Assalamualaikum Ustadz Ku

Assalamualaikum Ustadz Ku
52. Tes DNA



"Alvian, pastikan kamu selidiki perempuan tadi. Jangan lupa lakukan Tes DNA atas putrinya. Kamu ambil sampel Andika sekarang juga, masalah ini gak boleh berlarut-larut. Bisa berbahaya kalau keluarga Kesya atau Kesya mengetahui hal ini. Kasihan Kesya, saat ini sedang berjuang antara hidup dan mati. Papah tidak mau menantu papah yang berharga kenapa-kenapa. Pastikan kamu bereskan masalah ini tanpa bekas! Paham?" perintah Pak Farhan kepada Alvian.


"Siap, Pah! Papah gak usah khawatir. Alvian akan selesaikan masalah ini dengan tenang." Alvian lalu pergi mengikuti Manda yang tadi di seret oleh satpam rumah sakit.


"Pah, kok papah nanggepin serius perempuan gila tadi? Andika sungguh tidak kenal dia, Pah!" ucap Andika yakin 100%.


"Tadi perempuan itu bilang, katanya kamu melakukan saat kamu mabuk, coba kamu ingat-ingat, apa kamu pernah mabuk seperti di katakan oleh perempuan tadi?" ucap Pak Farhan mencoba membuka memori Andika.


Andika yang saat ini sedang kalut karena memikirkan Kesya dan Cakra Abimana, putra keduanya, mengalami kesulitan untuk mengingat masa lalu yang telah berlalu begitu lama.


"Entahlah, Pah! Saat ini otak Dika gak bisa buat mikir! Pusing sekali! Kita tunggu hasil DNA saja. Kalau memang anak perempuan tadi terbukti anakku, kita akan mengadopsi anak itu. Kalau Kesya sudah siuman dan fit, kita bisa diskusi tentang hal itu. Tapi saat ini, pikiran saya sungguh sedang kacau, maafkan saya, Pah! Sudah sebesar ini, masih memberikan masalah buat Papah dan Mamah." Dika menundukkan kepalanya, malu sekali rasanya. Kalau anak tadi terbukti sebagai anaknya, Andika sungguh ketakutan dengan reaksi Kesya nantinya.


"Kesya wanita yang bijaksana, Mamah yakin kalau kita menjelaskan dengan baik, Kesya pasti akan paham dengan situasi ini!" ucap Mamahnya Dika.


"Kalau Merry yang di posisi Kak Kesya, mending buang aja suami kayak Mas Dika ini! Kasih masalah terus gak ada habisnya! Mas itu beruntung loh, memiliki istri Sholehah seperti Kak Kesya, mau memaafkan kesalahan suaminya, yang jelas-jelas berzina di depan matanya sendiri. Kalau Merry gak akan sanggup melakukan hal itu!" ucap Merry geram bukan main.


"Merry, jangan nambahin pusing kepala kakakmu!" Tegur Pak Farhan pada Merry yang menatap sinis pada Andika.


"Biarkan saja, Pah! Apa yang dikatakan Merry memang benar, Kesya memang wanita hebat yang luar biasa, bahkan setelah perselingkuhan itu, dia bahkan kini mempertaruhkan nyawanya demi anak kami. Cakra! Dika yang tidak berguna, Pah!Menjadi suami hanya bisa memberikan luka untuk Kesya! Hiks hiks!" Andika lalu menangis.


"Sudahlah, kita berdoa saja, supaya anak perempuan itu bukan darah daging kita. Tapi kalau memang terbukti, kita juga tidak bisa membiarkan keturunan Abimana terlantar tanpa perawatan selayaknya keturunan Abimana!" ucap Mamah Andika berusaha bijaksana melihat masalah tersebut. Sebagai seorang wanita, beliau bisa merasakan bagaimana perasaan Kesya apabila mengetahui hal tersebut. Suaminya memiliki anak dari perempuan lain.


"Sekarang masalahnya, bagaimana kalau wanita bernama Manda itu minta dinikahi oleh Mas Dika? Apa yang akan Mas lakukan?" pertanyaan Merry sukses masuk membuat Andika terlonjak.


"Mas gak akan pernah menikahi perempuan itu. Cinta Mas hanya untuk Kesya, selamanya!" jawab Andika dengan nafas memburu.


"Kan Merry bilang kalau, gak pasti juga!" elak Merry menghindari tatapan horor sang kakak.


"Jangan suka berandai-andai hal yang gak berguna Merry!" tegur Mamahnya kesal.


