
"Dari mana keyakinan itu, Mas?" tanya Syafa masih tidak mau percaya bahwa suaminya lebih percaya dengan istrinya yang baru.
"Aku lebih mengenal Laila, dari pada aku mengenal kamu!" cicit Firman kesal. Laila yang mendengar di balik pintu merasa sangat bangga dengan Firman, yang selalu membela dirinya. Tanpa terasa, air matanya menetes haru.
"Jadi, kamu tetap.kekeuh untuk mempertahankan wanita itu?" tanya ayahnya keras menggelegar.
"Papah sudah pasti tahu jawabannya!" Firman kini duduk di depan kursi Ayahnya. Tampak diam untuk sejenak.
"Kalau kamu masih bersikeras untuk bersama dengan Laila, maafkan Papah. Papah akan menghapus kamu dari ahli waris keluarga kita. Papah akan menyerahkan sepenuhnya kekayaan Papa kepada Rasya, putra kamu!" ucap ayahnya mantap, tanpa keraguan.
Mendengarkan apa yang dikatakan oleh ayahnya, Firman hanya tersenyum sinis. Lalu dengan angkuh berkata. "Papa pikir, Firman perduli dengan semua harta Papah? Sejak muda, Firman sudah tidak pernah menyentuh apapun milik Papah! Papah bisa melakukan yang Papah mau! Firman sama sekali gak keberatan." jawab Firman.
"Pah, tolong !Tenanglah! Jangan gegabah dalam mengambil keputusan. Ini bukan hal yang mudah dan juga bukan hal yang segampang itu untuk diputuskan. Papa nggak bisa melakukan hal seperti itu pada Firman. Dia juga anak kita, Pah!" ucap ibunya Firman.
"Tapi anak kamu itu keterlaluan, Papa sudah hilang kesadaran!" ucapnya sengit.
"Harus sabar, Pah! Kalau gegabah, nanti akhirnya akan menyesal. Biarkan Mama yang bicara tentang ini dengan Firman. Kalian semua, Tunggulah di luar. Biar Mama yang bicara dengan Firman!" pinta ibunya Firman.
"Baiklah, kami percayakan semuanya sama Mama!" ucap Syafa. Lalu menarik tangan Raya yang sejak tadi hanya menatap sang ayah dengan penuh kebencian.
"Rasya, ayo kita ke luar dulu. Biarkan ayahmu bicara dengan Nenekmu!" Ucap Syafa lembut.
"Dia bukan ayahku!" teriak Rasya lalu meninggalkan tempat yang tadi dia duduki. Firman melirik sekilas putranya, yang sudah tiga kali mengatakan hal itu.
"Karena aku bukan ayahmu. Maka kamu akan aku coret sebagai pewaris dari harta yang aku miliki! Aku akan mewariskan hartaku, kepada anak yang di kandung oleh Laila!" sengit Firman kesal.
Mendengarkan apa yang dikatakan oleh Firman, Rasya serta Merta mengamuk dan histeris. Menunjuk wajah Firman dengan penuh kebencian. Bisa bayangkan, bagaimana luka itu begitu menyayat hati Rasya? Anak seusianya sudah berani melakukan hal itu. Neneknya merasa sangat prihatin melihat Rasya yang begitu frontal terhadap ayahnya sendiri. Gara-gara masalah ini.
"Papa kira, saya sudi, diberikan harta milik Papah? Makan saja, berikan semuanya kepada istri mudamu itu. Biarkan Rasya dan Mama hidup tanpa Papa!" sengit Rasya kesal.
Perdebatan panjang antara ayah dan anak itu, sungguh membuat hati Laila seketika merasa terhiris hatinya. Karena dia menjadi penyebab keributan itu semua. Akhirnya, dengan gagah Laila pergi keluar dari tempat persembunyiannya dan menghadapi mereka semua yang ada di sana.
"Maafkan semuanya, kalau saya mengganggu diskusi kalian. Saya bersedia kalau mas Firman mau melepaskan saya. Saya tidak akan memaksakan dia untuk berada di sisi saya. Oh ya, sebentar lagi orang tua saya datang dari Jawa Timur. Jadi saya bisa kembali ke rumah kedua orang tua saya. Setelah orang tua saya datang!" Ucap Laila santai, nyaris tanpa beban.
"Aku tidak akan mengizinkanmu untuk pergi dari sisiku. Tidak akan lagi! Cukup satu kali, aku pernah kehilangan kamu. Aku tidak akan pernah mau kehilangan kamu lagi. Apa lagi. Sekarang telah ada anakku dalam rahimmu. Aku tidak akan pernah melepaskan kamu. Walaupun dunia harus runtuh sekalipun!" ucap Firman lantang.
