Assalamualaikum Ustadz Ku

Assalamualaikum Ustadz Ku
34. Mamah Andika Beraksi



"Kalian masih kaya kucing sama anjing ya, kalau bertemu?" tanya Mamahku sambil geleng-geleng kepala. Melihat kelakuanku dan Alvian.


"Dia anjingnya, Mah!" sungutku kesal.


"Kamu kucing liar! Gak pernah menurut kalau dibilangin!" gertak Alvian gak mau kalah galak.


"Alvian, udah bercandanya. Lepasin Merry. Malu dilihatin karyawan. Ayo kita ke ruangannya Andika." Mamah akhirnya membelaku juga.


Alvian lalu melepaskan cekalan tangannya dari kerah bajuku. Aku memeletkan lidahku lalu lari ke samping mamahku.


"Mamah memang the best!" pujiku.


Kami sampai ke ruangan Kak Andika. Aku lihat Elena duduk di kursi sekretaris, di depan ruangan Kakakku. Aku menatap horor kepadanya.


Elena tampaknya kaget melihat kedatangan Mamah dan Aku. Pasti takut lebih tepatnya. Karena Elena punya masalah dengan kami.


"Alvian, mana surat perjanjian itu?" tanya mamah dan berhenti di hadapan Elena.


Alvian membuka tas kerjanya, lalu menyerahkan surat perjanjian yang di minta oleh mamahku.


"Mamahku minta kamu segera masuk ke ruangan Kak Dika!" perintah ku pada Elena.


Elena tampak gugup, dia masih berdiri di tempatnya. Tidak bergeming.


"Kamu budeg, ya? Cepat masuk!" perintah ku dengan keras sambil melotot. Hilang sabarku.


"Elena, cepat masuk! Saya tunggu kamu di dalam!" Mamah, aku dan Alvian masuk ke dalam ruangan Kak Dika yang sepi sekali.


Kak Dika sudah berangkat ke Indonesia kemarin bersama Kak Kesya dan Adrian. Keponakan ku tersayang.


Elena masuk juga ke ruangan Kak Dika, matanya menunduk terus ke bawah. Dasar wanita munafik. Sama aku ga perduli, giliran mamahku yang bicara langsung ciut nyalinya. Ngeselin!


"Duduk, baca itu!" Mamah duduk di kursi Kak Dika.


Elena duduk di depan meja kerja Kak Dika, lalu membaca surat yang tadi dilemparkan oleh Mamahku. Seketika wajah Elena memucat.


"Sesuai perjanjian itu, saya berhak memenjarakan kamu selama dua puluh tahun. Karena kamu sudah ingkar janji kepada saya. Dahulu saya memberikan jamu 10M agar menjauh dari kehidupan anak saya. Tapi sekarang, dengan kencangnya kamu berani menggoda anak saya lagi! Dasar pelacur tidak tahu diri!" ucap Mamah geram sambil melotot kepada Elena.


"Kami saling mencintai, Tante. Kenapa Tante tega sekali memisahkan kami?" Elena langsung berderai air mata. 'Air mata buaya!' bathinku kesal.


"Cinta? Apa pelacur macam kamu, tahu apa itu cinta? Cih.. bikin jijik saja!" ujar mamahku.


"Gak usah banyak acting di hadapan kami! Kami bukan orang bodoh yang akan luluh dengan air mata buaya kamu!" sentakku dengan suara keras.


"Tante, Merry. Saya sungguh tidak tahu, kenapa kalian sangat membenci saya. Tapi cinta saya untuk Andika tulus. Saya sungguh mencintai dia. Hik hik hik!" kembali menangis.


'Dasar wanita menyebalkan!' bathinku.


"Kamu sudah menggoda Orlando dan mengacaukan rencana pernikahan kami, apa itu bukan alasan yang cukup untuk kami membenci perempuan ular macam kamu, huh?" semburku.


"Dan sekarang kamu juga sedang berencana menghancurkan pernikahan Andika. Kamu pikir, aku akan membiarkan keluarga Abimana dihancurkan oleh wanita macam kamu? Jangan pernah bermimpi , sis!" Mamah berdiri dan menudingkan telunjuknya ke muka Elena.


"Sekarang kamu pilih, pergi menghilang dari hidup anakku selamanya atau saya masukan ke penjara selama 20 tahun? Silahkan pilih!" Mamah sudah hilang sabar sepertinya.


Aku ngerti sih dengan perasaan Mamah. Mamah itu sayang banget sama Kak Kesya dan Adrian. Pasti gak akan rela kalau kehilangan mereka.


"Andika pasti frustasi kalau saya menghilang dari kehidupan dia lagi. Hik hik hik!" Elena masih juga jualan air mata dan cinta kepada kami. Sungguh perempuan bodoh yang menyebalkan!


