Assalamualaikum Ustadz Ku

Assalamualaikum Ustadz Ku
215. Mama!



Ayana mengangkat kepalanya dan menatap Humairoh.


" Apakah benar kalau kita berdua saja aku boleh memanggil Bibi dengan Mama?" tanya Ayana dengan mata berbinar.


" Iya Sayang Kau boleh melakukannya Bibi tidak akan marah padamu!" ucap Humairoh dengan mata berkaca-kaca.


" Kenapa Bibi bersedih? Apakah Bibi tidak senang kalau aku memanggil Bibi dengan sebutan mama?" tanya Ayana.


Humairoh menggeleng-gelengkan kepalanya menolak pernyataan dari Ayana.


" Tidak Sayang! Bibi tidak marah kalau kau memanggil 'Mama' panggil lah sayang. Karena BB pun ingin mendengarnya!" ucap Humairoh dengan suara tersekat di tenggorokannya.


Ada perasaan sedih dan haru yang di rasakan oleh Humairoh saat ini ketika Ayana menyatakan bahwa dirinya berperan sebagai ibu kandung bagi Ayana.


" Mama!" ucap Ayana sambil tersenyum menatap Humairah.


' Putriku! Putriku yang sangat kucintai!' batin Humairoh sambil terus memeluk tubuh Ayana dengan erat dan menciumnya berkali-kali.


" Kenapa Bibi menangis? Aku tidak akan memanggilmu Mama lagi kalau itu membuat Bibi sedih!" ucap Ayana sambil mendongakan kepalanya dan dia menghapus bulir bening yang mengalir di pipi Humairoh.


" Tidak Ayana! Bibi tidak marah. Bibi hanya merasa terharu mendengarmu memanggil Bibi dengan panggilan 'Mama' apa kau tahu Bibi benar-benar menyayangimu seperti anak Bibi sendiri!" ucap Humairoh dengan tersenyum kepada Ayana yang sudah terlepas dalam pelukannya.


" Ayana pun kadang berpikir bahwa Bibi lebih menyayangiku daripada Mama Tasya!" ucap Ayana seakan tidak mengerti dengan kondisi hidupnya saat ini.


" Tidak apa-apa Ayaba! Bibi akan selalu menyayangimu sebanyak yang kau inginkan dan Bibi akan menolong semua masalahmu selama Bibi mampu!" ucap Humairoh mengulas senyum kebahagiaan di wajahnya.


" Ayo kita selesaikan makanan kita dan Bibi akan mengurus identitas barumu untuk tinggal di Australia. Sehingga Keberadaanmu tidak bisa dilacak oleh keluarga besar kita maupun oleh suamimu!" ucap Humairoh yang langsung disetujui oleh Ayana tanpa Banyak cakap maupun protes.


Ayana sudah tahu bahwa bibinya sangatlah menyayanginya. Sejak dulu, ketika dia kecil. Semua permasalahan dalam hidupnya hampir bisa dikatakan semuanya diselesaikan oleh Humairoh tanpa banyak basa-basi.


Setelah selesai menyantap sarapan Ayana dan Humairoh pergi ke suatu tempat rahasia di mana mereka bisa membuat identitas baru untuk Ayana.


" Tolong kau buatkan identitas baru untuk keponakanku ini karena dia sedang bersembunyi dari suaminya yang berbuat jahat kepadanya!" ucap Humairoh kepada orang yang biasa melakukan pekerjaan kotor itu yaitu membuat identitas baru untuk orang lain agar bisa menyembunyikan diri dari kejaran polisi maupun kejaran orang yang mencari mereka.


Dia sangat ahli di bidangnya oleh karena itu banyak pelanggannya yang datang mencari dia dari mulut ke mulut dengan rahasia. Tentu saja dengan bayaran yang fantastis karena resiko yang dia tanggung pun bukanlah main-main.


" Baiklah tunggulah sekitar satu minggu setelah identitas barumu siap Aku akan menghubungimu!" ucapnya.


" Tolong sekalian ke uruskan visa dan paspor untuknya. Karena dia adalah seorang bisnis women pasti akan sering pergi ke luar negeri untuk mengurus bisnisnya!" ucap Humairoh kepadanya.


" Gampang! Itu semua bisa diatur Yang penting anda siapkan saja bayarannya sesuai dengan Resiko yang saya dapatkan dari pekerjaan ini!" ucapnya sambil tersenyum kepada Humairoh yang langsung memberikan uang satu gepok uang $ kepadanya yang membuat dia langsung bersemangat untuk mengerjakan tugasnya.


" Segera selesaikan tugasmu karena aku harus segera kembali ke Indonesia tidak bisa berlama-lama berada di Australia!" ucap Humairoh memberikan perintahnya.


" Baiklah aku akan pergi dan ingat kalau kau sampai menipuku. Maka Kau pasti akan menanggung resiko yang bukan main-main!" ancam Humairoh sambil menatap kepada laki-laki itu dengan tatapan tajam membunuh.


