Assalamualaikum Ustadz Ku

Assalamualaikum Ustadz Ku
15. Kepulangan Amelia dari rumah sakit



Setelah semua dinilai stabil, akhirnya Amelia diperbolehkan untuk pulang. Amelia bingung harus pulang ke mana. Dia tidak ingat siapa dirinya, tidak ingat keluarganya, kemana sekarang dia akan pulang?


Samar-samar Amelia mengingat sesuatu, dalam ingatannya ada seorang pria yang selalu memanggilnya untuk datang. Tapi dia tidak tahu siapa pria itu. Setiap berusaha mengingat kepalanya selalu sakit dan nafasnya sesak.


" Jangan kwatir, untuk sementara kamu bisa tinggal di rumahku. " Andika merapihkan barang-barang Amelia.


" Aku tidak bisa selamanya bergantung padamu, untuk biaya pengobatan selama aku di rawat, itu pasti sangat banyak. Aku tidak mau berhutang kepadamu semakin banyak " Amelia bersiap untuk pergi namun Andika menghalanginya.


Andika mendekati Amelia dan berbisik dengan sangat pelan di telinga Amelia, " Kalau kamu merasa tidak enak, kamu bisa membayarku dengan seumur hidupmu" Amelia bergidik mendengarnya.


" Aku sangat berterima kasih atas semua Budi baikmu, semoga Allah yang akan membalas semua itu, aku saat ini tidak bisa membalas kebaikanmu, tapi aku berjanji, suatu saat, aku pasti akan membalas Budi ini" Amelia menatap Andika dengan intens, rasanya sangat tidak pantas kalau dia tinggal berdua dengan Andika.


" Tolong bantu saya mencari pekerjaan dan kontrakan, pelan-pelan saya akan membayar hutang saya padamu" Hati-hati sekali Amelia bicara,merasa takut apa bila Andika merasa tersinggung atau pun sakit hati.


" Kalau kamu butuh kerjaan, kamu bisa kerja di apartemenku, nanti aku akan menggajimu, terserah padamu, uang itu nanti akan kamu pakai untuk apa" Andika mencoba menawarkan pekerjaan agar Amelia tidak merasa canggung lagi untuk tinggal bersama dengannya.


" Apa yang bisa aku lakukan di apartemen kamu?"


" Aku seorang single, aku tinggal seorang diri di Jakarta. Semua keluarga ada di luar negeri. Kamu bisa bekerja untuk mengurus semua kebutuhanku dan membersihkan apartemenku" Amelia tampak berpikir, saat ini dia tidak mengenakan jilbab atau cadarnya, rambutnya yang panjang tergerai dan itu menambahkan kecantikan wajahnya.


" Bolehkah aku minta tolong padamu?"


" Katakanlah" Andika duduk di sofa dan menatap mata Amelia yang sangat bening.


" Tolong belikan aku pakaian muslim, jilbab dan juga sebuah cadar" Tampaknya Amelia masih mengingat kebiasaan hidupnya sebelum kecelakaan itu.


Semalam anak buahnya sudah membawakan laporan tentang kecelakaan Tempo hari. Wanita dihadapannya ini bernama Kesya Aprilia, dia seorang hafizah dan seharusnya sebulan yang lalu adalah hari pernikahan dia bersama Ilhamudin seorang calon Kiai. Memiliki banyak santri walaupun pondoknya baru saja buka belum lama.


Andika sudah jatuh cinta sejak pertama melihat Kesya. Dia tidak rela berjauhan dengannya, oleh sebab itu dia memilih untuk menyembunyikan fakta tentang Kesya. Biarlah Kesya hidup sebagai Amelia baginya.


Pelan-pelan dia akan mencoba untuk mengambil hari Kesya. Andika merasa percaya diri, bahwa dia bisa membuat Kesya jatuh cinta padanya. Demi menghindari kemungkinan Kesya bertemu dengan seseorang yang mengenal dirinya, Andika berencana akan membawa Kesya ke luar negeri. Orang tuanya tinggal di Dubai, dia akan menyusul mereka ke sana dan hidup bersama Kesya .


Dengan meninggalkan Indonesia, Andika berharap Kesya tidak akan pernah ingat masa lalu dia, dan hanya hidup untuk dirinya. Sebenarnya bisa saja Andika mengaku sebagai suami Kesya, toh Kesya juga lupa ingatan, tetapi Andika tidak mau hidup seperti itu. Dia ingin memiliki Kesya secara utuh, suka rela dan atas kesadaran kesya sendiri bukan karean tipuan atau kebohongan.


