Assalamualaikum Ustadz Ku

Assalamualaikum Ustadz Ku
104. Kedatangan Kedua Orang Tua Firman



Mari kita tinggalkan dulu keluarga Andika dan Kesya yang saat ini sedang mengalami kepelikan dan kesulitan. Gara-gara seorang Maria yang sudah berani sekali menganiaya Cakra Abimana. Hingga hampir mati karena di lelepkan ke Bathtub oleh pengasuhnya yang jahat itu.


Mari kita menengok Rasya dan Shafa, beserta kedua orang tua Firman. Yang kini sedang bersiap-siap untuk datang ke Indonesia dalam rangka memisahkan firman dan Laila.


"Nek, apakah Nenek senang, bisa kembali ke Indonesia? Kan sudah lama sekali Nenek dan Kakek tidak pulang ke Indonesia. Mungkin lebih dari 10 tahun. Rasya aja, kalau rindu sama kalian harus berangkat ke Amerika!" Lirih Rasya kedua Nenek dan Kakeknya hanya terkekeh pelan.


"Kakek tentu saja senang dan bahagia! Pulang lagi ke Indonesia. Tapi, dalam keadaan seperti ini, bagaimana hati kami bisa tenang? Ayahmu yang menikah lagi tanpa persetujuan Ibumu, itu mengganggu perasaan kami. Sehingga kami tidak bisa melihat kebahagiaan itu!" ucap Neneknya Rasya sambil melirik sekilas ke arah Syafa yang saat ini sedang pulas. Tampaknya Syafa kelelahan.


"Mamamu pasti sangat menderita, ketika mengetahui suaminya menikah lagi. Nenek bisa merasakan perasaan semacam itu. Karena Nenek juga seorang wanita. Tidak mungkin Nenek tidak bisa mengerti perasaan Mamamu! Yang pasti merasa sangat sakit dan pedih saat ini!" ayahnya Firman tampang melirik sekilas kepada istrinya.


"Sudah, Mah! Kau tidur saja! Enggak usah membicarakan yang aneh-aneh! Rasya masih kecil! Jangan dicekoki pikiran-pikiran yang tidak benar. Sudah! Mama sebaiknya tidur saja! Rasya kau juga tidur! Apa kau tidak lelah, huh? Melakukan perjalanan begitu panjang. Lihatlah Mamamu! Dia tanpa lelap sekali. Kau tidur juga! Karena kakek juga ingin tidur!" ucap Kakeknya final, tidak mau di ganggu lagi.


Rasya dan Neneknya akhirnya mengikuti perintah sang Kakek! Karena tidak ingin membuat masalah dengan beliau. Ya! Apalagi tubuh mereka juga merasakan lelah, setelah mengalami perjalanan panjang Amerika menuju Indonesia. Mereka akhirnya memutuskan untuk tidur.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sementara itu, Firman dan Laila yang sedang berbahagia karena tidak mendapatkan gangguan dari anak dan istrinya Firman lagi. Firman tampaknya belum tahu, kalau Syafa dan Rasya sedang pergi ke Amerika.


"Kita ke rumah sakit ya? Memeriksakan kehamilanmu! Mas sudah tidak sabar ingin memiliki anak darimu!" ucap Firman sumringah. Merasa sangat bahagia karena akan menjadi ayah dari anak yang sedang di kandung oleh Laila.


Saat ini, Laila sedang mengandung anak pertama dan usia kandungannya baru sekitar 2 minggu. Firman sangat excited banget, mengetahui hal tersebut. Firman selalu memanjakan Laila. Apapun keinginannya, selalu dituruti. Laila benar-benar menjadi ratu di hatinya Firman. Laki-laki yang selalu mencintainya, sejak dulu hingga sekarang.


"Mas! Biasa aja sih, kenapa? Jangan berlebihan! Bayi Ini kan baru 2 minggu, jadi saya cukup minum susu saja. Enggak usah terlalu sering ke Dokter! Nanti malah jadi bikin malu, tau nggak sih?" protes Laila karena Firman yang selalu saja, setiap minggu selalu mengajaknya untuk kontrol ke rumah sakit. Sungguh benar-benar membuat pusing kepala Laila.


"Tapi kesehatan kamu itu penting! Anak kita juga penting! Dan kalau kita rajin kontrol, kalau ada apa-apa kita bisa langsung tahu!" kekeuh Firman memaksa kepada Laila.


"Serah Mas deh! Pusing juga bicara denganmu! Kau tidak pernah mau mengalah pada siapapun! Selalu saja maunya menang sendiri!" cicit Laila akhirnya mengalah juga.


