Assalamualaikum Ustadz Ku

Assalamualaikum Ustadz Ku
154. Memohon Maaf



Sekarang Arman telah berada di hadapan pintu kediaman ayahnya. Dari tadi dia maju mundur cantik maju mundur cantik! 😊 Canda dulu ya reader. Kita serius sekali dari tiga bab sebelumnya tegang sekali. Sedikit tertawa biar urat gak tegang. 😂🤗


Arman terus menatap ke pintu gerbang rumah ayahnya. Kemudian dia mengingat kembali pesan yang disampaikan oleh Ustad Fahri sebelum dia berangkat ke rumah ayahnya.


"Demi ibumu Arman! Kau harus pergi dan melakukannya! Apakah kau tega kalau ibumu masih memiliki urusan dengan manusia di atas dunia ini? Ibu memiliki dosa yang besar terhadap ayahmu! Karena dia telah menggunakan ilmu sihir dan pelet demi menghancurkan rumah tangga ayahmu!" ucap Ustadz Fahri dengan tegas dan tidak mau di bantah oleh Arman.


Arman kemudian menekatkan hatinya untuk bisa berani mengetuk pintu rumah ayahnya.


Tiba-tiba saja ada lampu yang menyorot di belakang Arman. Sehingga membuat Arman jadi terkejut. Mata Arman memicing, dia berusaha untuk melihat iapa yang datang.


Tidak lama kemudian, turun sopir yang mengendarai mobil itu dan mendekati Arman.


"Anda mencari Siapa tuan? Kenapa malam-malam berada di depan gerbang rumah tuan saya!" tanya supir itu dengan menatap curiga kepada Arman yang tidak dia kenal sebelumnya.


"Tolong kau katakan kepada Tuan anda, bahwa anak dari Nyonya Sintia ingin bertemu dengan dia sekarang juga!" ucap Arman dengan suara gemetar.


Ada ketakutan dan juga amarah di hatinya. Tetapi Arman terus berusaha untuk menekan semua itu demi ibunya yang saat ini sedang menunggu ayahnya untuk dimaafkan.


"Sebentar saya bicara dulu dengan tuan saya!" kemudian Sopir itu mendekati jendela yang terbuka dan dia berbicara kepada orang yang ada di dalam mobil itu.


"Tuan, anak muda itu berkata, bahwa anak dari Nyonya Shintia ingin bicara dengan anda!" ucap Sopir itu kepada ayahnya Firman.


Ayahnya Firman tampak mengurutkan keningnya kemudian dia berkata kepada sopirnya. "Suruh dia masuk ke dalam mobilku!" ucap ayahnya Arman sambil menatap pada pemuda yang saat ini masih berdiri di depan pintu gerbang rumahnya.


"Apa yang akan dia katakan? Sudah lama aku menunggu dia dan akhirnya dia datang juga padaku!" ucap ayahnya Firman dengan pelan.


"Anak muda! Tuan saya mengatakan bahwa anda untuk masuk ke dalam mobil dan berbicara di sana!" ucap supir itu.


"Baiklah, tidak apa-apa!" Arman pun kemudian mengikuti supir itu untuk masuk ke dalam mobil ayahnya.


Dengan agak ragu-ragu. Arman membuka pintu mobil tersebut tetapi kembali ucapan Ustad Fahri menjadi cambuknya untuk mampu melakukan itu.


"Demi Ibu aku harus bisa melakukan ini!" ucap Arman dengan tekad bulat di dalam hatinya yang sejak tadi terus ragu dan takut untuk menghadap ayahnya sendiri.


"Masuklah Kalau kau ingin bicara denganku! Aku tidak punya banyak waktu untuk bicara denganmu!" ucap sebuah suara bariton yang ada di dalam mobil.


Seketika jantung Arman berdegup dengan kencang. Ini adalah pertama kalinya dia bicara secara pribadi dengan ayah kandungnya sendiri, selama hidupnya.


"Maafkan saya! Saya datang ke sini, demi Ibu! Dia ingin bertemu dengan anda!" ucap Arman dengan suara gemetar dan terbata-bata. Karena sejak tadi terus menahan tangis yang sejak tadi ingin keluar.


"Ibuku sudah meninggal hari ini. Tapi sebelum dia meninggal. Dia berwasiat kepadaku untuk mendatangi anda dan meminta maaf atas semua kesalahan yang sudah dia lakukan kepada anda dan juga keluarga anda!" ucap Arman sambil menundukkan kepalanya.


