
" Kenapa kek? Kakek kenal dengan Om Arman?" tanya Rasya kepada kakeknya.
Ardiansyah merasa bingung. Apakah dia harus menjawab jujur ataukah dia lebih baik diam saja? Atau dia harus berbohong dan tidak mengakui kenal dengan Arman? Semua pilihan itu sangat sulit untuknya. Karena pasti akan menghasilkan sebuah konsekuensi yang harus ditanggung ke depannya.
" Kakek kenal?" tanya Rasya bingung.
" Hmmmmm kakek, kakek... " Ardiansyah gugup harus menjawab apa kepada cucunya yang saat ini sedang menunggu jawaban darinya.
" Apakah Mama boleh menikah dengan Om Arman?" tanya Rasya lagi.
" Apakah mamamu menyukai Om Arman mu?" tanyanya serak.
" Mama belum mengatakan Apakah dia suka dengan om Arman atau tidak Tapi yang jelas mama takut kalau kakek melarang dia untuk menikah lagi!" ucap Rasya kepada kakeknya.
" Kalau memang mamamu mencintai dia. Kakek tidak keberatan yang penting kalian bahagia!" ucap sang Kakek.
" Benarkah kakek tidak melarang? Kalau Mamah ingin menikah dengan om Arman?" tanya Rasya dengan mata berbinar.
" Iya kalau kalian bahagia kakek tidak akan melarang sudah lama kalian hidup menderita gara-gara papamu yang lebih memilih Laila dan juga anak mereka!" ucapnya.
Rasya sangat bahagia dengan apa yang dikatakan oleh kakeknya tanpa dia sadari Rasya pun kemudian memeluk sang kakek.
" Terima kasih banyak kek karena kakek telah mengizinkan Mama untuk bersama dengan om Arman!" ucap Rasya sangat bahagia.
" Kalau kalian bahagia Kakek pun pasti akan bahagia!" ucapnya mengulas senyum kepada Rasya.
' Ya Allah takdir apa yang sedang kau goreskan? Kenapa harus Arman yang menggantikan posisi Firman di dalam kehidupan Rasya dan Syafa?' batin Ardiansyah merasa Dilema.
" Apakah Kakek sakit? Rasya memperhatikan dari tadi Kakek selalu melamun!" tanya Rasya kepada kakeknya yang saat ini sedang menatapnya dengan lekat.
" Apakah kau benar-benar menyukai Om Arman?" tanyanya sekali lagi.
" Ya Kek Om Arman adalah laki-laki yang baik dan Rasya yakin kalau Om Arman bisa membahagiakan Mamaku!" ucap Rasya.
" Syukurlah kalau mamamu bisa bahagia apabila dekat dengan om Arman itu!" ucap Ardiansyah.
" Om Arman itu laki-laki yang baik dan mama juga suka dengan dia. Hanya saja mama takut kalau kakek nanti marah apabila Mama menerima lamaran dari Om Arman!" ucap Rasya kepada sang kakek yang tampak terkesiap mendengarkan pengakuan Rasya.
" Apakah benar kalau Ibumu juga mencintai Arman?" tanya sang kakek kepada cucunya.
" Rasya tidak tahu kek tapi yang jelas kami sangat bahagia apabila berkumpul dengan om Arman seperti tadi siang kami melewati hari yang sangat bahagia!" ucap Rasya tersenyum dengan mata berbinar sehingga membuat Ardiansyah merasa tenang untuk melepaskan mereka berdua dan merestui hubungan Syafa dengan Arman putranya dari selingkuhannya yang dulu dia tinggalkan.
" Apakah kamu tahu Kakek sangat senang kalau melihatmu kembali ceria dan bisa tersenyum! Kakek sangat sedih ketika dulu kau selalu menangis dan selalu bermulam durja ketika ayahmu dulu pergi meninggalkan kalian!" ucap Ardiansyah sambil mengelus kepala Rasya.
" Om Arman sudah memberikan banyak perubahan kepada Mama sekarang mama pun sudah tidak pernah mengkonsumsi alkohol lagi hidup Mama sekarang sudah sehat dia juga tidak pernah merokok lagi lho kek!" tampak benar kebahagiaan di wajah Rasya ketika dia menceritakan tentang ibunya.
" Berarti Arman sudah memberikan warna positif untuk Rasya dan juga Syafa?" tanyanya lagi. Rasya tampak mengangguk dengan sangat yakin.
" Ya sudah kek. Rasya pulang dulu ya? Karena sebentar lagi Om Arman akan datang ke rumah dan kemungkinan akan melamar mamaku!" Rasya kepada sang kakek.
" Katakan pesan kakek kepada Mamamu. Kakek tidak masalah apabila mamamu ingin menikah dengan om Arman yang penting mamamu bahagia itu sudah cukup untuk Kakek." ucapnya.
Sejak istrinya meninggal. Kakeknya Rasya memang lebih banyak menghabiskan waktunya di dalam rumah dan menikmati masa pensiunnya.
Perusahaan sudah diserahkan kepada manajemen profesional dan dia hanya menerima laporan setiap bulannya dari orang-orang kepercayaan yang sudah dia tunjuk sebagai karyawan di dalam perusahaannya. Sambil menunggu Rasya untuk siap menerima tampuk kepemimpinan di Ardiansyah grup.
" Setelah kepergian Rasya tampak kakeknya Rasya mulai terdiam dan memikirkan segala hal di masa lalunya yang telah dia lewati sangat lama sekali. Lebih dari tiga puluh tahun yang lalu.
