
Setelah dipikirkan semalaman, Manda kemudian mengambil ponselnya, menelpon Kesya.
"Baiklah, aku akan menyerahkan Amanda dalam pengasuhan kalian. Tapi aku ingin kalian menandatangani perjanjian, bahwa kalian tidak akan pernah menelantarkan Amanda, anakku!" ucap Manda dengan lesu.
Setelah itu Manda mengemas barang-barang Amanda yang urgent saja. Karena pasti nanti di rumah baru, kebutuhan Amanda akan di cukup di sana. Manda mencium kening Amanda yang sedang terlelap. Diambilnya ponsel dan berfoto bersama putrinya. Mengambil banyak foto dan video, untuk obat rindu dirinya nanti.
"Maafkan, Mamah, sayang! Tapi kamu memiliki darah Abimana. Tempat kamu adalah di sana. Bukan maksud mamah menjual kamu, sayang! Mamah janji tidak akan pernah menyentuh uang tabungan pendidikan yang di berikan oleh Kakek kamu, Kelak, kalau kita ditakdirkan bertemu lagi, uang itu akan mamah berikan kepadamu. Mamah janji, sayang!" Manda memeluk putrinya dengan sedih. Tanpa terasa tangisannya terdengar keras, sehingga membuat Amanda terbangun.
"Kenapa Mamah menangis? Siapa yang membuat Mamah menangis?" tanya Amanda yang saat ini masih mengantuk. Dipeluknya Mamahnya, memberikan penghiburan bagi mamahnya yang sedang bersedih.
"Mamah tidak apa-apa sayang?! Mamah hanya sedih kalau nanti tidak bisa bertemu dengan Amanda lagi. Maafkan Mamah, sayang!" ucap Manda sambil mencium Amanda.
Mereka berdua lalu tertidur dengan saling berpelukan. Menangis semalaman, membuat mata Manda menjadi bengkak.
Sementara itu, di rumah sakit
Waktu sudah menunjukkan pukul 08.00 Kesya dan Andika sudah bersiap untuk keluar dari rumah sakit. Tapi Kesya dari tadi terus melihat jam tangannya. Andika bertanya, "Sayang, ayo kita berangkat, pesawat kita sudah menunggu kita." Andika mengingatkan Kesya untuk kesekian kali.
"Tunggu sebentar, Mas! Ada seseorang yang sedang aku tunggu!" jawab Kesya sambil melihat terus ke koridor rumah sakit.
"Siapa sayang?" tanya Andika penasaran.
"Bukan siapa-siapa, Mas!" jawab Kesya dengan menatap Andika yang mulai tidak sabar.
"Apa kamu menunggu Ilham?" tanya Andika dengan suara dan wajah masam.
"Bukan, Mas! Bukankah Mas Ilham dan Adrian sudah menunggu kita di bandara? Aku menunggu orang lain," Kesya tersenyum kepada Andika.
Ketika Andika hendak bangkit, dari ujung koridor, Andika melihat Manda dan Amanda yang tengah berlari ke arahnya.
"Apa ini maksudnya?" tanya Andika tampak bingung. Kesya tersenyum saat melihat yang dia tunggu akhirnya datang juga.
"Kamu cantik sekali, sayang!" ucap.Kesya lalu mencium Amanda.
"Kamu bisa tenang, kami akan merawat Amanda dengan baik. Dia akan menjadi Abimana sejati di bawah pengurusan kami. Percayalah!" ucap Kesya. Manda mengangguk-angguk kepalanya.
"Sayang, kamu tinggal sama ayah, yah? Mamah ada urusan dulu. Nanti suatu saat, Mamah akan jemput kamu, jangan nakal ya? Jangan bikin ayah sedih. Harus menuruti kata-kata Kakek nenek dan juga Mamah kesya. Ok, sayang?" pesan Manda sambil menangis tersedu-sedu.
"Apakah mamah tidak ikut bersama kami?" tanya Amanda mulai berkaca-kaca.
"Tidak, sayang! Mamah ada keperluan, gak bisa mamah tinggal!" ucap Manda dengan suara tercekat. Pedih dan sedih sudah pasti.
"Tuan, ayo kita harus bergegas, pesawat kita sudah menunggu dari tadi. Pilotnya ada jadwal terbang besok pagi. Kita harus bergegas!" tiba-tiba supir Andika yang dikirim oleh perusahaan Abimana Group yang di Jakarta datang.
"Ikutlah mengantarkan ke bandara!" ajak Kesya. Tapi Manda menolak, takut tidak kuat saat melihat putri kecilnya akan pergi meninggalkan dirinya.
