Assalamualaikum Ustadz Ku

Assalamualaikum Ustadz Ku
204. Semangat Ya!



Secara perlahan Agus memutuskan untuk melupakan Ayana. Dia mulai menyibukan dirinya dengan penyambutan anniversary perusahaan ayahnya yang saat ini berada di tangannya. Karena ayahnya belum sembuh dari penyakit yang diderita. Dan saat ini sedang menjalani pengobatan di Singapura bersama dengan kepala pelayan yang ada di rumah ayahnya.


" Bagaimana dengan persiapan anniversary perusahaan ini?" tanya Agus di dalam ruangannya kepada asisten sang ayah.


" Tuan Agus! Apakah saudari Ayana belum hubungi Tuan lagi? Kenapa sudah sangat lama dia tidak mengirimkan juga proposal yang dia janjikan?" tanya sang asisten kepada Agus.


" Bagus ya? Aku bertanya apa dan kau jawab apa!" ucap Agus dengan sini sambil menatap kepada sang asisten.


" Maafkan saya Tuan! Itu karena fokus saya saat ini sedang kepada Ayana yang sudah lama tidak datang lagi kemari!" ucapnya.


" Aku tidak cocok dengan proposal yang dia tawarkan. Karena itu aku sudah menolaknya. Sudah kau tidak usah membahas lagi tentang perempuan itu!" ucap Agus merasa jengah ketika mereka membicarakan tentang Ayana.


Agus sampai sekarang masih merasa sakit hati kepada Ayana yang sudah memperlakukannya dengan tidak hormat dan berani mempermainkan dirinya.


Ayana mengirimkan seorang banci ke dalam kamarnya. Untung saja dia tidak terpedaya dan langsung menyadari kehadiran banci itu yang ternyata adalah seorang Edrik yang berusaha untuk menjebak Ayana berkali-kali.


' Biarkan saja Ayana menjalani kehidupannya sendiri aku sudah tidak peduli lagi!' batin Agus sambil terus fokus dengan pekerjaannya yang menumpuk karena kemarin dia selalu saja berusaha untuk mendekati Ayana.


" Aku akan berjuang untuk membesarkan perusahaan ini dan membuat Ayana merasa menyesal karena sudah mencampakan diriku!" ucap Agus kesal.


Asisten ayahnya Agus yang sejak tadi sudah meninggalkan ruangan itu sekarang dia tampak bertanya-tanya perihal Ayana.


" Aneh sekali perempuan itu. Dia waktu menemuiku sangat antusias dan berpikir positif tentang proposalnya. Kenapa tiba-tiba tidak pernah datang lagi ke sini!" tanya sang asisten kemudian dia pun menghubungi sekretaris Ayana untuk bertanya kepadanya.


" Halo selamat siang! Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya sekretaris Ayana di seberang sana.


" Apa kau bisa membuatkan Janji temu untuk saya bersama dengan CEOmu?" tanya sang asisten.


" Dulu CEOmu itu pernah datang ke perusahaanku untuk mengajukan perjanjian pengadaan barang-barang untuk para korban bencana tetapi sampai sekarang kenapa proposalnya tidak datang juga kepada kami?" tanyanya.


" Oh masalah itu ya? Nyonya Ayana sudah mengatakan padaku kalau dia sudah tidak tertarik untuk kerjasama dengan perusahaan kalian!" ucap sekretaris Ayana.


" Kenapa?"


" Untuk hal itu Anda bisa bertanya kepada CEO Anda!" ucapnya.


" Baiklah terima kasih atas informasinya!" dia pun kemudian menutup telepon tersebut.


" Benar-benar aneh! Apakah ada sesuatu misteri di dalamnya?" tanya sang asisten merasa heran.


" Gelagat tuan muda Agus pun sangat aneh benar-benar membuat pusing!" akhirnya asisten itu menyerah untuk menyelidiki tentang proyek itu.


" Apa kau kekurangan pekerjaan? Katakan padaku maka aku akan mengirimmu ke luar negeri agar kau sibuk di sana!" ucap Agus ketika dia melihat asisten sang ayah yang sibuk menelpon sekretaris Ayana.


" Maafkan saya Tuan! Saya hanya merasa penasaran saja dengan wanita bernama Ayana itu. Waktu bertemu dengan saya. Dia sangat antusias sekali dengan penawarannya tetapi kenapa tiba-tiba dia memutuskan begitu saja untuk tidak melanjutkannya!"


Agus menggertakan giginya karena merasa jengkel dengan sang asisten yang tampak begitu cerewet dan juga terlalu banyak ikut campur mengenai urusannya.


" Kerjakan saja tugasmu dengan baik dan tidak usah banyak cerewet atau aku akan memecatmu dengan tidak terhormat!" ancam Agus sambil menatap tajam kepadanya.