" Aku tidak menipunya, aku hanya menghindarkan dia untuk berkumpul dan kembali bersama masa lalunya, aku akan menjadi masa depannya " monolog Andika pada dirinya sendiri.


" Aku akan membahagiakanmu, aku janji, cukup kau lupakan calon suami kamu" bathin Andika.


" Apapun yang kamu mau. Aku pasti berikan. Asal kamu janji padaku. Kamu tidak akan pernah meninggalkan aku" pinta Andika. Amelia menangkap aroma obsesi dalam suara Andika,seketika bulu kuduknya berdiri. Hati Amelia seakan bergetar seakan ingat dengan ketakutan itu. Di alam bawah sadarnya dia mengingat saat Silvia begitu terobsesi dengan Ilham. Perasaan seperti itu kini yang dirasakan oleh Amelia.


" Jadilah Amelia untuk selamanya, bagiku dan hanya untukku" Amelia merasa agak ngeri- ngeri disko melihat Andika seperti itu.


" Maafkan aku, bisakah sekarang kau belikan?Aku tidak bisa pergi keluar tanpa jilbab dan cadar ku " Andika menelpon asistennya lalu dia meminta asistennya untuk membelikan apa yang tadi Amelia inginkan.


" Beli di butiq keluarga ku, ingat, pilih yang paling bagus dan paling mahal" pesan Andika lalu menutup panggilan telepon.


" Pakaian yang biasa saja, tidak apa-apa yang penting nyaman" Andika sudah jatuh cinta pada Kesya. Dia tidak mau kehilangan Kesya.


" Aku tidak suka nama Amelia, bagaimana kalau namamu aku ganti menjadi Kesya?" Andika mencoba memancing memory Kesya. Tapi dia menangkap biasa saja pada ekspresi nya.


" Jangan sembarangan ganti nama. harus potong kambing loh" Andika tersenyum. Ternyata Amelia bisa bercanda juga.


" Baiklah mel, kalau kamu memang suka na itu. Maka aku akan memanggil namamu Amelia " Amelia tersenyum tidak lama kemudian, Asisten Andika datang dengan membawa pesanan Amelia.


" Sementara gunakan dulu ini. Nanti kita ke butiq bersama untuk membeli pakaian untuk sehari-hari kamu,kamu bisa memilih sendiri pakaian yang kamu mau" Andika keluar kamar, memberi waktu untuk Amelia berganti pakaian.


Amelia pergi ke kamar mandi dan mengganti pakaiannya dengan pakaian muslimah yang tadi di bawakan oleh asisten Andika.


"Astagfirullah, satu pakaian saja seharga lima juta" Amelia bergidik melihat harga pakaian yang ada ditangannya saat ini, merasa ragu apakah akan memakainya atau tidak.


" Kalau tidak aku pakai. Aku sangat malu untuk bertemu orang lain yang bukan muhrimku tanpa hijab dan cadar" pergolakan terjadi dalam hati Amelia. Sampai akhirnya ketukan pintu berbunyi Andika sudah tidak sabar sepertinya.


"Masih lamakah? Kamu hanya mengganti pakaian loh, bukan aku suruh jahit pakaian" Andika berseru di balik pintu.


" Iya, sebentar! " Sahut Amelia.


" Aku hanya menggunakan ini, tidak apa-apa, sepertinya Andika itu orang kaya , mungkin baginya uang segini hanya buat beli kacang rebus saja" Amelia mencoba memberi sugesti pada dirinya sendiri agar mau menggunakan pakaian yang tadi di bawa oleh asisten Andika.


Setelah selesai Amelia kemudian membuka pintu kamar mandi, Andika dan asistennya sungguh terpesona dengan Amelia. Walaupun sekarang dia berhijab, bahkan bercadar , malah membuat kecantikannya semakin bersinar.


Andika tidak tahu harus berkata apa, hatinya makin mantap untuk membawa pergi Amelia ke Dubai dan menjauhkan Amelia dari masa lalunya. Dengan tidak bertemu maka ingatan itu tidak akan pernah kembali, dan dia tidak akan pernah kehilangan Amelia atau Kesya .