Assalamualaikum Ustadz Ku

Assalamualaikum Ustadz Ku
93. Minta maaf



Adrian lalu mendekati Fathu dan berniat ingin meminta maaf kepada sahabatnya tersebut. Yang selama ini selalu dia jahili dan perintah-perintah.


"Fathu! Tolong maafkan aku, ya! Kalau aku sudah berbuat sesuka hatiku padamu! Aku gak bermaksud seperti itu, kok! Bagiku, kau adalah sahabat terbaik dalam hidupku. aku tidak akan pernah melupakanmu walaupun aku tidak ada di sini lagi!" ucap Adrian sambil memeluk Fathu. Fathu yang tiba-tiba mendapatkan Adrian berada di dekatnya, pun terkejut. Melihat sikap Adrian seperti itu, yang tidak seperti biasanya.


"Kamu kenapa Adrian? Jangan menakut nakutiku! Kau tiba-tiba saja menangis dan minta maaf! Memangnya ada apa?" Fathu tampak terkejut dengan kedatangan Adrian dan Pak kyainya yang tiba-tiba.


Yah, tadi Adrian niatnya akan membangunkan Ilham di kamarnya. Tetapi, ternyata Ilham sudah berada di ruang tamu. Di dekatnya Adrian, sehingga Adrian pun kembali ke tempat di mana Fathu dan Umy sedang berbincang, dan tanpa sengaja, Adrian pun mendengarkan keluh kesah Fathu, kepada Umynya Ilham.


"Apakah kau mendengarkan semua yang kukatakan kepada Umy? Tapi memang itu yang kurasakan Adrian! Kau selalu memerintah-merintah aku! Kita kan sahabat! Bukan bawahan dan atasan! Aku bukan karyawanmu, Adrian!" ucap Fathu mengelus punggung Adrian yang saat ini sedang memeluk dirinya.


"Oleh karena itu Fathu! Aku minta maaf ya? Dengan sikap sewenang-wenang ku, selama ini! Semoga kita bisa menjadi sahabat sejati, selamanya! Karena sahabat sejati tidak akan pernah mati!" ucap Adrian sambil mengaitkan jari kelingkingnya ke Fathu.


"Sahabat sejati tidak akan pernah mati!" ucap mereka berdua dengan kompak.


Ilham menatap kedua Sahabat sejati tersebut, yang akhirnya bisa saling memaafkan satu sama lain.


"Baguslah kalau kalian sudah akur! Pak Kyai jadi merasa senang sekali melihatnya! Ingat! Sebagai seorang sahabat, tidak boleh menyimpan dendam kalian harus selalu ingat, bahwa persahabatan adalah jauh lebih baik daripada permusuhan! Harus diingat itu ya?" kedua sahabat yang kini sudah berbaikan kembali, akhirnya tersenyum dengan senang. Tidak ada lagi air mata maupun kemarahan di antara keduanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Mari kita lihat perjalanan Kesya dan Andika yang saat ini sedang honeymoon di Jepang, mereka sedang menunggu Ilham dan Qonita, tetapi mereka mendapatkan kekecewaan, karena Ilham dan Qonita sudah kembali ke Indonesia. Tidak mau ke Jepang, menyusul mereka berdua.


"Kenapa Ilham dan Qonita, tidak datang ke sini sayang?" tanya Andika sambil memeluk sang istri yang sedang berbaring. Kesya tampak masih mengantuk.


"Katanya ustazah Qonita, Mas Ilham tidak mau meninggalkan pondok pesantren terlalu lama. Rasanya tidak enak katanya, kalau meninggalkan para santri hanya untuk bersenang-senang. Jadi, ya begitu! Mereka memutuskan untuk kembali, langsung ke Indonesia. Jadi mereka tidak menyusul kita ke sini!" ucap Kesya memeluk suaminya. Ya, mereka berdua kerjanya hanya seperti itu, seperti lem dan prangko. Lengket tak terpisahkan.


Andika mencium kening Kesya dan Kesya memelu, pinggang sang suami. Ah tidak ada yang lebih indah dari moment seperti itu. Moment penuh cinta kasih, yang diharapkan oleh setiap pasangan yang saling jatuh cinta. Hidup penuh dengan kasih sayang, dari pasangan masing-masing. Moment sederhana, tapi sanggup memberikan kebahagiaan yang luar biasa di hati mereka.


"Ah,kalau Ustazah Qonita dan Mas Ilham tidak ke sini, kita sebaiknya pulang aja, yuk! Kalau lama-lama juga bosen, loh di sini. Bukankah pekerjaan Mas juga banyak yang sudah menumpuk, ya? Gara-gara kita kelamaan di sini?" tanya Kesya sambil bermanja-manja kepada suaminya.


Yah Kesya belajar dari pengalaman yang dia baca dari webs maupun dari buku. Seorang Istri memang sebaiknya bermanja-manja kepada suaminya atau kalau tidak, maka akan ada wanita lain yang akan bermanja-manja kepada suami kita. Jadi sebagai seorang istri, kita harus pandai-pandai membawa diri kita. Agar suami kita tidak sampai terpikat di luar sana kepada pesona perempuan lain.


"Apa kau sudah puas dengan liburan kita?" tanya Andika lagi. Kesya hanya mengangguk, tapi Andika tampaknya tidak puas dengan jawaban sang istri.


"Kenapa?" tanya Kesya terheran-heran.


