
Setelah acara pemakaman selesai, Arman segera pergi dari kediaman keluarga ayah kandungnya. Arman memutuskan bahwa dia tidak ingin menemui ayah kandungnya.
"Kenapa kau tidak ingin menemui Ayah kandungmu sendiri Arman?" tanya Nindya, sekretaris ibunya Firman.
"Dia sudah memutuskan untuk membuangku dan juga ibuku. Biarkanlah seperti itu. Aku tidak akan mengganggu kehidupannya!" ucap Arman kemudian dia pun berlalu dari hadapan Nindya.
Ayahnya Firman sebetulnya mengetahui keberadaan Arman saat itu. Hanya saja dia berusaha untuk mengendalikan dirinya agar tidak mendekati putranya yang lain.
"Pah, untuk acara tahlilan nanti malam, bagaimana? Apakah Papa siap untuk melaksanakannya?" tanya Firman.
"Syafa akan mengurus semuanya kau tidak usah khawatir!" ucap Ayahnya.
Firman tampak melirik ke arah Syafa sejenak, tampak berpikir. Tetapi kemudian akhirnya memilih untuk pergi dari rumah itu.
"Ada apa, Pah? Apakah mas Firman tidak suka kalau saya mengurus acara tahlilan mama?" tanya Syafa kepada ayah mertuanya.
Bagaimanapun perceraian mereka memang belum diketok palu oleh pengadilan. Bahkan pengadilan pun belum memanggil mereka berdua untuk sidang. Perceraian mereka masih dalam proses. Shafa masih berstatus sebagai menantu di kediaman itu.
"Papa sebaiknya istirahat. Kelihatannya Papa sangat lelah sekali. Sejak tadi malam kan, Papa belum beristirahat sama sekali!" ucap Syafa. Menasehati ayah mertuanya.
"Syafa! Terima kasih karena kamu mau mengurusi Pemakaman dan juga tahlilan mama mertua kamu!" ucap ayahnya Firman dengan suara sendunya.
"Iya Pah! Tidak apa-apa. Selama ini kan mama selalu baik terhadap Syafa dan Rasya. Biarlah ini menjadi persembahan terakhir dari Syafa untuk Mama!" ucap Syafa dengan berderai Air Mata. Tampak kesedihan di matanya.
"Kalau seandainya Syafa tidak menjemput Papa dan Mama di Amerika. Apakah mungkin, Mama sekarang masih hidup Pah?" tanya Syafa menerawang jauh Keluar sana.
"Sudahlah! Hentikan semua omong kosong kamu. Yang namanya takdir Allah itu tidak bisa kita ganggu gugat. Maut sudah ada yang mengaturnya!" ucap ayahnya Firman sambil menatap tajam ke arah Syafa.
"Ya, Sudah! Papa istirahat ya? Syafa akan menyiapkan untuk acara nanti malam!" kemudian Syafa pun meninggalkan Ayah mertuanya di kamarnya.
Setelah Syafa pergi meninggalkannya. Ayahnya Firman menatap seisi ruangan tersebut. Beliau kembali mengingat saat-saat terakhir dirinya bertemu dengan istrinya.
"Kenapa kamu mengambil keputusan sendiri?Padahal aku tidak masalah dengan apa yang sudah kau lakukan selama ini. Aku berterima kasih padamu, karena sudah mengurus mereka berdua tanpa sepengetahuanku. Kenapa kau begitu berpikiran sempit dengan mengakhiri hidupmu seperti itu?" ucapnya dengan berderai air mata.
"Sekarang Katakan padaku. Apa yang kau harus kulakukan. Setelah Kepergianmu?" ucap ayahnya Firman lagi.
"Aurora! Bukan tanpa alasan aku lebih memilihmu daripada Sintia. Bukan tanpa alasan Aku lebih memilih untuk menetap di hatimu. Karena aku memang mencintaimu. Bagiku Sintia hanyalah kesalahan kecil yang kusesali sampai sekarang!" ucap ayahnya Firman sambil menatap foto sang istri.
"Aurora semoga kamu di sana bisa tenang dan menemukan kebahagiaanmu. Maafkan Aku yang tidak bisa membahagiakanmu di dunia ini!" ucapnya dengan berderai air mata.
"Kakek, ini Rasya! Apakah boleh masuk?" ucap Rasya sambil menunjukkan kepalanya di ambang pintu.
