
Setelah resmi bercerai dengan Ilham, Laila kembali kepada kedua orang tuanya. Kedua orang tua Laila sangat kecewa karena Laila bercerai dengan Ilham.
"Kamu itu perempuan bodoh! Sudah bersuamikan seorang Kyai, kok banyak tingkah! Sekarang kau sudah bercerai, apa yang akan kau lakukan?" Ayah Laila sangat marah.
"Kamu itu loh Laila, jadi istri ada-ada aja! Punya seorang suami Kiai yang santrinya ribuan orang. Seharusnya kamu tuh jaga diri kamu, memperbaiki diri Kamu, berusaha untuk mensejajarkan dirimu dengan suamimu!" ucap Ibunya.
"Kalian bisa berhenti nggak ngomel-ngomel terus? Dari tadi Kepalaku pusing tahu nggak sih? Dari tadi kalian nggak mau berhenti! Aku pulang ke rumah ini tuh, ingin istirahat bukan untuk diomel-omelin terus!" sungut Laila kesal, lalu pergi ke kamarnya.
"Tuh lihat! Kelakuan anak kamu! Pantas saja dia diceraikan sama Kiai Ilham, nggak punya sopan santun sama sekali, sama orang tua berani-beraninya bentak-bentak! Akibat didikan Mamah itu, yang selalu memanjakan anakmu sehingga anakmu jadi tidak punya aturan sama sekali!" ucap Ayah Laila dengan kemarahan yang tidak bisa dibendung lagi. Sementara itu istrinya hanya bisa menatap sang suami yang sejak kepulangan Laila terus marah-marah. Ibunya Laila kehabisan akal untuk menenangkan suaminya yang sangat kecewa dengan anak mereka.
"Sudah sih kenapa? Laki-laki Itu nggak cuma Ilham! Kyai di dunia itu bukan cuma Ilham! Banyak Kiai di dunia ini!" Laila sudah hilang sabar karena di marahin terus oleh ayahnya.
"Selama kamu belum memperbaiki diri kamu, tidak akan ada laki-laki yang mau menikahi kamu! Kau dengar itu Laila?" ucap ayahnya.
"Kita lihat aja nanti yah! Apakah ada laki-laki yang mau menikah dengan Laila?" Laila kemudian mengunci kamarnya. Menyalakan musik kesukaannya dengan keras.
Sifat asli Laila sebelum menikah dengan Ilham kembali lagi. Gadis urakan dan manja yang selalu hidup dengan kemauannya sendiri. Laila cuek yang selalu hidup tanpa memperdulikan perasaan orang lain.
"Kenapa sih itu, Ayah sama Mama? Kayanya mendewakan banget Mas Ilham! Padahal Mas Ilhan itu laki-laki biasa aja! Kaya juga nggak, tampan juga biasa aja! Masih kalah tampan kemana-mana kalau di bandingkan dengan Andika Abimana. Aku pasti akan bahagia kalau bisa menikah dengan pria tajir melintir kaya dia!" mata Laila berbinar karena membayangkanmemiliki seorang Andika Abimana.
"Kenapa sih, Kesya hidupnya beruntung banget! Lepas dari Mas Ilham, malah jadi istrinya Andika Abimana. Kesya menjadi seorang ibu-ibu sosialita yang sok keren, sok cantik, dilihat kemana-mana, aku lebih bagus 1000 x dari dia!" cibir Laila penuh dengan iri dengki.
"Yah karena perjalanan ke Dubai tersebut, membuat mata Laila silau dengan segala kemewahan yang dimiliki oleh Andika Abimana. Hasrat liar Laila terbangkitkan ingin memiliki semua kemewahan itu. Ada keinginan dalam diri Laila untuk merebut Andika dari tangan Kesya!
"Tapi gimana caranya ya, Andika itu kan ada di Dubai! Sementara aku, ada di Indonesia! Gimana aku bisa ngerebut dia dari Kesya? Duh pusing banget sih! Susah ya ternyata, pengen punya suami orang kaya raya!" dari tadi Laila sibuk bermonolog sendiri. Tidak mendengarkan teriakan kedua orangtuanya yang merasa terganggu dengan suara musiknya yang keras.
