Assalamualaikum Ustadz Ku

Assalamualaikum Ustadz Ku
23. Cinta Selalu Menemukan Jalan Untuk Kembali



Hari itu Ilham memanggil Tiara ke aula pondok. Dia mau menawarkan agar Tiara mau ikut menjadi dewan asatizh di pondok yang dia kelola.


"Ada apa Pak Kiai, kenapa saya di panggil menghadap?" Tiara atau Kesya menundukkan kepalanya, kwatir kalau Ilham curiga tentang penyamaran dirinya.


Sudah sebulan Kesya tinggal di sana. Mencari tahu tentang perasaannya terhadap Kiai muda yang tampan tersebut. Entah kenapa sampai sekarang dia belum juga mendapatkan ingatannya walaupun sudah diupayakan dengan berbagai cara dan upaya, masih belum berhasil juga.


"Selama beberapa hari saya selalu mendengar lantunan ayat suci yang sangat merdu di kamar kamu. Apakah kamu bisa untuk bergabung bersama dewan asatizh untuk mengajar para santri di sini?" Ilham berusaha untuk menguatkan hatinya agar tidak memandang wanita yang ada dihadapannya. Entah kenapa, Ilham merasa familiar dengan aroma yang keluar dari tubuhnya.


"Kenapa aku seperti sedang bicara dengan Kesya?" bathin Ilham merutuki hatinya yang sampai saat ini masih memikirkan calon istrinya.


"Maafkan saya Pak Kiai, saya rasa, tugas saya di kantin sudah lebih dari cukup. Saya takut nanti tidak mampu mengemban amanah yang diberikan oleh Pak Kiai kepada saya." Kesya menundukkan kepalanya. Tidak berani melihat wajah Ilham yang begitu berwibawa dan elegan.


Aura Ilham sebagai seorang Kiai sangat kuat dan mampu meluluhkan perasaan semua orang yang berhadapan dengan dirinya.


"Ya Allah! Kenapa perasaan ini rasanya familiar sekali? Apakah benar dia adalah calon suamiku?" Kesya juga mengalami perasaan yang sama dengan Ilham saat ini.


Sesulit apapun, cinta pasti kembali menemukan cara untuk kembali. Cinta Ilham dan Kesya sangat kuat. Tanpa mereka sadari, bahwa cinta itu menuntun hati mereka untuk kembali bertaut.


Tanpa di sadari, Kesya menatap tajam mata Ilham. Ada kerinduan yang terbaca oleh Kesya. Ilham sendiri dapat merasakan bahwa jantungnya berdetak sangat kencang.


"Ada apa dengan diriku? Kenapa perasaan ini menarik diriku untuk terus melihat dia? Aku sangat mencintai Kesya. Tidak mungkin bagiku untuk mencintai wanita lain!" Ilham terus berusaha mensugesti dirinya sendiri. Tidak mau jatuh pada pesona janda di hadapannya.


"Tapi kenapa ya? Aku seperti sedang bicara dengan Kesya. Ini sungguh aneh!" Ilham yang merasakan bahwa jantungnya berdetak sangat keras, memilih untuk meninggalkan Tiara sendiri.


Ilham masuk ke kamarnya, membuka ponselnya dan menatap foto Kesya di galeri. Foto yang di ambil secara diam-diam. Ilham dan Kesya selama ini tidak pernah mempunyai foto bersama. Sungguh amat di sayangkan.


"Kesya sayang, kamu dimana sebenarnya? Aku sangat rindu kepadamu!" Ilham memeluk ponselnya sampai terlelap dalam tidurnya.


"Aku harus berusaha agar menghindari Kiai Ilham. Bisa-bisa nanti dia curiga dengan penyamaranku. Aku harus terus menggali masa laluku. Aku tidak mau asal percaya dengan penjelasan mereka semua." Kesya memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Ada perasaan heran yang terlintas dalam benaknya.


"Kenapa ada perasaan sedih dalam hatiku, saat aku melihat matanya tadi ya?" Kesya sungguh tidak mampu memikirkan semua kemungkinan. Karena sudah lelah, akhirnya Kesya jatuh dalam mimpi juga. Mimpinya yang menuntun dirinya untuk bertemu dengan Ilham.


"Mas Ilham, tolong aku Mas! Aku tidak mau berlama-lama disini! Tolong selamatkan aku!" Kesya menangis tersedu-sedu dalam mimpinya.


"Oh Tuhanku!" Kesya terperanjat dan bangun dalam mimpinya. Ada air mata yang keluar dari pelupuk matanya.


"Kenapa aku menangis?" Kesya duduk merenung di tepi ranjangnya. Berusaha merenungkan arti mimpinya barusan.


"Aku harus apa ya Allah? Perasaan ini lama-lama membunuhku pelan-pelan!" Kesya tersedu dalam diam. Bagaimanapun sekarang sudah lewat tengah malam, tidak mungkin dia mengganggu orang lain yang sedang istirahat dengan suara tangisan dirinya.


