kita tahu tempat tinggalnya di mana Setidaknya kita akan punya ancang-ancang. Tidak seperti sekarang, kita meraba-raba dan hanya mengikutinya saja dari belakang!" ucap Humairoh masih tetap berpikir positif tentang Agus tetapi Ayana tampaknya tidak puas dengan jawaban Bibinya.


"Setidaknya kita bisa berpikir dengan tenang. Karena memikirkan bahwa pamanmu dalam keadaan sehat dan juga aman. Itu yang saat ini menghibur hati bibi!" ucap Humairoh.


20 menit kemudian tampak mobil Agus parkir di sebuah kontrakan sederhana yang berjajar hampir 50 pintu banyaknya.


"Dia berhenti Nyonya!" sopirnya Humairoh mengingatkan.


Tampak Agus turun dari mobilnya dan kemudian mengetuk pintu mobil Humairah.


"Apakah Nyonya akan mengikuti saya untuk menemui Pak Rahmat atau bagaimana?" tanya Agus mengkonfirmasi apa yang ingin dilakukan oleh Humairah.


"Kau ajaklah suamiku untuk duduk di teras. Sehingga aku bisa melihat bahwa dia memang benar suamiku dan aku bisa mengkonfirmasi bahwa dia dalam keadaan baik-baik saja!" ucap Humairah sambil menatap kepada Agus Yang Sekilas setengah memperhatikan Ayana yang masih misuh-misuh nggak jelas.


"Baiklah sebaiknya mobil ini disembunyikan agak jauh dari sini. Agar Pak Rahmat tidak curiga dengan kehadiran kalian. Kalian bisa bersembunyi di balik tembok itu dan memperhatikan para Rahmad dari kejauhan!" ucap Agus kemudian dia pun melangkahkan kakinya ke kontrakan sederhananya. Setelah mendapatkan persetujuan dari Humairoh.


"Bibi sangat deg-degan sekali! Apakah benar dia adalah pamanmu?" tanya Humairah ketika melihat seorang laki-laki yang kini sudah duduk di depan sebuah teras yang sangat sederhana bersama dengan Agus.


"Benar Bi! Dia itu Paman Rahmat. Ayana kenal sekali dengan perawakan maupun gaya duduk Paman Rahmat!" ucap Ayana mengkonfirmasi laki-laki yang saat ini sedang mengobrol dengan Agus.


Mereka takut kalau Rahmat merasa Curiga dengan gerakan yang dilakukan oleh mereka.


"Bibi senang karena melihat pamanmu dalam keadaan baik-baik aja. Bibi akan kesempatan dan memberikan waktu kepada pamanmu untuk berpikir dan semoga saja Dia mau kembali kepada bibi dan juga anak-anak!" ucap Humairoh mengungkapkan harapannya tentang suaminya.


"Kalau menurut Ayana, lebih baik Bibi mendatangi paman dan berbicara dari hati ke hati. Sehingga kalian bisa menemukan titik temu dari permasalahan yang saat ini sedang kalian hadapi!" ucap Ayana memberikan nasehat kepada bibinya.


"Bagaimanapun saat ini BB masih bingung. Entah harus melakukan apa. Tapi yang jelas, bibi belum berani untuk mengakui tentang identitas diri kepada pamanmu!" ucap Humairoh sambil terus memperhatikan suaminya yang masih asyik mengobrol dengan Agus sambil menikmati secangkir kopi di depan teras yang begitu sederhana dan juga sempit.


'Ya Allah sudah terlalu lama aku tidak memperhatikan senyum suamiku yang begitu tulus dan lepas. Apakah selama ini suamiku tidak bahagia tinggal bersamaku?" batin Humairoh ketika melihat suaminya begitu ceria mengobrol bersama dengan Agus dan tampak tertawa secara lepas.


"Kalau melihat keadaan Paman saat ini, tampaknya Paman baik-baik saja. Ayo Bi, di sini banyak nyamuk. Ayana tidak tahan lagi!" ucap Ayana mengajak Humairah untuk pulang ke apartemennya.


