
Arman langsung berlari mengejar Syafa dan Rasya.
" Aku benar-benar mencintaimu dan aku tidak ragu untuk menjadikanmu sebagai istriku! Tadi aku hanya merasa syok ketika tiba-tiba aku mendengarkan kenyataan bahwa kau ternyata adalah mantan istri dari kakakku! Tetapi itu hanya sebuah keterkejutan tidak akan merubah pendirianku untuk menikah denganmu!" ucap Arman berusaha untuk meyakinkan Syafa.
" Arman! Sebuah pernikahan bukanlah suatu permainan di mana kita menginginkannya maka kita akan melakukannya. Ketika kita sudah bosan maka kita akan dengan mudah meninggalkannya dan mencoba mencari sesuatu yang membuat happy. Ada komitmen yang sangat berat dan juga besar yang harus ditanggung di dalamnya oleh dua orang yang menjalani pernikahan itu!" ucap Syafa sambil menatap Arman dengan lekat.
" Aku tahu dan aku sangat mengerti tentang hal itu!" ucap Arman sambil tersenyum kepada Syafa.
" Yakinlah kalau aku benar-benar mencintaimu dan akan berusaha untuk membuatmu bahagia. Terlepas dari kau adalah mantan istri dari kakakku ataupun apa statusmu aku tidak peduli! Sekarang yang aku pedulikan hanyalah kau menjadi istriku! Tolonglah Syafa. Kau erimalah lamaranku dan marilah kita membuka lembaran baru untuk kehidupan bahagia keluarga kecil kita!" ucap Arman sambil memberikan kembali cincin yang tadi sempat dilepaskan oleh Syafa di hadapan banyak orang.
Syafa tampak terdiam ketika Arman kembali memasukkan cincin itu di jari manisnya.
Setelah cincin itu masuk kembali ke jari Syafa Arman langsung mengecup telapak tangan Syafa dengan begitu khusyuk. Perasaan Arman yang bahagia melihat Syafa yang tidak menolak dirinya memasangkan kembali cincin tersebut di jari manisnya.
" Ayah aku akan mengantarkan kalian untuk pulang!" ucap Arman sambil menggenggam tangan Syafa.
" Tidak usah! Kami membawa mobil sendiri!" ucap Syafa dengan suara gemetar dan gugup. Bagaimanapun saat ini dia belum terbiasa untuk kembali merajut hubungan dengan seorang laki-laki.
Akan tetapi Arman sepertinya tidak mau mendengarkan apa yang dikatakan oleh Syafa.
" Rasya di mana mobil Ibu mau diparkir?" tanya Arman sambil tersenyum kepada calon anak tirinya.
Rasya yang merasa bahagia bahwa akhirnya keinginannya untuk menjadikan Arman sebagai ayah tirinya terwujud dia pun kemudian menunjuk mobil ibunya yang tidak jauh dari dirinya.
Mereka bertiga pun kemudian pulang menggunakan mobil Syafa. Arman meninggalkan mobilnya sendiri di restoran.
Sementara itu Ayahnya Arman pun meninggalkan restoran dengan perasaan bahagia. Karena tadi dia melihat bahwa Syafa telah menerima lamaran putranya.
" Syukurlah akhirnya mereka bisa bersama!" ucap ayahnya Arman merasa bahagia melihat kebersamaan mereka.
Ayahnya Arman pun kemudian meninggalkan restoran itu dan kembali ke kediaman utama.
" Akhirnya aku bisa hidup dengan tenang setelah melihat Arman dan Syafa menikah. Aku pasti akan melepaskan hak manajemen perusahaan dan menyerahkan kepada mereka. Aku akan kembali ke Amerika dan hidup tenang di sana!" ucap ayahnya Arman sambil menatap foto keluarganya. Keluarga yang sangat dia rindukan.
Hatinya sangat sedih karena sekarang dia menjalani kehidupan yang kesepian tanpa ada keluarga yang bersamanya lagi. Bahkan Rasya pun sekarang sudah jarang main ke rumahnya lagi.
" Di luar sana orang memandangku sebagai orang yang hebat. Penuh dengan kekayaan dan juga materi yang melimpah. Akan tetapi mereka tidak tahu bahwa aku sangat kesepian tanpa keluarga yang bersama denganku. Firman dan keluarganya sekarang pergi jauh entah ada di mana. Sama sekali tidak pernah menghubungiku lagi hingga saat ini. Tampaknya mereka sudah hidup bahagia tanpa kehadiranku!" ucapnya dengan perasaan sedih karena telah ditinggalkan oleh orang-orang yang dia cintai Karena di masa mudanya dia selalu bersikap egois dan tidak mau mendengarkan pendapat orang muda.
Dia kembali mengingat ketika dulu Firman meminta restu untuk pernikahannya dengan Laila. Betapa Dia sangat menentang dan tidak pernah mendengarkan apapun yang dikatakan oleh putranya.
Dia merasa lupa bahwa jodoh, maut dan rezeki itu sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa. Dia merasa lupa bahwa Hanya Tuhanlah Maha pembolak balik hati manusia.
" Penyesalan Selalu Datang Terlambat!" ucapnya dengan menitikan air mata.
" Apa yang dikatakan oleh Firman Bi?" tanya ayahnya Firman kepada sang pembantu yang langsung ponselnya.
