Assalamualaikum Ustadz Ku

Assalamualaikum Ustadz Ku
72. Bertemu Calon Jodoh



Mari kita tinggalkan Laila sebentar, kita tengok kehidupan Kiai Ilham di pondok pesantrennya, yang kini sedang mempersiapkan sebuah acara maulidan. Acara tersebut akan diadakan secara besar-besaran. Ilham mengundang seluruh pondok pesantren yang ada di Indonesia. Dengan dukungan Abimana grup ini pondok pesantren, Kiai Ilham bisa menggelar acara semegah itu.


Acara tersebut adalah idenya Adrian ya, bukan keinginan dari Ilham senduri. Adrian yang ingin mengadakan acara megah tersebut. Ilham yang tidak pernah bisa menolak keinginan Adrian, akhirnya hanya bisa meluruskannya.


Dengan sukacita, Adrian menelpon Papah dan Mamanya di Dubai, mengungkapkan keinginan dirinya. Andika yang memang selalu memanjakan putranya, kemudian meminta kepada karyawannya yang ada di Abimana grup untuk menghandle acara tersebut.


Sebuah event organizer yang sangat terkenal pun, akhirnya menghandle acara tersebut, sampai sukses besar. Saat ini Ilham dan Adrian tengah sibuk menyambut para tamu. Tidak terkecuali Andika dan Kesya beserta kakek neneknya yang datang jauh-jauh dari Dubai untuk menghadiri acara tersebut. Tentu saja, Adrian melancarkan aksi merengeknya untuk membuat mereka semua datang ke Jawa Timur.


Adrian melakukan hal itu karena merindukan mereka berdua setelah selama 1 tahun tidak bertemu.


Tampak Kyai Hamid, Zahra dan Om Rasyid beserta anak mereka yang seusia dengan Adrian juga merupakan bagian dari tamu-tamu yang diundang oleh Kyai Ilham. Adrian menyambut kakek dan neneknya serta Omnya tersebut dengan senang hati.


"Om Rasyid, siapa perempuan cantik yang tadi ikut beserta dengan keluarga kita?" Tanya Adrian penasaran.


"Oh, itu adalah Ustazah Qonita, salah satu tenaga pengajar di pondok kakek Hamid. Memangnya ada apa Adrian? Kau bertanya tentang Ustadzah Qonita?" tanya Rasyid yang sibuk juga menyambut para tamu.


"Tidak apa-apa Om! Adrian pergi dulu ya, mau mencari temannya Adrian!" Adrian langsung berlari meninggalkan Rasyid yang hanya bisa geleng-geleng melihat ketahuan keponakannya yang absurd disebut.


"Hati-hati Adrian, jangan berlari-lari! Kau ini seperti anak kecil saja, nanti kalau kau jatuh kau kesakitan!" teriak Rasyid, istrinya Zahra datang menghampiri Rasyid yang tampak geleng-geleng melihat Adrian yang kini sudah bergelayut manja dengan Ilham.


"Tampaknya Kyai Ilham sangat menyayangi Adrian ya? Ardian sampai lengket sekali, bahkan Adrian tampaknya tidak tertarik untuk bertemu dengan kedua orang tuanya sendiri. Kau Lihatlah Mas!" Zahra menatap Adrian dan Ilham dengan tatapan penuh syukur.


Zahra juga merasa bersalah dengan gagalnya pernikahan antara Ilham dan Kesya karena pada saat itu dirinya dan mertuanya yang diculik oleh keluarga Abimana, dalam rangka memaksakan pernikahan antara Kesya dan Andika.


Adrian terlihat mendekati Qonita sambil menggandeng tangan Ilham dan memperkenalkan dua orang tersebut.


"Ustadzah Qonita, Perkenalkan ini adalah Omku yang paling aku sayangi! Om Ilham, perkenalan ini adalah Ustadzah Qonita, salah satu tenaga pengajar di pondok pesantren Kakek Hamid!" Ilham dan Qonita hanya saling melirik sekilas, sesudahnya mereka mengundurkan diri dari tempat tersebut. Adrian tanpak kecewa melihat hal tersebut, Ilham melihat hal itu.


"Kenapa Adriannya Om?" tanya Ilham. Adrian melipat tangannya, lalu melengos dari Ilham.


Dari kejauhan, ustazah Qonita yang saat itu sedang membantu Zahra mengasuh anak-anaknya, sesekali memperhatikan interaksi Kiai muda tersebut, dengan pewaris dari Abimana Group.