"Tapi bibi masih rindu dengan pamanmu Ayana. Apa kau tidak bisa pulang sendiri menggunakan taksi?" ucap Humairoh meminta Ayana untuk pulang duluan dan meninggalkannya sendiri di tempat itu.


Ayana menggelengkan kepalanya. Dia tidak setuju dengan keinginan Bibinya. Karena bagaimanapun, saat ini Ayahnya merasa bingung dan juga tidak tega meninggalkan Bininya sendirian. Apalagi selama ini Bibinya selalu membantunya apabila dia menemukan kesulitan di dalam bisnis maupun kehidupan pribadinya.


Bahkan bisa dikatakan Ayana lebih dekat dengan bibinya Humairoh. Daripada dengan ibunya yang selalu bersikap tegas dan keras terhadap anaknya.


Walaupun Humairah sudah meninggalkan keluarga besar Sugandi demi bisa hidup bersama dengan Rahmat. Akan tetapi hubungan kekeluargaan mereka tetap dijaga. Kadang ayahnya maupun ibunya Ayana suka datang secara diam-diam ke rumah Humairoh ataupun bertemu di restoran maupun Hotel hanya untuk sekedar temu kangen bersama dengan adik mereka yang sudah memilih untuk keluar dari keluarga Sugandi demi memperjuangkan cintanya terhadap sang suami, Rahmat.


Dahulu ketika Humairah mengatakan kepada kedua orang tuanya bahwa dia mencintai Rahmat, yang hanya orang biasa saja. Dari kalangan orang biasa yang tidak berharta maupun berpangkat. Orang tuanya melarang dan tidak mengijinkannya untuk melanjutkan hubungan tersebut .


Akan tetapi Humairah yang memang sudah terlalu mencintai rahmat dia lebih memilih meninggalkan keluarganya daripada kehilangan laki-laki yang dicintai.


Humairah masih ingat perjuangannya dulu. Ketika ingin bersatu dalam ikatan suci pernikahan bersama dengan Rahmat.


"Perjuangan Bibi untuk bisa bersatu dengan pamanmu itu luar biasa. Apakah kau pikir, Bibi akan membiarkan saja pamanmu kabur dari Bibi? This is not and never! This it's mistake!" ucap Humairoh sambil menatap tajam kepada Ayana yang mulai gerah kepanasan dan juga mulai kegatelan karena sejak tadi dikerumuti oleh nyamuk-nyamuk nakal.


'Agus itu memiliki tampang yang keren bahkan mungkin kalau dia menjadi seorang model pasti banyak perempuan-perempuan yang akan tergila-gila padanya! Tetapi kenapa dia lebih memilih menjadi seorang topir taksi dan hidup miskin di sini?' tanya Ayana dalam hatinya, tampak kebingungan dengan Agus sambil melihat Agus yang masih asik mengobrol dengan Rahmat.


"Ya udah deh Bi! Ayana pulang dulu ya? Pakai taksi aja gak apa-apa. Ayana udah nggak tahan nih. Para nyamuk ini kurang ajar banget dari tadi gigitin Ayana terus!" ucap Ayana sambil misuh-misuh.


"Kamu harus hati-hati ya? Ayana, ingat untuk kamu langsung pulang ke apartemenmu. Ingat! Kamu nggak boleh mampir-mampir ke mana-mana!" Humaira mengingatkan Ayana untuk tidak belok-belok ketika dia berniat untuk pulang ke apartemennya.


"Mulailah jauhi kehidupan malammu Ayana. Nanti lama-lama, tubuhmu akan rusak kalau selalu minum khamar dan minuman keras!" terus sambil menatap tajam kepada Ayana yang saat ini sedang tersenyum kepadanya.


"Sampai sekarang Bibi masih menganggap Ayana sebagai seorang anak kecil?" tanya Ayana tampak protes dengan bibinya yang selalu saja seenaknya terhadap dirinya.