
Ilham menatap Kesya dengan Penuh harap, berharap bahwa apa yang dia dengar dari Andika adalah salah, tapi Ilham merasa kecewa saat menatap mata Kesya dan menemukan bahwa hal itu adalah benar.
"Maafkan aku Mas Ilham, rencana pernikahan itu sebenarnya sudah diutarakan setengah tahun yang lalu, tapi Kesya terus menunda-nunda, karena tidak yakin dan masih memiliki ganjalan. Tapi bulan kemarin, Mas Dika melamar Kesya lagi, dan Kesya sudah menerima lamaran itu," Kesya menundukkan kepalanya karena merasa tidak tega dengan Ilham yang tampak hancur mendengar kenyataan tersebut.
"Lamaran tersebut tidak sah, karena hanya terjadi satu pihak, kamu masih punya keluarga Kesya, dan haram hukumnya melamar seorang wanita yang dalam keadaan status bertunangan dengan pria lain, apalagi Andika tidak pernah meminta ataupun melamar kamu secara resmi kepada kami, keluarga kamu," Rasyid angkat bicara, meluruskan segala kepelelikan kisah asmara sang adik yang masih belum ingat masa lalunya.
"Kita sebaiknya meminta pendapat Kesya, bagaimanapun juga, pernikahan ini dialah yang akan menjalani," akhirnya Ilham bisa menenangkan pikiran agar bisa jernih dalam bertindak. Jangan sampai nanti keegoisan dirinya malah menjadi sebab penderita Kesya, wanita yang dia cintai.
"Kesya, katakan sama Mas, siapa yang kamu cintai di antara Andika dan Ilham?" Rasyid menggenggam tangan adiknya dan menatapnya lekat, berharap sang adik bisa mengingat sedikit masa lalunya bersama dirinya, sebagai kakak beradik. Dengan begitu ada sedikit harapan bagi Ilham untuk kembali merajut asa bersama Kesya.
"Kesya tidak tahu Mas Rasyid, semua ini bikin bingung. Tolong kasih Kesya waktu untuk memikirkan semuanya kembali," Kesya duduk di kursinya dan menyeruput minumannya, berharap hatinya jadi tenang.
"Kesya, selama setahun ini, Mas selalu mencari kamu kemana-mana, tidak sedetikpun Mas melupakan kamu, tolong jangan tinggalkan Mas," Ilham sudah hampir gila rasanya memikirkan Kesya bakal menikah dengan Andika.
Ilham menundukkan wajahnya dan menangis tersedu-sedu. Semua seakan hancur, sekedar memikirkan Kesya akan menikah dengan Andika.
"Kesya, selama setahun ini, kamu tahu dan melihat sendiri. Mas selalu berusaha untuk menghormati kamu dan memberikan yang terbaik. Mas tidak pernah sekalipun memaksa kamu, untuk mencintai Mas," Andika juga tidak mau kalah, berusaha meyakinkan Kesya agar memilih dirinya. Kesya hanya menatap Ilham dan Andika bergantian. Lalu dia pergi meninggalkan mereka bertiga.
"Kesya.... mau kemana?" tanya Rasyid sambil mengejar adiknya, takut menghilang lagi.
"Beri Kesya waktu Mas, Kesya butuh sendiri." Kesya lalu menyetop taksi yang lewat dan pergi dari sana. Ilham dan Andika berusaha menyusul, tetapi di hentikan oleh Rasyid.
"Kesya bilang butuh sendiri dulu, biarkan dia memikirkan semuanya dengan baik, agar nantinya tidak ada kesalahan dan penyesalan," Rasyid memberikan pengertian kepada Andika dan Ilham.
Mereka bertiga akhirnya berpisah. Rasyid segera kembali ke Indramayu, penerbangan dirinya sudah menunggu. Dari tadi malam Zahra selalu menelepon dirinya, kwatir anaknya akan lahir ke dunia dan tidak ada Rasyid di sampingnya.
