Assalamualaikum Ustadz Ku

Assalamualaikum Ustadz Ku
181. Berpikir Lagi



Humairoh masih bersembunyi di tempatnya. Sebenarnya ada keinginan dalam hatinya untuk mendatangi suaminya tetapi perasaan gugur dan takut terus menghalangi dirinya jambangi sang suami yang sedang asyik mengobrol dengan Agus.


"Baiklah aku harus bisa menjelaskan kepada suamiku. Tentang apa yang terjadi. Aku tidak bisa membiarkan hal ini berlarut-larut bisa membahagiakan untuk keluarga kami!" akhirnya dengan kekuatan penuh yang ada dalam dirinya Humairoh kemudian bangkit dan berjalan dengan gagah menuju sang suami yang masih belum menyadari kehadirannya di tempat itu.


Agus yang pertama kali melihat Humairoh tampak terkejut dia berusaha memberikan kode kepada Humairah untuk pergi dari tempat itu tetapi tidak diperdulikan sama sekali oleh Humairah.


" Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh!" ucap Humairoh memberikan salam kepada mereka berdua dengan nada gemetar Karena sejujurnya dia saat ini sangat ketakutan dengan amarah sang suami.


"Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh!" jawab rahmat dan Agus bersamaan. Rahmat kemudian mereka menoleh kepada Humairoh.


"Humairah? Bagaimana kau bisa mengetahui keberadaanku di sini?" tanya Rahmat sambil menatap Agus dan Humairah bergantian.


"Apakah kau yang sudah memanggil perempuan itu ke tempat ini?" tanya Rahmat dengan mata melotot ke arah Agus yang saat ini menundukkan kepalanya.


"Aku mengetahui keberadaan kamu bukan dari dia. Tetapi dari detektif yang sudah aku tugaskan untuk mencarimu!" ucap Humairoh berusaha untuk melindungi Agus agar tidak dapat amukan dari sang suami yang dia tahu lumayan tempetamental apabila sudah marah kepada seseorang.


" Jangan berbohong! Apakah kamu Agus? Yang sudah memberitahukan keberadaanku kepada dia?" kemudian dia langsung berdiri dari duduknya dan bersiap untuk mengambil koper yang kemarin dia bawa dari kediaman dirinya bersama Humairah.


"Aku tidak menyangka Gus, kepercayaanku kau khianati begitu saja. Aku sangat kecewa padamu?" ucap Rahmat kemudian dia meninggalkan tempat itu tanpa menoleh kepada Agus sama sekali.


"Maafkan saya pak Rahmat saya melakukan ini bukan karena membenci Anda ataupun karena tidak menyenangi anda berada di sini. Tetapi karena saya merasa tidak tega untuk melihat anda begitu merindukan istri anda!" ucap Agus Berusaha menjelaskan situasi dan kondisi yang sesungguhnya kepada Rahmat dengan apa yang telah dia lakukan.


"Siapa yang merindukan perempuan itu? Di dalam hidupku, aku tidak ingin lagi bertemu dengan dia. Dia hanyalah wanita penipu yang selama bertahun tahun sudah membuatku seperti laki-laki bodoh!" ucap Rahmat dengan mata penuh amarah.


"Kamu lupa Mas! Bahwa kamu tidak pernah bertanya tentang siapa aku ataupun bertanya tentang keluargaku. Bahkan di saat hari pernikahan Kita, kau tidak pernah bertanya atau akan menyinggung tentang mereka atau mengatakan untuk bertemu dengan mereka!" ucap Humairoh dengan mata berkaca-kaca.


Humairah mengingat waktu itu. Di saat dirinya menikah dengan Rahmat. Ketika kedua orang tuanya tidak merestui rencana pernikahannya dengan rahmat. Hingga akhirnya hanya pamannya lah yang hadir dalam pernikahan mereka berdua. Atas perintah dari ayahnya yang tidak ingin pernikahan putrinya menjadi tidak sah.


" Coba kau ingat Mas! Apakah kau pernah bertanya tentang keluargaku atau tentang diriku? Kau sama sekali tidak pernah bertanya kan Mas?" ucap Humairoh sambil memegang kedua tangan Rahmat yang menggigil.


"Bukankah kalau kau mempunyai itikad baik, kau akan menjelaskan kepadaku? Tentang identitasmu yang sesungguhnya maupun tentang keluargamu?" ucap Rahmat sambil menatap tajam kepada Humairoh yang kini mulai terisak dalam tangis kesedihan.