"Baiklah, kamu jaga diri baik-baik, ingatlah, hubungi aku kalau kamu butuh sesuatu. Ingat juga perjanjian yang sudah kita sepakati!" ucap Kesya lalu memeluk Manda sebelum benar-benar pergi dari rumah sakit.
Manda mengikuti mereka sampai ke parkiran rumah sakit. Setelah mobil Andika tidak terlihat lagi, muncul seorang pria di belakang punggung Manda, menyeringai licik.
"Baguslah, anak kamu sekarang sudah menjadi bagian dari Abimana Group, akan mudah bagi kita, bila kelak menguras harta mereka." seringai licik dari wajah pria berambut gondrong tersebut membuat Manda merinding.
"Jangan pernah kau ganggu anakku! Ataupun Mereka! Aku tidak akan pernah memaafkan kamu!" cicit Manda dengan marah. Air matanya sudah berderai tanpa bisa di bendung lagi.
"Aku ini Paman dia, aku yang dulu membantu kamu saat melahirkan Amanda, aku punya jasa di sini, kalau kau lupa!" ucapnya sambil menjambak rambut Manda.
"Dengar, wanita ******! Sebaiknya kamu berikan uang yang diberikan oleh keluarga Abimana untuk keponakan ku itu! Atau aku akan membuat hidup kamu bagaikan di neraka!" ancam pria jahat itu.
"Jangan pernah bermimpi! Uang itu milik Amanda, aku gak akan pernah memberikan apapun kepadamu! Enyah kau dari hidupku!" Manda laku berteriak-teriak, sehingga satpam rumah sakit datang ke sana dan menolong dirinya dari sang kakak yang preman itu.
Manda minta di antarkan oleh satpam sampai ke apartemen, karena takut kakaknya mengikuti dirinya. Satpam yang baik hati itu mengantarkan Manda dengan senang hati. Dia bahkan menunggu sampai benar-benar aman.
"Terima kasih, sudah menolong saya. Perkenalan, nama saya Manda, nama Anda siapa?" tanya Manda. Manda benar-benar merasa berterimakasih atas pertolongannya.
"Nama saya Satria. Ya sudah, Mba! Saya rasa sudah aman. Saya akan kembali ke kantor!" ucap Satria. Manda merasa bahagia karena saat dirinya kesusahan. Ada orang baik yang mau menolong dirinya. "Oh, ya! Ini nomor saya, telpon saya kalau penjahat tadi datang lagi! Saya permisi!" setelah Satria pergi, Manda langsung mengganti pasword apartement dan menguncinya. Takut kakaknya akan datang menteror dirinya lagi.
Apartemen ini diberikan oleh Kakeknya Amanda, Pak Farhan. Karena waktu itu Manda menolak memberikan Amanda kepada keluarga Abimana. Kesya menghadiahkan apartemen itu sebagai rasa terima kasih karena sudah mengijinkan Amanda ikut mereka ke Dubai.
"Kesya sungguh wanita yang berhati emas. Tidak heran kalau Kedua orang tuanya begitu sayang padanya. Pak Dika juga tampaknya sangat mencintai Kesya!" ucap Manda sambil menatap foto terakhirnya bersama Amanda dan juga Kesya.
Sementara itu di Bandara..
Adrian yang akan tinggal bersama Ilham, selama bertahun-tahun ke depan. Karena Ilham ingin mendidik Adrian di pondok pesantren, sekarang Adrian sedang berpamitan kepada Papah dan Mamahnya. Adrian yang memang sudah lengket dengan Ilham tampak biasa saja berpisah dengan kedua orangtuanya.
"Nanti telpon Papah kalau kakak rindu kami, Papah kirim kan pesawat kita untuk jemput kakak! Ok, sayang?" ucap Andika sambil mengelus rambut sulungnya.
"Kamu bisa tenang, aku akan menjaganya. Fokus merawat Kesya dan bayi Cakra. Adrian pasti akan aku didik dengan sepenuh hati." janji Ilham.
"Terima kasih, Mas Ilham. Salam buat Laila! Kami pamit pulang dulu!" Kemudian Kesya dan Andika masuk ke pesawat. Amanda tampak anteng di gandeng tangannya oleh sang ayah.
Adrian sebenarnya merasa heran dengan gadis kecil yang selalu di gandeng oleh ayah nya. Tapi Adrian merasa takut untuk bertanya. Adrian hanya menatap Amanda saja, tanpa menyapa sama sekali. Perasaan seorang anak biasanya peka. Betul tidak?
Jangan lupa dukungan buat author ya, happy reading ...