"Apakah, Mamah ga mau bikin adek baru untuk Cakra?" tanya Andika.


"Ya Tuhan! Bodohnya aku! Maafkan Papah, sayang! Papah ga maksud menyakiti hatimu!" ucap Andika sambil mencium kening sang istri yang tampak sedih.


"Apakah Papa masih ingin memiliki seorang bayi?" tanya Kesya sendu. Ya, Kesya memiliki rasa takut itu, apabila sang Suami masih menginginkan memiliki seorang bayi. Maka itu artinya. ada kemungkinan sang suami akan menikah lagi? Hanya memikirkan hal itu. sudah membuat Kesya menjadi gila karenanya.


"Tidak, sayang! Papa cukup dengan Adrian dan Cakra. Bukankah kita sudah memiliki Amanda? Dia juga anak kita, bukan?" tanya Andika agak ragu.


"Ya, sayang! Amanda tentu saja anak kita juga. Dia sudah masuk ke dalam kartu keluarga kita, bukan?" ucap Kesya meremas tangan suaminya.


"Sayang, bagaimana kalau Manda tidak mengembalikan Amanda kepada kita?" tanya Andika. Dilema tentu saja.


"Entah, Pah! Mamah hanya berharap, Manda tahu apa yang terbaik untuk anaknya. Kita juga gak bisa memaksakan kehendak kita kepada orang lain, bukan?" ucap Kesya sambil bangkit dari kasur, bersiap untuk mandi, Andika tampak mengikuti sang istri.


"Kalau Papah, berharap semoga ... Amanda biar tinggal bersama dengan ibunya saja. Papah sejujurnya merasa tidak tega apabila Amanda tinggal bersama kita. Papah rasanya seperti mengingat kembali, masa kelam Papah yang dahulu!" ucap Andika mulai sendu.


"Pah, kita semua pasti memiliki masa lalu. Insya Allah, aku sudah berusaha untuk menerima masa lalu, Papah! Sama seperti Papah yang juga bisa menerima masa lalu Mamah dengan Mas Ilham. Mas bahkan memberikan begitu banyak kemurahan hati ke pondok pesantren yang di pimpin oleh Mas Ilham." ucap Kesya sambil memeluk sang suami dari belakang.


"Papah hanya merasa bersalah hingga saat ini. Karena telah merebutmu, sayang! Bukankah butuh waktu sangat lama. Untuk Mas Ilham bisa melupakan perasaan dia kepadamu, sayang?" ucap Andika.


"Ya, tapi kami sama sekali tidak pernah bertemu atau melakukan hal yang menentang Syariah. Kami sadar. Semua itu hanya masa lalu!" ucap Kesya.


"Papah tentu tahu tentang hal itu dan percaya, sayang!" ucap Andika, menatap lembut sang istri. Ya, tanpa sepengetahuan Kesya, Andika selalu menempatkan bodyguard bayangan, yang selalu melaporkan kegiatan harian sang istri. Jadi, Andika percaya dengan kebersihan sang istri dari masa lalunya bersama Ilham.


"Ya udah kita mandi aja dulu ya? Dan kita siap-siap untuk pulang ke Indonesia. Bukankah kita juga perlu menjemput Amanda? Siapa tahu saja Manda akan mengembalikan Amanda kepada kita!" ucap Kesya. Tetapi Andika tampaknya keberatan dengan ide Kesya.


"Sayang! Apa kita tidak bisa membiarkan saja Amanda bersama ibunya? Papa rasa itu adalah jalan yang terbaik untuk kita semua. Toh, Amanda juga menginginkannya bukan? Papa rasa tidak baik juga kita memaksakan kehendak kita!" ucap Andika.


Kesya tampak merenung sejenak, memikirkan apa yang dikatakan oleh sang suami. " Apakah benar, Papa tidak apa-apa? Kalau Amanda tinggal bersama Manda? Papa tidak akan merindukannya? Mama kan hanya berpikir barangkali, Papah ingin memiliki seorang anak perempuan. Makanya Mama bersikeras untuk mengambil Amanda dari ibunya!" ucap Kesya.


"Dulu, memang Papa khawatir kalau Amanda kekurangan kasih sayang seorang Ayah! Tapi, sekarang kan Manda sudah memiliki seorang suami. Otomatis kan, bisa memberikan kasih sayang itu terhadap Amanda. Dan Papa juga merasa, bahwa Amanda tidak terlalu senang tinggal bersama kita. Dia selalu memikirkan Mamahnya. Papah pikir, mungkin lebih baik Kalau Amanda bersama Mamanya saja. Dan kita juga bisa menghadapi rumah tangga kita secara normal lagi, sebelum mengenal Manda dan Amanda!" ucap Andika.


"Maafkan Mama ya, sayang! Seandainya apa yang Mama lakukan ini malah menjadi beban untukmu!" ucap Kesya.


"Ya udah! Ayo kita mandi aja! Dan kita sebaiknya kembali ke Dubai aja! Pekerjaan Papa juga banyak menumpuk di sana. Udah, masalah Amanda, biarkan sajalah! Pap sudah pusing memikirkannya!" Andika akhirnya memutuskan untuk pulang ke Dubai saja.


Kesya kemudian membereskan pakaian-pakaian mereka, sambil menunggu Andika yang sedang mandi dan membersihkan diri. Setelah itu mereka berdua bersiap untuk kembali ke Dubai.