"Karena aku mengingat bahwa kau pernah mengatakan kalau kau membenci orang kaya!" ucap Humairoh dengan terisak.


"Kau itu adalah seorang wanita yang sangat pandai berorasi untuk meyakinkan orang lain. Aku ini apa?" tanya Rahmat dengan sinis kemudian dia berusaha untuk meninggalkan Humairoh Karena dia sudah merasa jengkel. Rahmat tidak sanggup melihat air mata Humairoh yang membuat hatinya sakit seperti terhiris-iris.


Oleh karena itu rahmat menginginkan untuk segera meninggalkan tempat itu agar hatinya tidak goyah ketika berhadapan dengan humairoh.


"Sebenarnya apa yang kamu inginkan mas katakanlah aceh kau memaafkanku!" ucap Humairoh dengan berlinang air mata.


" Lupakanlah aku dan carilah laki-laki yang sepadan denganmu yang bisa kau bawa dengan bangga kemanapun!" ucap Rahmat kemudian dia pergi dari tempat itu.


Akan tetapi Humairoh memeluk tubuh Rahmat dari belakang.


" Tolong maafkan aku Mas aku mohon berikanlah aku kesempatan kedua untuk memperbaiki semuanya dan menjelaskan semuanya padamu! Ingatlah anak-anak kita Mas mereka pasti akan sedih kalau melihat kita berdua berpisah!" ucap Humairoh berusaha untuk membujuk suaminya agar tidak meninggalkannya.


"Berikan aku waktu untuk berpikir lagi tentang pernikahan kita. Satu bulan dari sekarang. Aku akan memberikan keputusanku. pakah akan melanjutkan pernikahan kita ataukah akan bercerai!" ucap Rahmat kemudian dia berusaha untuk melepaskan pelukan tangan Humairah dari tubuhnya.


akan tetapi Humairah tidak mau melepaskan Rahmat bahkan sekarang dia telah berdiri di hadapan rahmat dan mulai mencium bibir suaminya dengan penuh kerinduan.


Agus yang merasa terkejut dengan apa yang di lakukan oleh Humairah. Kini dia langsung masuk ke dalam kontrakannya dan memberikan kesempatan kepada suami istri itu untuk bisa mengekspresikan segala kerinduan dan cinta mereka berdua setelah berpisah selama dua hari.


Untuk sejenak Rahmat goyah imannya dan membalas segala cinta kasih yang disalurkan oleh Humairah dalam ciuman mereka berdua.


Waaupun mulut Rahmat mengatakan Benci terhadap istrinya. Akan tetapi tubuhnya tidak bisa berkata lain atau menipu Humairah karena memang sesungguhnya rahmat pun sangat merindukan Humairah yang selama ini selalu menjadi pendamping hidupnya yang setia dalam suka dan duka.


Dengan nafas memburu, Rahmat kemudian memegang kedua pipi Humairah dan menciumnya dengan segala Kerinduan di ada hatinya saat ini.


"Kau adalah wanita paling keji yang ada di dunia ini yang pernah aku temui seumur hidupku. Bagaimana mungkin kau menipu suamimu lebih dari 30 tahun hmmm? Tanpa memberitahukan identitas maupun nama keluargamu yang sesungguhnya. Apakah kau tidak mempercayaiku, hmmmm?" ucap Rahmat dengan mata berlinang air mata.


" Maafkan Aku Mas aku pasti akan jelaskan semuanya ayo kita pulang dan kita bicarakan semuanya aku akan menjawab semua pertanyaanmu!" ucap Humairoh berusaha membujuk sang suami untuk ikut bersama dirinya Oh ke rumah mereka berdua yang sudah ditempati hampir 30 tahun bersama dengan dua orang anak mereka yang sekarang tinggal di pondok pesantren.


"Bukankah tadi aku sudah bilang, tolong berikanlah aku waktu 1 bulan dan aku akan memutuskan. Apakah akan melanjutkan pernikahan kita ataukah akan bercerai denganmu!" ucap Rahmat sambil menatap tajam kepada Humairoh yang terus menggelengkan kepalanya dengan berlinang air mata kesedihan di matanya.


"Tidak aku tidak akan mengizinkanmu pergi dariku lagi! Walaupun itu hanya satu hari, itu seperti 1 tahun rasanya. Daripada kau meninggalkanku satu bulan. Akan lebih baik kau bunuh aja aku Mas! Mungkin dengan begitu hatimu akan jauh lebih bahagia!" ucap Humairoh dengan berlinang air mata berusaha untuk menahan sang suami agar tidak pergi meninggalkan dirinya.