Butiran bening sudah mengalir deras di wajah Arman saat ini.


"Innalillahi wa inna ilaihi rojiun Tidak pernah ku sangka kalau Sheila akan mendahuluiku! Semoga Allah menerima segala kebaikan dan memaafkan segala kesalahannya!" ucap ayahnya Firman dengan suara gemetar.


Ada rasa kesedihan yang bisa tangkap oleh Armann dari seorang ayah kandungnya itu.


"Mari anda ikut dengan saya ke apartemen untuk bertemu dengan ibu saya. Dan tolong berikanlah Maaf anda agar perjalanan Ibu saya menuju keharibaan Allah lebih dipermudah dan dilapangkan kuburannya!" ucap Arman sambil meraup wajahnya dengan kedua tangannya. Sungguh kesedihan dalam hatinya saat ini sungguh luar biasa.


Ayahnya Arman diam sejenak. Dia terus memijit pelipisnya yang serasa sangat pusing saat ini. Dia menarik nafasnya secara perlahan. Kemudian dia menengok Arman dan menatap wajah putranya dengan lekat.


"Saya pun punya banyak dosa dengan kalian. Entah bagaimana hidup saya nanti di akhirat. Tanpa Maaf dari kalian berdua. Arman apakah Kau juga memaafkan saya? Sebab saya sebagai ayahmu yang telah melantarkanmu selama puluhan tahun lamanya?" ucap ayahnya Arman dengan suara gemetar ada kesedihan yang mendalam di hatinya saat ini.


"Anda Tenang saja! Dalam hati saya, saya sudah memaafkan Anda. Yang penting sekarang, Anda harus memaafkan Ibu saya agar perjalanan beliau menuju ke akhirat lebih mudah dan lebih gampang!" ucap Arman kembali.


"Kalau saya memaafkan ibumu, Apakah kau mau memanggilku ayah?" tanya ayahnya Arman dengan mata penuh pengharapan terhadap putranya.


" Apakah itu penting untuk anda?" tanya Arman heran.


"Tentu itu penting! Karena seumur hidup saya, saya telah memimpikan untuk Kamu dapat memanggil saya ayah. Walaupun Saya tahu, saya tidak berhak untuk menerima panggilan itu. Karena selama puluhan tahun, Saya telah menelantarkan kamu!" ucap ayahnya Arman kembali melirik wajah putranya yang masih berderai air mata.


"Anda tidak pernah menentarkan saya! Karena istri anda selalu merawat kami berdua dan memberikan kehidupan yang layak untuk kami berdua. Bahkan istri anda lah yang telah merawat ibu saya di rumah sakit jiwa dan memberikan pendidikan kepada saya sehingga saya bisa menjadi seorang sarjana!" ucap Arman memberitahukan semua yang telah dilakukan oleh ibunya Firman selama dia hidup di dunia.


"Anda sungguh beruntung memiliki seorang istri seperti dia yang berhati emas dan berjiwa seperti malaikat!" ucap Arman dengan suara yang gemetar.


"Walaupun terlihat buruk dan keras di luar, istriku itu. Teapi dia memang selalu punya hati yang baik!" jawab ayahnya Firman.


"Mari kita segera ke apartemen kasihan Ibuku karena dia harus segera dimakamkan!" ucap Arman kemudian dia keluar dari mobil ayahnya. Tapi tangan Arman di tarik oleh ayahnya. Sehingga Arman menoleh padanya.


"Ada apa? Apakah ada masalah?" tanya Arman sambil menatap tajam kepada ayahnya.


"Apakah kerinduanku, untuk kau panggil ayah bisa kau obati?" tanya ayahnya Arman dengan suara gemetar dan air mata mulai menetes di pipinya yang sudah mulai keriput.


"Ayah! Ayah! Baiklah aku akan memanggilmu ayah mulai saat ini!" ucap Arman dengan suara gemetar. Kemudian dia langsung meninggalkan Ayahnya di dalam mobil.


"Kau ikutlah mobilku dan kita akan pergi ke apartementku!" ucap Arman pelan, kepada sopir ayahnya. Kemudian dia langsung masuk ke dalam mobilnya dan menuntun ayahnya untuk sampai ke apartemennya untuk menemui jenazah ibunya di sana.