Assalamualaikum Ustadz Ku

Assalamualaikum Ustadz Ku
223. Apa bisa?



Setelah selesai makan siang. Mereka pun kemudian kembali ke rumah masing-masing tampak Syafa yang mengantarkan Arman ke taman bermain untuk mengambil mobilnya yang tadi ditinggalkan oleh Arman di sana.


" Nanti malam aku akan datang ke rumahmu! Apakah diperbolehkan?" tanya Arman sambil menatap kepada siapa yang tampak fokus melihat ke depan.


" Datanglah Om ke rumah kami. Nanti kita bisa main playstation bersama!" ucap Rasya dengan binar kebahagiaan di matanya.


" Bagaimana Om mau datang kalau ibumu tidak mengizinkan Om untuk berkunjung ke sana?" tanya Arman merasa sungkan untuk menjawab pertanyaan Rasya.


" Datang saja tidak apa-apa. Aku tidak pernah melarang siapapun untuk bersilaturahmi ke rumahku!" ucap Syafa.


" Baiklah kalau begitu kita nanti malam akan main playstation jagoan!" ucap Arman sambil melakukan tos dengan Rasya.


" Baiklah sekarang Om akan pulang karena Om harus mempersiapkan diri untuk nanti malam!" ucap Arman berpamitan kepada Syafa dan Rasya.


Setelah Arman meninggalkan mereka berdua tampak Syafa yang terus terdiam tidak ingin mengatakan apapun kepada putranya.


" Katakan pada Mama. Apakah kau benar-benar menyukai Om Arman?" tanya Syafa kepada putranya.


" Iya Mah Rasya ingin agar mama bisa bersama dengan om Arman!" Rasya mengatakan keinginannya tentang Arman.


" Mama tidak tahu kenapa kau bisa berpikiran tentang ini. Tapi yang jelas itu akan sangat sulit Rasya. Mamamu ini seorang janda yang memiliki anak seusia kamu dan dia adalah seorang single yang pasti memiliki banyak fans dan mempunyai banyak penggemar. Rasya Mama tidak akan sanggup untuk bersaing dengan mereka semuanya!" ucap Syafa menerangkan segalanya kepada Rasya.


" Percayalah Om Arman tidak pernah memandang hal seperti itu dia benar-benar tulus mencintai mama dan ingin membuat Mama sebagai wanita satu-satunya di dalam hidupnya!" Ucap Rasya dengan penuh percaya diri dan juga penuh pengharapan bahwa mamahnya akan menerima seorang Arman di dalam kehidupannya.


" Mama masih trauma dengan sebuah hubungan Rasya Mama tidak mau lagi mengulang kejadian silam yang benar-benar menyakitkan hati Mama!" ucap Syafa menundukkan kepalanya.


" Rasya tahu kalau mama sangat menderita akan kelakuan Papa yang sudah menelantarkan kita dan lebih memilih tante Laila tapi mama harus tetap melanjutkan hidup Mama jangan selalu terpuruk dengan masa lalu!" ucap Rasya berusaha untuk meyakinkan ibunya agar bisa bangkit kembali dan melupakan masa lalu yang begitu pahit di dalam hidup mereka.


" Semua itu masa lalu mah! Bangkitlah dan Mari kita menjemput sebuah kehidupan baru dengan menerima Om Arman sebagai calon suami mama!" Ucap Rasya dengan penuh harapan.


" Apa kau ingat kalau kau sekarang menggantikan ayahmu sebagai pewaris dari keluarga Ardiansyah kalau kakekmu mendengar Mama menikah dengan laki-laki lain pasti dia akan marah dan merasa tersinggung!" ucap Syafa.


" Untuk urusan itu Mama Tenanglah nanti Rasya yang akan bicara dengan kakek!" ucap Rasya tersenyum kepada ibunya.


" Tapi mama benar-benar belum siap untuk menerima kehadiran seorang laki-laki baru dalam hidup Mama. Mama sedang menikmati kesendirian Mama tanpa seorang suami dan hidup hanya berdua denganmu Rasya!" ucap Syafa kepada Rasya.


" Percayalah mah Rasya pasti akan menyayangi Mama dengan setulus hati!" ucap Syafa.


" Asal Mama tahu! Om Arman sewaktu berada di restoran sudah merencanakan untuk melamar mama. Mungkin nanti malam dia akan merealisasikan semua mimpinya untuk menjadikan Mama sebagai istrinya!" ucap Rasya membocorkan sedikit rahasia Arman.


" Sudahlah Rasya kau jangan berbicara yang aneh-aneh. Tidak mungkin Om Arman itu mencintai mama. Mama tidak percaya sama sekali!" ucap Syafa sambil bergegas masuk ke dalam kamarnya dan beristirahat.


Sementara itu Rasya tampak menelepon seseorang.


" Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh!" ucap Rasya mengucapkan salam kepada seseorang.


" Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh. Ada apa cucu kakek tercinta? Ko tumben kau menelpon kakek?" tanya kakaknya Rasya dari seberang sana.


" Kakek apakah bisa kalau sekarang kita bertemu?" tanya Rasya kepada kakeknya.


" Boleh sayang! Tentu saja boleh kau ingin bertemu di mana?" tanya kakeknya Rasya.


" Kakek sekarang ada di mana?" tanya Rasya.


" Kakek ada di rumah. Memangnya kenapa?" tanyanya kepada sang cucu yang sudah lama tidak menghubunginya.


" Baiklah kakek tunggu ya? Tasya sebentar lagi akan meluncur ke rumah kakek!" Ucap Rasya kepada kakeknya dan dia langsung menutup telepon tersebut.


