Assalamualaikum Ustadz Ku

Assalamualaikum Ustadz Ku
210. Kasihan kamu Agus



Rahmat kemudian mendatangi kamar Agus dengan penuh perhatian dia merawat Agus yang saat ini tampak masih sangat lemah.


" Kasihan kamu Agus harus hidup seperti ini aku paling kenal siapa Ayana. Dia seorang gadis yang sangat keras kepala dan sangat susah untuk menasehati siapapun!" ucap Rahmat sambil menatap kepada Agus yang masih menutup matanya karena pengaruh obat bius dia masih tertidur hingga saat ini.


" Ayana maafkan aku! Aku mohon! Kembalilah Padaku dan berilah aku kesempatan untuk membuktikan bahwa aku mencintaimu!" ucap Agus yang saat ini sedang melindur.


" Kasihan sekali kau Agus. Aku hanya bisa berdoa semoga semuanya baik-baik saja semoga istriku bisa membawa anak bengal itu kembali sehingga Agus tidak sedih lagi!" Rahmat kemudian membaringkan tubuhnya di sofa karena dia sangat mengantuk setelah aktivitasnya seharian.


" Biarlah aku tidak usah menghubungi Humairah dia pasti sedang sibuk dengan Ayana!" Rahmat kemudian berbaring dan mencoba untuk bisa menutup matanya dengan keadaan Agus yang masih kritis dan keadaan Ayana yang belum jelas nasibnya.


Setelah rahmat lelap dalam tidurnya Agus tampak membukakan matanya.


" Di mana aku kenapa kepalaku rasanya sangat pusing?" tanya Agus kepada dirinya sendiri ketika dia melihat dirinya berada di sebuah rumah sakit dan Rahmat yang saat ini sedang terlelap di atas sofa yang jaraknya tidak terlalu jauh dari kasur tempatnya berbaring.


"Ya Allah apa sebenarnya yang terjadi kenapa rumah tangga aku menjadi kacau balau seperti ini!" tanya Agus kepada dirinya sendiri.


" Kasian Om Rahmat dia pasti sangat capek karena sudah mengurusku seharian bahkan Bibi Humairoh saat ini sedang sibuk untuk mengurus kembalinya Ayana ke sampingku!" ucap Agus yang tampak begitu lemah.


" Semoga apa yang Bibi usahakan tidak akan sia-sia. Dan bisa membuat Istriku kembali ke Indonesia dan menjalani kehidupan kami sebagai suami istri seperti yang lainnya!" doa Agus penuh pengharapan.


Diakui atau tidak Agus benar-benar mencintai Ayana dan ingin menjalani kehidupan sebagai suami istri yang sesungguhnya bersamanya.


" Aku janji Ayana! Apabila kau kembali ke pelukanku. Aku akan berusaha untuk mencintaimu lebih terbuka dan aku juga akan membuka identitasku yang sesungguhnya di hadapanmu!" ucap Agus pelan.


" Kau sudah sadar Agus? Apakah kau butuh sesuatu? Om ambilkan untukmu!" ucap Rahmat sambil mendekati Agus ketika dia melihat Agus yang sudah mulai duduk.


" Tidak papa Om! Om tidurlah lagi saya hanya haus saja dan ingin minum!" ucap Agus berusaha untuk tersenyum kepada Rahmat.


" Tidak apa-apa Agus! Katakanlah sama Om. Om tidak keberatan untuk melayanimu. Lagi pula kamu seperti ini kan gara-gara kami berdua. Kalau kami tidak memaksamu untuk menikah dengan Ayana hidupmu tidak akan sekacau ini!" ucap Rahmat kepada Aguz


Sementara itu Ayana yang saat ini sedang berada di atas di pesawat.


" Selamat tinggal Indonesia semoga dengan kepergianku ini akan menjadi semacam obat maupun penyamaran dari hidup Ayana yang selama ini selalu disembunyikan oleh Agus!" ucap Ayana pelan.


" Aku akan meninggalkan Indonesia maka semuanya akan tertinggal di sana. Dan semoga masa depan baru dan juga kehidupan baru menunggu Kami di Austaslia. Negara impianku sejak dulu untuk bisa menetap di sana!" ucap Ayana dengan semangat yang membara.