"Kesya akan selamanya menjadi menantu dalam keluarga Abimana! Tidak akan pernah ada yang bisa menggantikan posisi dia! Pahami itu!" ucap Pak Fathan juga kesal dengan Merry.


"Ada apa dengan istriku, dokter?" tanya Andika ketakutan. Namun dokter tidak menjawab apapun, dokter tersebut masuk ke ruangan Kesya lalu menutup rapat ruangan tersebut.


"Ya Allah, lindungi istriku! Aku mohon!" Isak Andika yang sangat khawatir dengan kondisi istrinya.


"Suster, ada apa dengan menantu saya?" tanya Pak Farhan ketika melihat salah satu suster yang tadi ikut masuk ke dalam ruangan Kesya.


"Kondisi pasien memburuk, kami sedang berusaha menyelamatkan hidupnya. Kalian perbanyak berdoa, supaya pasien kondisinya semakin membaik! Sebentar ya, saya harus mengambil obat yang dibutuhkan oleh dokter!" suster itu berlari ke arah penyimpanan obat di rumah sakit tersebut.


"Ayah, apa kita bawa saja Kesya ke rumah sakit kita di Dubai? Peralatan dan dokter kita Dika rasa jauh lebih memadai!" ucap Dika kemudian.


"Kita lihat situasi dulu. Nanti kita diskusikan hal ini dengan dokter disini. Yang Papah khawatir kan kondisi Kesya tidak mampu kalau harus melakukan perjalanan udara. Kita berdoa yang terbaik saja untuk Kesya!" ucap Pak Farhan.


"Untung nya Adrian ada yang mengurus, kalau tidak kita pasti kelimpungan mengurus Adrian juga. Ditambah lagi kita harus mengurus masalah anak haramnya Mas Dika. Entah kapan keluarga Abimana bisa bernafas lega!" sindir merry karena mulai kesal dengan sang kakak.


"Alvian, kamu ajak istri kamu ini kembali ke Pontianak, akan saya telpon pilot kita untuk mengantarkan kalian. Kami sedang kalut disini. Kami gak butuh komentar sarkas istrimu!" ucap Andika tidak tahan lagi dengan Merry yang terus memojokkan dirinya.


"Sayang, ayo Mas ajak kamu jalan-jalan, mungkin kamu bosan di rumah sakit terus!" ajak Alvian merasa tidak enak dengan kakak iparnya yang sedang kena musibah.


"Ada baiknya memang kalian ke Pontianak saja, di sana pasti sudah membutuhkan kamu, Alvian. Biarkan masalah disini nanti Papah kamu yang akan bereskan. Kasihan juga cucu Mamah yang masih di perut Merry, takutnya stress gara-gara memikirkan masalah disini!" ucap Mamahnya Andika sambil mengelus perut Merry yang sudah agak besar.


"Betul Alvian, Pergilah siap-siap, Papah akan menelepon pilot jet pribadi keluarga kita, agar bersiap-siap mengatakan kalian ke Pontianak." Keputusan Pak Farhan tidak bisa di ganggu gugat lagi.


" Baiklah, kalau kalian mengusir kami, kami pergi Selamat tinggal!" ucap Merry dengan berderai air matanya. Mamah Andika mendekatierry dan memeluk putrinya.


"Sayang, bukan maksud kami mengusir kamu. Sebaiknya untuk saat ini memang lebih baik kamu tinggal di Pontianak dulu. Menemani suami kamu. Biar kamu juga fokus dengan kehamilan pertama kamu. Mamah sama Papah tidak mau terjadi apa-apa dengan kamu maupun cucu kami. Tolong kamu pahami ya, sayang! Sungguh, kami tidak bermaksud mengusir kalian!" ucap Mamah Andika berusaha memberikan pengertian kepada Merry.


"Ya, Mah! Kami paham, nanti Alvian akan berusaha meyakinkan Merry, papah sama Mamah bisa fokus disini, kasihan juga Mas Dika, saat ini benar-benar sedang membutuhkan dukungan kita semua. Alvian pamit ke Pontianak, kami akan kabari kalau sudah sampai di sana!" pamit Alvian.


"Oh, ya Pah, Alvian lupa, untuk hasil DNA nanti keluar hasilnya dua Minggu lagi. Papah bisa ambil hasilnya di laboratorium, kemarin Alvian memberikan nomor Papah untuk info kontak!" Alvian lalu menyerahkan sebuah berkas hasil penyelidikan dirinya tentang Manda, setelah itu Merry dan Alvian bertolak ke Pontianak dengan Jet pribadi keluarga Abimana.