" Waktu 30 tahun bukanlah waktu yang sebentar!" ucapnya sambil menatap foto besar yang terpampang di dinding ruang tamunya. Yang memperlihatkan foto keluarga besarnya. Ketika mereka masih bersatu di mana ada Firman, Rasya dan Syafa serta almarhum istrinya.
" Dulu kami sangat bahagia sampai Firman bertemu dengan Laila. Semua kebahagiaan itu menjadi hancur lebur dan keluarga kami sekarang terpisah dan tercarai berai tanpa sisa!" ucap katanya Rasya yang merasa sangat sedih dengan yang terjadi kepada keluarganya saat ini.
" Semoga pernikahan Arman dan Syafa akan menjadi kebahagiaan bagi mereka berdua dan menjadi sebuah obat dan penebusan untuk penderitaan yang sudah diberikan masa lalu kepada mereka berdua!" ucapnya yang sedang bersedih karena mengingat masa lalunya.
" Semua kejayaan dan kesombongan di masa lalu ternyata tidak ada gunanya sama sekali karena sekarang yang tersisa hanyalah kesepian dan juga kesendirian!" ucapnya sedih.
" Sekarang Firman bahkan tidak pernah menghubungiku. Dia benar-benar telah melupakan ayahnya dan benar-benar lebih memilih perempuan itu daripada kami semua yang pernah menjadi bagian hidupnya lebih dari 30 tahun lamanya!" ucapnya lirih dengan berlinang air mata merasakan Kerinduan akan Sang putra yang selama ini selalu dia sayangi dan dia manjakan segala kemauannya.
" Apakah sebahagia itu Firman bersama dengan Laila sampai dia tidak pernah mempunyai niat untuk menghubungiku sama sekali? Apakah segitu bencinya dia kepadaku yang sudah menantang pernikahannya bersama dengan wanita yang dia cintai? Apakah ikatan darah di antara kami sama sekali tidak berharga untuknya?" begitu banyak pertanyaan di dalam hatinya mengenai Firman Putra pertamanya yang saat ini sudah menetap di Surabaya bersama keluarga barunya.
Dia tahu bahwa Laila memang wanita yang baik wanita yang sudah membuat Firman sekarang kembali merasakan kebahagiaan dan juga mengembalikan senyumnya di wajah putranya yang selama ini selalu sendu dan penuh dengan kesedihan.
Dia sangat tahu kalau Firman memang sangat mencintai Laila sejak mereka masih duduk di bangku SMA hingga saat ini Firman masih sangat mencintai Laila.
" Kamu sangat hebat Firman. Karena kamu bisa memperjuangkan cintamu bersama dengan wanita yang kau pilih untuk dapat menghabiskan hidup bersamamu!" ucapnya.
" Tuan makan malam sudah siap!" ucap pembantu yang mengurus segala kebutuhan kakeknya Rasya setelah sang istri meninggal.
Pembantu itu sangat setia kepada keluarga Ardiansyah. Sejak dia masih kecil Mbok Atun selalu mengikutinya. Bahkan sampai sekarang dia masih setia untuk menetap di kediaman Ardiansyah.
Mbok Atun adalah anak dari pengasuh kakeknya Rasya waktu masih kecil dan setelah ibunya meninggal dialah yang menggantikan sang Ibu menjadi kepala pelayan di kediaman Ardiansyah.
Mbok Atun dulu pernah menikah. Akan tetapi dia ditinggalkan oleh sang suami yang tidak tahan karena harus selalu berpisah dengan mbok Atun yang tidak mau meninggalkan pekerjaannya di kediaman keluarga Ardiansyah.
Mbok Atun menolak keinginan sang suami untuk membuatnya keluar dari keluarga Ardiansyah dan menetap hidup di kampung bersama dengan sang suami.
" Bagaimana saya bisa meninggalkan Tuan Ardiansyah dan keluarganya Mas? Ketika aku sudah berjanji kepada Ibuku untuk mengabdikan seluruh hidupku kepada mereka!" ucap Mbok Atun ketika sang suami memintanya untuk keluar dari kediaman keluarga Ardiansyah.
Sehingga akhirnya sang suami memilih untuk meninggalkan Mbok Atun tanpa seorang anak di antara mereka berdua.
" Mbok apakah menurut Mbok, saya ini orang jahat?" tanyanya dengan suara yang bergetar.
" Kenapa Tuan berpendapat bahwa Tuan Adalah orang jahat?" tanya Mbok Atun sambil menatap kepada ayahnya Firman yang sedang menerawang jauh ke masa lalu yang penuh dengan cinta kasih diantara keluarga yang sekarang sudah hancur berantakan dan terpecah belah.
" Kenapa semua orang meninggalkan saya mbok? Bahkan anak saya sendiri sampai sekarang tidak pernah mau menghubungi saya!" ucapnya tampak bersedih.
" Semua orang gemetar ketika mengucapkan nama Ardiansyah. Akan tetapi lihatlah sekarang hidupku Mbok. Hidul yang begitu kesepian dan juga sunyi!" ucapnya sambil menatap pembantunya yang selama puluhan tahun selalu setia melayani keluarga Ardiansyah.
Bahkan ketika Firman masih bayi. Mbok Atun lah yang selalu sibuk mengurusnya karena ibunya Firman yang lebih sibuk dengan perusahaan dan juga yayasan yang dia kelola.
ibunya Firman adalah seorang wanita karir yang sangat Cemerlang dan juga pintar.