Laila malas dan paling malas berdebat dengan Firman. Karena Firman yang ngeyel orangnya. Nggak bisa lagi dibilangin. Kalau dia sudah berpendirian, maka tidak akan bisa dirubah apapun. Laila hanya cemberut saja sepanjang perjalanan ke rumah sakit.


"Apa Mas kayak gini juga? Ketika istri pertama Mas mengandung? Risih terus, mengganggu untuk kontrol rumah sakit?" tanya Laila kesal.


"Mas itu aneh benget, sih! Impianmu kok punya anak bersama saya? Impian tuh menjadi Dokter, menjadi pengusaha, menjadi orang kaya, menjadi apa kek, gitu, impianmu tuh aneh!" cibir Laila yang habis pikir dengan pemikiran sang suami saat ini.


"Mas tidak tertarik sama sekali untuk menjadi seorang Dokter! Mas sudah menjadi pengusaha. Mas juga sudah menjadi orang kaya. Mas sudah memiliki semua itu. Yang Mas inginkan, hanyalah memiliki anak darimu. Kau paham? Hanya itu impian Mas sejak dulu!" ucap Firman dengan mata berbinar-binar sambil fokus menyetir.


"Kenapa?" tanya Laila Lirih.


"Karena aku sangat mencintaimu Laila! Karena aku ingin memiliki ikatan yang tidak terpisahkan bersamamu. Setelah kita memiliki anak, maka tidak akan ada siapapun, yang bisa memisahkan kita berdua! Termasuk kedua orang tuaku sekalipun!" ucap Firman dalam mode seriusnya. Laila menggelengkan kepalanya.


"Mas pengen memiliki anak dariku, hanya ingin mengikat aku, kan? Biar aku nggak pergi ninggalin kamu? Mas betul-betul licik! Tau nggak sih?" sengit Laila jengkel.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Laila, Firman malah tertawa terbahak-bahak. Merasa sangat senang, melihat Laila yang sudah kembali ke masa saat-saat dulu, ketika mereka bersama. Di masa putih abu-abu. Laila yang manja, Laila yang selalu membuat dirinya tertawa dan bahagia. Laila yang selalu menyebarkan aura positif terhadap dirinya dan lingkungan sekitarnya.


Setelah mereka sampai di rumah sakit, Firman langsung menggenggam tangan Laila. Seakan takut kehilangan Laila. Laila hanya mengikuti apa yang diinginkan oleh suaminya. Laila paling malas berdebat. Paling malas ribut. Karena memang tidak ada gunanya juga.


"Dokter, kami ingin memeriksa perkembangan anak kami saat ini!" ucap Firman sumringah.


"Wah! Suami Ibu Laila ini tampaknya sama excited banget dengan kehamilan ibu. Setiap minggu selalu datang. Pak! Memeriksakan kehamilan itu, cukup satu bulan sekali! Tidak perlu Memeriksakan kehamilan seminggu sekali!" ucap Dokter tersebut menjelaskan.


"Sudah saya katakan seperti itu, Bu Dokter! Tapi dia itu memang orangnya ngeyel. Susah kalau dibilangin. Udah! Biarkan aja, Sok! Nggak apa-apa! Nanti juga dia bosan sendiri!" sengit Laila merasa malu.


"Saya hanya khawatir dengan keadaan istri dan anak saya saja, Dokter! Nggak ada maksud apa-apa. Udah, cepet! Periksa anak saya dan istri saya!" ucap Firman tidak sabar.


Dokter yang memeriksa kandungan Laila hanya tertawa saja. Ketika melihat tingkah Firman yang luar biasa itu. Memang tidak banyak, laki-laki yang begitu exciting dengan kehamilan istrinya. Dan dia cukup bangga melihat Firman yang peduli dan selalu setia mendampingi istrinya ke rumah sakit dalam rangka memeriksakan kehamilannya.


"Bu Laila harusnya bahagia, Bu! Tidak banyak laki-laki seperti Pak Firman ini! Yang begitu peduli dengan kehamilan istrinya. Biasanya, Bu! Laki-laki itu kan, hanya peduli dan suka buatnya aja! Tapi tidak peduli ketika istrinya sedang hamil. Dan rata-rata, mereka malah sibuk selingkuh di luar sana!" kesal ibu Dokter itu.


Tampaknya Dokter tersebut memiliki pengalaman pribadi, sehingga Laila bisa menangkap aura kemarahan dalam suaranya tersebut. Seketika Laila merasa mencelos hatinya, karena saat ini, statusnya sebagai istri kedua Firman, sama saja dengan selingkuhan Firman dari istri pertamanya.