"Jangan GR kamu! Andika sekarang mempunyai seorang istri yang cantik dan anak yang lucu. Bagi Andika, kamu sekarang hanyalah butiran debu di jalanan. Tak berarti sama sekali!" Mamah melemparkan berkas yang ada dihadapannya ke wajah Elena sangking gemasnya.


"Mah, panggil polisi aja. Pelacur macam dia, mana ngerti bahasa manusia." geramku.


Aku lihat Alvian hanya berdiri di depan kami, hanya menyimak saja. Dia bicara hanya kalau dibutuhkan saja.


"Alvian! Terangkan kepada dia, apa yang akan kita lakukan kalau dia masih keukeuh mengganggu kehidupan anakku!" Alvian mendekati kami.


"Nona Elena, di perjanjian ini jelas menerangkan hak dan kewajiban Anda. serta sanksi kalau Anda melanggar perjanjian. Kami akan melaporkan Anda dengan tindak penipuan. Anda sudah menerima 10M dari pihak keluarga Abimana, agar meninggalkan Pak Andika selamanya, tetapi sekarang Anda malah berhubungan kembali dengan beliau. Anda bisa di pastikan akan masuk penjara selama 20 tahun." Alvian menarik nafas panjang setelah mengatakan hal tersebut.


Kalau dalam profesional, Alvian terlihat sungguh menawan. Aku terpesona sejenak. OMG! What happen with me? Aku tepuk jidatku.


"Kamu kenapa, sayang?" tanya mamah heran.


"Tidak apa-apa, Mah. Hanya gemes dengan pelacur yang sok kecantikan ini. Merasa diri di cintai oleh Kak Dika. Sungguh mimpi yang terlalu tinggi!" aku sungguh gemas sekali. Ingin rasanya cakar-cakaran saja. Hehehe pantas saja Alvian panggil namaku dengan kucing liar. Aku memang kalau gemes sama orang suka cakar wajahnya.


"Cepat putuskan! Kami gak ada waktu untuk berlama-lama mengurus kamu!" mamah sudah hilang sabar. Elena memang gak punya malu.


"Nona Elena, sebaiknya bijak dalam mengambil keputusan. Nona masih muda, masih panjang masa depan Nona di luar sana." Alvian mencoba menasehati Elena. Aku melotot melihat dia begitu lembut bicara dengan Elena.


"Anda siapa?" tanya Elena menatap Alvian.


"Nama saya Alvian, saya pengacara keluarga Abimana. Menggantikan ayah saya." Alvian mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Elena, saat Elena akan menyalami tangan Alvian, langsung aku tepis, tangan Alvian aku gandeng di sisiku dan menggenggam erat tangan Alvian. Alvian tampak terkejut.


Gak rela aku tangan Alvian dia pegang. Nanti dia ke GR an lagi. Salaman dengan pria setampan Alvian. 'Enak saja!' bathinku kesal.


"Baiklah Tante, saya akan pergi! Tapi ijinkan saya bertemu dengan Andika satu kali saja. saya ingin berpamitan sebelum pergi untuk selamanya!" Mamah langsung bangkit dari kursi dan menuding Elena dengan amarah yang luar biasa.


"Segera pergi dari hidup anakku! Tidak usah banyak bergaya kamu! Tidak sudi aku melihat kamu bertemu anakku lagi! Enyah saja dari hidup anakku!" Mamah langsung keluar dari ruangan Kak Dika. Aku meludahi wajah Elena. Jijik aku sama dia. Dasar pelacur murahan!


"Alvian! Pastikan pelacur itu pergi dari negara ini kalau sampai saya mendengar dia memberikan masalah lagi kepada anak saya. Saya tidak akan lagi banyak sungkan sama dia. Akan langsung saya jebloskan dia ke penjara. Dasar perempuan tidak tahu diri!" Alvian mengangguk lalu bicara dengan Elana di ruangan Kak Dika.


Aku gak mau pergi sebelum Alvian juga pergi dari ruangan itu. Aku lihat Elena masih menangis.


"Nona Elena, ayo saya bantu persiapkan kepergian Anda." Alvian menawarkan diri untuk membantu.


"Terima kasih, saya bisa pergi sendiri." Elena menolak tawaran baik Alvian.


"Tidak bisa Nona Elena, saya harus memastikan bahwa Anda benar-benar pergi meninggalkan negara ini. Dan tidak akan mengganggu Tuan Andika lagi." Alvian memang keren. Walaupun dia kadang menyebalkan padaku.


Setelah memastikan Elena pergi dari negara ini dan memastikan tidak akan pernah bertemu dengan Kakaku, aku dan Alvian juga pergi ke rumah masing-masing.


Hari yang sangat panjang sekali!