
Pagi itu, Rasyid mengajak Kyai Hamid dan istrinya untuk pergi ke rumah sakit untuk mengecek kesehatan keduanya.
Ketika nama keduanya dipanggil, Rasyid mendampingi kedua mertuanya untuk menjalankan check up kesehatan secara menyeluruh. Rasyid menganggap kedua mertuanya sebagai orang tuanya sendiri Oleh karena itu dia begitu telaten memperhatikan mereka berdua.
"Tidak apa-apa Rasyid, Abi bisa melakukan ini. Kau duduk saja di situ, dari tadi kau sepertinya sibuk sekali! Duduklah dulu beristirahat!" ucap Kyai Hamid.
"Baiklah Abi, kalau Abi butuh apa-apa. Tolong panggil saya ya?" Rasya di kemudian duduk di tempat yang tadi ditunjuk oleh Kyai Hamid sementara Kyai Hamid langsung masuk ke dalam ruangan untuk menjalankan semua tes yang dibutuhkan untuk check up tersebut.
"Semoga tidak ada penyakit serius yang diderita oleh mereka. Semoga saja mereka sehat, karena umat masih membutuhkan tenaga dan pemikiran dari mereka!" doa Rasyid sambil menatap ke atas langit dengan penuh pengharapan.
Ilmu agama di dunia ini diangkat oleh Allah dari adalah dengan cara meninggalnya para alim ulama yang mengerti ilmu agama, dan berjuang di jalannya untuk kemaslahatan umat. Jika itu benar-benar terjadi maka sumber kerugian bagi umat manusia.
Setelah sekitar 2 jam berada di dalam ruangan. Akhirnya kedua mertua Rasyid keluar dengan wajah yang kelelahan.
Bagaimana tidak kelelahan? Tubuh mereka yang sudah tua dan renta harus menjalani begitu banyak tes yang rumit dan panjang, tentu saja mereka akan kelelahan.
"Bagaimana abi, umi? Apakah semuanya baik-baik saja?" tanya Rasyid dengan penuh penasaran sambil menyambut kedatangan kedua mertuanya.
"Hasilnya satu minggu lagi baru akan keluar, ya sudah. Ayo kita pulang Abi lelah sekali!" jawab Kyai Hamid. Kemudian mereka bertiga pun meninggalkan rumah sakit untuk kembali ke pondok.
Sepanjang perjalanan, mereka semua diam, sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Sampai mereka akhirnya tiba di pondok.
"Baiklah Abi, Rasyid kembali ke kediaman dulu. Saya takut kalau Zahra mungkin sudah khawatir karena tadi kita lama di rumah sakit!" kemudian menyalami kedua mertuanya setelah itu langsung pergi dari sana menuju kediaman pribadinya.
Di sana Zahra langsung menyambut kedatangan suaminya, " Bagaimana dengan kesehatan Abi dan Umi?" tanya Zahra sambil mencium telapak tangan suaminya.
"Hasilnya baru keluar satu minggu lagi, kita doakan semoga semuanya baik-baik saja!" ucap Rasyid. Kemudian dia duduk di meja makan dan bersiap untuk makan siang bersama Zahra.
"Tadi kak Ahmad menelpon, katanya, nanti malam keluarganya akan sampai!" ucap Zahra menyampaikan berita tersebut kepada Rasyid.
"Alhamdulillah semoga mereka sampai ke Indonesia dengan sehat dan selamat!" Rasyid sambil menikmati makan siang yang sudah disediakan oleh istrinya.
Setelah selesai makan, mereka berdua kemudian tampak bersiap-siap untuk menjemput kakaknya Zahra beserta keluarganya yang akan datang dari Mesir.
"Berapa lama katanya Kak Ahmad akan tinggal di Indonesia?" tanya Rasyid kepada Zahra.
"Mereka akan tinggal di Indonesia selama satu minggu. Karena anak-anak sedang liburan, mereka merindukan Abi dan Umi. Oleh karena itu mereka kembali ke Indonesia!" jawab Zahra sambil melihat ke arah suaminya, yang kini tampak sedang berpikir serius.
"Menurutmu, apakah kak Ahmad mau menerima untuk melanjutkan tonggak kepemimpinan Pondok ini?" tanya Rasyid dengan suara pelan tanpa ada keraguan di dalam hatinya untuk menanyakan hal itu kepada istrinya.
