Assalamualaikum Ustadz Ku

Assalamualaikum Ustadz Ku
146. Menerima



Di dalam kitab Al barzah dinyatakan bahwa ketika orang meninggal. Allah mengizinkan Ruh orang shaleh untuk kembali ke dunia. Untuk menemui keluarga mereka, untuk menyampaikan wasiat ataupun keinginan mereka sebelum meninggalnya.


Keistimewaan ini tidak diberikan oleh Allah kepada setiap orang. Hanya kepada jiwa-jiwa yang sholeh yang selama hidupnya selalu mengagungkan nama Allah dan berjuang di jalan Allah.


Maaf ya reader, kalau ada kesalahan dalam kalimat di atas, itu pasti adalah dari pemahaman Author yang kurang, mohon di koreksi di komentar, kalau ada yang mau mengkoreksi kalimat ini, agar bisa Author revisi menjadi lebih baik dan bisa menjadi pelajaran bagi kita semua.


Terimakasih Readerku sayang, semoga Allah selalu melimpahkan kesehatan dan keselamatan untuk kita semua. Di panjangkan umur kita, dan di berkahi rejeki kita semua, Amien ya robbal alamin.


Kedekatan hubungan Kyai Hamid dan Rasyid ketika mereka masih hidup, yang telah mengakibatkan mereka memiliki ikatan batin yang kuat. Sehingga Rasyid bisa melihat kehadiran Kyai Hamid, yang saat itu sedang menyaksikan diskusi mereka semua. Yaitu mengenai siapa yang akan melanjutkan tonggak kepemimpinan pondok pesantren setelah Kyai Hamid meninggal.


Rasyid jatuh pingsan karena Kyai Hamid yang menyalurkan energinya, kepada Rasyid. Tubuh Rasyid yang tidak kuat menahan energi itu, sehingga akhirnya jatuh pingsan.


Semua orang yang hadir dalam diskusi itu, menjadi panik. Ketika melihat Rasyid yang tiba-tiba saja jatuh pingsan. Tubuh Rasyid masih gemetar dan keringat dingin terus bercucuran dari dahi dan tubuhnya.


Zahra sudah merasa sangat khawatir melihat kondisi suaminya yang aneh dan tiba-tiba.


"Mas kamu kenapa? Jangan nakutin aku, Mas! Tolonglah, Mas! Cepatlah bangun!" ucap Zahra di telinga Rasyid berusaha membangunkan suaminya yang masih pingsan hingga saat ini.


Ahmad kemudian mendekati Zahra .Dan Dia mendekati tubuh Rasyid yang sampai saat ini masih belum sadarkan diri.


"Zahra kau minggirlah biar kakak berusaha untuk menyadarkan Rasyid!" ucap Ahmad kepada Zahra.


Zahra menetap kakaknya tersebut, kemudian dia pun bangkit dari duduknya dan membiarkan Ahmad kini berada di samping Rasyid. Yang masih pingsan dan tidak sadarkan diri.


Ahmad kemudian menaruh minyak angin, di bawah hidung Rasyid. Sehingga Rasyid sedikit-sedikit dan pelan-pelan mulai membuka matanya.


Mata Rasyid nyalang menetap ke sekitar. Rasyid menatap satu demi satu wajah-wajah yang ada di hadapannya. Ketika Rasyid menatap ke ambang pintu, di mana dia menatap ada bayangan Kyai Hamid yang terus menatapnya, Rasyid pun kembali menangis tersedu.


Bayangan Kyai Hamid seakan berkata kepada Rasyid, "Terimalah amanah yang sudah Aby berikan kepadamu, Rasyid! Karena Abi percaya bahwa kamu pasti mampu dan kamu pasti bisa menjalankan amanah ini dengan sebaik-baiknya!" ucap Kiai Hamid kemudian menghilang dari pandangan Rasyid.


Rasyid seketika menangis tersedu ketika melihat bayangan Ayah mertuanya kini telah menghilang dan naik ke atas langit.


"Maafkan Rayid, Aby! Bahkan sampai Aby meninggal, Rasyid masih memberikan rasa kekhawatiran di dalam hati Aby. Baiklah Abi, Rasyid akan berusaha untuk memenuhi harapan Abi. Rasyid pasti akan berusaha untuk memantaskan diri Rasyid sehingga Rasyid layak mendapatkan amanah dari Aby!" ucap Rasyid sambil menatap kepergian Kyai Hamid di depan matanya.


"Apa yang kau katakan Rasyid? Kak Ahmad tidak mengerti!" tanya Ahmad sambil terus mengguncangkan tubuh Rasyid yang saat ini matanya terus menatap ke ambang pintu.


Semua yang hadir di kamar Rasyid saat ini, mereka terbelalak kaget. Ketika mereka mendengarkan pengakuan Rasyid yang mengatakan bahwa dia sedang berbicara dengan ayah mereka.