Tanpa Kesya ketahui, Ilham juga sedang menuju ke sana. Ilham juga mengalami mimpi yang sama dengan Kesya. Hal itu membuat Ilham jadi kacau pikirannya. Dia juga memutuskan untuk sholat tahajud di masjid.


Saat mereka bertemu di depan masjid, seperti ada yang menarik ke duanya untuk saling mendekat satu sama lain.


"Assalamualaikum ustadz ku!" tiba-tiba Kesya mengatakan hal itu tanpa dia sadari.


"Kesya? Kau kah itu?" Ilham sangat hafal dengan suara itu. Suara merdu calon istrinya. Tanpa Ilham sadari, dia mendekat ke arah Kesya. Tangannya tanpa aba-aba merenggut cadar itu. Karena gerakan yang sangat cepat, sehingga tidak ada waktu untuk mencegah.


Ilham menatap wanita dihadapannya. Wanita yang selama ini menghiasi mimpinya. Wanita yang selalu dia rindukan.


"Kesya, kau kah itu?" Ilham mendekati Kesya dengan tatapan sendu. Kesya yang menyadari bahwa cadarnya telah terlepas untuk beberapa saat masih membeku di hadapan Ilham.


"Maafkan, aku pergi dulu!" belum dua langkah Kesya pergi dari sana. Tangannya sudah di tarik oleh Ilham ke dalam pelukannya. Ilham menangis sejadi-jadinya. Wanita yang selama ini di cari ternyata ada di hadapannya selama ini.


"Bodohnya diriku!" Ilham memeluk Kesya erat. Mencium keningnya dengan penuh haru. Kesya sendiri merasa bingung. Pikirannya ingin pergi dari sana. Tapi entah kenapa, badannya tidak sinkron dengan pikirannya. Badannya seperti menginginkan lebih dari sekedar pelukan dari Kiai Muda di hadapannya.


"Pak Kiai, sebentar lagi para santri akan bangun untuk melaksanakan Sholat tahajud. Tidak baik kita seperti ini." Kesya berusaha menyadarkan Ilham yang masih terhipnotis dengan perasaan dihatinya. Rasa rindu sudah mengalahkan segala logika dan akal sehatnya.


"Kesya, aku sangat merindukanmu!" Ilham kembali mencium kening Kesya. Segala rindu dendam selama ini ingin dia curahkan semua malam ini kepada calon istrinya tercinta.


"Mas Ilham, tolong kendalikan dirimu Mas! Tidak enak kalau para santri melihat kita seperti ini." panggilan Kesya mampu menarik Ilham dari alam bawah sadarnya.


"Maafkan Mas!" Ilham melepaskan pelukannya. Lalu menarik Kesya ke dalam rumah pribadinya. bagaimanapun dia merasa harus meluruskan segalanya. Dia butuh penjelasan dari Kesya. Kenapa dia bersembunyi dengan identitas lain?


"Jelaskan semua ini padaku." Ilham mengajak Kesya duduk di sofa ruang tamunya. Ilham memang tinggal sendirian di sana. Orang tuanya di Jawa Timur.


"Mas, aku sendiri tidak paham dengan apa yang terjadi. Saat kakiku melangkah tanpa arah. Kakiku membawa diriku ke mari. Aku saat itu terkejut mendapati dirimu di sini. Akhirnya memutuskan untuk menyamarkan diriku. Aku ingin secara perlahan mendapatkan ingatanku kembali." Kesya menundukkan kepalanya.


Cadarnya tadi di renggut oleh Ilham, dan masih di genggam tangannya. "Mas, bisakah sekarang kau kembalikan cadarku kembali? Aku sangat malu bersama denganmu tanpa cadar." Ilham baru tersat dengan hal itu.


Dengan gugup, dia memberikan cadar milik Kesya kembali. Dia masih belum percaya bahwa Kesya benar-benar ada di hadapannya sekarang.


"Mas, tolong kendalikan dirimu. Jangan jatuhkan kehormatan dirimu dalam hal gila seperti tadi. Kamu seorang Kiai sekarang. Panutan bagi santri yang kamu didik. Aku gak mau kalau kamu mengalami hal sulit gara-gara aku!" Kesya mencoba memberikan pengertian kepada Ilham, calon suami yang baru saja dia ingat.


"Aku juga sangat rindu sama kamu Mas! Tapi lebih baik kalau kita bertemu di hadapan penghulu nanti. Kehormatan kita lebih penting Mas, dari pada segala nafsu dan cinta," Kesya menatap Ilham sekilas. Berusaha menyelami perasaan pemuda yang telah mencuri hatinya.


Kecelakaan itu membuat dia hilang ingatan. Kerinduan dan cinta Ilham menunjukkan kekuatan dan pada akhirnya menuntun mereka untuk kembali bersama. Jodoh memang tidak akan pernah tertukar. Sekuat apapun usaha manusia memisahkan, tidak akan pernah berhasil. Cinta selalu menemukan jalan untuk kembali.