"Mas tidak siap untuk menggantikan Abi! Tolong kau bantu Mas, untuk membujuk Kak Ahmad, agar mau melanjutkan memimpin pondok pesantren ini!" Zahra tanpa terheran dengan apa yang diucapkan oleh suaminya saat ini. Ada banyak ribuan pertanyaan di dalam hatinya. Tetapi dia urungkan untuk mengungkapkannya.
"Baiklah nanti akan Zahra coba untuk membujuk Kak Ahmad!" kemudian Zahra meninggalkan suaminya untuk membereskan dapur Serta peralatan makan yang telah digunakan oleh mereka berdua.
Ketika Rasyid berniat untuk masuk ke kamar, tiba-tiba saja Zaki berlari ke arahnya dan menangis. Sontak Zahra dan Rasyid merasa terkejut, ketika melihat Putra mereka yang kini tampak bersedih dan terus menangis tersedu-sedu.
"Zaki Kenapa kau menangis ada apa?" tanya Rasyid sambil memeluk tubuh putranya.
"Kakek, kakek jatuh pingsan! Cepat Ayah selamatkan kakekku!" ucap Zaki sambil menggoyang-goyangkan tubuh ayahnya. Dengan menangis dan air matanya terus mengalir tiada henti.
Zahra yang sedang sibuk mencuci piring di dapur, langsung berlari ke arah suami dan anaknya. Rasyid langsung mengangkat tubuh Zaki untuk berlari ke arah kediaman mertuanya. Tampak kepanikan di wajah mereka berdua.
"Bagaimana mungkin? Tadi waktu di rumah sakit, Aby baik-baik saja tidak kelihatan kalau dia sakit!" ucap Rasyid seakan tidak mempercayai berita yang dibawa oleh putranya, mengenai kakeknya yang sekarang sedang jatuh pingsan di kediamannya.
"Emangnya tadi ketika di rumah sakit, Abi tidak mengeluhkan apapun?" tanya Zahra dengan penuh kekhawatiran saat ini.
"Aby hanya bilang, kalau beliau kelelahan saja, katanya dia ingin tidur. Lalu Mas langsung membawa mereka pulang ke rumah!" ucap Rasyid sambil mempercepat langkah kakinya.
Setelah mereka sampai di kediaman Kiai Hamid, tampak beberapa santri sudah menolong Kyai Hamid untuk berbaring di kamarnya.
"Tolong cepat, angkat Kyai ke mobil, kita bawa beliau ke rumah sakit!" perintah Rasyid kepada beberapa orang santri yang saat ini berada di kediaman mertuanya.
Ibunya Zahra yang berada di samping suaminya, kini sedang menangis dan khawatir dengan kondisi suami yang saat ini belum sadarkan diri sejak tadi.
"Tenanglah Umi, kami akan membawa Aby ke rumah sakit, sebaiknya Umi di rumah saja, karena sebentar lagi, kak Ahmad dan keluarganya akan datang ke sini!" ucap Zahra kepada ibunya.
"Zahra sebaiknya kau di rumah saja. Kau ajaklah dua orang santri, untuk pergi bersamamu, untuk menjemput Kak Ahmad di bandara, biarkan Umi dan Mas yang akan menemani Aby di rumah sakit!" ucap rashid memberikan perintah kepada istrinya.
"Baiklah, Mas! Zahra akan ke pergi ke bandara untuk menjemput Kak ahmad dan juga semua keluarganya, nanti kalau ada apa-apa, tolong kabari zahra ya?" ucap Zahra menyanggupi permintaan suaminya.
Rasyod beserta beberapa orang santri dan ibunya Zahra, kemudian berangkat ke rumah sakit untuk membawa Kyai Hamid.
Maaf ya reader, kondisi author saat ini sedang tidak fit, jadi sementara waktu update satu bab dulu ya, nanti kalau sudah sehat, author akan kejar lagi jumkat yang banyak ketinggalan selama beberapa hari ini, gara-gara kondisi author yang kurang sehat.
Tolong doakan author ya, Reader sayang, agar segera sehat dsn fit lagi kondisinya, jadi bisa kembali update 2 bab/ hari lagi.
Banyak love ❤ ❤ untuk kalian semua para reader. Terimakasih atas dukungan dan cinta kalian semua untuk karya author ini.