" Baiklah Nyonya! Anda jangan khawatir! Kalaupun sampai saya kabur. Bukankah anak buah anda selalu memperhatikan saya? Memangnya Ke mana saya bisa kabur dari genggaman seorang Humairoh Sugandi! seorang bisnis women yang bertangan dingin dan berhati kejam! Hahaha!" ucapnya Sambil tertawa terbahak-bahak.


" Hentikan semua lelucon sampahmu itu. Aku tidak butuh! Segera kerjakan pekerjaanmu dengan baik. Aku pergi sekarang!" Humairoh kemudian menarik tangan Ayana dan keluar dari tempat persembunyian yang sangat rahasia itu.


" Bibi! Tempat itu benar-benar sangat menyeramkan!" ucap Ayana sambil menatap kepada Humairoh.


" Sudahlah tidak usah dipikirkan! Ayana yang penting kita bisa mendapatkan identitas baru untukmu dan keberadaanmu di Australia tidak bisa dicium oleh siapapun. Itulah yang penting untukmu saat ini!" ucap Humairoh menatap tajam kepada Ayana.


" Ayo sekarang kau ikut Bibi kita akan pergi ke salon dan meng make over kamu lagi. Tampaknya selama beberapa hari kau tinggal lontang-lantung di Australia membuatmu sekarang menjadi seperti gembel!" ucap Humairoh sambil menarik tangan Ayana masuk ke dalam mobil miliknya.


" setelah Bibi kembali ke Indonesia. Aemua yang milik Bibi yang ada di Australia akan menjadi milikmu dan akan langsung Bibi balikan nama atas namamu serta anak yang nanti akan kau lahirkan Ayana!" ucap Humairoh kepada Ayana.


Demi mendengarkan apa yang dikatakan oleh Humairoh Ayana benar-benar sangat terkejut.


" Bagaimana bisa seperti itu Bibi Bibi masih punya anak dan suami saya tidak bisa menerima itu semua secara gratis!" ucap Ayana menolak kebaikan Humairoh.


" Itu tidak gratis Ayana! Bukankah Bibi sudah bilang padamu. Kalau sesuatu saat nanti kedua anak Bibi mengalami kesulitan. Maka kau harus membantu mereka apapun itu, kau harus membantu mereka!" ucap Humairoh menatap kepada Ayana.


" Tapi Ayana takut dengan paman Rahmat. Dia pasti akan marah kalau tahu Ayana menerima semua ini dari bibi!" ucap Ayana dengan suara gemetar.


" Jangan khawatir Ayana! Tidak ada yang tahu tentang perusahaan ini adalah milikku. Perusahaan ini aku bangun dengan usaha kerasku sendiri. Aku merintisnya dari nol sendiri tanpa diketahui oleh siapapun. Jadi kau bisa menggunakan perusahaan ini dengan bebas dan Bibi akan langsung mengatasnamakan perusahaan ini ke atas namamu. Karena Bibi akan menyerahkannya 100% kepadamu dan juga kepada anak yang akan kau lahirkan!" ucap Humairoh sambil tersenyum kepada Ayana.


Ayana menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya dengan begitu saja karena dia benar-benar tidak bisa berpikir dan habis logikanya untuk memikirkan kebaikan yang bertubi-tubi yang diberikan oleh Humairah kepada dirinya yang benar-benar tidak masuk akal.


" Katakan padaku! Kenapa Bibi begitu baik kepadaku bahkan Mama Tasya pun tidak peduli denganku. Lihatlah aku disini sudah beberapa hari tapi dia sama sekali tidak pernah meneleponku ataupun mengirim SMS untukku!" ucap Ayana dengan perasaan sedih.


" Sudahlah kau tidak usah memikirkan adik bibi itu. Kau tahu sendiri bahwa dia sibuk dengan arisan dan juga teman-teman sosialitanya. Dia tidak akan punya waktu untuk memikirkanmu!" bocah Humairoh kepada Ayana.


" Bibi bener! Sejak dulu Mama Tasya hanya peduli dengan teman-teman arisannya dan juga teman-teman sosialitanya. Bisa dikatakan aku besar oleh seorang pembantu!" ucap Ayana tersenyum miris memikirkan kisah hidupnya ketika dia masih kecil dulu.


" Sudah lupakanlah kejadian yang tidak membahagiakan dab tidak perlu diingat lagi Ayanan. Sekarang yang penting kau tahu bahwa Bibi sangat menyayangimu!" ucap Humairah sambil fokus dengan macbooknya memeriksa laporan-laporan yang dikirimkan oleh anak buahnya di Indonesia selama dia berada di Australia.


Tampak Humairoh sedang membalas email-email dari anak buahnya dan juga membaca laporan-laporan yang dikirimkan oleh mereka. Humairoh tampak begitu sibuk sehingga Ayana tidak berani untuk mengganggu bibinya.


Humairoh melirik sekilas kepada Ayana yang saat ini sedang memejamkan matanya. Humairo hanya menggelengkan kepalanya melihat Ayana yang tampak begitu kelelahan.


' Mungkin bawaan bayi yang sedang dia kandung yang membuatnya menjadi cepat lelah dalam menjalankan aktivitasnya!' batin Humairoh sambil menatap kepada Ayana yang tampak terlelap.