"Mas, kamu nggak boleh egois. Bagaimanapun, mereka itu adalah keluarga kamu. Mereka yang lebih berhak atas kamu. Walaupun, aku juga termasuk istri kamu. Tetapi, aku hanya istri sirih kamu. Secara negara tidak sah sama sekali." ucap Laila sambil melirik istri pertama Firman.
"Dia adalah istrimu yang Syah, secara hukum dan secara agama. Jelas dia lebih berhak atas kamu. Sudahlah Mas! Kamu jangan berisikeras mempertahankan rumah tangga kita. Setelah ayah dan ibuku datang, aku akan langsung kembali ke Jawa Timur. Dan kamu, kembali kepada kedua orang tuamu dan juga, kembalilah kepada Istri dan anakmu." Laila mengelus perutnya yang masih rata.
"Mas jangan khawatirkan aku. Aku pastikan baik-baik saja. Aku akan menjaga anak kita. Mas jangan khawatir. Kalau nanti suatu saat, kamu merindukannya anak kamu. Kamu bisa menemuinya. Aku tidak akan melarangnya!" ucap Laila dengan Lembut. Sambil mengelus pipi Firman dengan penuh kasih sayang. Firman menggeleng, menolak apa yang di putuskan oleh Laila.
"Tidak, sayang! Tidak! Aku tidak akan mau melakukan hal itu!" ucap Firman dengan bersikeras, air matanya sudah jatuh. Tubuhnya sudah bergetar.
"Itu, sepertinya, ayah dan ibuku. Aku akan menyambut mereka dulu, permisi!" Laila kemudian meninggalkan ruang tamu dan pergi menuju ke teras depan.
Di mana kedua orang tuanya sedang berdiri di sana. Tampaknya, Mereka mendengarkan semua percakapan yang terjadi di dalam rumah itu. Ayahnya Laila menatap Laila dengan iba. Ada kemarahan di sana, tetapi dia pun tidak bisa berbuat apa-apa.
"Ayo kamu pulang bersama kami, Laila! Ambillah barang-barang kamu!" ucap beliau dengan suara gemetar.
Hati orang tua yang manakah? Yang tidak merasa terluka, ketika melihat putrinya diperlakukan tidak adil seperti itu oleh mertuanya sendiri? Dan, walaupun Firman sejak tadi dia lihat lebih membela anaknya. Tetapi, tetap saja. Dia pun tidak bisa membiarkan Firman dibuang oleh keluarganya begitu saja. Hatinya tidak bisa membiarkan hal tersebut terjadi. Akhirnya, ayahnya Laila memutuskan untuk membawa Laila kembali ke rumahnya saja. Walaupun dengan berat hati. Karena putrinya harus menjanda untuk yang kedua kalinya.
"Pah! Papa tidak bisa membawa pergi istri Firman begitu saja. Apalagi saat ini Laila sedang mengandung anak Firman. Firman nggak akan membiarkan Papa membawa istriku. Aku mencintainya! Aku tidak akan pernah membiarkan dia pergi dariku, Pah!" ucap Firman dengan tatapan nyalang. Matanya berapi-api menatap Syafa.
"Kamu, pergi dari sini! Jangan pernah sekali-kali kamu datang ke sini!" ucap Firman dengan emosi.
"Pah, Mamah akan memaafkan kamu, kalau kamu mau kembali sama Mama! Lupakan perempuan itu! Mama mohon, Pah!" pinta Syafa. Tetapi Firman tidak mau perduli dengan omongan Syafa. Firman malah pergi ke lantai dua. Ke kamarnya bersama Laila.
"Aku tidak mau kamu pergi, sayang! Aku mohon! Kamu dengarkan aku!" pinta Firman terus mengejar Laila. Setiap baju yang Laila masukkan ke dalam koper, selalu di kembalikan ke dalam lemari oleh Firman. Sehingga membuat Laila jadi kesal pada akhirnya.
"Kamu lagi apa sih, Mas? Udah udah capek-capek beresin. Kau balikin lagi ke Lemari. Udah sana! Kau urus aja itu istri kamu sama anak kamu. Aku nggak mau ya, kalau mereka sampai maki-maki aku ataupun orang tuaku. Sudahlah Mas! Pernikahan kita juga kan, baru seumur jagung! Aku nggak keberatan kok, kalau kamu lebih memilih mereka!" ucap Laila, tetapi Firman menolak keras ala yang Laila katakan. Firman kini berderai air matanya.
Baru membayangkan Laila pergi dari hidupnya saja, Firman sudah tidak bisa bernafas. Apalagi, apabila benar-benar mendapatkan kenyataan. Bahwa Laila pergi lagi dari hidupnya. Firman benar-benar tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi dalam hidupnya tanpa Laila.
"Aku gak akan membiarkan kamu pergi! Camkan itu, Laila!" Lalu Firman keluar dari kamar itu, lalu mengunci pintu kamarnya. Dan turun ke lantai bawah.