Ayahnya Firman langsung menghapus air matanya dan kemudian menyuruh Rasya untuk masuk ke kamarnya.
"Rasya izin sekolah, kek! Rasya kan, juga ingin menyaksikan pemakamannya nenek untuk yang terakhir kali!" ucap Rasya sambil memeluk sang kakek.
"Anak baik! Terima kasih ya? Karena udah mau menemani Kakek di sini. Kakak yakin, nenekmu pasti senang mempunyai cucu seperti kamu!" ucapnya sambil tersenyum melihat cucunya.
"Ya kek, Rasya pasti akan selalu menemani kakek. Mggak usah khawatir ya? Mulai sekarang Rasya akan selalu menemani kakek!" ucap Rasya sambil memeluk kakeknya.
Sementara itu Firman yang kini berada di rumahnya bersama dengan Laila, tampak kesal karena ayahnya mempercayakan semua keperluan tahlilan ibunya kepada Syafa, calon mantan istrinya.
"Kamu Kenapa Mas? Kok malah wajahnya ditekuk seperti itu?" Laila sambil mendekati sang suami.
"Tidak apa-apa. Sudahlah enggak usah dipikirkan. Bagaimana dengan kesehatanmu? Apakah bayi kita baik-baik saja?" tanya Firman sambil mengelus perut sang istri.
"Aku baik-baik saja, Mas! Jangan khawatirkan aku. Yang penting kamu harus jaga kesehatan kamu. Nggak boleh terlalu lelah, nanti sakit!" ucap Laila sambil memeluk suaminya.
"Kamu tidak apa-apa kan? Kalau di kediaman utama aku berdampingan dengan Syafa?" tanya firman kepada Laila. Laila hanya tampak terdiam sejenak. Kemudian menatap suaminya dengan lekat.
"Tidak apa-apa, Mas! Dia kan memang istri sahmu. Aku ini masih istri sirih kamu loh. Walaupun kamu mencintaiku, tetap saja status dia di mata umum maupun negara, jauh lebih tinggi. Dia jauh lebih berhak untuk berdiri di samping kamu di sana!" ucap Laila, sambil menggenggam tangan suaminya.
"Kalau kamu tidak hamil. Aku pasti akan membawamu ke sana. Hanya saja aku khawatir dengan kamu. Kalau memaksakan kamu untuk datang ke sana. Maafkan aku ya?" ucap Firman tampak murung.
"Sudahlah, Mas! Nggak usah dipikirkan. Aku ngerti kok semua kesulitanmu dan semua yang kamu pikirkan. Aku mengerti!" Laila kemudian menaruh kepalanya di dada sang suami. Firman mengelus rambut Layla dengan penuh cinta kasih.
"Aku hanya takut kalau nanti Syafa berpikir bahwa dia adalah nyonya di kediaman ayahku. Padahal aku sudah melayangkanku gugatan cerai untuknya!" ucap Firman.
"Kalau masih bisa ditarik, sebaiknya dibatalkan saja, Mas! Saya rasa Syafa juga tidak terlalu menginginkan perceraian itu!" ucap Laila kemudian.
"Tidak bisa! Aku menginginkan urusan ini cepat selesai dan menjadikanmu sebagai istriku satu-satunya!" ucap Firman dengan melebarkan matanya dan menatap Laila dengan tajam.
"Maafkan aku, kalau apa yang aku katakan telah membuatmu marah!" ucap Laila kemudian.
Firman kemudian beranjak dari duduknya dan pergi menuju ke kamar mandi. Firman akan bersiap-siap untuk pergi ke kediaman utama untuk tahlilan, dan juga mengirimkan doa untuk sang ibu.
"Kamu baik-baik di rumah ya? Kalau ada apa-apa harus pastikan untuk menelponku!" Firman sebelum pergi dari rumahnya.
"Jangan khawatir, Mas! Mama ada di sini menemaniku. Bukankah papa akan mengikutimu untuk tahlilan bersama di kediaman ayahmu?" tanya Laila sambil menatap sang suami.
"Apakah papa dan mama sudah datang ke sini?" tanya Firman kemudian.
"Mereka datang tadi ketika kau mandi. Ayo kita turun, mereka pasti sudah menunggu kita berdua!" Laila menggandeng lengan Firman dan turun ke bawah menemui kedua orang tuanya. Ayahnya Laila berniat untuk ikut bersama Firman ke kediaman utama, dalam rangka mengirimkan doa untuk besannya.