" Wah ngeri! Apa-apa mengancam mainnya!" ucapnya sambil meninggalkan Agus dalam kesendirian.


" Aku tidak akan membiarkan Ayana untuk datang ke perayaan anniversary perusahaan ayahku. Aku tidak mau dia mengetahui tentang identitasku!" ucap Agus dengan mata berapi-api.


Agus merasa tersinggung mengenai kejadian terakhir yang ada di apartemennya yang ternyata dia dikerjai oleh Ayana.


" Dia benar-benar tidak menghargaiku sebagai suaminya. Lalu kenapa aku harus menghargai dia sebagai istriku?" tanya Agus dengan perasaan kesal kemudian dia langsung pergi ke dalam ruangannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sementara itu Ayana yang saat ini sedang sibuk dengan pekerjaannya. Ayana sekarang sedang menerima laporan dari sekretarisnya mengenai telepon dari asisten ayahnya Agus.


" Asistens CEO perusahaan itu telah menghubungimu? Apa yang dia katakan padamu?" tanya Ayana sambil menghentikan pekerjaannya.


" Intinya dia hanya bertanya kepada saya. Kenapa perusahaan kita tidak melanjutkan penawaran ke perusahaan Bagaskoro Sejahtera?" ucap sang sekretaris menjawab pertanyaan dari Ayana.


Ayana kemudian mencari ponselnya. Kemudian dia mencari nomor CEO perusahaan Bagaskoro Sejahtera dan menelpon CEO nya yang dulu pernah menghubunginya.


Ayana mengurutkan keningnya ketika dia mendapatkan kenyataan bahwa nomornya telah diblokir.


" Sialan! Tampaknya dia merasa tersinggung dengan kejadian di hotel itu!" ucap Ayana sambil menatap kepada ponselnya dan kembali membaca chatting mereka berdua.


" Entah kenapa. Aku merasa seperti familiar dengan chatting ini dan dengan gaya bahasa ini!" ucap Ayana terus memperhatikan chatting yang ada di dalam ponselnya.


Saat Ayana melihat nomor telepon Agus, tampak Agus sedang online. Ada rasa keinginan Ayana untuk menghubungi suaminya. Akan tetapi perasaan gengsi yang ada dalam hatinya terlalu besar untuk dia melakukan itu.


" Sudah satu bulan lamanya sejak kejadian di apartemen itu. Sampai sekarang Agus tidak pernah menghubungiku lagi. Apakah dia begitu marah dengan keusilan dan kejahilanku?" tanya Ayana sambil terus menatap nomor telepon Agus yang sekarang sudah offline kembali.


Ayana menarik nafas dalam-dalam. Karena dia sangat frustasi untuk menghadapi pernikahannya bersama dengan Agus.


" Apa yang harus kulakukan Apakah aku mengajukan gugatan saja ke pengadilan untuk memperjelas status pernikahan kami berdua?" tanya Ayana sambil menatap ke arah jendela yang saat ini langit begitu cerah.


" Aku merindukan saat-saat aku bersama dengan Agus. Walaupun singkat tetapi sangat berkesan di hatiku!" tanpa Ayana sadari dia tersenyum ketika dia mengingat tentang Agus.


" Nanti siang aku akan mendatangi kontrakannya dan meminta maaf kepadanya atas keusilanku kemarin!" ucap Ayana akhirnya memutuskan untuk mendatangi Agus dan meminta maaf atas semua perbuatannya di apartemennya satu bulan yang lalu.


" Aku sama sekali tidak berniat untuk mengerjaimu. Aku hanya tidak mau kalau kau tahu bahwa kita pernah melakukan itu!" ucap Ayana kepada dirinya sendiri.


" Ya Tuhan! Bagaimana kalau sampai aku hamil gara-gara kejadian malam itu?" tiba-tiba Ayana berpikir dan berusaha keras untuk mencari jawaban dari pertanyaannya sendiri.


" Aku akan datang ke rumah sakit dan memeriksakan tentang keadaanku. Apakah aku sedang hamil atau tidak?!" ucap Ayana merasa khawatir dengan dirinya sendiri.


" Apa yang harus kulakukan kalau sampai aku hamil anak Agus? Sementara pernikahan kami saat ini benar-benar tidak jelas dengan status kami berdua saat ini." ucap Ayana dengan perasaan sedih.


" Kalaupun sampai aku hamil anak Agus nanti. Pengadilan pasti tidak akan mengabulkan gugatan perceraianku!" ucap Ayana dengan frustasi memikirkan tentang hidupnya saat ini.


" Aku hanya ingin mencicipi. Bagaimana rasanya berumah tangga dan memiliki suami dan anak secara normal. Tetapi kenapa? Rasanya begitu sulit!" rintih Ayana merasa sedih dengan kondisi rumah tangganya yang sangat tidak jelas statusnya.