" Aku pasti akan berhasil walaupun tanpa bantuan keluarga Sugandi maupun bibiku!" ucap Ayana sambil mengelus perutnya yang masih datar.


Aetelah sampai di Australia. Ayana langsung mencari kontrakan sederhana yang bisa dia tempati untuk sementara sebelum dia bisa mendapatkan pekerjaan di sana.


" Walaupun aku tidak tahu kau anak siapa. Akan tetapi yang jelas aku pasti akan melindungimu dan menjagamu. Aku tidak akan pernah membiarkan orang-orang menyakitimu dan mengatakanmu anak tak berayah!" ucap Ayana dengan lirih.


" Maafkan saya kalau kau tidak keberatan saya bisa memberikan sebuah kamar untukmu di dalam rumah saya!" ucap laki-laki berperawakan lumayan besar dengan wajah brewok dan juga tampak sangar bagi Ayana.


" Kalau tidak ada kamar yang berada di luar saya lebih baik mencari kamar yang lain!" ucap Ayana menolak penawaran dari laki-laki asing itu.


" Kamar yang di luar semuanya sudah full. Hanya ada kamar yang di dalam masih tersisa dua kamar Kalau kau mau kau bisa menempatinya!" ucapnya mengulang informasi yang tadi dia katakan.


" Kalau begitu Maafkan saya. Saya tidak bisa untuk mengontrak di sini. Saya akan mencari kontrakan yang lain yang berada di luar rumah utama agar membebaskan saya untuk beraktivitas.


" Kalau begitu silakan! Saya tidak akan memaksakan anda untuk mengontrak di sini!" ucapnya mengulas senyum kepada Ayana.


Ayana kemudian berpamitan kepada orang tersebut yang tampak menyesali kepergian Ayana begitu saja dari hadapannya.


" Duh bagaimana ini? Ini sudah malam dan aku belum mendapatkan kontrakan maupun kamar hotel untuk aku tidur malam ini!" keluh Ayana sambil keringat yang ada di keningnya.


" Apakah aku terpaksa tidur di pinggir jalan ya Tuhan Aku tidak pernah mengira bahwa aku akan jatuh ke titik ini!" ucap Ayana penuh dengan penyesalan.


" Biarlah tidak apa-apa. Toh tidur di sini juga saya rasa aman!" ucap Ayana berusaha untuk mensugesti dirinya sendiri.


" Hai Nona Kenapa kau mengambil tempat tidur kami sana minggir!" tiba-tiba dua orang laki-laki yang berpenampilan seperti seorang gembel mengusir Ayana dari tempat itu.


" Maafkan saya saya akan pergi!" ucap Ayana kemudian dia pun mengangkat koper yang tadi sempat dia gunakan untuk bantal tidurnya.


" Eh tinggalkan koper itu! Kau saja yang pergi sana tetapi barangmu tinggalkan semuanya!" ucap salah satu pemuda itu dengan menatap horor kepada Ayana.


" Maaf tapi aku tidak bisa melakukan itu semua file-file dan juga dokumen saya ada di dalam koper ini dan semua pakaian-pakaian saya juga!" ucap Ayana menolak permintaan Para preman itu.


" Jadi kau lebih memilih barang-barangmu itu daripada nyawamu?" tanya salah satu preman yang lain lagi.


" Mari kita lihat siapa yang akan bisa mempertahankan nyawanya malam ini saya atau kalian berdua!" ucap Ayah Nah dengan menyiapkan ancang-ancang dan kuda-kuda untuk bisa melawan mereka berdua.


" Wah Bro tampaknya dia bisa sedikit ilmu beladiri makanya dia sombong dan berani melawan kita berdua!" ucap laki-laki berkumis.


" Ayo kalau kalian berani majulah!" ucap Ayana menantang mereka berdua untuk menghadapinya sekaligus.


Ayana itu seorang atlet taekwondo yang selalu menang melawan para lawan-lawan nya dan dia memegang sabuk hitam jadi dia tidak takut sama sekali dengan kedua preman yang hanya pintar mengger tak seorang perempuan yang mereka pikir lemah dan tidak bisa melawan.