"Apakah itu benar Rasyid kau berbicara dengan Abi kami?" Fahri seakan tidak mempercayai apa yang dikatakan oleh Rasyid.


"Benar Kak Fahri. Tadi ketika saya jatuh pingsan, itu karena Abi yang memegang bahu saya. Saya merasa seperti ada sebuah energi yang sangat besar yang masuk ke dalam tubuh saya. Dan saya tidak mampu untuk menahan energi itu di dalam tubuh saya, dan akhirnya saya kehilangan kesadaran!" ucap Rasyid menerangkan kondisi dirinya dengan terbata-bata. Tampak mata Rasyid yang kini mulai berkaca-kaca.


"Abi pasti sudah menyerahkan energi positifnya kepadamu. Bukankah selama ini, kita mengetahui bahwa Abu selama ini adalah orang Sholeh yang selalu mengagungkan nama Allah dalam setiap ******* nafasnya?" ucap Salman sambil menatap ke arah Rasyid.


"Kamu sungguh beruntung, Rasyid! Karena bisa bertemu dengan Abi kembali. Kenapa Abi tidak menemui kami juga, anak-anaknya? Padahal kami pun ingin bertemu dengan Aby. Kami sangat menyesal, karena kami semua tidak bertemu dengan Abi di akhir hayat hidupnya!" ucap Salman dengan wajah berlinang air mata tampak ada penyesalan di wajahnya saat ini.


Keluarga Kyai Hamid memang tidak ada yang menemuinya ketika beliau menghembuskan nafasnya yang terakhir. Karena Kyai Hamid meninggal di meja operasi.


Sebelum masuk ke ruang operasi, Kyai Hamid sudah berwasiat kepada istrinya. Untuk menyerahkan tampuk kepemimpinan pondok pesantren, kepada Rasyid. Apabila dia tidak bisa bangun lagi setelah dilakukan operasi.


"Jadi bagaimana dengan keputusanmu sekarang Rasyid? Apakah kau sudah mantap menerima wasiat dari Abi?" Ahmad sambil memegang tangan Rasyid yang masih gemetar dan terasa dingin.


"Insya Allah Kak Ahmad. Saya akan berusaha dan berjuang untuk tidak mengecewakan Abi dan juga kepercayaan kalian semua kepada saya!" ucap Rasyid dengan suara gemetar.


"Tetapi apabila suatu saat Kak Ahmad berubah pikiran dan ingin kembali ke Indonesia. Saya dengan suka hati dan sukarela akan menyerahkan pondok pesantren ini kepada kak Ahmad. Karena sejujurnya, Kak Ahmadlah yang lebih layak dan pantas menerima amanah ini, daripada saya yang hanya seorang menantu di keluarga ini!" ucap Rasyid sambil menatap Ahmad dengan tatapan teduhnya.


"Jangan berkata seperti itu, Rasyid! Dalam hal ini tidak ada status anak maupun menantu. Yang ada adalah di sini kepantasan dan kelayakan. Saat ini memang hanya kamulah yang layak untuk menjadi pimpinan pondok pesantren, yang sudah diperjuangkan oleh ayah kami selama puluhan tahun!" ucap Ahmad merasa bahagia. Karena akhirnya Rasyid mau menerima amanah yang sudah diberikan oleh ayahnya kepada Rasyid, sebelum ayahnya meninggal dunia.


Setelah kesehatan Rasyid mulai membaik. Akhirnya pada hari ke 40, setelah meninggal Kiai Hamid, saat acara tahlilan, diadakan pelantikan untuk penyerahan tampuk kepemimpinan pondok pesantren tersebut kepada Rasyid.


Semua tamu yang menghadiri acara tahlilan tersebut. Mereka telah menjadi saksi, bahwa hari ini, Rasyid telah resmi menjadi Kyai dan pimpinan di pondok pesantren itu. Rasyid menggantikan ayah mertuanya, Kiai Hamid yang sudah meninggal di usia 80 tahun.


Setelah semua urusan di pondok pesantren beres. Akhirnya kakak-kakak Zahra Kembali ke tempat mereka masing-masing. Begitu juga dengan Ahmad dia kembali ke Mesir bersama seluruh keluarganya.


Mereka tidak membagikan harta waris yang ditinggalkan oleh Kyai Hamid. Karena Ibu mereka masih hidup dan mereka menghargai perasaan Ibu mereka yang masih hidup. Tidak ada satu orang pun dari mereka yang pernah membahas tentang warisan harta benda yang di tinggalkan oleh ayah mereka.


Selama Kyai Hamid masih hidup dan beliau masih menghembuskan nafasnya di dunia. Beliau sudah memberikan kepada anak-anaknya masing-masing tanah dan tabungan untuk bekal mereka dalam menghadapi rumah tangga mereka yang baru. Jadi, mereka tidak ada yang hidup kekurangan maupun kesusahan.