Ilham memilih menetap sementara di Kalimantan, menunggu keputusan Kesya mengenai hubungan mereka berdua. Ilham berusaha mengalihkan pikirannya dengan mengajar santri-santri di pondoknya Ilham berusaha menghormati keinginan Kesya untuk menenangkan dirinya dan selama itu dia tidak menghubungi Kesya.
Berbeda dengan Andika, dia mengerahkan semua anak buahnya untuk mencari keberadaan Kesya. Sejak pertemuan malam itu, sudah hampir satu bulan Kesya menghilang tanpa kabar sama sekali. Andika sungguh sangat kwatir, apalagi orang tuanya satu Minggu lagi akan datang ke Indonesia dan bersiap untuk pernikahan dirinya dan Kesya.
"Terima kasih Pak Kiai, mau mengijinkan saya tinggal disini," Kesya membuat serak suaranya agar Ilham tidak bisa mengenali dirinya, dia juga menggunakan lensa kontak untuk menyamarkan manik matanya menjadi kebiru-biruan agar Ilham tidak curiga dengan penyamarannya.
"Jangan sungkan Bu, saya harap ibu bisa betah tinggal di pondok kami," Ilham yang memang tidak curiga sama sekali dengan Tiara lalu berpamitan karena memang ada jadwal mengajar Santrinya.
Sebagai pendiri dan pengasuh Ilham tidak mau menyerahkan 100% pendidikan Santrinya kepada dewan asatizh. Dia juga mengajar para senior yang nantinya dia asah sebagai calon-calon ustadz yang akan mengajar para senior dan mengabdikan diri kepada warga masyarakat di sekitar pondok pesantren yang dia asuh.
Dalam penyamaran itu, Tiara mengamati sifat dan tingkah laku Ilham, berusaha mengingat masa lalu dirinya dengan pria bersahaja yang berparas tampan maksimal tersebut. Dalam hati Kesya memang ada rasa dengan Ilham, tapi dia masih meragu. Oleh karena itu sekarang dia dalam penyamaran sebagai Tiara.
"Kenapa Pak Kiai belum menikah ya Bu?" tanya Tiara suatu sore pada Bu Minah, kepala penjaga kantin, yang kebetulan saat itu Ilham sedang mengajar di aula pondok. Ada rasa kagum di hati Tiara saat mendengar suara merdu Ilham saat mengajar tilawah bagi santrinya.
"Pak Kiai itu sangat mencintai calon istrinya. Tapi sayang, banyak sekali cobaan mereka, kasihan." Bu Minah lalu bersiap untuk menyiapkan makan malam bagi santri.
Tiara yang merasa lelah, lebih memilih masuk ke kamarnya. Mengambil air wudhu dan akhirnya memutuskan untuk murajaah. Ilham yang kebetulan lewat dekat kamar Tiara, merasa terpesona dengan suara merdu dari Tiara. Tanpa sadar, dia mendekat dan terpaku di tempatnya.
Selama ini Ilham memang belum pernah melihat Kesya secara langsung saat murajaah. Jadi Ilham tidak curiga dengan Tiara yang memiliki suara merdu sekali terdengar di telinga Ilham.
"Pak Kiai kenapa diam di situ? Ada yang bisa saya bantu?" tanya Bu Minah, heran melihat Ilham yang terpaku di dekat kamar Tiara.
"Shhhhhhh" Ilham memberi isyarat untuk diam. Bu Minah mencoba menajamkan pendengarannya, dan terkejut mendengar lantunan ayat suci Al-Quran yang begitu merdu di kamar Tiara.
Karena takut mengganggu, Bu Minah memilih pergi dari sana dan melanjutkan pekerjaannya. Tanpa sadar, Ilham telah jatuh cinta kembali ke pada Kesya dalam penyamaran.
Setiap hari Ilham akan berhenti di dekat kamar Tiara hanya untuk mendengarkan lantunan ayat suci Al-Quran yang selalu Tiara bawakan sebelum adzan Maghrib.
Entah kenapa, suara itu sangat menentramkan jiwa Ilham, semacam obat akan kerinduan dirinya pada kekasih tercintanya, yang sekarang entah ada di mana.