"Anak kamu betul-betul keterlaluan! Betul-betul tidak menghargai orang tuanya sama sekali!" sekali lagi ayahnya Laila menggedor pintu kamarnya Laila.
"Ayah tuh malu sekali Mah! Sama tetangga-tetangga kita! Karena gara-gara Laila diceraikan oleh Kyai Ilham, mereka jadi banyak membicarakan kita dan menggunjing kita."
"Ya udah sih, udah! Ayah biarin aja! Itu kan mulut-mulut mereka sendiri! Kenapa sih Ayah harus pusing memikirkan mereka? Yang penting tuh pikirin kesehatan Ayah! Jangan sampai nanti sakit Mama belum mau jadi janda, loh!" istrinya lalu memeluk ayahnya Laila dengar penuh cinta.
"Bukannya Mama senang kalau Ayah meninggal? Mama kan jadi bisa menikah lagi sama brondong-brondong!" cicit Ayahnya Laila dengan muka cemberut.
"Makanya Ayah harus sehat, harus panjang umur! Biar nanti Mama nggak perlu untuk menikah lagi sama brondong-berondong! Ayah ngerti nggak?" ucap istrinya sambil mencubit mesra sang suami.
"Hidup dan mati itu kan kuasa Allah, Mah! Walaupun bagaimana kita berusaha untuk umur panjang, kalau Allah menyuruh kita untuk cepat mati, ya kita pasti mati!" ujar suaminya sambil mengelus rambut istrinya yang telah mendampingi dirinya lebih dari lima puluh tahun.
"Seandainya saja Laila seperti Mama, menjadi seorang istri yang sholehah! Pasti Kyai Ilham tidak akan pernah menceraikan dia. Ayah sedih loh Mah! Kehilangan seorang menantu hebat seperti Kiai Ilham. Seorang menantu yang membuat Ayah bangga. Sekarang yang tersisa hanya rasa malu, setelah Kyai Ilham menceraikan anak kita!" ucap ayahnya Laila dengan sedih. Istrinya kemudian memeluk sang suami berusaha untuk menghibur hati suaminya. Yang saat ini sedang kecewa, sedang marah sedang gundah, karena masalah perceraian anak mereka.
Sementara itu di kamarnya, Laila sedang asyik mengobrol dengan seorang pria, dari masa lalunya. Pria yang pernah menjadi kekasih di masa SMA.
"Jadi Mas sekarang sudah tidak punya istri lagi? Sama Mas aku juga baru bercerai dari suamiku! Suamiku itu orangnya nggak asik Mas! Bosenin hidup dia itu, cuman Ngaji, Ngaji, Ngaji, Ngaji dan ngaji Aku bosen tahu Mas, hidup sama dia! Makanya aku minta cerai dari dia!" dusta Laila. Padahal sewaktu Ilham mengatakan niatnya untuk menceraikan dirinya, Laila menangis dan memohon supaya tidak diceraikan.
"Ya udah kita berdua ketemuan lagi aja yuk! Mas juga kangen nih sama kamu, udah lama ya kita nggak bertemu!" ucap Pria di sebrang sana.
Laila tidak sadar bahwa dirinya sedang menjadi incaran seorang laki-laki buaya darat. Laki-laki yang sebenarnya masih mempunyai seorang istri dan memiliki dua orang anak. Laki-laki itu masih menyimpan rasa penasaran karena dulu Laila memutuskan dirinya tanpa alasan.
"Aku akan membalaskan rasa sakit di hati ini sama kamu Laila! Akan aku buat kamu klepek-klepek di bawah kakiku!" ucap Pria, setelah telpon Laila dia matikan.
Pria itu sedang melakukan perjalanan bisnis di luar kota. Makanya dia berani berteleponan mesra dengan seorang wanita lain. Kalau di rumahnya dia akan berubah menjadi seorang laki-laki sholeh, laki-laki yang mencintai anak dan istrinya. Tetapi kalau di luar rumah akan lain ceritanya. Laki-laki itu berubah menjadi laki-laki buaya darat yang mengincar kecantikan wanita untuk menjadi korbannya.