"Kenapa Om cuek sekali dengan Ustadzah Qonita? Padahal Adrian tadinya berniat ingin menjodohkan Om Ilham dengan Ustadzah Qonita!" Ilham masih ngambek. Fathu yang kebetulan lewat langsung menegur Adrian yang dia nilai tidak sopan.


"Ada apa ini Adrian? Kenapa kamu tampak kesal begitu dengan teman kamu? Nggak boleh nakal sama temanmu, ya?" Kesya lalu mencium pipi putranya yang sangat dia rindukan. Adrian lalu memeluk Mamahnya.


"Mah, Adriana cuma ingin menjodohkan Om Ilham dengan Ustadzah Qonita. Adrian selalu melihat kalau Om Ilham selalu melamun kalau tengah malam. Oleh karena itu, Adrian ingin menjodohkan Om Ilham dengan Ustadzah Qonita. Tetapi Om Ilham tampangnya cuek sekali, tidak peduli dengan Ustadzah Qanita. Karena itu Adrian jadi merasa kesel sama Om Ilham, Mah!" Kesya tersenyum mendengar keluh kesah anaknya.


Ilham dan Ustazah Qonita memerah pipinya, mendengar penuturan Adrian, bocah 7 tahun itu, tampak fasih berbicara mengenai perjodohan mereka kepada Kesya.


"Mas Ilham dan ustadzah Qonita, apakah bersedia kalau Adrian menjodohkan kalian berdua?" pertanyaan Kesya sukses membuat Ilham tersipu. Ilham memilih untuk menyambut para tamu dan fokus dengan acara yang sudah mulai dengan sangat meriah.


Sebagai tuan rumah Ilham duduk di barisan paling depan. Di sana tampak Andika, Kyai Hamid, Rasyid beserta Kyai Jamaludin ayahnya Fathu tampak berbincang secara akrab melepas kangen setelah tidak bertemu selama beberapa tahun. Kesya sekarang tengah sibuk membujuk Adrian yang sedang ngambek, Amanda juga tampak bahagia karena bertemu dengan Ayah dan Mamah sambungnya, Kesya.


Kesya melihat Amanda sekarang sudah semakin baik, tidak apatis lagi seperti dahulu. Amanda tampak bergaul dengan teman-temannya dengan baik.


"Apakah Amanda bahagia tinggal di Pondok?" tanya Kesya sambil mengelus pipinya. Amanda menggaruk tengkuknya, tersenyum penuh arti. "Mah, apakah suatu saat, Amanda di perbolehkan untuk bertemu dengan Mamah?" Amanda tampak takut-takut. Kesya tersenyum.


"Tentu sayang, setelah acara ini selesai, Papa dan mama berjanji akan membawa Amanda untuk bertemu dengan mama, Oke? Sekarang ayo kita menikmati acara ini. Apakah Amanda tidak rindu dengan kakek dan nenek?" Kesya lalu menggandeng tangan mungil Amanda menuju keluarganya berada sekarang.


Cakra saat ini sedang bersama dengan neneknya, bocah Gembul Itu tampak menikmati acara yang sangat meriah. Ustadzah Qonita masih sibuk dengan anak-anaknya Zahra.


"Ustadzah, saya serius ingin bertanya, apakah Ustadzah mau menerima apabila kami berniat untuk menjodohkan Ustadzah Qonita dengan Kyai Ilham?" Ilham yang melihat Kesya sedang berbicara serius dengan Ustadzah Qonita, hanya bisa melihat sekilas, tidak mampu untuk melihat terlalu lama. Tampaknya Ilham masih belum move on dengan perasaannya terhadap Kesya.


Andika melihat tatapan sendu Ilham ketika melihat istrinya yang kini sedang beramah tamah dengan seorang wanita sholehah, bergamis besar yang tampak asik bersenda gurau dengan keponakannya, yaitu anaknya Rasyid.


"Ada apa Andika apakah ada masalah?" tanya Rasyid.


"Tidak Mas, saya hanya sedang memperhatikan, Kesya, istriku, tampaknya sangat serius berbicara dengan perempuan itu. Siapa dia, Mas?" tanya Andika.


" Itu adalah Ustadzah Qonita, salah satu tenaga pengajar di pondok pesantren Kiai Hamid, mertuaku. Apa kau keberatan Kesya tampak akrab dengannya?"


"Bukan, Mas! Bukan begitu!" Andika jadi salah tingkah.


Setelah acara tersebut selesai keluarga Andika kemudian pergi ke hotel yang sudah dipesan oleh Abimana grup, mereka beristirahat di sana untuk kemudian besok bertolak ke pondok pesantren Kyai Hamid. Berkunjung ke sana menggunakan jet pribadi Abimana Group.