Setelah menelpon kakeknya. Rasya pun kemudian mandi dan mengganti pakaiannya. Setelah itu dia keluar dari kamar dan menemui ibunya yang tampak masih terlelap di dalam tidurnya.


" Apakah Mama sedang tidur?" tanya Rasya ketika dia masuk ke dalam kamar ibunya yang tidak dikunci.


" Mah Mama, bangun Mah! Rasya mau pergi dulu ya!" Rasya berusaha menggoncangkan tubuh ibunya.


" Hmmmm, hati-hati di jalan!" ucap Syafa dengan tetap menutup matanya.


" Apakah mama mau ikut bersama dengan Rasya?" tanya Rasya kepada ibunya.


" Memangnya kenapa kau mau pergi ke mana?" tanya ibunya Rasya kepada Putra tercintanya.


" Hati-hatilah di jalan. Pergilah bersama sopir jangan naik taksi. Karena Mama tidak akan mengizinkan kamu pergi!" ucap Syafa sambil meneruskan tidur siangnya.


" Baiklah Mama Rasya pergi dulu ya!" Rasya pun kemudian pergi keluar rumah dan mencari sopir yang sudah ditugaskan oleh kakeknya Untuk mengantarkan mereka berdua bila ada keperluan keluar rumah.


" Mang ayo antarkan saya ke rumah kakek!" Ucap Rasya kepada sopir pribadi mereka.


" Kenapa? Apakah Den Rasya ada keperluan untuk bertemu dengan Tuan besar?" tanya Mang supri kepada Rasya.


" Iya Mang. Saya ada keperluan untuk bertemu dengan kakek Ayo cepat Nanti keburu terlambat!" ucap Rasya.


Mang Supri kemudian mengantarkan Rasya ke rumah utama kediaman keluarga Ardiansyah.


Setelah sampai Rasya langsung menemui sang kakek yang sudah menunggunya di ruang tamu.


" Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh!" ucap Rasya mengucapkan salam kepada kakeknya.


" Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh!" ucap sang Kakek.


" Apa kabar kakek?" tanya Rasya sambil mencium telapak tangan kakeknya.


" Kakek baik-baik saja Sayang. Bagaimana denganmu dan juga ibumu?" tanya Ardiansyah kepada cucu.


" Kek kami baik-baik saja. Kakek tidak usah khawatir dengan kami berdua. Sekarang mama sudah semakin pulih kondisinya dan juga sudah mulai bisa tersenyum. Serta hidup normal seperti dahulu kala sebelum Papa meninggalkan mama!" ucap Rasya kepada kakeknya.


" Syukur alhamdulillah kalau seperti itu Rasya.


Kakek sangat bahagia!" ucap sang Kakek sambil tersenyum kepada cucunya.


" Katakan pada kakek sayangku. Apa kebutuhanmu untuk bertemu dengan kakek? Karena tidak biasanya kamu meminta untuk bertemu dengan kakek!" ucap Ardiansyah.


" Apakah kakek keberatan Kalau Mamahku menikah lagi?" tanya Rasya to the point dengan apa yang dia ingin diskusikan dengan kakeknya.


" Apakah mamamu ada niat untuk menikah lagi?" tanyanya.


" Iya kek ada seorang laki-laki yang sedang mendekati mama dan dia berniat untuk menikahi mama!" ucap Rasya.


" Siapa nama laki-laki itu? Apakah kakek boleh tahu atau mungkin kau mempunyai fotonya? Biar kakek melihat dan menyelidiki tentang laki-laki itu. Supaya mamamu jangan sampai hanya dimanfaatkan saja untuk menikmati kekayaan yang sudah Kakek limpahkan kepadamu!" ucap Ardiansyah kepada Rasya.


" Tidak Kek Rasya yakin kalau Om Arman tidak akan melakukan itu!" ucap Rasya dengan penuh keyakinan.


" Siapa nama laki-laki yang sedang mendekati ibumu?" tanya Sang Kakek terkejut.


" Arman Ardiansyah kek!" ucap Rasya.


" Kenapa namanya begitu familiar?" tanya Ardiansyah kepada Rasya.


" Apakah Rasya mempunyai foto om Arman biar kakak lihat dia siapa tahu Kakek kenal dengan nama laki-laki itu!" ucap Ardiansyah kepada cucunya.


Rasya kemudian mengambil ponselnya dan menunjukkan foto yang tadi siang mereka ambil di taman bermain.


" Ini kek fotonya baru saja diambil tadi siang. Ketika kami sama-sama bermain di taman bersama dengan Mama juga!" ucap Rasya.


" Coba kakek mau lihat!" ucap Ardiansyah sambil mengambil ponsel dari tangan Rasya dan dia menggunakan kacamata bacanya agar bisa melihat foto itu dengan jelas.


Ardiansyah terkejut ketika dia melihat Arman putranya yang ada di dalam foto itu.


" Bagaimana kalian bisa mengenal laki-laki ini?" tanya Ardiansyah merasa tidak percaya dengan apa yang dia lihat.


' Ya Allah apa yang terjadi di sini Kenapa Arman bisa mengenal Rasya dan Syafa?' Ardiansyah dengan mata terbelalak kaget.


" Ada apa Kek? Apakah Kekek mengenal Om Arman?" tanya Rasya merasa heran dengan ekspresi sang kakek yang terkejut ketika dia menunjukkan foto Arman bersama dirinya dan sang ibu.


" Ceritakan pada kakek. Bagaimana caranya kamu bisa mengenal Arman yang ada di dalam foto itu?" tanya Ardiansyah kepada Rasya.


" Itu merupakan pertemuan yang tidak disengaja. Mama yang pertama bertemu dengan om Arman!" jawab Rasya.