Wanita paruh baya itu kemudian terlihat ngotak-ngatik ponselnya sejenak. Tidak lama kemudian terdengar suara Firman yang ternyata direkam oleh dirinya.
" Tolong ya Bi untuk jaga papa. Kalau dia sakit atau pun kenapa-napa, Bibi bisa menghubungi saya di nomor ini jangan ragu ataupun bimbang. Oh ya Bibi juga harus memastikan multivitamin serta obat Papah jangan sampai ketinggalan. Saya akan mengirimkan foto Yuke, putriku bersama Laila yang sedang masa pertumbuhan. Bibi bisa memperlihatkan fotonya kepada papaku. Kalau beliau ingin mengetahui tentang cucunya!" setelah itu panggilan tersebut pun ditutup.
" Syukurlah kalau Firman masih mengingatku sebagai ayahnya. Mana Bi aku ingin melihat foto cucuku!" ucap ayahnya Firman sambil menatap kepada pembantunya yang merasa prihatin dengan kondisi sang majikan yang tampak sangat sedih karena hidup seseorang diri tanpa keluarga di sampingnya.
" Ini Tuan foto non Yuke. Putri pertama dari Tuan Firman dan nyonya Laila!" ucap pembantu itu sambil menyodorkan ponselnya kembali kepada ayahnya Firman.
Visualisasi Yuke Kecil
Ayahnya Firman tampak berkaca-kaca ketika dia melihat cucunya yang begitu lucu dan menggemaskan yang tidak pernah dia temui selama ini.
" Kalau Tuan ingin mengunjungi Den Firman. Mari Bibi temani Tuan. Kemarin Den Firman memberikan alamatnya yang ada di Surabaya kepada bibi!" ucap pembantunya sambil menatap ayahnya Firman yang seperti merasa ragu.
" Aku hanya takut kalau Firman tidak mau menerima kehadiranku! Bukankah dulu aku yang telah memutuskan hubungan ayah dan anak diantara kami berdua Bi!? Karena Firman lebih memilih Laila daripada Syafa dan juga Rasya! Aku memang tidak memikirkan tentang perasaan Firman saat itu. Aku hanya memikirkan Bagaimana perasaan Syafa dan Rasya ketika Firman lebih memilih untuk meninggalkan mereka berdua!" ucapnya dengan sedih.
" Sudahlah Tuan itu semua kan adalah masa lalu saya yakin kalau Den Firman pun tidak menyimpan dendam kepada Tuan! Kalau benar dia tidak menyayangi Tuan, rasanya tidak mungkin dia bertanya tentang kondisi Tuan dan mau mengirimkan foto putrinya untuk kita!" ucap pembantu tersebut berusaha untuk meyakinkan ayahnya Firman bahwa sekarang putranya telah memaafkan dirinya.
" Sekarang Bibi akan coba untuk telepon Tuan Firman agar menyambut kedatangan kita ke Surabaya. Bagaimana Tuan? Apakah Tuan setuju?" tanyanya sambil menatap ayahnya Firman yang tampak ragu untuk menyetujui permintaannya.
" Terserah Bibi kalau mau melakukan itu. Saya hanya akan menurut saja kalau memang benar Firman mengizinkan kita untuk bisa mengunjunginya di Surabaya!" ucap ayahnya Firman akhirnya pasrah dan mengalah.
" Yakinlah Tuan! Den Firman pun merindukan Tuan dan dia juga ingin bertemu dengan Tuan. Atau begini saja biar saya telepon mereka untuk datang ke Jakarta dan datang ke kediaman utama?" tanyanya lagi.
" Terserah Bibi Lakukanlah apa yang menurutmu baik. Saya mau istirahat dulu karena sangat lelah sekali!" ucap ayahnya Firman kemudian beranjak dari tempat duduknya dan langsung pergi ke kamarnya. Setelah dia membersihkan tubuhnya yang terasa lengket karena keringat.
Setelah salat Isya ayahnya Firman kemudian memutuskan untuk langsung tidur saja karena tidak ada lagi aktivitas yang bisa dilakukan.
Dahulu ketika Manajemen Perusahaan dipegang olehnya 100% waktunya sangat sibuk hanya untuk bekerja dan bekerja bahkan sampai melupakan keluarganya.
Setelah dia memutuskan Manajemen Perusahaan dialihkan ke manajemen profesional dia bisa lebih santai dan menikmati hidupnya di masa tua.
Rasya saat ini masih kecil belum bisa memegang tempo kekuasaan di perusahaannya. Walaupun dia telah mengalihkan 100% harta kekayaannya atas nama Rasya.
Dia tahu kalau apa yang dia lakukan salah. Karena telah merampas hak Firman dan Arman yang juga merupakan darah dagingnya sendiri. " Besok aku akan mengurus akta notaris untuk merubah hak waris yang sudah kulimpahkan seluruhnya kepada Rasya. Bagaimanapun Firman, Arman dan juga Yuke adalah darah dagingku. Aku tidak mungkin begitu tega tidak memberikan harta apapun untuk mereka bertiga!" ucap ayahnya Firman memutuskan bahwa harta kekayaannya akan dibagi dengan 4 orang yaitu Rasya, Firman, Arman dan Yuke.
Yang membedakan hanya porsi maupun persentase dari kekayaan yang didapatkan oleh mereka berempat setelah dirinya meninggal nanti.